My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
60. Gagal Berduaan


__ADS_3

💞M.B.B💞


"Kalau mau pacaran jangan di kelas." ujar orang itu dingin. Belum sempat Cahya menyanggah, lebih dulu Vino bersuara membuat Cahya disampingnya langsung menoleh.


"Pacaran itu apa? Vino enggak tahu." Ucapnya polos.


"Cih, bego banget sih jadi orang. Pacaran aja nggak tahu." Desisnya kasar. Cahya bahkan terkejut mendengar ucapannya itu.


"Kalau ngomong bisa disaring dulu nggak. Kasar banget kalau ngomong." Sahut Cahya yang tidak terima atas ucapan teman sekelasnya itu.


Bukannya menjawab orang tadi malah berjalan mendekati Cahya, atau lebih tepatnya menuju ke bangkunya yang berada tepat dibelakang Cahya. Baik Cahya atau Vino kini menatap orang itu dengan alis terangkat satu.


"Memang aku peduli." Suara orang itu kembali terdengar setelah ia mengambil sesuatu dari loker mejanya. Mungkin itu sebuah dompet.


Kemudian kembali berjalan melewati kedua anak manusia itu hingga punggungnya tidak lagi terlihat oleh kedua orang itu.


"Dia siapa?" Vino kembali bertanya begitu tak lagi melihat sosok tadi.


Cahya yang tadi menatap teman sekelasnya itu kini mulai menatap Vino yang menatapnya penasaran.


"Dia teman sekelas Cahya. Yang Cahya tahu, dia bernama Fael, tapi Cahya tidak tahu siapa nama lengkapnya." Jelasnya yang langsung dipahami oleh Vino.


"Ooh begitu." Seakan ingat sesuatu Vino kembali bertanya pada Cahya.


"Lalu kalau pacaran itu apa?"


Kali ini Cahya bungkam begitu ditanya hal begituan. Ia hanya bingung harus menjelaskannya bagaimana. "E..eh pacaran itu kayak sahabatan gitu tapi deket banget".


"Kayak Vino sama Cahya, ya?" Tanyanya yang malah bikin Cahya makin gelagapan.


"It..tu, tadi Vino kemari mau apa?" Tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan. Bahkan kali ini Cahya menatap kearah lain dengan muka yang mulai memerah.


"Ooh iya, Vino mau ngajak Cahya makan. Vino laper." Ucap Vino sambil mengelus perutnya membuat Cahya yang sempat melihatnya tersenyum.


"Baiklah, ayo kita ke kantin." Ajak Cahya yang disambut senyuman manis oleh Vino. "Ayo." Vino segera menarik tangan Cahya agar ikut ke kantin.


Selama perjalanan banyak anak yang melihat mereka dengan tatapan penasaran. Bahkan kagum, yang tentu saja dilayangkan untuk Vino.


Cahya tentu saja sadar tatapan beberapa gadis disini mengarah pada Vino. Ia tahu kalau Vino itu tampan, tapi apa perlu sampai segitunya juga.


Tak berselang lama, keduanya telah sampai di kantin. Hal pertama yang ditemuinya adalah keramaian.


Tentu saja ramai, orang rata rata para siswa kemari. Jadi, ya pasti ramai. Bahkan tempat dudukpun sudah penuh membuat Cahya bingung harus duduk dimana.


"Kita mau duduk dimana?" Tanyanya pada Vino yang kini sibuk mencari tempat duduk.


Cahya kembali merasakan tarikan di tangannya begitu pula tubuhnya yang mulai mengikuti langkah Vino kesalah satu meja di kantin.


Yap. Kini keduanya sudah berada tepat didepan meja pojok kantin yang kosong.


"Ayo duduk" kembali Vino menarik tangan Cahya membuat Cahya ikut duduk di samping Vino.

__ADS_1


"Kok bisa kosong, padahal bukannya tadi sudah full, ya?" Gumamnya pelan.


Vino menatap Cahya yang sedang ngomong sendiri. "Kenapa?"


"Apanya?" Tanyanya bingung.


"Cahya tadi kenapa ngomong sendiri? Vino nggak diajak ngobrol."


"Cahya nggak ngomong sendiri. Cuma bingung aja kenapa bangku ini kosong, padahal yang lain udah penuh." Bukannya menjawab, Vino malah ketawa membuat Cahya bingung.


"Vino ini kenapa, ya?" Batinnya dalam hati sambil memandangi Vino.


Vino menghentikan tawanya begitu melihat wajah bingung Cahya. Kemudian ia memiringkan kepalanya.


"Ini tempat duduk Vino. Biasanya memang Vino duduk disini."


"Memangnya tidak ada yang duduk disini? Bersama Vino?" Vino meletakkan jari telunjuknya di dagu, seolah berfikir.


"Tidak ada, Vino selalu duduk sendirian. Tapi sekarang sudah ada Cahya yang menemani Vino." Vino tersenyum membuat Cahya ikutan tersenyum.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kita pesan makan. Vino mau pesan apa, biar Cahya pesenin."


"Vino mau makan bakso."


"Oke, Vino tunggu disini, jangan kemana mana. Nanti Cahya balik lagi, Oke."


"Oke," Vino membentuk tanda oke dengan tangannya. Setelah itu, Cahya meninggalkan Vino sebentar untuk memesan makanan.


"Ngilatin apaan lu bro. Sampai kagak kedip begitu?" Pertanyaan dari temannya itu membuat Fael yang tadi sempat menatap seseorang yang berlalu pergi itu pun, menatap temannya.


"Tidak ada."


"Ooh kirain lagi ngliatin cewek cantik." Canda temannya yang satunya lagi.


"Udah, makan. Ngobrol mulu." Sahut seseorang disamping Fael.


"Yee lu mah, kagak bisa sante gitu bang" sugut salah satu dari keempat teman fael tadi.


Lupakan sejenak genk satu ini ya.


Sekarang balik lagi ke Cahya yang sedang mengantri makanan.


Setelah menunggu hampir 6 menit an akhirnya tiba juga giliran Cahya untuk memesan.


"Pak, Bakso 2 ya, sama es teh manis 2." Ucap Cahya kepada si bapak penjual bakso.


"Tunggu sebentar ya, neng." Cahya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Selama 3 menitan akhirnya pesanan Cahya sudah tiba. "Ini neng pesanannya." Si bapak penjual bakso memberikan sebuah nampan yang isinya pesanan dari Cahya. Begitu menyerahkan uang, lantas Cahya mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih, pak." Balas Cahya sambil tersenyum. Kemudian mulai melangkah kearah meja Vino.

__ADS_1


Selama ia melangkah, tak kunjung pudar senyumannya itu. Ia sempat menoleh begitu mendengar suara seseorang dari samping kirinya.


"Cahya." Panggilnya membuat Cahya dan beberapa murid menoleh kearah orang tadi. Ooh ternyata si Wulan yang barusan memanggil Cahya.


"Kau sedang mencari tempat duduk?" Tanyanya begitu melihat Lisa membawa 2 mangkuk bakso.


"A.. itu, aku sebenarnya sudah ditunggu temanku."


"Ooh kau sudah punya teman baru, ya?" Tanyanya antusias membuat Cahya memamerkan senyumannya.


"Kalau begitu aku permisi dulu ya, takutnya dia sudah menunggu lama." Cahya merasa sedikit tidak enak pada Wulan dan teman teman sekelasnya itu.


Bukannya tadi ia sempat mengatakan ada urusan ketika mereka mengajaknya ke kantin.


"Ya sudah, pergilah. Nanti temanmu itu nungguin loh." Jawab orang disamping Wulan yang seingat Cahya bernama Putri.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu." Ucapan itu diangguki oleh wulan dan teman teman sekelasnya itu.


Cahya kembali melanjutkan langkahnya untuk menemui Vino. Tapi ia agak mengernyit begitu melihat kalau Vino tidak duduk sendirian.


Ia masih mencoba memfokuskan pandangannya, takutnya ia salah lihat. Tapi apa yang dilihatnya benar, ternyata memang benar ada orang disamping Vino.


Apalagi orang itu terlihat tengah mengobrol seru dengan Vino. Bahkan sesekali Vino tertawa dibuatnya.


Entah kenapa ada perasaan kurang nyaman yang mendera hati Cahya. Tapi ia coba menepisnya dan berusaha bersikap normal.


Kurang dari 3 langkah Cahya tiba didepan Vino. Dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda Vino menyadari kehadirannya.


"Ehem."


Kali ini Cahya mencoba berdehem membuat 2 orang beda gender itu menoleh kearah Cahya.


Vino menatap Cahya dengan mata berbinar apalagi melihat Cahya membawa pesanannya, makin berbinar wajahnya.


Tapi beda dengan orang disamping Vino yang menatap Cahya dengan sorot tidak sukanya. Apalagi mengenai insiden kemarin malam.


...Perhatian...


Up💞


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


Kalau masih, tunggu kelanjutannya di part selanjutnya.


Makasih yang udah mau Vote + Komen Ya💖


🍁Thanks🍁


😍

__ADS_1


__ADS_2