My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
117. Penjelasan Dokter


__ADS_3

...🍁 Start Reading 🍁...


Berhari - hari sudah berlalu sejak Bryan di rawat di rumah sakit. Dan itu artinya sudah berhari - hari juga, Cahya menemani sang suami. Bukan hanya menemani, tapi juga merawat dan menjaganya.


Tiada hari tanpa berdoa yang dia panjatkan padaNya. Memohon agar Tuhan mau menyembuhkan suaminya itu. Bagaimanapun juga, perasaan cinta dan kasih sayangnya tak pernah luntur untuk suaminya itu.


Terlepas dari kejadian kemarin yang jujur saja sempat membuat Cahya kecewa. Tapi dirinya perlu penjelasan dari Bryan atas apa yang dia lihat itu.


Mencoba bersikap dewasa, Cahya mencoba menahan rasa penasaran serta kekecewaannya itu. Selagi Bryan belum menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya itu padanya.


Tepukan halus di bahunya membuat Cahya menoleh. Dan ternyata sang mamalah yang menepuk bahunya itu.


"Ada apa, Ma?"


Irena menatap kearah menantunya itu prihatin. Sejak Bryan dirumah sakit, Cahya jarang sekali mengurus dirinya sendiri. Tiap 24 jam hanya dihabiskan dengan menunggui Bryan.


"Makan dulu, ya. Sejak kemarin kamu belum makan." bujuknya sambil mengelus pelan puncak kepala menantunya itu.


"Tapi, Ma-"


"Ingat, sekarang bukan hanya kamu saja yang perlu makan. Tapi tentu saja bayi di dalam kandunganmu itu. Kau tidak ingin terjadi hal buruk pada janinmu, kan?" Cahya terdiam.


Dirinya seolah lupa sejenak pada sang buah hati yang baru beberapa minggu bersemayam dirahimnya itu. Dielusnya pelan perutnya yang masih rata itu. "Maafkan bunda, Nak." Gumamnya lirih.


"Jadi, makan dulu, ya." Cahya kembali mengangguk. Dirinya berdiri dari posisinya itu. Sebelum pergi, Cahya lebih dulu mengelus surai sang suami dan mengecup pelan dahi milik suaminya itu.


"Aku keluar sebentar, Mas." Setelah mengatakan hal itu, Cahya mengikuti langkah Irena menuju kantin rumah sakit.


Tanpa disadari keduanya, tangan Bryan bergerak pelan bahkan terlalu pelan untuk dilihat. Dan sepertinya penantian dan doa Cahya akan segera terkabulkan.


...☀ ❇ ☀...


Cahya melangkah menuju ruang rawat suaminya itu. Tentu saja setelah makan bersama ibu mertuanya itu. Bicara tentang ibu mertuanya itu, kini beliau tengah bersama suaminya siapa lagi kalau bukan ayah Sanjaya.


Tadi keduanya sempat bertemu dan ternyata Sanjaya belum sempat makan, makanya dia mengajak istrinya itu untuk menemaninya makan. Cahya sendiripun pamit pulang karena ingin menemui suaminya itu.


Samar - samar Cahya mendengar suara dari balik pintu kamar rawat sang suami. Tapi setahunya jam periksa dokter dan kedatangan suster itu baru beberapa menit sebelum Cahya makan bersama ibu mertuanya itu.


...Lalu suara siapakah itu?...


...Atau jangan - jangan itu suara suaminya. ...


Langsung saja ia buka pintu itu dan menatap langsung kearah bangkar sang suami. Tatapan tak percaya tergambar jelas dimatanya.


Bagaimana tidak?


Disana, suaminya sudah membuka matanya. Bukan hanya itu saja, suaminya juga sudah setengah berbaring diatas ranjang itu. Tanpa kata - kata, Cahya langsung berlari menuju kearah Bryan yang menatapnya bingung itu.


Baru saja Cahya ingin memeluk tubuh sang suami, perkataan yang dikeluarkan oleh Bryan membuat langkah kaki Cahya terhenti seketika.


..."Kau siapa?"...


...Deg!...


...Tatapan bahagia tadi terganti dengan raut tak percaya akan perkataan dari suaminya itu....

__ADS_1


"Mas, kamu lupa sama aku?" tanyanya tak percaya.


Bukannya menyanggah, Bryan malah mengangguk sekilas. "Memangnya kau siapa? Aku tidak kenal denganmu."


Untuk kedua kalinya, jantung Cahya seolah berhenti berdetak. Dirinya dilupakan begitu saja oleh suaminya sendiri? Bolehkah Cahya tertawa miris atas keadaannya itu.


Kenapa hidupnya begitu rumit. Apa salahnya dimasa lalu? Hingga hidupnya bisa seperti ini? Sangat menyakitkan dilupakan oleh suaminya yang sangat dicintainya itu.


"Tolong suapi aku lagi."


Perkataan itu membuat Cahya menatap pada sosok perempuan yang baru disadari olehnya itu. Kembali, rasa terkejut itu muncul. Begitu dirinya melihat kalau perempuan ini adalah perempuan yang sama yang dia lihat di apartemen suaminya.


Lalu siapa dia sebenarnya? Apa hubungannya dengan suaminya? Dan yang terpenting adalah kenapa dia bisa ada disini?


"Kau itu sebenarnya siapa?"


Baik Bryan ataupun perempuan tadi, kini menatap kearah Cahya. Baru saja perempuan itu ingin bertanya, tapi disela oleh Bryan.


"Dia pacarku. Memang ada masalahnya denganmu?"


"Apa?!"


Seketika tubuh Cahya melemas mendengar perkataan itu. Ditegakkan tubuhnya agar bisa menopang tubuhnya itu. Kenyataan apalagi ini, kenapa suaminya sendiri mengira kalau perempuan itu adalah pacarnya.


Atau memang Bryan memiliki hubungan khusus dengan perempuan itu. Terlebih lagi dirinya pernah melihat sendiri bagaimana kemesraan keduanya.


...❇ 🍁 ❇...


Beberapa orang tengah memperhatikan kegiatan dokter yang tengah memeriksa keadaan Bryan. Diantara beberapa orang ini, ada satu orang yang masih menata perasaanya itu.


Irena terkejut mendengarnya. Dan itu artinya Bryan lupa akan siapa itu Cahya baginya. Dipandanginya sang menantu yang kini menatap kosong kearah depan.


Direngkuhnya tubuh menantunya itu agar dia bisa jadi sandaran bagi kesakitan yang ada di hati sang menantu. Cahya tak membalas pelukan itu, dirinya hanya menatap kearah depan.


Entah kemana titik fokusnya berada yang jelas pikirannya terus berkelana memikirkan kondisi suaminya itu.


Setelah kepergian dokter dan suster, tidak ada yang bersuara. Hanya keheningan uang tercipta. Hingga akhirnya Bryan membuka suara.


"Ma, sebenarnya siapa dia? Kenapa mama memeluknya."


Eksistensi mereka semua terarah pada Bryan yang kini menatap mamanya dan Cahya yang berada di pelukan Irena.


"Dia ini adalah istrimu, Bryan." Jawaban itu membuat mata Bryan terbelalak.


"Itu tidak mungkin, Ma. Bryan belum menikah. Lagipula ini adalah kekasihku." Tunjuknya pada perempuan tadi.


Perempuan tadi menunjuk sopan kearah orangtua Bryan. Namun saat tatapan bersitatap dengan Cahya, perempuan tadi langsung mengalihkan pandangannya.


Hati Cahya tergores tipis namun dalam itu begitu pengelakkan atas hubungan mereka dan pengakuan kalau perempuan tadi itu adalah kekasihnya.


Baru saja Irena ingin menjelaskan, namun dihentikan oleh Cahya. "Sudah, Ma. Biarkan semuanya berjalan sesuai jalannya."


"Tapi, Hya--"


"Cahya hanya tidak ingin memperburuk kondisi Bryan, Ma. Mama tentu mendengar penjelasan dokter tadi, kan."

__ADS_1


Cahya menghentikan sejenak ucapannya begitu mendapat respon anggukan dari ibu mertuanya itu. "Untuk itulah, biarkan semuanya membaik dulu." Sambungnya pelan.


Tatapannya terarah pada Bryan yang masih ada di bangkar dan kini tengah menatapnya itu. Tapi Cahya tak mampu menatap lama - lama mata sang suami. Perasaannya masih terlalu sakit menerima semua yang terjadi secara tiba - tiba ini.


"Cahya pamit pergi sebentar, Ma, Yah." Keduanya ingin menahannya, tapi melihat tatapan memelas yang dilayangkan oleh Cahya pada mereka. Membuat mereka tidak jadi menghalangi Cahya.


"Jangan jauh - jauh." Cahya mengangguk sambil berlalu pergi. Dirinya tak menatap kearah suaminya, karena air mata yang sejak tadi ditahannya itu mulai merembes keluar.


Dan disinilah Cahya berada. Di taman rumah sakit yang ada di sebelah kiri dari bangunan ruang rawat Bryan itu. Cahya yang ingin menenangkan dirinya sendiri. Dan tentu saja kembali menata perasaannya.


Walaupun apa yang terjadi pada Bryan adalah takdir. Tapi hati Cahya masih belum siap menerima kalau suaminya sendiri melupakannya. Dan lebih parahnya lagi, malah menganggap orang lain sebagai kekasihnya.


Setelah tenang, Cahya berencana kembali ke ruang rawat suaminya. Hatinya terasa tidak enak meninggalkan suaminya sendirian di ruangan itu. Sebab tadi orangtuanya mengirimi pesan, kalau mereka berdua tengah mengurus kepulangan Bryan.


Dan itu artinya Bryan sedang sendirian di ruangan itu. Tapi mendadak pikirannya langsung tertuju pada perempuan tadi. Jelas saja perempuan itu masih ada di ruangan. Pasti suaminya itu tidak mengizinkan perempuan tadi pergi.


Kan suaminya itu menganggap kalau perempuan tadi itu adalah kekasihnya. Bahkan saat Cahya pergi pun, dirinya sama sekali tidak ditahan oleh Bryan.


Hembusan napas panjang dikeluarkan oleh Cahya. Dirinya memantapkan langkahnya menuju ruangan dimana Bryan berada.


...☀ ❇ 🍁 ❇ ☀...


..."Apa?"...


...Pertanyaan itu datang dari mulut Bryan, karena sejak tadi di tatap oleh Cahya yang duduk di sofa dekat bangkarnya itu....


Cahya menggeleng pelan. Sejak beberapa puluh menit yang lalu, dirinya menatap lurus kearah Bryan. Cahya mengira saat akan kembali ke ruangan ini akan melihat keberadaan perempuan yang dia tidak ketahui namanya itu.


Tapi ternyata perempuan itu tidak ada diruangan ini. Lagipula Cahya terlalu malas untuk bertanya kemana perginya perempuan itu kepada suaminya. Makanya kegiatan yang dia lakukan hanya menatap lurus kearah Bryan.


Makanya karena itulah, Bryan merasa risih dengan tatapan intens yang dilayangkan oleh Cahya padanya itu. Tapi entah kenapa, ada perasaan aneh di hatinya begitu melihat tatapan dalam yang dilayangkan oleh Cahya padanya itu.


"Kalau kau memang tidak ada kerjaan, lebih baik pergi dari sini. Aku tidak nyaman ada kau disini."


Cahya menganggap perkataan itu hanya sebagai angin lalu. Walaupun sejujurnya perkataan itu berdampak bagi hatinya, tapi tenang perasan Cahya masih kebal.


"Aku nyaman ada disini. Jadi untuk apa aku pergi."


Bryan memincingkan matanya menatap Cahya. Setelahnya dia mendengus kasar begitu tatapan tadi dibalas dalam oleh Cahya.


"Tapi aku yang merasa tidak nyaman deng ..."


"Itu urusanmu." Potong Cahya cepat. Dirinya hanya tidak ingin mendengar kalau keberadaannya itu menganggu atau bahkan membuat Bryan tidak nyaman padanya.


Bryan semakin dibuat kesal dengan jawaban itu. Apalagi dirinya belum menyelesaikan ucapannya tapi di potong seenaknya oleh Cahya.


...❇ 🍁 Terimakasih 💜 🍁 ❇ ...


...Bayangin kalian jadi Cahya? Gimana perasaan kalian?...


...Semenyakitkan itu, kah?...


... ...


.........

__ADS_1


__ADS_2