
🍁My Bipolar Boy🍁
Saat ini Bryan dan Cahya tengah berjalan menuju ke area terdalam dari bandara ini. Tentu saja untuk mengantar bibinya dan pamannya ke bandara.
Semenjak keluar dari mobil yang ternyata memang sudah terparkir di parkiran bandara tadi. Lantas keduanya tanpa membuang waktu pun langsung melangkah ketempat yang sudah di beritahu sebelumnya oleh mama Irena.
Setelah adegan tangisan untuk melepas kepergian paman dan bibi Cahya, keduanya sudah berangkat menggunakan pesawat menuju ke Surabaya. Saat ini pun Cahya tengah dipeluk oleh Mama Irene, karena mama Irena tahu tadi di Cahya berusaha untuk tidak menangis di hadapan paman dan bibinya. Dan lihatlah saat ini, air mata yang sejak tadi ditahannya, keluar begitu saja dari mata Cahya.
Cahya menangis di pelukan mama mertua itu. "Sudahlah, jangan menangis nanti paman dan bibimu sedih. Lagi pula kan kalau kau kangen dengan mereka, kau bisa menghubungi mereka untuk menanyakan bagaimana kabar mereka disana." Tutur mama Irena panjang lebar.
Walaupun Cahya tahu akan hal itu. Tapi tetap saja dia merasa sedih bila harus berjauhan dengan keluarga pamannya itu. Bagaimanapun juga, dia sudah cukup lama tinggal bersama paman dan bibinya. Apalagi hanya keluarga paman dan bibinya yang merawatnya sampai sebesar ini setelah kepergian kedua orang tua itu.
"Cahya cuma sedih harus berpisah dengan bibi dan paman, ma." Ucap Cahya jujur dibarengi dengan isakan pelan.
Irena masih mencoba untuk menenangkan menantunya itu. "Sudah nggak apa-apa. Kamu jangan sedih gitu, nanti mama ikutan sedih. Lagi pula kan di sini masih ada Mama ada Ayah ada Bryan nih sama ada Om Bram."
Cahya mengangguk dan mulai merasa tenang. Diusapnya pelan pipinya yang basah akibat air matanya itu.
"Sudah ya jangan nangis terus. Tuh dari tadi dilihatin terus sama suami kamu." Bisik mama Irena membuat Cahya sedikit menoleh kearah sang suami, yang memang benar tengah menatap ke arahnya.
"Ya, sudah. Sekarang kita pulang, ya. Kamu mau satu mobil sama mama atau bareng Bryan?" Mendengar ucapan itu tentu saja membuat Bryan langsung menjawabnya.
"Tentu saja bersamaku, ma. Cahya kan datang kesini juga bersamaku. Jadi pulang juga harus sama aku." Ada nada tak terima dalam ucapan Bryan itu.
Hal itu tentu membuat Irena dan Sanjaya tertawa pelan begitu mengetahui kalau putra tunggalnya itu begitu posesif terhadap istrinya.
"Kau ini, posesif sekali sih." Ledek Irena yang membuat Bryan memalingkan muka kearah lain.
"Ooh, ya. Nanti kalian pulang saja kerumah atau ke apartemen Bryan. Jangan ke hotel, soalnya mama sama yang lainnya mau pulang kerumah." Ucap Irena mengingatkan kedua anaknya itu.
Sedangkan Bryan dan Cahya hanya mengangguk sebagai respon.
"Ya sudah, kalau begitu mama, ayah sama pamanmu pulang dulu, ya. Kalian hati hati dijalan." Titah Irena pada putranya itu.
Sedangkan Bryan hanya menganggukkan kepalanya saja. Tatapan Irena beralih ke Cahya. "Mama dan semuanya pulang dulu, ya. Kamu jangan sedih lagi." Ucapan dari Irena itu diangguki juga oleh Cahya.
"Mama, ayah dan paman Bram hati-hati di jalan, ya." Ketiga orang itu mengangguk lantas mulai berpamitan untuk pulang kerumah.
Sebelum itu, Bram mendekat kearah Cahya dan dia mulai mengeluarkan suaranya pelan, takut didengar oleh Bryan.
"Hati-hati sama orang disampingmu ini. Dia berbahaya. Kalau sampai dia ngapa-ngapain kamu, kamu tinggal teriak saja." Mendengar hal itu, orang yang bersangkutan langsung mendengus kesal.
"Sekali lagi bicara yang tidak tidak, aku jadikan kau makan siang si tiger." Ucapan itu membuat Bram menoleh kesampingnya dan mendapati wajah keponakannya yang terlihat sangat menurutnya.
Dengan mengeluarkan cengirannya, Bram menatap Bryan. "Si..siapa juga yang membicarakanmu. Pede sekali kali kau, Bryan." Belum sempat Bryan membalas ucapan pamannya itu, Bram sudah lebih dulu kabur meninggalkan pasangan muda itu.
Cahya mengembangkan senyum dibibirnya begitu melihat interaksi yang tak biasa antara paman dan keponakan.
Bryan yang semula menatap kearah Bram, langsung mengalihkan pandangannya begitu mendengar tawa kecil dari bibir sang istri.
'Syukurlah' batin Bryan.
Sekarang Cahya menoleh kearah samping kanannya, karena merasa seperti tengah di tatap. Dan benar saja, sang suaminya lah yang menatap lurus kearahnya itu.
"Kenapa?" Tanya Cahya saat sadar dirinya terus di tatap oleh Bryan.
Bryan tak menjawab, tapi dirinya langsung menarik tangan Cahya kedalam gengamannya. Cahya yang diperlakukan seperti itu jelas saja kaget. Tapi tak lama, senyum maklum hadir di bibir Cahya.
__ADS_1
Kini Bryan membawanya keluar dari bandara menuju ke mobilnya. Selama perjalanan, tak jarang beberapa orang menatap kearah pasangan muda itu.
Mungkin ada yang iri dan ada juga yang baper, melihat betapa lembutnya perlakukan Bryan terhadap Cahya. Bahkan Cahya sampai di buat malu oleh tingkah Bryan yang mendadak jauh dari biasanya.
Untungnya hal itu tak berlangsung lama, sebab kini keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Ingin ke suatu tempat?" Pertanyaan itu membuat Cahya menoleh kearah Bryan.
Cahya hanya menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa dirinya tidak ingin kemana-mana. Lagipula, dirinya juga masih capek mengingat pesta kemarin malam cukup menguras energinya.
Lagipula, dia ingin istirahat hari ini. Mengingat juga ujian nasional akan dilakukan beberapa minggu lagi.
Entah kenapa semuanya terasa begitu cepat bagi Cahya. Bahkan dirinya sampai tidak menyangka akan menikah di usianya yang bahkan belum genap 19 tahun. Bahkan ulang tahunnya yang ke 18 baru berlangsung 5 bulan yang lalu.
Sungguh cerita hidup yang tak terduga.
Ditatapnya wajah sang suami yang kini tengah fokus menyetir mobil. Dan beberapa detik berlalu, Bryan menoleh kearah Cahya yang ketahuan tengah menatap kearahnya.
Tapi bukannya mengalihkan pandangannya seperti biasa bila tak sengaja bertatapan dengan Bryan. Cahya malah terus menatap kearah mata sang suami.
Entahlah, dia hanya merasakan perasaan yang tidak terdefinisi dari hatinya ini. Rasanya aneh bahkan cenderung campur aduk bagi Cahya.
Tapi yang jelas, diantara semua yang ia rasakan itu, perasaan bahagia lebih dominan bagi Cahya.
Bahagia karena memiliki saudara seperti paman dan bibinya.
Bahagia memiliki orang tua baru seperti mama Irena dan ayah Sanjaya.
Memiliki teman - teman yang begitu baik padanya.
Memiliki kisah indah tersendiri dengan para team basket sekolahnya.
Kehadiran sosok Bryan dan Vino yang kini akan melengkapi hidupnya kedepannya.
Hal itulah yang membuat Cahya tak henti mengulas senyumannya. Bahkan semakin menebal seiring dengan lamunan indahnya akan semua hal yang membuatnya bahagia.
.............
Kini sudah 1 minggu, status Cahya yang sebelumnya adalah tunangan Bryan kini menjadi istri Bryan.
Kedua pasangan muda ini, saat ini sedang menginap di apartemen milik Bryan. Mereka baru kembali kesini, setelah 6 hari tertahan dirumah orangtua Bryan.
Saat ini pun, Cahya tengah berada di dapur sedang membuatkan sarapan untuk sang suami.
Dirinya baru saja mandi dan langsung menuju kemari. Kalian tanya dimana Bryan berada? Pemuda itu masih bergelud dengan selimut tebalnya didalam kamar.
Padahal tadi Cahya sudah berusaha untuk membangunkan Bryan. Tapi sepertinya suaminya itu, terlalu malas untuk beranjak dari delapan hangat ranjangnya itu. Dibandingkan menemani istrinya yang saat ini tengah membuatkannya sarapan.
Cahya yang tengah asik dengan kegiatannya, merasa kaget dengan kehadiran seseorang yang memeluknya dari belakang. Untungnya Cahya cepat sadar siapa yang tengah memeluknya saat ini.
Memangnya siapa lagi kalau bukan suami terlovenya itu.
"Sudah bangun." Pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban itu terlontar dari bibir Cahya. Karena jelas, Cahya sendiri tahu jawabannya.
"Sudah lapar?" Tanya Cahya yang mendapat anggukan dari Bryan yang kini semakin menarik tubuhnya mendekat kedalam pelukan Bryan itu.
Cahya tersenyum begitu menyadari tingkah manja dari suaminya itu. Kali ini, jika kalian menganggap sosok manja ini adalah Vino. Kalian salah.
__ADS_1
Sosok yang sekarang ini tengah memeluk tubuh Cahya ini adalah Bryan Giovino Wirautama. Bukan Giovino Wirautama.
Bahkan sajak beberapa hari sebelum dan sesudah menikah dengan Bryan, sosok Vino sudah jarang ditemui oleh Cahya.
Sampai-sampai, Cahya merindukan sosok itu. Habisnya tingkah Vino lebih mengemaskan di bandingkan dengan sosok yang masih memeluknya itu.
"Tunggulah di meja maka, Bryan." Ucap Cahya yang tak dituruti oleh Bryan.
Cahya menghela napas, begitu merasakan sosok dibelakangnya ini bukannya melepaskan pelukan mereka, malah semakin menempel pada tubuhnya.
Pengen marah, tapi nggak tega.
Dengan membuang napas berat, Cahya masih melanjutkan membuatkan sarapan untuk Bryan.
Tapi bukannya diam, Bryan malah menganggu aktivitas Cahya dengan cara mengecup pelan leher Cahya. Hal itu tentu saja membuat sang empunya merasa geli.
"Br..Bryan." Ucap Cahya berusaha menghentikan aktivitas Bryan yang masih dilakukannya itu.
"Berhenti atau aku marah padamu." Ucapan tegas itu membuat Bryan menghentikan aktivitasnya menganggu sang istri.
Dengan perlahan, Bryan mengendurkan pelukannya dan pada akhirnya melepaskan pelukan tersebut begitu melihat tatapan serius di mata sang istri.
Bryan mendengus pelan, sebelum mencuri kecupan kecil di pipi sang istri yang membuat istrinya kaget atas tingkahnya itu.
"Oke, aku akan tunggu di meja makan." Ucapnya sambil berlalu menuju meja makan yang ada di depan dapur. Bahkan Bryan kini mulai memfokuskan pandangannya kearah Cahya yang masih diam ditempat.
"Katanya mau masak. Kenapa diam saja." Perkataan itu membuat Cahya melirik singkat kearah sang suami. Tapi dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan tadi.
Kini dirinya telah fokus pada makannya yang di buatnya itu. Dia tengah memasak sop iga mengingat hari ini cukup dingin. Lagi pula hanya itu bahan makannya yang ada di dalam kulkas.
Mungkin karena Bryan memang belum sempat untuk mengisi bahan makanan didalam kulkas.
Butuh waktu lama, untuk sop iga matang. Karena tentu saja, memasak daging itu butuh waktu ekstra untuk membuatnya mudah dimakan.
Setelah menu makanan siap, kini Cahya kembali menatap Bryan yang masih setia menatapnya. "Mau minum teh, kopi atau susu?" Pertanyaan itu ditujukan Cahya untuk Bryan.
"Susu." Jawaban itu malah membuat Cahya menatap aneh kearah sang suami.
Bryan yang sadar tengah ditatap oleh sang istri lantas bertanya.
"Kenapa?"
Cahya tak menjawab, dia lantas membuatkan minuman yang sesuai dengan keinginan sang suami.
Sebenarnya Cahya hanya merasa heran saja, ada angin apa tiba-tiba Bryan minta dibuatkan susu. Bisanya juga selalu menolak dengan alasannya yang tak masuk akal.
Maka dari itulah, alasan dibalik kenapa tiba-tiba, suaminya itu ingin minum susu.
Setelah semua siap, Cahya langsung menghidangkan masakannya ke meja makan. Kini makan dan minuman sudah siap untuk disantap.
Cahya mengambilkan nasi dan lauk untuk Bryan, mengingat sudah semingguan ini Bryan selalu minta di ambilkan bila ingin makan.
Bukan manja sih sebenarnya, tapi itu memang kesadaran Cahya untuk mengambilkan makanan untuk sang suami. Lagipula Cahya tidak keberatan akan hal itu.
Kini keduanya sarapan bersama. Butuh waktu 20 menitan sampai keduanya menyelesaikan acara makan mereka serta untuk mencuci peralatan makan yang telah mereka gunakan itu.
.......
__ADS_1
🍁My Bipolar Boy🍁
Sampai jumpa lagi😉💞