My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
23. Obrolan Pagi


__ADS_3

πŸ€πŸƒπŸ‚πŸ€πŸ‚πŸƒπŸ€


Cahya masuk kedalam rumah sambil mengucap salam, tapi tak ada jawaban dari siapapun membuat Cahya menyimpulkan kalau mungkin saja bibinya sudah tidur. Mengingat jam sudah hampir 10 lewat 20 menit.


Cahya segera mengunci pintu rumah dan beranjak kearah kamar di lantai satu, yang mana merupakan kamar paman dan bibinya.


Cahya ingin memastikan apakah bibinya itu sudah tidur atau belum. Sesampainya didepan pintu bercat putih itu, Cahya dengan perlahan membuka knop pintu dengan hati hati. Takut membuat kebisingan hingga bisa membangunkan ponakan dan bibinya itu.


Ia melongokkan kepalanya kedalam pintu tersebut dan didapatnya sang bibi yang sudah terlelap disamping sang ponakan.


Karena tau sang bibi sudah tidur, Cahya memutuskan untuk kembali ke kamarnya sembari menutup pintu kamar dengan perlahan.


Cahya segera mematikan lampu ruang tahu yang tadi belum dimatikan oleh bibinya, atau mungkin bibinya sengaja tidak mematikan lampu agar Cahya tidak kesusahan saat masuk rumah.


Dengan menaiki tangga sebentar, akhirnya Cahya tiba di lantai menuju ke kamarnya yang ada disebelah kanan dari tangga. Sedangkan kamar disamping kiri Cahya adalah kamar sang keponakan, yang nantinya akan digunakan saat sang keponakan sudah berusia 2 tahun.


Akhirnya setelah membuka pintu kamar, Cahya tiba juga didalam kamarnya. Ia meletakan tasnya diatas meja belajarnya dan melangkah menuju ranjangnya untuk mengistirahatkan diri sejenak dari beban yang sedang dialaminya itu.


Ia menghela nafas lelah begitu kembali mengingat permasalahan yang kini menyeretnya itu.


Cahya yang tak ingin terlalu terlarut dalam pemikirannya memutuskan untuk tidur. Siapa tau setelah bangun nanti masalah yang dihadapinya bisa berkurang atau mungkin menghilang.


Tak perlu waktu lama, Cahya sudah terbang ke alam mimpi.


✴✳✴✳✴✳✴✳


Suara alarm dari jam berbentuk lingkaran itu menggema memenuhi kamar sang gadis yang masih terbuai akan dunia mimpinya.


Tapi bunyi ketiga dari alarm tadi mampu membangunkan gadis itu dari tidurnya. Dengan keadaanΒ  setengah sadar, gadis itu mematikan alarm yang tadi membangunkannya.


Gadis tadi mengucek matanya guna memperjelas pandangannya, sempat diliriknya jam yang kini mulai menunjukan pukul 04'45 itu.


Ia perlahan menuju arah lemarinya untuk mengambil seragam sekolahnya dan berjalan kearah kamar mandi yang ada diluar kamarnya. Tepatnya disamping kamar sang ponakan.


Setelah masuk kedalam kamar mandi, Gadis itu -Cahya- mulai mencuci muka dan memulai kegiatan mandinya.

__ADS_1


15 menit berlalu, akhirnya Cahya sudah rapi dengan pakaiannya dan segera ia menuju kamarnya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Hampir 20 menit berlalu, Cahya telah merampungkan segala kegiatan rutin paginya. Tak butuh waktu lama, Cahya yang sudah mengambil tasnya segera menuju lantai bawah untuk membantu sang bibi menyiapkan sarapan.


"Selamat pagi Bibi ku tersayang." Sapa Cahya begitu melihat bibinya sudah sibuk berkutat dengan masakannya.


"Pagi keponakan bibi yang paling cerewet." Sahut bibi Risma pada keponakannya itu. Cahya yang mendengarnya hanya memutar bola matanya malas.


"Bibi mah gitu, mau Cahya bantuan, bi?" Tawarnya sambil meletakkan tas sekolahnya.


"Tolong potong sayuran itu, bibi lagi buat bubur buat jagoan bibi." Cahya yang disuruh segera melakukan tugasnya yaitu memotong sayuran.


"Jagoan bibi dimana?" Tanya Cahya yang tak melihat kehadiran sang ponakan.


Risma yang masih mengaduk bubur, sejenak menghentikan kegiatannya.


"Masih tidur dikamar." Mendengarnya Cahya hanya menganggukkan kepalanya.


"Paman belum pulang bi?" Pertanyaan itu mendapat gelengan dari Risma.


"Paman kemarin memberi kabar kalau dia ada proyek baru di Surabaya. Dan juga mungkin baru bisa pulang seminggu lagi." Penjelasan itu membuat Cahya yang baru selesai memotong sayuran segera mencuci sayuran itu.


Risma yang telah selesai membuat bubur segera mematikan kompornya dan menghadap kearah Cahya.


Seakan ingat sesuatu Risma lantas bertanya pada Cahya.


"Eh iya, tadi ada telepon dari pak Sanjaya. Katanya kau pindah sekolah mulai besok. Memangnya siapa itu pak Sanjaya dan beneran kamu mau pindah sekolah? Kok nggak ngomong sama bibi." Pertanyaan bertubi tubi itu membuat Cahya menatap bibinya aneh dan bingung harus menjawab apa.


"Bibi kalau tanya itu satu satu. Cahya kan jadi bingung jawab yang mana." Risma yang mendengarnya terkekeh begitu ucapan sang keponakan meluncur begitu saja.


"Oke deh, jadi pak Sanjaya itu siapa?"


"Pemilik perusahaan tempat paman meminjam uang, bi." jawab Cahya sekenanya.


"Ooh begitu. Terus kenapa dia bilang kau pindah sekolah besok. Memangnya kau mau pindah sekolah? Kenapa tidak bilang."

__ADS_1


"Ini juga mau bilang bi." Cahya mengatakan sambil terkekeh membuat sang bibi melempar kulit bekas kupasan wortel kearah Cahya yang tentu saja cemberut dibuatnya.


"Ish, bibi" dengus Cahya yang baru saja di lembar kulit wortel oleh sang bibi. Sedangkan Risma hanya tertawa pelan.


"Makanya jawab pertanyaan bibi."


"Jadi begini bi, kemarin pak Sanjaya nyuruh Cahya buat pindah ke sekolahannya Vino. Mungkin untuk menjaga Vino." Entah kenapa ucapan Cahya terkesan ambigu di telinga Risma.


Apalagi dikata 'menjaga', hal itu menimbulkan pertanyaan dibenak Risma.


"Siapa itu Vino?" Sepertinya Risma tidak bisa memendam rasa penasarannya.


"Anaknya mama Irena sama ayah Sanjaya." Perkataan Cahya barusan malah membuat Risma agak terkejut.


"Kau bilang apa tadi? Mama dan ayah?" Risma menanyakan hal itu karena mungkin saja telinganya kurang jelas mendengarnya tadi.


"Iya, mereka yang minta bi. Supaya panggil mereka dengan panggilan mama dan ayah." Risma hanya menganggukkan kepalanya.


"Jadi kau jadi beneran pindah?" Pertanyaan itu mendapat anggukan dari Cahya.


"Sepertinya begitu bi, lagi pula Cahya juga sudah bilang sama Vino kalau Cahya bakalan pindah ke sekolahannya."


Risma masih setia mendengarnya, ia kembali bertanya "Jadi bagaimana orang yang mau dijodohkan dengan mu itu? Apa dia pria yang baik?"


Cahya menatap kearah bibinya yang sedang menatapnya.


"Menurut Cahya dia itu ..."


.


.


.


πŸ’›πŸ’™πŸ’œπŸ’™πŸ’›

__ADS_1


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


__ADS_2