
🍀💞💞🍀💞💞🍀
"Iya, masa kamu tiba tiba mau pindah sih." Sela Putri sambil menatap kearah Cahya.
Febri yang tak jauh dari Rima segera menatap kearah Rima meminta penjelasan.
"Rim, yang dibilang sama Cahya itu bercanda kan? Kok kamu diam aja sih Cahya bilang mau pindah?"
Tak ada jawaban dari Rima malah semakin memperjelas keadaan yang ada saat ini.
"Teman teman, aku tidak sedang bercanda. Kalian tadi dengarkan aku dipanggil ke ruang kepala sekolah." Semua murid mengangguk.
"Lah aku kesana untuk mengurus surat kepindahanku. Makanya aku mau nyampein sama kalian semua kalau besok aku tidak lagi sekolah disini."
Semua anak perempuan yang memang akrab dengan Cahya segera menghampiri Cahya dan memeluknya.
"Kok kamu mau pindah nggak bilang bilang." Putri kembali bertanya sambil mengeratkan pelukannya itu.
"Iya, kenapa baru bilang hari ini. Tau gitu aku minta pak kepsek buat nggak berangkat." Si centil Cita mengeluarkan suaranya membuat seketika Cahya tertawa begitu mendengarnya.
"Kau ini bisa saja sih, Cit." Cahya tak bisa menutupi tawanya itu.
Tuk
"Kenapa kau malah tertawa sih. Kami lagi sedih nih." Rima menjitak kepala sahabatnya itu membuat Cahya meringis pelan.
__ADS_1
Ya jadi sekarang ini posisinya itu, Cahya ditengah dan di sekelilingnya sudah banyak anak yang memeluknya. Yang tentu saja membuat Cahya terharu.
"Benar apa kata Rima, memangnya kamu nggak sedih apa?" Si Tina juga ikut menyeruakan suaranya.
"Kalian semua berlebihan. Kita kan masih bisa bertemu di luar jam sekolah. Jangan pada lebay deh." Cahya berusaha membuat suasana tidak sememilukan ini.
Dan sepertinya itu berhasil sebab sekarang ini teman teman perempuannya menatapnya kesal.
"Cahya!!" Jerit mereka semua bersamaan membuat sebagian besar anak laki laki menutup telinga mereka.
Ya ternyata anak laki laki kelas XII Ipa 2 masih setia di kelas. Bahkan tak ada satu murid pun yang meninggalkan kelas sejak bel pulang berbunyi.
Entah karena solid atau mereka takut melihat tatapan Rima, Putri, dan Cinta yang seakan mengisyaratkan untuk tetap ada di dalam kelas.
"Tetap saja kelas akan sepi kalau tidak ada kamu disini" Cinta menatap kearah Cahya yang dibalas Cahya dengan senyumannya.
"Tapi yang lain tidak seonar kamu." Dewi juga ikut menimpali membuat Cahya mengembungkan pipinya kesal.
"Aku tidak sebiang itu ya." Cahya tak terima dibilang bilang onar, walaupun pada kenyataannya sedikit begitu.
"Uluh uluh, si biang ngambek." Dewi kembali meledek Cahya membuat yang mendengarnya tertawa ria.
"Kalian ini." Walaupun dalam hati masih tidak terima di katai biang onar, tapi tetap saja Cahya bersyukur bisa melihat tawa teman temannya itu.
Ya walaupun yang jadi bahan tertawaan itu dirinya.
__ADS_1
"Sudahlah jangan meledek Cahya, nanti dia malah tidak ingin bertemu kalian loh." Suara berat dari si ketua kelas membuat tawa anak anak reda.
"Kau ini Radit. Kami ini ingin menjahili Cahya sebelum besok kita benar benar tidak bisa menemuinya di sekolah lagi." Cinta menanggapi ucapan Radit itu dengan ketus.
Memang begitulah Radit dan Cinta. Kalau bertemu selalu saja ada yang mereka ributkan, walaupun sebenarnya itu bukan masalah yang penting untuk dibahas.
"Sudahlah, jangan ribut. Tolong beri aku kenangan yang indah sebelum aku pindah dong." Cahya melerai keributan antara Cinta dan Radit itu.
"Bagaimana kalau kita foto bersama." usul salah satu siswa membuat seluruh anak menatap ke arahnya.
"Cie sih Novan berani bicara sekarang." ledek Vito yang ada disampingnya.
Para siswa tertawa mendengarnya membuat si Novan tertunduk malu.
Yap si Novan memang anaknya pemalu makannya jarang sekali mereka mendengar suara Novan kecuali diminta bersuara oleh para guru.
"Sudah kasihan jangan kalian soraki si Novan." Citra bersuara membuat tawa yang tadi sempat menggema menjadi hilang seketika.
💞🍀💞🍀💞
Hallo Ya
Masih setia baca M.B.B kan?
Dan kalau bisa hargailah suatu cerita, karena sejujurnya menulis itu lebih susah daripada membacanya.
__ADS_1
~Terimakasih~
💞💙💞💙