My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
116. Kabar Buruk


__ADS_3

Saat ini sebuah keluarga tengah berada di bandara. Mereka akan melalukan perjalanan menuju ke negera yang banyak kanggurunya. Mana lagi kalau bukan ke Australia.


Mereka adalah Sanjaya, Irena dan Cahya. Ketiganya sepakat berangkat hari ini untuk menyusul anak dan suami dari ketiga orang ini. Dan kabar bahagia itu belum sampai ke telinga Bryan.


Mereka sengaja merahasiakan kunjungan mereka ke Sydney, Australia. Dan juga kabar kehamilan Cahya yang sudah menginjak usia 3 minggu lebih.


Ini semua ide dari ayah Sanjaya. Lagipula masa kuliah Cahya tengah libur selama 1 bulan  setelah ujian akhir itu. Makanya ini waktu yang tepat untuk menemui sang suami dan melepas rindu, sebab sudah hampir 3 bulan mereka tidak bisa bertemu.


Perjalanan memakan waktu yang lumayan lama, hingga akhirnya mereka telah sampai di bandara internasional Australia itu. Sebuah mobil sudah disiapkan untuk menjemput mereka dan mulai mengantarkan mereka ke tempat Bryan berada.


Karena tadi berangkat agak siangan, maka sekarang sudah sore hari. Selama di perjalanan, tak henti Cahya mengulas senyum manisnya itu. Dirinya tak sabar melihat reaksi sang suami begitu melihatnya ada di depannya itu.


Tak memerlukan waktu lama, ketiganya telah sampai disebuah gedung apartemen yang letaknya sangat strategis itu. Ketiga mulai melangkah menuju ke lantai 7 dimana letak apartemen Bryan berada.


"Kau sangat bahagia, ya?" Cahya mengangguk keras sambil tersenyum cerah.


"Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Bryan." Cahya menggenggam tangan ibu mertuanya sambil ketiganya memasuki lift.


...Ting!...


Kini ketiganya sudah berada tepat di lantai 7 dan di lantai ini hanya ada 1 pintu kamar saja. Karena memang setiap lantai hanya ada satu kamar.


Bisa kalian bayangkan betapa mewahnya apartemen ini?


Sanjaya lantas berdiri di depan pintu, dirinya mengetuk pintu itu agar putranya segera membukakan pintu itu. Tapi selama 1 menit, tak ada sahutan apapun. Hal itu membuat ketiganya berpikir kalau mungkin saja Bryan sedang tidur atau tengah pergi keluar.


"Yah, kita masuk saja. Kan ayah tahu password apartemen Bryan."


Ya, keduanya memang tahu password apartemen Bryan. Tapi awalnya mereka ingin mengejutkan Bryan di depan pintu, makanya keduanya tidak langsung masuk begitu saja.


Setelah menekan beberapa angka, kini pintu di depan mereka berbunyi dan itu menandakan kalau pintu sudah tidak terkunci dari dalam.


"Ayo, kita masuk." Sanjaya melangkah lebih dulu diikuti kedua wanita dibelakangnya itu.


Ketiganya mulai melangkah untuk mencari keberadaan Bryan. Mereka yakin kalau Bryan ada di apartemen, sebab lampu ruangan ini menyala dan terdengar suara televisi dari arah barat dari arah pintu itu.


"Bryan, kami dat--" ucapan Sanjaya terhenti begitu melihat keberadaan putranya itu. Tapi ada hal yang membuat ucapannya terhenti begitu saja.


Di sofa sana, Bryan tengah duduk sembari memangku sekarang gadis. Buka hanya itu saja, mereka berdua tengah berciuman. Hal itu membuat ketiganya mematung tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Bryan ..." panggilan lirih itu membuat Bryan mendorong kasar tubuh gadis di pangkuannya itu.

__ADS_1


Matanya terbelalak melihat kehadiran keluarganya itu, terlebih lagi ketika matanya bersitatap dengan Cahya yang kini menatapnya dengan kecewa.


"Sayang, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Bryan langsung bangkit dari posisinya. Dia tidak ingin kalau Cahyanya itu salah paham.


"Tetap disana!" Cegah Cahya agar Bryan tidak menghampirinya itu.


Seketika Bryan berhenti, dirinya tidak menyangka kalau Cahya akan membentaknya itu. Walaupun Cahya pernah marah padanya, tapi tidak pernah sampai membentak begini.


"Say--"


"Aku kecewa dengamu, Bryan!" Setelah mengatakan hal itu, Cahya segera pergi meninggalkan keempat orang itu.


Dirinya langsung berlari menuju kearah lift. Dan entah kebetulan, lift itu langsung terbuka begitu Cahya menekan tombolnya. Air matanya mulai mengalir dengan deras. Dirinya tidak menyangka akan melihat kejadian seperti ini.


Padahal niat awal, Cahya ingin mengejutkan Bryan dengan kehadiran. Tapi, malah Cahya yang dibuat terkejut dengan apa yang dia lihat.


Setelah pintu lift terbuka, Cahya langsung berlari untuk mencari taxi. Untungnya, ada taxi yang barusan menurunkan penumpang di depan gedung apartemen.


Langsung saja Cahya masuk kedalam taxi itu. Ketika ditanya akan kemana oleh sang supir taxi, Cahya hanya mengatakan kemana saja yang penting jauh dari sini.


Bryan baru tiba di lantai bawah, tapi dirinya terlambat mengejar Cahya, sebab Cahya sudah lebih dulu baik taxi. Segera saja dia mengambil mobil dan mengejar taxi itu.


Hampir 10 menitan, sang supir taxi tadi menoleh kearah kaca belakang. Mendengar apa yang diucapkan oleh sang supir taxi, membuat Cahya menoleh kebelakang.


"Faster, Sir." pinta Cahya dan dituruti oleh supir taxi itu.


Di dalam mobil yang mengikuti taxi Cahya, Bryan sang pengemudi mengeram kesal. Padahal tadi jarak antara mobilnya dan taxi itu lumayan dekat. Tapi sekarang taxi itu menambah kecepatannya.


Aksi kejar - kejaran itu menjadi pemandangan di malam hari ini. Namun Bryan sedikit lengah begitu melihat ada sebuah truk yang melanggar lalu lintas dengan mengambil arah berlawanan. Padahal ini merupakan jalur satu arah.


Bryan berusaha menghindar, tapi sayangnya tabrakan itu tak terelakkan membuat mobil yang Bryan kendarai berbenturan dengan truk tadi.


Suara benturan itu mendominasi keadaan sekitar. Cahya langsung menoleh kebelakang begitu mendengar suara tabrakan itu. Perasaannya tiba - tiba menjadi tidak enak. Apalagi Cahya tidak bisa melihat keberadaan mobil suaminya itu.


..."Stop, Sir?!"...


...Sang supir taxi tadi langsung menghentikan mobilnya. Tanpa banyak bicara, Cahya langsung memberikan uang yang ada di dompetnya ke supir taxi itu....


Dirinya langsung keluar begitu melihat adanya kecelakaan. Semakin dekat dengan lokasi kejadian, perasaan Cahya semakin kalut.


Dia berlari semakin kencang begitu melihat siluet mobil yang sama dengan milik suaminya itu. Tubuhnya mendadak kaku begitu tahu ternyata kalau suaminya itulah yang mengalami kecelakaan.

__ADS_1


Airmata yang sejak tadi sudah di paksanya untuk berhenti, kembali meluncur bebas disertai isakan keras melihat keadaan mobil suaminya yang tampak remuk di beberapa sisi itu.


...🍁  ❇  🍁...


Suara isakan tak terhenti walaupun sang ibu sudah menyuruhnya untuk berhenti menangis itu.


"Sudah, Nak. Jangan menangis lagi. Mungkin ini memang takdir Bryan. Jangan menyalahkan dirimu terus."


"Ta--pi, Ma. Kalau Cahya tidak pergi begitu saja, pasti Bryan tidak akan kecelakan." Tangisannya tak henti sejak suaminya itu di bawa ke rumah sakit.


Perasaannya sangat sakit kalau mengingat kecelakaan Bryan karena mengejar taxinya. Seandainya dirinya tidak di gelayuti rasa amarah. Seandainya dia mau mendengarkan penjelasan suaminya itu.


...Kata seandainya itu terus berkelabut di pikiran Cahya....


"Tenang, Nak. Bryan pasti baik - baik saja. Ayah yakin, Bryan tidak akan selemah itu. Kita doakan saja semoga Bryan cepat sembuh."


Sanjaya mengelus surai lembut milik anak menantunya itu. Kabar dari rumah sakit yang mengatakan bahwa putranya itu kecelakaan, membuat dia dan sang istri shyok.


Sanjaya tak menampik kalau dirinya merasa takut kehilangan sosok putranya itu. Tapi dirinya berusaha menguatkan diri, sebab ada 2 orang yang harus dia tenangkan dan jaga.


Tangisan Cahya mulai terhenti, hanya sisa sesenggukan yang masih ada. Hingga kemunculan sang dokter dari ruang ICU, membuat ketiganya langsung berdiri.


"Syukur, keadaan Bryan cukup parah. Dan kondisinya masih lemah dan dia belum bisa di jenguk. Mungkin bila kondisinya sudah lebih baik, baru bisa dijenguk."


Penjelasan dari dokter membuat Cahya semakin menangis di pelukan ibu mertuanya itu. Dan untungnya dengan sabar, Irena menenangkan anak mantunya itu agar tenang.


Setelah dokter tadi pamit, Cahya berusaha untuk menenangkan dirinya dan mulai melangkah menuju ke pintu ruang rawat Bryan.


Air matanya kembali turun begitu melihat kondisi suaminya yang jauh dari kata baik itu. Lagi - lagi rasa bersalah itu muncul di benak Cahya.


Melihat kondisi sang suami yang jauh dari kata baik itu kembali membuat Cahya tak tega. Sekelabat memori kejadian beberapa jam lalu itu melintas di pikiran Cahya.


Kalau saja dirinya tidak melarikan diri dari apartemen Bryan tanpa mendengarkan penjelasan dari suami dulu. Tidak akan terjadi kecelakan pada suaminya itu.


Kedatangannya kemari itu untuk memberi kabar gembira, tapi kenapa berita duka yang dia terima.


"Ku mohon bangunlah, sayang. Jangan membuatku khawatir seperti ini." batin Cahya sambil menatap sendu sang suami.


...🍁   ❇   🍁...


...💜Terimakasih💜...

__ADS_1


  


__ADS_2