My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
30. Ngambek


__ADS_3

🍀💞🍀💞🍀


Beberapa menit sebelum Cahya berangkat sekolah.


Disebuah kediaman mewah terdapat seseorang yang tengah bergelung dengan selimut tebalnya yang memberi rasa hangat untuk si pemakai.


Namun sepertinya kenyamanan itu tak bertahan lama sebab orang berada dibawah selimut mulai menggeliat dan perlahan membuka matanya pelan.


"Mama," panggilnya sambil bangkit dari posisi tidurnya.


Ia mulai mengecek matanya agar pandangannya lebih jelas dari sebelumnya, tapi setelah itu ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.


Kosong


Tidak ada seseorang pun kecuali dirinya, hal itu membuat orang tadi memutar otaknya kenapa ia bisa ada di kamarnya. Setaunya malam tadi dia sedang makan bersama orangtuanya dan satu teman barunya itu.


Setelah mengetahui alasannya berada disini, si sosok ini bergumam, "Dasar pembohong."


Ucapannya itu di gumamkannya beberapa kali hingga suara pintu terbuka mengalihkan pandangannya sosok tadi kearah pintu kamarnya.


Dan didapatinya sosok sang mama yang saat ini menuju ke arahnya itu.


"Mama," panggilnya membuat Irena menatap kearah sang anak dengan membawa semangkuk bubur dan segelas susu hangat.


"Kau sudah bangun, nak. Kalau begitu makan dulu ya, mama sudah siapin bubur sama susu hangat untukmu." Perkataan itu mendapat gelengan dari sang anak membuat Irena mengernyitkan dahinya bingung.


Irena melangkah menuju nakas untuk menaruh makan itu dan duduk disamping sang putra.


"Kenapa tidak mau makan?" Tanyanya sambil mengelus rambut sang putra sayang. Si anak hanya membuang muka, masih engga menjawab perkataan sang mama.


"Kenapa kau tidak menatap kearah mama. Mama ada salah ya?" Si anak hanya menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa?"


"Kenapa dia membohongi Vino, ma?" Tanyanya sambil menundukkan kepalanya.


"Siapa yang membohongi Vino?" Tanyanya yang belum paham dengan pertanyaan dari Vino tersebut.


"Bukannya dia bilang ingin bersama Vino, tapi nyatanya dia sudah pergi meninggalkan Vino. Berarti dia berbohong pada Vino kan, ma?" Vino menjawabnya sambil menatap sang mama membuat Irena bingung harus jawab apa.


"Memangnya siapa yang berbohong Vino?" Irena masih mencoba bertanya tentang siapa yang dimaksud oleh Vino itu.

__ADS_1


"Cahya, dia membohongi Vino, ma." Ucapan itu membuat Irena menghembuskan nafas pelan.


Sepertinya akan sulit menghadapi Vino yang bertingkah seperti ini.


"Cahya tidak berbohong Vino. Semalam dia disini menemani Vino. Tapi ia pamit pulang untuk menemani bibi dan keponakannya. Jadi mama mengizinkannya untuk pulang. Lagian semalam Vino sudah tidur makanya dia izin pamit pulang." Irena menjelaskan dengan sabar.


"Tapi tetap saja dia berbohong, ma." sepertinya Vino masih belum sepenuhnya percaya.


"Jadi maunya Vino bagaimana?"


"..."


"Vino, mama bicara sama Vino. Jawab dong sayang." Irena mulai kembali mengelus surai hitam putranya itu.


Tapi Vino tak kunjung bicara membuat Irena kembali membuang nafasnya.


"Baiklah, bagaimana kalau sekarang mama telpon Cahya supaya kemari?" Tanyanya lagi sambil menatap Vino.


"Terserah mama," jawab Vino acuh, tapi jika diperhatikan lebih detail maka akan terlihat tarikan disudut bibir Vino.


"Baiklah, mama telpon rumah Cahya dulu." Setelah mengatakan hal itu Irena mengambil telpon genggamnya sambil mengetikkan nomor yang didapatnya dari sang suami.


**Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Empat detik


Lima de**...


"Halo, ini siapa?" Tanya seseorang disebrang sana.


"Maaf, apakah ini kediaman Cahya? Saya sedang bicara dengan siapa ya?" Irena bertanya karena ia tidak tau siapa nama orang yang mengangkat panggilannya itu.


"Ooh benar ini kediaman Cahya. Perkenalkan saya Risma tantenya Cahya. Dan anda siapa ya?"


"Saya Irena, istrinya Sanjaya Wirautama. Saya ingin bicara pada Cahya apakah dia ada di rumah?"


"Cahya baru berangkat beberapa menit yang lalu. Kalau boleh tau ada keperluan apa ya anda dengan keponakan saya?"

__ADS_1


"Sebenarnya saya ingin Cahya kerumah saya karena sedari tadi Vino mencari Cahya. Tapi kalau dia sudah berangkat ya tidak apa apa. Tapi apa saya boleh minta tolong?" Irena kembali bertanya.


"Minta tolong apa?" Seseorang itu kembali bertanya.


"Tolong sampaikan pada Cahya untuk datang kerumah saya sepulang dari sekolah. Dan juga saya ingin minta izin anda untuk mengizinkan Cahya kerumah saya."


Orang di seberang sana terdiam membuat Irena ikut terdiam. Vino yang memang sedari tadi menatap sang mama kini mulai mengernyitkan dahinya, begitu tak lagi mendengar mamanya berbicara entah kepada siapa itu.


"Baiklah nanti saya sampaikan ke Cahya" Mendengar ucapan itu membuat Irena tersenyum bahagia.


"Terimakasih sudah mengizinkan Cahya untuk kemari"


"Sama sama."


"Baiklah kalau begitu saya tutup telponnya ya, sekali lagi terimakasih." setelah mengucapkan salam Irena lantas mematikan panggilan tersebut.


Kemudian menatap anaknya yang kini juga sedang menatapnya itu.


"Nanti Cahya akan kemari, sepulang dia sekolah. Jadi sekarang kamu makan ya. Dan kayaknya hari ini kamu libur sekolah dulu ya".


Setelah itu Irena mengambil makanan yang ada diatas nakas dan memberikannya pada Vino.


"Mau mama suapi atau makan sendiri?" Tanyanya lagi begitu sang anak menerima nampan yang dipegangnya itu.


"Vino mau makan sendiri." Jawab Vino sambil mulai makan makanannya itu.


"Ya sudah mama tinggal sebentar ya. Kalau ada apa apa segera panggil mama, ya." setelah mengatakan hal itu Irena pamit keluar dari kamar anaknya yang sedang makan itu.


Setelah ditinggal Vino menghentikan makannya dan malah tersenyum bahagia begitu mengingat kalau nanti teman barunya itu akan kemari menemuinya.


Setelah itu ia kembali makan tak lupa dengan senyum bahagianya yang terpancar kuat diwajah Vino.


💛💙💜💙💛


**Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


~Terimakasih**~


💞💙💞💙

__ADS_1


__ADS_2