
🍃🍂🍀🍂🍃🍀
"Dia itu ..." Cahya sengaja menggantungkan ucapannya, agar bibinya itu tambah penasaran.
"Apa?" Tanya Risma yang mulai tak sabar mendengar kelanjutan ucapan Cahya.
"Dia itu..." Cahya sepertinya mulai semangat membuat bibinya tambah penasaran.
"Issh Cahya, bibi serius" Risma gregetan dengan tingkah ponakannya itu.
"Hahaha" Cahya malah tertawa melihat muka bibinya yang sepertinya bertambah penasaran akibat ulahnya.
Melihat Cahya yang tertawa bahagia begitu tambah membuat Risma sebal.
"Cahya bercanda bi" Cahya yang melihat bibinya sudah sebal dengannya membuatnya menghentikan tawanya. Cahya berjalan menuju dispenser untuk mengambil air.
"Dia itu baik kok bi. Dia memang agak manja dan lucu" Cahya mulai menjawab pertanyaan bibinya tadi sembari menekan tombol dispenser. Sedangkan Risma hanya mendengarkan saja.
"Tapi bi, dia juga agak posesif dan sedikit misterius". Mendengar jawaban Cahya membuat Risma menaikkan alisnya untuk menggoda sang ponakan.
"Kau suka ya dengannya" perkataan itu malah membuat Cahya terkejut, bahkan ia sampai tersedak air yang baru diminumnya itu.
Uhuk uhuk uhuk
Melihat sang keponakan sang sedang tersedak membuat Risma segera menepuk punggung Cahya.
"Merasa baikan?" Risma tidak menyangka akan reaksi Cahya.
Cahya menganggukkan kepalanya sambil mengelus dadanya yang agak nyeri akibat tersedaknya tadi.
Setelah agak mereda, Cahya kembali bersuara membuat Risma menampilkan senyum menggodanya kembali.
"Cahya belum suka bi, kan tadi bibi yang tanya Vino itu kayak gimana".
"Belum bukan berarti tidak kan" goda Risma pada Cahya. Yang tentu saja membuat perlahan warna pipi Cahya mulai bersemu merah.
"Ish bibi, berhenti menggoda keponakan bibi yang cantik ini" sempat sempatnya Cahya bertingkah Pd begitu.
"Kamu ini, Pd banget sih" Risma yang tak tahan akan tingkah keponakannya itu segera mencubit pipi Cahya membuat Cahya agak mengaduh kesakitan.
"A~ad~aduh bi sakit" Cahya menahan tangan bibinya sedangkan bibinya hanya tertawa.
Melihat keponakannya yang kesakitan membuat Risma menghentikan cubitannya.
__ADS_1
"Habisnya kau gemesin buat dicubit" Risma mengatakannya dengan wajah tak berdosa membuat Cahya mengerucutkan bibirnya.
"Bibi" rengek Cahya sambil mengelus pipinya yang masih memerah itu.
"Sudahlah, kau makan dulu. Bibi sudah nyiapain sarapanmu diatas meja".
Perkataan itu membuat Cahya mengernyit bingung, "Bukannya bibi belum masak. Cahya saja baru selesai potong sayurannya".
Risma menatap ponakannya itu. "Kata siapa bibi belum masak?".
"Lah kalau sudah masak kenapa menyuruh Cahya potong sayuran tadi?" Cahya kadang bingung dengan tingkah bibi yang ngakunya mamah muda itu.
Risma menyembunyikan tawanya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Cahya yang membuat Cahya melongo mendengarnya.
"Biar kamu ada kegiatan pagi" tak lama tawa Risma menggema di dapur yang berdekatan dengan ruang makan itu.
**Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Em**...
Cahya yang tak ditanggapi mendesah kesal dengan bibinya itu. Sudah sering ia dibuat sebal dengan tingkah laku bibinya itu yang sering menggoda itu.
"Sebenarnya yang lebih muda itu aku atau bibi sih" gumam Cahya sambil menggeleng kepalanya itu. Tak ingin memikirkannya kembali, Cahya memutuskan untuk segera makan sarapan yang sudah disiapkan bibinya diatas meja.
8 menit berlalu akhirnya Cahya telah selesai makan.
Risma datang bersama seorang seorang anak kecil dalam gendongannya. Cahya yang melihatnya tentu saja langsung melambaikan tangannya kearah anak kecil itu.
"Sini keponakan aunty" anak kecil dalam gendongan Risma berseru senang begitu melihat tante mudanya itu.
Bahkan ia tertawa sambil mengulurkan tangan seolah ingin dipeluk oleh Cahya.
"Sini sini" Cahya segera berdiri dari posisinya dan mendekat kearah jagoan bibinya itu.
"Keponakan aunty" sekarang anak kecil itu sudah berada dalam gendongan Cahya. Risma yang melihatnya ikut tertawa begitu mendengar lelucon yang dibuat Cahya untuk putranya itu.
"Kau sudah selesai makan?".
"Sudah bi" Cahya menjawabnya sambil mengajak Aziel bercanda membuat si anak tertawa bahagia mendapat candaan dari bibinya itu.
__ADS_1
"Ya sudah, mainnya nanti saja. Sekarang kamu pergi ke sekolah. Lihat sekarang sudah jam segini" Risma menunjuk kearah Jam yang sekarang sudah menunjukan pukul 06.15 menit.
Cahya yang melihat jam, perlahan mengembalikan Aziel kepada ibunya itu. Tapi sepertinya Aziel masih mau main sama auntynya itu.
Menyadari si keponakan yang sepertinya tidak rela lepas darinya itupun membuat Cahya mengusap kepala Aziel sayang.
"Aunty ke sekolah dulu ya, nanti pulang sekolah kita main lagi" walaupun masih kecil, tapi sepertinya Aziel mengerti apa yang diucapkan oleh sang aunty.
Buktinya sekarang ia mulai menganggukkan kepalanya sambil memainkan tangan sang ibu.
"Ya sudah, aunty pamit ke sekolah dulu ya" CaHya pamit pada sang ponakan sambil mencium pipi gembil Aziel itu.
"Cahya pamit ya bi" Cahya mulai mencium tangan bibinya kemudian melangkah menuju kearah meja untuk membereskan peralatan makannya. Namun hal itu dihentikan oleh Risma.
"Sudah, biarkan nanti bibi yang bereskan. Kau berangkat saja sana" Cahya yang mendengarnya segera menampilkan senyum manis andalannya.
"Terimakasih bibi tersayang. Kalau gini kan makin sayang" ucap Cahya yang dibalas dengusan dari Risma.
"Ya sudah sana. Nanti kamu telat nggak dibolehin masuk sama pak satpam". Cahya terkekeh pelan mendengar nada sebal bibinya itu.
Walaupun Cahya yakin, Bibinya tidak benar benar kesal padanya. Karena ia tau persis seperti apa watak bibinya itu.
"Ya sudah Cahya berangkat dulu, bi, Ziel" Cahya mulai melangkah meninggalkan kedua orang diruang makan itu.
"Assalamualaikum" ucapnya begitu berlalu dari hadapan bibi dan Aziel sambil menenteng tas sekolahnya.
"Wa'alaikumsalam, hati hati dijalan" Risma menjawabnya sambil mengangkat tangan Aziel seolah da dah da dah kearah Cahya. Cahya yang masih bisa melihatnya tentu saja melambaikan tangannya juga seolah membalas lambaian tersebut.
Setelah berada diluar, Cahya yang tadi sempat mengambil sepatunya segera memakainya. Setelah beres ia melangkah menuju kearah garasi disamping rumahnya untuk mengambil sepedanya.
Sepeda bewarna keunguan itu pun dipakai Cahya untuk pergi ke sekolah.
Sesekali ia melambaikan tangannya kepada tetangganya yang baru dilewatinya itu.
Senyum manisnya pun tak luntur dari bibirnya. Malah semakin merekah saat orang yang disapanya membalas sapaannya.
💛💙💜💙💛
Hallo Ya
Masih setia baca M.B.B kan?
~Terimakasih~
__ADS_1
💞😊💞