My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
84. Mengakhiri Semuanya?


__ADS_3

Tapi lihat saja, kalau sampai Bryan macam macam padanya. Ia tidak akan diam saja. Dia juga harus bisa melawan kalau seandainya Bryan berbuat jahat padanya.


🍁🌺🍁


Kini keduanya sudah berada disebuah kamar hotel yang terlihat mewah dimata Cahya. Bahkan sejak diturunkan dari gendongan Bryan tadi, Cahya masih saja terkagum kagum dengan arsitektur kamar hotel ini.


"Suka?" Pertanyaan yang hanya memuat satu kata itu diangguki oleh Cahya yang seperti dirinya baru sadar dengan apa yang terjadi.


Seketika Cahya menatap kearah Bryan waspada. Takut kalau tiba tiba Bryan melakukan suatu hal yang merugikan dirinya. Bryan tentu sadar dengan tatapan yang dilayangkan oleh Cahya saat ini. Bukannya marah Bryan malah terkekeh pelan. Tentu saja hal itu tertangkap oleh pandangan Cahya yang menatap aneh kearah Bryan.


"Apa?" Bryan menaikkan alisnya begitu mendengar perkataan Cahya.


"Apa?" Beo Bryan yang membuat Cahya menatap kesal ke arahnya.


"Kenapa tertawa?" Pertanyaan yang membuat senyum Bryan mengembang.


"Memangnya kenapa? Tidak boleh?"


Cahya yang ditanya begitu bingung harus jawab apa. Lantas dirinya mengalihkan pandangan kearah lain sambil mengeluarkan suaranya.


"Ya, boleh boleh saja. Siapa juga yang melarang." Bryan menatap Cahya dengan gemas. Apalagi ditambah raut wajah Cahya yang terlihat menggemaskan dimatanya.


Kemudian Bryan berjalan menuju kearah sebuah kotak yang ada di atas nakas dan memberikannya pada Cahya yang masih membuang muka terhadapnya.


"Ambillah." Bryan menyodorkan kotak itu ke hadapan Cahya.  Cahya meliriknya dengan bingung.


"Apa itu?" Tanyanya kepada Bryan yang masih setia menyodorkan kotak itu di hadapannya.


"Ambillah. Ini untukmu." Dengan ragu Cahya menerima kotak itu. Di pandanginya sejenak kotak berwarna pink dan putih itu. Dirinya sebenarnya ragu untuk membukanya, tapi seruan dari Bryan yang meminta membukanya membuat Cahya tidak memiliki pilihan lain selain membuka kotak itu. Ditambah dari seruan itu tersemat perintah mutlak yang harus dilakukan olehnya itu.


Setelah dibuka, Cahya bisa melihat sebuah gaun berwarna dongker didalam kotak tersebut. Bingung masih menyelimuti pikiran Cahya. Dirinya bertanya dalam hatinya sendiri kenapa Bryan memberikannya sebuah gaun. Lebih tepatnya untuk apa gaun ini.


Itulah pemikirannya saat ini. Bryan yang memang sejak tadi memperhatikan tingkah Cahya hanya menggumam kecil yang tentunya masih bisa di dengar oleh Cahya yang berada disampingnya.


"Pakailah gaun itu dan temui aku di rooftop tepat jam 7 malam." Cahya menoleh kearah jam yang ada di kamar ini. Dan yang ia lihat adalah jarum pendek bergerak mendekati  angka enam. Sedangkan yang panjang sedang berada di pertengahan angka 9 dan 10.


"Untuk apa ke rooftop?" Bryan tidak menjawab. Dirinya malah berjalan menuju pintu kamar. Tapi sebelum keluar dirinya mengucapkan sesuatu.


"Kau bisa membuka kotak warna biru itu dan bisa menggunakan peralatan apapun disana." Tunjuknya pada sebuah alat make up yang begitu banyak ada diatas meja rias membuat mata Cahya terbelalak kaget karena melihat begitu banyaknya peralatan make up yang ada disana.


Tapi eksistensi berubah dalam sedetik begitu mendengar suara langkah menjauh yang diyakininya adalah milik Bryan. "Lalu kau mau kemana?"


"Aku akan menunggumu di rooftop. Ingat temui aku jam 7 tepat. Jika kau telat aku tidak muncul lagi di hidupmu." Mendengar hal itu membuat mata Cahya terbelalak kaget. Dirinya tidak menyangka kalau Bryan akan bicara seperti itu padanya.


Bahkan sampai dirinya tidak menyadari kalau Bryan sudah menghilang dari balik pintu. Meninggalkan Cahya yang masih dalam kondisi terkejut.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 18.55 Pm.


Seorang gadis telah keluar dari sebuah kamar hotel. Tampilannya juga sudah agak berbeda dengan yang sebelumnya. Kali ini terlihat polesan make up tipis diwajah putihnya menambah kata cantik untuk tampilannya saat ini.


Ditambah lagi dengan gaun berwarna dongker dan kaki jenjangnya yang dibalut oleh sepatu high heels setinggi 5 cm berwarna hitam kian menambah sempurna tampilannya saat ini.


Dirinya melangkah masuk kedalam lift kemudian menekan tombol teratas dimana tujuannya ada disana. Sesekali dirinya bergumam agar cepat sampai di tempat tujuan sebelum jam 7.


Dirinya agak menyesal kenapa tadi dirinya tidak buru buru mengejar laki laki yang sudah mengajaknya kemari. Tapi malah berdiam diri terlalu lama lantaran masih terkejut dengan perkataan dari pemuda tadi.


Entah kenapa lift yang dinaikinya itu terasa sangat lama. Akhirnya setelah menunggu cukup lama gadis itu tiba juga di tempat yang ia tuju. Segera saja dirinya melangkah memasuki bagian tertinggi dari gedung hotel ini.


Tapi apa yang ingin dilihatnya masih belum terlihat dimatanya. Ia mencoba mencari di sekeliling area, tapi masih belum ketemu juga. Ada helaan napas panjang begitu menyadari dirinya telah terlambat 4 menit dari waktu yang di janjikan.


Ada sisi kegelisahan yang melingkupi relung hati gadis itu. Entah kenapa dirinya takut kalau seandainya perkataan dari seseorang yang ingin ia temui saat ini malah jadi kenyataan.


Dirinya mencoba menghalau pikiran buruk yang sempat melintas di pikirannya tentang kebenaran akan ucapan yang tadi sempat ia dengar.


"Ingat temui aku jam 7 tepat. Jika kau telat aku tidak muncul lagi di hidupmu." Kata kata itulah yang terngiang ditelinga gadis itu seolah itu adalah semacam mantera yang terus dibisikan ditelinganya itu.


Dirinya juga sudah mencari disetiap sudut, tapi masih saja belum ketemu juga. Kini berada di pembatas rooftop sambil memandang pemandangan kota dari atas sini.


"Kau dimana? Apa kau sudah benar benar pergi? Padahal aku cuma telat beberapa menit saja." Gumam gadis itu frustasi.


Entah kenapa air matanya ingin sekali keluar. Dirinya juga tidak tahu apa alasannya yang pasti ia hanya ingin menangis. Dan memangnya menangis itu butuh alasan? Tidakkan?.


"Aku kan sudah menyuruhmu untuk tidak terlambat. Kenapa kau baru sampai? Kau sudah telat 10 menit dari perjanjian." Gadis itu tak lagi mendengarkan perkataan orang di depannya karena dirinya merasa bahagia walau hanya melihat orang di depannya itu.


Ya, kedua orang ini adalah Cahya dan Bryan. Sebenarnya Bryan sudah melihat kedatangan Cahya tadi, tapi dirinya ingin mengerjai Cahya karena sudah berani datang telat dengan cara bersembunyi. Makanya sejak tiba tadi Cahya sama sekali tidak bisa menemukan Bryan dimanapun.


"Kau darimana saja? Aku mencarimu sejak tadi? Kau berniat mengerjaiku, ya? Itu sama sekali tidak lucu!" Ucap Cahya dengan nada kesal tapi jika kalian perhatikan wajah Cahya disana terlihat setitik raut kelegaan begitu bisa melihat lagi orang di depannya itu.


Bryan terkekeh dengar perkataan Cahya yang terdengar kesal padanya. Tapi ia tahu bahwa Cahya tidak benar benar kesal padanya. Bukti nyatanya ada di balik mata gadis di hadapannya yang nampak berkaca kaca begitu melihat kehadirannya.


"Walau cuma beberapa menit, tapi tetap saja kau telat datang." Cahya menghela napas pasrah, disini juga dirinya yang salah karena datang terlambat.


"Tapi tetap saja kau menyebalkan!" Dengus Cahya yang kini mengalihkan pandangannya dari Bryan.


Bryan perlahan melangkah mendekati Cahya yang masih dalam posisi yang sama. Kini jarak keduanya tidak sampai 45 cm. Perlahan Bryan menangkup wajah Cahya agar bisa menatap ke arahnya. Untung saja kali ini Cahya tidak berontak. Dirinya hanya diam sembari mencoba menenangkan detak jantungnya yang bekerja abnormal itu.


"Oke, aku minta maaf karena sudah membuatmu kesulitan mencariku. Tapi setidaknya aku bahagia karena kau sudah mau repot repot kesini dan berlari kesana kemari untuk terus mencariku." Ada senyum hangat yang diulas Bryan untuk Cahya. Dan kali ini Cahya dengan jelas melihat senyumannya itu.


Perlahan Bryan melepaskan tangkupannya dan mulai menggenggam kedua tangan Cahya yang agak lumayan dingin di telapak tangannya. Cahya masih memperhatikan tingkah Bryan padanya itu. Sembari berdoa untuk kesehatan jantungnya yang makin berdegup kencang itu.


"Tapi sepertinya kita tidak bisa menjalani hubungan seperti ini."

__ADS_1


Deg


Perkataan itu sontak membuat Cahya kaget bukan main. Bahkan dirinya tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir Bryan.


Bibir Cahya ke lu hanya untuk menanyakan apa maksud dari perkataan Bryan barusan. Atau dirinya baru saja salah dengar kalau Bryan barusan bilang tidak bisa menjalani hubungan seperti ini. Tapi hubungan yang seperti apa yang ia maksud tadi?


Jangan bilang kalau mereka...


Tidak, jangan berburuk sangka dulu. Coba kita dengarkan dulu penjelasan dari Bryan.


Melihat reaksi terkejut dari wajah Cahya membuat Bryan melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti.


"Aku hanya ingin bilang kalau aku tidak bisa menunggu terlalu lama lagi."


Tunggu dulu,


Menunggu terlalu lama untuk apa?


"Apa maksudmu, Bryan?" Cahya benar benar dibuat bingung dengan tingkah Bryan. Pikiran baik dan buruk terus berkelebat di pikirannya membuat Cahya semakin bingung.


"Aku ingin kita sudah sampai disini."


Deg


Jantung Cahya seolah berhenti berdetak. Hanya 6 kata yang keluar dari mulut Bryan itu mampu membuat tubuh Cahya menegang.


Jangan bilang Bryan baru memutuskan hubungan mereka?


Hubungan yang baru saja akan melanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan hanya dalam hitungan hari. Tapi kini malah harus diakhiri.


Coba bilang pada Cahya kalau ini hanya mimpi. Kalaupun ini benar mimpi, tolong cepat bangunkan Cahya dari mimpi yang menurutnya sangat menakutkan itu.


"Mak..sud..mu, ka..u in..gin pu..tus?" Bahkan untuk menyelesaikan kalimatnya saja Cahya kesulitan. Semacam ada jerat tak kasat mata yang menjeratnya itu.


Anggukan dari Bryan malah membuat kedua kaki Cahya melemas. Untung saja ia bisa berpegangan pada pembatas rooftop, sehingga dirinya masih bisa mempertahankan posisinya.


Tolong katakan kalau Bryan tengah bercanda saat ini. Tolong bilang pada Cahya kalau ini hanya orang semata. Ini tidak mungkin kan? Bryan tega dengannya?


Bukannya dirinya seharusnya senang karena bisa lepas dari Bryan ataupun Vino. Tapi kenapa hanya mendadak sangat sesak begini. Kenapa?


************M.B.B**********


...Perhatian Harap Dibaca...


Kalian masih setia baca M.B.B kan? Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys😉. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini😊. Usahakan untuk memberi Vote, ya.

__ADS_1


🍁Terimakasih Semuanya🍁


😍😇😍


__ADS_2