
🍁My Bipolar Boy💞🍁
Setelah adegan drama tadi berlangsung, kini keduanya sudah terlelap dalam sebuah pelukan kehangatan. Ya, lebih tepatnya sih hanya si Bryan yang tengah terlelap.
Sehabis mengobati luka di tangan Bryan tadi, Cahya yang berniat membereskan kekacauan akibat ulah suaminya itu terpaksa terhenti.
Sebab Bryan menarik tangannya untuk ikut berbaring diatas ranjang. Tentunya setelah menyingkirkan beberapa barang yang tadi ditempatkan Bryan ke arah ranjang mereka berdua. Dan termasuk vas tadi itu.
Tapi sepertinya sudah cukup bagi keduanya untuk menyelami dunia mimpi. Karena hari sudah mulai beranjak sore.
Cahya perlahan memgerjapkan kedua matanya secara perlahan. Begitu pandangannya sudah fokus, Cahya menatap sekelilingnya. Dan ternyata suaminya masih dalam posisi yang sama yaitu memeluk pinggangnya.
"Pantas saja pinggangku terasa berat." Gumam Cahya pelan.
Dengan mencoba untuk bangkit dari posisi berbaringnya itu, Cahya mulai membuat gerakan sehalus mungkin agar tidak membangunkan sang suami.
Baru juga ingin menggeser posisi tangan Bryan di pinggangnya, namun sang pemilik lebih dulu menggeratkan pelukannya.
"Bryan, kau sudah bangun?" Tanya Cahya karena merasa Bryan mulai mengubah posisinya menjadi menyamping.
Tapi Bryan sama sekali tidak membuka matanya membuat Cahya menyimpulkan kalau Bryan tanpa sadar memeluknya itu.
Kembali diangkatnya tangan Bryan agar dia bisa ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lagipula hari juga sudah sore. Lebih tepatnya pukul 16.04 P.M
Tapi lagi - lagi, tangan Bryan kembali memeluk pinggang Cahya membuat Cahya menghela napas sabar. Di liriknya sang suami yang ternyata masih memejamkan mata itu.
"Bryan, bangun. Ini sudah sore." Cahya sedikit mengoyangkan lengan Bryan untuk membuat Bryan terjaga.
Namun usaha yang dilakukannya tidak membuahkan hasil membuat Cahya kembali menghela napas sabar.
Kali ini Cahya berniat menepuk pelan pipi mulus suaminya itu. Tapi terhenti kala mata Cahya kini berfokus pada wajah sang suami. Dipandanginya sebentar wajah milik suaminya itu, entah kenapa Cahya merasa kalau kulit suaminya itu lebih mulus dan terawat dari pada miliknya.
"Kenapa aku merasa kalah menjadi wanita dengannya. Salahkan saja kulitnya yang putih, bersih, mulus tanpa noda." Gumam Cahya pelan sambil menatap wajah Bryan. Tanpa disadari gumaman itu mendapatkan kekehan dari orang yang dipangdangi oleh Cahya.
Hahaha😆
Cahya merasa aneh dengan Bryan yang tiba - tiba langsung tertawa seperti itu. Padahal kan tidak ada yang lucu. Atau jangan - jangan Bryan bermimpi yang lucu- lucu. Makanya sampai terbawa ketawa begitu.
Dan sepertinya Cahya sadar sesuatu.
"Bryan, kamu sudah bangun dari tadi, ya. Issh, nyebelin tahu." Dengus Cahya yang begitu sadar kalau Bryan itu tertawa bukan karena mimpinya, tapi karena sedang menertawakannya.
Cahya langsung saja mendudukan dirinya begitu pelukan tadi terlepas. Belum juga menghentikan tawanya, Bryan juga ikut duduk sambil memperhatikan sang istri yang nampak kesal padanya itu.
"Jadi kau sudah bangun sejak tadi, ya." Bryan mengangguk membenarkan apa yang diucapkan oleh istrinya itu.
"Kenapa tidak menyahut waktu aku bicara padamu." Kali ini Cahya tak menatap Bryan begitu mengatakan hal itu. Dia engan menatap suaminya. Ditambah lagi Cahya masih mendengar sedikit tawa diujung bibir Bryan.
Tak ingin meladeni suaminya itu, Cahya berniat turun dari ranjang untuk ke kamar mandi.
Grep
Tubuh Cahya di peluk dari belakang oleh seseorang. Tentunya kalian tahu siapa yang memeluk Cahya saat ini.
Seseorang yang memeluk tubuh Cahya kini mulai menyadarkan dagunya di bahu sang istri. "Maaf."
Satu kata itu membuat Cahya menghela napas sebelum menganggukkan kepalanya. "Tak apa." Jawab Cahya singkat, bukan karena masih marah tapi hanya bingung ingin menjawab apa.
"Kau mau kemana?" Pertanyaan itu membuat Cahya menunjuk kamar mandi yang ada di dalam kamar.
"Aku ikut, ya." Entah kenapa Cahya merasa saat ini sang suami tengah menggodanya. Apalagi dengan posisi tangan yang semula berada di pinggangnya perlahan naik keatas.
Langsung saja Cahya menghentikan aktivitas sang suami sebelum bertindak lebih jauh lagi daripada sekarang ini.
Bryan terkekeh pelan begitu merasakan respon tubuh Cahya yang sempat meremang sebelum menghentikan keusilan tangannya itu.
"Bryan, Jangan usil." Ujar Cahya yang kini mulai melepaskan pelukan di tubuhnya itu. Akhirnya pelukan itu terlepas dan langsung saja Cahya berdiri menjauhi suaminya itu.
Bryan memiringkan kepalanya sambil menatap kearah Cahya. "Memangnya aku usil apa?" Cahya memincingkan matanya menatap Bryan. Dari arah tatapannya saja seperti mengisyaratkan 'aku masih bertanya, padahal sudah tahu jawabannya?'.
Tanpa menjawab, Cahya langsung saja pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bahkan Cahya tak menatap kearah Bryan sama sekali.
Biarkan saja, Cahya kesal saat ini.
Tapi saat akan menutup pintu, ada yang menahannya dari luar. Siapa lagi kalau bukan Bryan. Memang ada berapa orang yang ada di dalam kamar utama saat ini. Hanya ada mereka berdua, kan.
__ADS_1
"Apa?" Ucap Cahya ketus, bahkan ekspresinya mengisyaratkan kekesalan walaupun hanya sedikit.
Tentu saja sedikit, memangnya siapa yang tahan buat lama-lama kesal sama Bryan. Pasti jawabannya nggak akan ada😉.
"Aku tadi bilang mau ikut, kan?" Sontak saja Cahya membelalakan matanya begitu mendengar ucapan dari Bryan itu. Otaknya mulai berpikiran yang macam - macam.
"Aku kan mau mandi. Masa Bryan pengen ikutan? " Batin Cahya sambil menggelengkan kepalanya menolak asumsinya itu.
"Aku pengen mandi, Bryan." Ucap Cahya mencoba setenang mungkin. Alis Cahya semakin tertukik begitu melihat Bryan yang menganggukkan kepalanya.
Bryan menatap sang istri dengan pandangan yang lain dari biasanya. "Karena hal itulah, aku pengen ikutan."
Entah kenapa rasanya Cahya pengen banget nampol kepala Bryan. Apalagi ekspresi wajah Bryan itu, membuat Cahya menekadkan niatnya. Tapi mana mungkin Cahya berbuat seperti itu, yang ada Cahya bisa masuk penjara atas kasus 'KDRT '.
"Nggak Boleh Ikut!" Ucap Cahya disertai penekanan tiap katanya.
"Tapi aku pengen ikut!" Bryan semakin kekeh menekan pintu itu agar terbuka lebar. Cahya pun merasa kewalahan menahan pintu itu dan akhirnya pintu tersebut terbuka lebar membuat Bryan bisa masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku tuh mau mandi. Kamu keluar dulu atau kamu mau mandi dulu, silahkan. Biar aku yang belakangan mandinya." Cahya mempersilahkan Bryan untuk mandi duluan dan dia yang belakangan.
Lagipula mengalah kepada suami itu juga perbuatan baik, kan? Jadi nggak lah, Cahya mengalah kali ini.
Tapi belum selangkah dari posisinya tadi, Bryan sudah lebih dulu menarik tangan Cahya untuk mendekat kearahnya.
"Tadi aku bilang ikutan, bukan aku mau mandi. Ingat?" Posisi keduanya saat ini sangat berdekatan, bahkan jarak pun sepertinya minder berada di tengah-tengah mereka berdua.
"Jadi kamu maunya seperti apa?" Tanya Cahya yang mulai pasrah menghadapi tingkah suaminya itu, yang kadang membuatnya sampai mengelus dada.
"Aku maunya ikutan kamu mandi!" Saya berusaha menekan kekesalananya terhadap sang suami yang tetap pada pendiriannya itu. Walaupun dalam hati Cahya sudah berusaha mengontrol rasa geregetan yang hinggap di hatinya saat ini.
"Terserah kamu sajalah." Setelah mendengar jawaban itu, Bryan langsung menutup pintu kamar mandi dengan kakinya.
Dan yups kalian pasti bisa mengetahui apa yang terjadi didalam kamar mandi itu. Tapi jangan berpikiran yang aneh-aneh. Sebab apa yang terjadi di kamar mandi tidak seperti yang kalian semua pikir. Karena hal itu tidak terjadi di antara keduanya.
💞💞💞
Setelah keduanya selesai mandi dan berganti pakaian, Cahya sudah lebih dulu berjalan turun ke lantai dasar apartemennya, untuk membersihkan kekacauan yang telah dibuat oleh suaminya itu.
Tapi begitu sampai di lantai dasar, ternyata kondisi lantai dasar jauh berbeda daripada apa yang dilihatnya sebelum menemui Bryan.
Seingatnya dia dan Bryan belum sempat membersihkan area lantai dasar, bahkan tadi setelah mengobati luka Bryan, Cahya hanya membersihkan area kamar mereka saja karena dirinya sudah ditarik oleh Bryan untuk beristirahat.
Tapi yang membuat Cahya itu adalah siapa dan kapan yang membersihkan semuanya?
"Siapa yang membersihkan semua ini? Apa mungkin itu Jin? Aku rasa itu tidak mungkin. Kalaupun iya, masa sih ada Jin? " Gumam Cahya yang sayangnya didengar oleh Bryan, karena posisinya Bryan ada tepat di belakang Cahya.
"Aku tadi sudah menyuruh orang untuk membersihkan ruangan ini." Suara itu membuat Cahya terkejut. Sebab Bryan sudah ada dibelakangnya, padahal tadi sebelum kemari, Bryan masih sibuk berganti pakaian.
Tapi mendengar jawaban dari suara itu membuat Cahya menghela napas lega. Setidaknya apa yang dia pikirkan tadi tidak benar-benar terjadi.
"Kenapa?" Cahya hanya mengeleng pelan.
Bryan tampak menelisik pandangannya kearah penjuru ruangan "Sudah bersih semua, kan?"
Cahya hanya menganggukkan kepalanya saja, dia juga baru mengetahui kalau ruangan ini sudah dibersihkan oleh orang yang diperintahkan Bryan tadi.
"Oh, ya kau belum makan siang, kan. Ingin makan apa biar aku masakan makanan yang ingin kau makan." Tawar Cahya pada Brian, sudah sepatutnya sebagai istri itu memasakkan makanan untuk suami mereka.
"Memangnya, kau bisa masak?" Entah pertanyaan itu hanya sebatas godaan saja atau ejekan untuk Cahya. Tapi yang jelas, Cahya mulai kesal dibuatnya.
"Kau meremehkan aku? Walaupun aku nggak jago masak, setidaknya aku masih bisa memasakanmu makanan yang layak untuk dimakan." Cahya mulai merotasikan matanya dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Berarti kamu memang mengakui kalau kamu tidak jago masak." Bryan menaikkan sebelah alisnya untuk menggoda istrinya itu, yang terlihat makin kesal akibat ucapannya.
"Jangan menghina, ya. Lagipula tadi aku kan sudah bilang, kalu aku memang nggak jago masak, tapi masih bisa membuatkanmu makanan yang layak untuk dimakan." Jelas Cahya sambil menatap lurus kearah Bryan.
Bahkan Cahya sampai harus dibuat mendongak agar bisa menatap mata suaminya itu.
"Kalau begitu buktikan. Aku ingin lihat dan ingin merasakan bagaimana sih masakan kamu itu."
Cahya benar-benar dibuat jengkel dengan perkataan Bryan itu."Memangnya kamu pikir, selama seminggu ini kau makan masakan siapa?"
"Masakan mamaku." Saya mau membalasnya tapi tidak jadi. Dia hanya memperbanyak sabar dan mulai menghela napas panjang.
"Percuma meladeni Bryan, pasti tidak akan kelar-kelar bahkan sampai esok hari." Monolog Cahya dalam hati.
__ADS_1
"Terserah kamu." Hanya 2 kata itu yang mewakili perasaan dongkol dihati Cahya. Cahya sendiri lantas berlalu menuju dapur mengabaikan panggilan Bryan dibelakangnya.
Tapi di sela langkahnya Ia terus bergumam sambil melipat kedua tangannya. "Aku juga bantu mama masak. Ya kali aku diam saja dirumah mertuaku."
Bagaimana Cahya nggak dongkol, kalau apa yang kalian lakukan tidak dianggap berarti oleh orang lain. Jangankan dianggap, dilirik pun tidak. Kesel atau nggak?
Begitu sampai di area dapur, Cahya langsung membuka kulkas untuk melihat bahan apa saja yang ada didalamnya. Namun yang ia lihat, hanya ada beberapa buah dan juga air mineral.
Melihat hal itu itu membuat Cahya niat untuk memanggil sang suami. tapi belum sempat dipanggil, suaminya itu sudah lebih dulu berdiri disampingnya membuat Cahya kaget dibuatnya.
"Kau membuatku kaget, Bryan!" Cahya tanpa sadar menaikkan nada ucapannya. Bukan ada maksud Cahya berbuat seperti itu. Tapi itu hanya reflek saja.
Bryan tak menggubrisnya, dia hanya itu melonggokan kepalanya untuk melihat isi dari kulkas tersebut.
"Bryan, tidak ada stok makanan apapun di kulkas. Hanya ada beberapa buah dan air mineral." Cahya memberitahu Bryan yang saat ini menyandarkan dagunya di pintu kulkas.
"Memang tidak ada apa-apa."
Ucap Rayan santai.
"Lantas kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?" Sahut Cahya agak kesal.
"Aku ingin memberitahumu, tapi kau sudah lebih dulu pergi." Jelas Bryan yang membuat Cahya mengangguk.
"Kalau seperti ini, kita mau makan apa?" Cahya mulai menutup pintu kulkas, setelah Bryan sudah tidak menyandarkan dagunya di pintu kulkas.
Bryan mulai mengeluarkan ponselnya. "Kita pesan makanan saja, bagaimana menurutmu?"
"Apa kau tidak apa - apa, kalau harus memesan makanan."
"Memangnya aku kenapa?" Alis Bryan terangkat sedikit.
Cahya mengeleng pelan, "Tidak, hanya saja..." awalnya Cahya berniat melanjutkan ucapannya, tapi tidak jadi.
"Sudahlah lupakan." Ucap Cahya sambil mengibaskan tangannya pelan.
"Oke, kamu mau makan apa? Nanti aku pesanin." Tawar Bryan pada istrinya itu.
"Aku samain aja sama kamu." Cahya menjawabnya biasa, tapi respon Bryan-nya yang nggak biasa.
"Cie - cie, pengennya disamain terus nih yee." Bryan menarik turunkan alisnya dengan sengaja.
"Apaan sih, kan tadi kamu sendiri yang nawarin. Jadi daripada repot beli ini itu, lebih baik sekalian samain saja."
Cahya tidak habis pikir, seharian ini Bryan bersikap aneh dan usilnya itu loh yang bikin Cahya harus menghela napas sabar.
Bryan hanya terkekeh geli melihat raut wajah istrinya, yang mana menurutnya sangat cantik itu begitu sedang kesal seperti saat ini. "Ya sudah, kita pesannya samaan. Dan kamu tunggu di ruang tamu saja, Okey👌."
"Oke, siap Bos." Ucap Cahya sambil mengangkat tangannya ber ala hormat kepada Bryan.
Setelah Bryan memesan makanan, kini keduanya sudah berada di sofa sambil menonton TV. Tentunya untuk membunuh waktu sampai pesanan mereka datang.
Akhirnya pesanan yang mereka tunggu datang juga. Dan butuh waktu cukup lama yaitu sekitar 25 menit. Kini keduanya mulai menyantap makanan sambil sesekali bercanda. Apalagi keduanya ini adalah pasangan suami istri baru jadi hubungan keduanya masih anget gitulah.
You know lah😆
Yang tadinya sore kini mulai beranjak malam. Bahkan kini waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 P.M. Waktu yang pas untuk belajar, begitu pula yang dilakukan oleh Cahya saat ini, mengingat besok dia dan Bryan akan menghadapi ujian nasional.
Tentu saja mereka harus belajar agar bisa menjawab soal ujian yang diberikan nanti.
Tapi sepertinya hanya Cahya seorang yang belajar sedangkan Bryan sibuk dengan ponselnya, lebih tepatnya sibuk pada game onlinenya itu
.
.
.
.
Terimakasih Sudah Berkunjung Sampai Sejauh Ini💞💙
💞Salam hangat untuk kalian semuanya😍💞
__ADS_1