My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
111. Kelulusan


__ADS_3

...☀My Bipolar Boy☀...


.......


.......


Hari ini adalah hari yang dinantikan oleh para siswa kelas 3. Sebab hari ini adalah pengumuman hasil kelulusan dari para siswa. Bel masuk kelas sudah berdering sejak 35 menit yang lalu, tapi karena kelas tiga sudah tidak ada pelajaran, makanya mereka bebas berkeliaran di penjuru sekolah.


Seperti Cahya dan Bryan yang kini tengah berada di ruang pribadi milik Bryan. Tentu kalian masih ingat kan, tentang ruang pribadi milik Bryan yang ada di sekolah ini. Nah, berhubung mereka bingung mau kemana, disinilah di pilihan Bryan tertuju.


Keduanya tengah berdiskusi sesuatu. "Jadi kau mau anak berapa?" tanya Bryan yang kini memeluk tubuh Cahya. Sudah sejak tadi Bryan melayangkan pertanyaan seperti itu kepada Cahya.


Cahya belum membalasnya, sebab dirinya masih berkutat dengan tontonan yang ada di ponselnya itu. Sejujurnya Cahya masih sebal dengan Bryan. Alasanya adalah karena semalam harusnya Cahya itu streaming comeback biasnya.


Tapi, Bryan sama sekali tidak memberikan Cahya waktu untuk bermain ponsel. Tentu saja alasanya hanya mereka dan Tuhan saja yang boleh tahu. Anak kecil tidak boleh tahu.


Jadi sejak berangkat tadi, Cahya fokus pada ponselnya. Bahkan saat Bryan membawanya kemari, Cahya sama sekali tidak menolak. Bryan mendatarkan pandangannya begitu tidak mendengar respon Cahya akan pertanyaannya itu.


Diambilnya paksa ponsel Cahya, membuat Cahya terkesiap dengan tindakan Bryan padanya itu. "Issh, Bryan. Kenapa diambil sih. Sini balikin." Cahya berusaha merebut kembali ponselnya namun tidak berhasil.


Dengan santai, Bryan melempar ponsel itu kearah sofa yang tak jauh dari posisinya. Mata Cahya melotot melihat ponselnya main di lempar - lempar saja oleh Bryan. Untung saja ponselnya tidak mental dan jatuh, kalau sampai iya. Awas saja, Bryan habis ditangannya.


Cahya membalikkan posisi duduknya yang semula membelakangi Bryan menjadi menghadap ke Bryan. "Kau itu kenapa sih? Aku cuma ingin main ponsel sebentar."


"Sebentar apanya, sejak pagi kau mencueki aku dan malah asyik main ponsel." Dengusan itu terdengar jelas di telinga Cahya. Sedikit menghembuskan napas berat, Cahya mulai melembutkan pandangannya kearah suaminya itu.


Terlihat jelas raut ngambek diwajah tampan suaminya yang kini membuang muka terhadapnya. Ditariknya pelan dagu Bryan agar menghadap wajahnya.


"Sayangnya Cahya, jangan ngambek lagi, nanti wajah tampannya luntur loh." goda Cahya sambil menoel pelan hidung mancung Bryan. Sedangkan yang digoda berusaha senyumannya.  Apa lagi begitu mendengar kata sayangnya Cahya.


"Kalau mau senyum, ya senyum aja. Jangan ditahan - tahan begitu." Cahya tertawa pelan begitu melihat wajah Bryan yang sedang menahan senyumannya itu. Pada akhirnya senyum di bibir Bryan terbit juga.


Kembali Bryan memeluk tubuh istrinya erat membuat Cahya sedikit kesulitan untuk bernapas. "Se ... sak Bry ... an." Cahya memukul pelan bahu lebar sang suami untuk menghentikan pelukannya itu.


Bryan sedikit mengendurkan pelukannya dan tanpa aba - aba dirinya mencuri sebuah kecupan di bibir Cahya. Walaupun sempat kaget, tapi Cahya mencoba untuk biasa saja. Sudah terlalu sering Bryan bertindak tiba - tiba seperti ini.


"Sekarang jawab pertanyaanku. Kau mau anak berada?" Cahya tersenyum lembut. "Sedikasihnya saja, Bryan. Lalu kalau kau mau anak berapa?" Kali ini pertanyaan itu berbalik pada Bryan.


"Aku pengennya tiga, tapi ya sama sih. Sedikasihnya saja." Bryan tersenyum lembut sambil memandang mata Cahya dengan tatapan penuh cinta.


Keduanya kembali larut dengan obrolan mereka hingga perkataan Bryan membuat Cahya terkejut. "Kita main yuk." ajaknya sambil menaik turunkan alisnya itu.


Cahya yang mengerti akan kata 'main' yang di ucapkan oleh Bryan itupun langsung meneguk salivanya susah payah. "Jangan bercanda, Bryan. Ini masih di sekolah."


Seolah tak mendengar penolakan itu, Bryan mulai mengikis jarak diantara mereka. Cahya pun siap siaga dengan memundurkan tubuhnya. Namun tangan Bryan bergerak lebih dulu dengan menahan tubuh Cahya agar tak lagi menjauh darinya.


Cahya mulai memperingati Bryan. "Bryan, jangan macam - macam loh. Tadi malam juga sudah sih."


Bryan menggelang lemah. "Tapi aku mau lagi." ucapnya dengan cepat menubruk tubuh istrinya itu. Untung saja posisi mereka itu ada di ranjang, jadi Cahya tidak terlalu merasakan sakit saat tubuh sang suami melayang menuju kearahnya itu.


Tinggalkan saja kedua anak manusia ini. Biar mereka menyelesaikan urusan mereka itu.


...☀❤☀❤☀❤☀❤☀❤☀...


Saat ini aula sekolah sudah dipadati oleh para siswa kelas 3. Sepuluh menit yang lalu, kelas 3 disuruh menuju kepala untuk di beritahukan terkait kelulusan mereka itu. Dan disinilah mereka menunggu kedatangan sang kepala sekolah dengan perasaan campur aduk.


Berbeda dengan Bryan yang sejak tadi tak berhenti tersenyum itu. Bahkan di beberapa sudut, para siswi terpekik begitu melihat secara langsung senyum menawan milik seorang Bryan Giovino Wirautama.


Jarang - jarang mereka bisa melihat langsung senyum itu setelah peristiwa dilarikannya Bryan ke rumah sakit waktu itu. Bahkan sejak saat itu, Bryan jarang sekali datang ke sekolah. Dan begitu masuk sekolah kembali, panggilan namanya juga berubah. Dari yang semula Bryan menjadi Vino.

__ADS_1


Cahya mengeram kesal dengan sosok di sampingnya yang masih sibuk tersenyum itu. Bagaimana tidak kesal, suaminya itu berhasil menciptakan tanda ditubuhnya yang membuatnya harus terpaksa memakai hoodie. Padahal sudah sejak tadi dirinya merasa kegerahan akibat cuaca yang terasa panas saat ini.


Akhirnya yang mereka nanti juga, kepala sekolah sudah berjalan menuju kearah panggung yang memang tersedia diatas panggung itu.


"Selamat pagi anak - anak." sapanya pada para siswanya itu. "Kalian tentu tidak sabar menunggu keputusan kelulusan kalian, kan?" lanjutnya yang disambut anggukan oleh semangat dari para siswa.


"Baiklah, bapak akan sampaikan sekarang juga. Kalian dengarkan baik - baik, ya." Semunya tampak memperhatikan dan memfokuskan pendengaran mereka.


"Tahun ini ...." Bram sengaja menjeda ucapannya agar membuat semuanya penasaran.


"Angkatan kalian, dinyatakan ...." Kembali Bram menghentikan ucapannya membuat hampir semuanya mengertakan gigi karena gugup sekaligus kesal dibuat penasaran seperti saat ini.


"Lulus 100%." 3 kata itu mampu membuat semua para siswa yang hadir terlonjak kaget. Dan tak lama di susul ucapan syukur karena mereka lulus. Raut kebahagiaan mulai menghiasi wajah para siswa kelas 3 ini.


Suasana yang tadi sempat hening itu kini sudah terisi oleh seruan kegembiraan tak terkecuali Cahya dan Bryan. Mereka berdua juga merasakan euphoria yang tengah melanda teman - temannya itu.


"Selamat atas kelulusan tapi dan untuk acara kelulusan akan diadakan dua minggu lagi, ya. Tapi ingat setelah lulus, bapak harap kalian bisa menggapai cita - cita kalian dan bisa menjadi orang sukses." Senyum manis Bram juga teriring dengan ucapannya tadi itu.


Rasa haru dan bangga dirasakan olehnya begitu melihat para siswanya bisa lulus 100%. Walaupun ada terselip sedikit rasa sedih dihatinya. Bukan karena tidak senang, para siswanya itu lulus. Tapi sedih karena tidak bisa lagi mengurusi mereka, terlebih yang sudah sering masuk ke ruangannya akibat melanggar peraturan sekolah.


Setelah acara tadi usai, kini para siswa kelas tiga mulai meninggalkan aula. Tentu saja mereka diperbolehkan untuk pulang, lagian mereka juga sudah tidak ada mata pelajaran.


Kini Cahya dan Bryan saling bergandengan menuju ke pintu keluar aula, tapi langkah mereka terhenti akibat sebuah panggilan di belakang mereka.


"Bryan, Cahya." Panggilan itu ternyata bersumber dari omnya Bryan, siapa lagi kalau bukan Om Bram.


Bryan menaikkan alisnya begitu tahu kalau yang memanggil namanya adalah omnya. Tanpa berniat menyapa, Bryan memberikan tatapan bertanya pada omnya itu. Bram yang mengerti perangai Bryan itupun mulai membuka suaranya.


"Kalian berdua kan sudah lulus. Lalu mau melanjutkan kemana?" Cahya memandang kearah Bryan sebentar seolah meminta jawaban. Tapi kembali berbalik menatap omnya itu.


Baru saja Cahya ingin buka suara. Tapi jawaban dari Bryan membuatnya terdiam. "Aku ingin melanjutkan kuliah diluar negeri, lebih tepatnya di Sydney, Australia."


Bram menganggukkan kepalanya mengerti. Lalu pandangannya terarah ke Cahya yang terdiam di samping keponakannya itu. "Lalu kamu, Hya?" Cahya mengerjep sebentar sebelum menjawabnya.


"Ya, sudah. Om mau kembali ke ruangan om dulu. Kalian kalau mau pulang, hati - hati dijalan." Setelah Bram meninggalkan keduanya yang saat ini terdiam. Lebih tepatnya hanya Cahya yang terdiam dalam pikirannya itu.


Bryan mengajak Cahya untuk pulang ke apartemen mereka itu. Selama perjalanan Cahya hanya sedikit menanggapi obrolan yang Bryan ciptakan itu. Sesekali dia menatap keluar jendela dengan pandangan menerawang.


"Kenapa?" Bryan sedikit merasa aneh dengan sikap diamnya Cahya. Kalaupun marah, biasanya Cahya tidak hanya diam. Tapi pasti akan sedikit mengomel.


Tapi ini, Bahkan Cahya menanggapi ucapannya dengan tidak semangat. "Kau masih marah?" Bryan mengira kalau Cahya masih marah akibat tindakannya tadi. Tapi gelengan yang diberikan oleh istrinya itu membuat Bryan sedikit lega.


Kini mereka sudah sampai di apartemen mereka. Tanpa berkata, Cahya langsung masuk kedalam kamar mereka. Tentu saja Bryan ikut masuk kedalam kamar.


"Kamu kenapa?" Bryan menanyakan hal tersebut karena sikap istrinya itu terlalu aneh menurutnya. "Aku tidak apa - apa, Bryan."


"Kau yakin?" Cahya tersenyum sambil mengangguk. "Paling hanya sedikit capek. Lagian ini juga karena ulahmu tadi." Cahya berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka itu.


Cahya hanya tak ingin Bryan sampai tahu, kalau dirinya kepikiran soal Bryan yang ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri itu. Bukankah Cahya tidak suka, tapi Cahya hanya sedikit merasa khawatir dengan kondisi suaminya saat disana nantinya.


Walaupun sedikit enggan mengakui, tapi Cahya hanya takut kalau Bryan sampai berpaling darinya. Cahya tahu, dia bukan gadis yang cantik. Masih banyak gadis cantik dan manis melebihi dirinya di luaran sana.


Boleh dikatakan bahwa Cahya sedang merasa incesure.


Berulang kali Cahya mencoba untuk tidak memikirkan hal itu, tapi tetap saja Cahya kepikiran. Bukannya surut, malah semakin menjadi - jadi.


...❇☀❇☀❇☀❇☀❇☀...


Sudah 5 hari Cahya bersikap sedikit aneh menurutnya. Tak jarang dia melihat istrinya itu melamun. Bahkan saat makan bersama pun, Cahya terlihat tidak nafsu makan.

__ADS_1


Ketika ditanya, pasti jawabannya 'tidak kenapa - napa'. Bryan sampai bosen dengernya. Seperti saat ini, keduanya sedang duduk di sofa sambil menonton Tv.


Bryan sadar kalau Cahya sejak tadi sedang gusar entah kerena apa. Seolah istrinya itu ingin bertanya tapi tidak jadi padanya. Hal itu tentu saja membuat Bryan penasaran.


"Bryan," Bryan menoleh kearah Cahya yang barusan memanggilnya itu. Tapi ketika Bryan menoleh, Cahya malah menggelengkan kepalanya dan berucap. "Tidak jadi."


Bryan menghembuskan napas panjang. Dia bukannya marah atau apa pada sang istri. Tapi dia itu sangat penasaran dengan tujuan Cahya memanggilnya itu.


Panggilan itu bukan yang pertama atau kedua, sejak keduanya duduk di sofa ini. Tapi ini sudah yang ke dua belas kali. Namun Cahya selalu melanjutkannya dengan kata - kata 'Tidak jadi'.


Hal itu tentu saja membuat Bryan penasaran dibuatnya. Sebenarnya istrinya ini kenapa. Perasaan dia tidak berbuat salah padanya.


"Bry---" Baru saja ingin kembali memanggil namanya, Bryan sudah memotong ucapannya itu.


"Kalau jawabnya nggak jadi lagi, aku benar - benar akan marah padamu." ancamnya yang membuat Cahya gugup di tatap datar oleh suaminya itu.


"Sebenarnya kau ini kenapa? Apa yang ingin kau tanyakan padaku? Jangan buat suami tampanmu ini menua sebelum waktunya."


Kalau saja Cahya sedang ingin bercanda, pasti dia akan tertawa keras mendengar rengekan Bryan tadi. Tapi kali ini, Cahya sedang tidak ingin bercanda. Pikirannya saja sudah pusing memikirkan masalahnya.


  


Sebelum membuka suara, Cahya terlebih dulu membuang napas panjang dan kini mulai menatap kearah suaminya itu. "Aku mau tanya, kau serius ingin melanjutkan kuliah di luar negeri?"


Pertanyaan itu membuat Bryan mengangguk. Melihat respon anggukan itu membuat Cahya sedikit tertunduk. Matanya mendadak memanas. Tanpa bisa dia cegah, air mata itu keluar begitu saja.


Isakan pelan mulai keluar dari celah bibir Cahya. Bryan dibuat panik begitu mendengar isak tangis Cahya. Tanpa perlu waktu lama, Bryan langsung merengkuh tubuh sang istri agar berpindah ke pelukannya itu.


Dengan sayang, Bryan mencoba menenangkan sang istri yang masih berada di pelukannya itu. Diusapnya pelan punggung Cahya agar bisa menghentikan tangisan Cahya itu.


Setelah beberapa menit, akhirnya suara isakan itu sudah tak lagi terdengar. Merasa kalau Cahya sudah tenang, Bryan mencoba menanyakan alasan kenapa istrinya itu menangis.


"Kenapa menangis? Sedang ada masalah?" Respon gelengan diberikan oleh Cahya. "Lalu kenapa? Kamu sakit atau lagi tidak enak badan?" Sekali lagi, respon Cahya hanya memberikan gelengkan kecil.


"Kau lapar?" Hanya respon gelengan dari Cahya membuat Bryan benar - benar bingung dengan kondisi Cahya. Baru saja Bryan ingin kembali bertanya, tapi terhenti ketika Cahya mulai membuka suaranya.


"Kau benar - benar akan melanjutkan kuliah di luar negeri?" Seketika Bryan tahu kemana arah pembicaraan ini tertuju. Dengan anggukan pelan Bryan meresponnya. Melihatnya seketika raut sedih kembali menghiasi wajah Cahya.


Ditangkupkan wajah Cahya dalam tangannya. Ditatapnya kedua mata Cahya dengan lembut sarat akan kasih sayang. "Jangan bersedih, aku tidak ingin melihatmu menangis seperti ini."


Cahya mengangguk sekilas. "Kalau kau benaran kuliah disana. Kita Ldr-an dong, ya." Bryan terkekeh pelan melihat wajah Cahya yang tampak memelas di matanya itu.


"Kalau kau nggak mau aku pergi, aku nggak akan pergi." Seketika Cahya menggeleng pelan. Dia tidak mau menjadi alasan Bryan membatalkan niatnya kuliah diluar negeri itu.


"Jangan." Alis Bryan terangkat satu. "Kenapa jangan?" tanya Bryan. Cahya menatap kearah mata Bryan. "Aku nggak mau jadi penghalangmu untuk mengejar impianmu berkuliah disana.


"Jadi?" Sebelum memberikan jawaban. Cahya lebih dulu membuang napas pendek. Dia sudah yakin akan keputusannya itu.


"Aku mengizinkanmu untuk pergi kuliah kesana. Sedangkan aku akan kuliah disini saja." Bryan memeluk tubuh Cahya begitu mendengar jawaban dari kebimbangan akhir - akhir ini akan keputusan pergi ke luar negeri.


"Kau memang terbaik. Walaupun nantinya kita akan berjauhan. Aku pasti akan meluangkan waktu untuk mengabarimu."


"Kau janji, kan? Jangan berbohong, ya." Kini Cahya menyodorkan kelingkingnya kearah wajah Bryan. Dengan senyum manis, Bryan menautkan jari mereka berdua sebagai bentuk pinky swear.


Keduanya larut dalam pelukan, meraka saling berbagi kasih sayang. Karena sebentar lagi, keduanya akan tinggal berjauhan. Bukan cuma beda kampus, tapi juga beda benua. Semoga tidak ada yang menghalangi kebahagiaan mereka.


...☀❇☀❇💖❇☀❇☀...


🍁Terimakasih sudah mau berkunjung kemari. Dan terimakasih atas vote dan komentar kalian😍🍁

__ADS_1


    


  


__ADS_2