My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
80. Masalah Di Pagi Hari


__ADS_3

Previous Chapter


Beda dengan reaksi Cahya yang nampak bertambah gugup. Bagaimana kalau mereka semua salah paham? Yang ada malah akan mempersulit keadaannya nantinya.


Cahya hanya bisa berdoa, semoga saja tidak ada yang buruk untuk kedepannya.


***********M.B.B***********


Kini keadaan mendadak sepi setelah kepergian Ibram beberapa saat yang lalu. Cahya tak lagi membuka suaranya. Dia hanya duduk diam di samping Bryan.


"Kalian beneran tidak melakukan apa apa, kan?" Cahya langsung menganggukkan kepalanya membenarkan asumsi yang baru saja dilontarkan oleh paman Bram.


Tapi Bryan tidak menjawab hanya diam saja. Bram menghela nafas panjang. Kemudian ia menyandarkan badannya di sandaran sofa.


Bryan menatap kearah Cahya yang ada disampingnya. Cahya masih memikirkan apa yang harus ia jelaskan pada orangtua Bryan, karena tadi om Ibram sempat menyinggung tentang peristiwa yang tadi.


"Memikirkan apa?" Cahya menoleh, tapi kemudian ia menggeleng. Namun Bryan tak lantas percaya. Ia semakin mendesak Cahya untuk jujur. Tapi Cahya kekeh tidak menjawab pertanyaan dari Bryan itu.


Bram sejak tadi hanya menonton, kemudian ia bangkit dari posisinya kemudian berdiri.


"Ayo Cahya." Kedua anak muda disana langsung menoleh kearah Bram. Cahya dan Bryan sama sama menaikkan alisnya bingung.


"Paman akan mengantarmu pulang. Jadi mari ikut paman." Bram masih menunggu Cahya untuk pulang bersamanya. Dibandingkan meninggalkan keduanya sendirian di rumah dan malah terjadi hal hal yang tidak tidak. Lebih baik ia mengantar Cahya pulang dan baru nanti dirinya kembali kesini lagi.


Baru saja Cahya ingin berdiri, tapi terlebih dahulu tangan Bryan menahannya.


"Mau kemana?"


"Pulang."


"Tidak boleh!" Cahya menaikkan salah satu alisnya. Menyadari raut wajah bingung dari Cahya membuat Bryan melanjutkan ucapannya.


"Kau disini saja. Tidak boleh kemana mana!" Cahya bingung. Harus pulang bersama paman Bram atau tetap disini bersama Bryan.


"Ayo, biar paman antar kamu pulang. Nanti paman akan kesini lagi untuk menjaga Bryan." Cahya lantas mulai melonggarkan pegangan Bryan di tangannya. Tiba tiba tatapan mata Bryan berubah menjadi datar.


"Aku pamit pulang dulu. Lagian besok juga ketemu lagi." Cahya berusaha memberi pengertian pada Bryan agar dia tidak salah paham.


Awalnya Bryan menolak, tapi pada akhirnya ia mengijinkan Cahya untuk pulang. Apalagi ditambah ancaman dari pamannya itu.


Seandainya dia tidak mengijinkan Cahya pulang ke rumahnya. Maka pamannya itu akan menelpon kakaknya yang tak lain adalah ibu dari Bryan. Dan mengadukan tentang kejadian tadi.


Ya, walaupun sebenarnya Om Ibram sudah lebih dulu memberitahu orangtua dari Bryan itu. Kini kediaman Wirautama mulai sepi. Apalagi setelah kepergian Cahya dan pamannya itu.

__ADS_1


Bryan memutuskan kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya akibat perkelahian tadi siang.


**๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ**


Cahya telah sampai di depan pintu gerbang bibinya itu dengan selamat. Dan baru beberapa detik yang lalu, mobil paman Bram baru saja meninggalkan halaman rumah bibinya itu.


Setelah masuk menggunakan kunci cadangan, kini Cahya mulai melangkah menuju kamarnya.


Ia sesekali menoleh kearah sekelilingnya untuk mendapati keberadaan bibinya itu. Tapi sejauh ini ia belum melihat keberadaan bibi dan keponakannya itu.


Pemikiran Cahya jatuh ada, 'Mungkin bibi sedang di kamar bersama Ziel'.


Setelah memasuki kamarnya, Cahya langsung merebahkan diri diatas kasur berbalut sprai bergambar bunga sakura itu. Mungkin karena terlalu lelah, membuat Cahya tertidur lebih cepat dari biasanya.


*****


Kabar yang datang pagi ini begitu mengejutkan bagi Cahya. Bahkan dirinya yang belum siap menyambut hari pun, sudah dipaksa untuk bangun karena kabar yang dibawa oleh bibinya. Dan ternyata paman juga sudah pulang dari surabaya.


Kalian penasaran kabar apa yang membuat Cahya syok pagi ini?


Apa lagi selain, pernikahannya yang dipercepat. Kesalahpahaman yang dilihat oleh duo Bram itu membuat Cahya berkali kali menarik napas panjang.


Ternyata ucapan yang sudah disampaikan oleh om Ibram sampai ke telinga mama Irena dan ayah Sanjaya.


Ingat 4 hari lagi..


4 hari lagi..


Hari lagi..


Lagi..


4 hari lagi statusnya akan berubah. Berubah menjadi istri dari Bryan Alvino Wirautama. Membayangkannya saja belum pernah. Apalagi kalau harus melakukannya dan menjalaninya.


Tolong bantu Cahya.


Dengan langkah gontai, Cahya berjalan menyusuri koridor sekolah. Rasanya Cahya ingin bolos pelajaran saja. Pikirannya saat ini dipenuhi dengan perkataan paman dan bibinya pagi hari ini.


Tanpa sadar dirinya menabrak seseorang karena sejak tadi keasyikan melamun. Cahya meringis pelan, kemudian ia mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang di tabraknya.


Dan ternyata...


Belum sempat Cahya buka suara, orang di depannya sudah lebih dulu mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Jalan itu menghadap kedepan bukannya nunduk."


Cahya tak menjawab, ia hanya menghela napas panjang. "Kenapa harus ketemu dia lagi sih."


"Maaf, ya. Aku tidak sengaja." Niatnya Cahya langsung mau pergi setelah mengucapkan maaf. Tapi sepertinya orang di depannya ini tidak membiarkannya pergi begitu saja.


"Kenapa lagi?"


"Kau mau pergi begitu saja setelah menabrakku?" Orang didepan Cahya menaikkan alisnya membuat Cahya bingung.


"Aku kan sudah minta maaf."


"Memang hanya dengan minta maaf urusan kita selesai."


Ini orang maunya apa sih, begitulah pemikiran Cahya saat ini.


"Lalu?"


"Pokoknya lo harus tanggung jawab. Gara gara lo minuman gue tumpah."


Ya. Memang orang di depannya itu membawa minuman. Tapi tumpahan itu tidak terlalu banyak. Itu pun hanya jatuh kelantai, bukan kebadannya.


"Oke. Aku akan cari pel untuk membersihkan tumpahan ini." Cahya menunjuk bekas tumpahan di lantai.


Tapi orang itu malah menggeleng, membuat Cahya membuang napasnya kasar.


"Trus, kamu maunya apa?" Cahya benar benar tidak mood untuk saat ini. Ditambah lagi dengan orang yang tidak begitu akrab dengannya yang kini tengah mempersulit keadaanya.


Mereka berdua tidak menyadari dari kejauhan sepasang mata menatap mereka tajam dan datar.


Tapi bila diperhatikan lebih tatapan itu hanya mengarah pada satu orang saja.


...Perhatian Harap Dibaca...


Bisa Tebak Siapa orang yang ditabrak Cahya dan siapa yang menatap keduanya dari kejauhan?


Up untuk para pembaca setiaku๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


Masih setia baca M.B.B kan?


Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys๐Ÿ˜‰. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini๐Ÿ˜Š


๐ŸTerimakasih Semuanya๐Ÿ

__ADS_1


๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜


__ADS_2