My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
53. Kejadian di Lift


__ADS_3

๐ŸM.B.B๐Ÿ


Cahya yang merasa ditinggalkan tidak tinggal diam. Dia segera mengikuti langkah Vino yang sudah tidak lagi terlihat dipandangannya. Tapi begitu ia keluar dari kamar, ia bisa melihat Vino tengah duduk di sofa sambil tertawa puas. Cahya yakin kalau Vino tengah menertawakan dirinya.


"Vino." Seru Cahya sambil menatap Vino yang kini beralih menatap kearahnya. Menyadari kalau Cahya ada disana membuat Vino berdiri dari posisinya kemudian berlari kebelakang sofa untuk menghindari Cahya.


"Kemari," suruh Cahya namun diabaikan oleh Vino. Bukannya menghampiri, Vino malah menjulurkan lidahnya kearah Cahya seolah mengejeknya.


Melihat respon Vino, Cahya langsung mengejar Vino. Akhirnya mereka berdua kejar kejaran. Mulai dari ruang tamu, ruang santai, dapur, meja makan bahkan kini mereka kembali ke kamar yang tadi ditempati oleh Cahya.


"Hush huft Vino capek." Keluh Vino dengan nafas tak beraturan. Melihatnya membuat Cahya menyunggingkan senyumannya.


Kemudian mulai menyergap Vino yang masih berusaha mengatur nafasnya itu. Mungkin karena belum siap membuat Vino jatuh keatas ranjang akibat sergapan dari Cahya. Cahya pun juga ikut terjatuh keatas ranjang. Lebih tepatnya diatas tubuh Vino.


Kedua mata mereka bertemu. Baik Cahya maupun Vino tidak ada yang mengalihkan pandangan mereka dari satu sama lain.


Apalagi jarak keduanya sangat dekat, bahkan keduanya bisa merasakan hembusan dari masing masing mereka.


Glup


Cahya menelan ludahnya gugup.


Bukannya tidak ingin bangkit dari posisinya saat ini, hanya saja tubuhnya seolah membeku diatas tubuh Vino yang juga tidak beralih sedikitpun sejak meraka ada dalam posisi seperti itu.


Wajah mereka hanya terpaut beberapa senti membuat Cahya segera tersadar kemudian berusaha bangkit.


"Vino sudah mandi?" Cahya mencoba mengalihkan perhatian dengan bertanya seperti itu pada Vino.


Vino juga ikut bangkit kemudian berdiri disisi Cahya yang masih setia mengontrol degup jantungnya.


Vino menatap kearah Cahya sebelum menjawabnya "Sepertinya Vino sudah mandi." Jawabnya ragu.


Vino bisa melihat Cahya dengan jelas karena tinggi badan Cahya hanya mencapai telinga Vino.


"Ada apa?" Tanyanya begitu sadar kalau Vino menatap kearahnya.


"Tidak ada apa apa."


"Ooh iya, ini jam berapa?" Tanya Cahya yang merasa kalau matahari mulai meninggi.


Vino mengedarkan pandangannya ke segala arah, begitu melihat apa yang dicarinya segera ia menatap kearah Cahya.


"Jam 06.45." Jawabnya polos.


"Apa?! Kita telat dong." Cahya mulai panik. Bagaimana tidak, ini hari pertamanya masuk ke sekolah. Dan masa dia harus terlambat di hari pertamanya sih.


Melihat kepanikan Cahya membuat Vino memiringkan kepalanya polos.


"Kenapa?"


Cahya berusaha mengatur paniknya. "Kita telat Vino. Memangnya Vino tidak ingin sekolah."


"Vino sekolah. Tapi nanti jam 8." Perkataan itu membuat Cahya melongo mendengarnya. Jadi untuk apa dia panik seperti itu? Cahya menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Cahya lucu kalau lagi panik." Vino mengatakannya sambil mendekat kearah Cahya membuat Cahya bertambah panik.


Cahya berusaha menetralkan detak jantungnya dan jugaย  Pesona yang dimiliki oleh Vino tak bisa diabaikan begitu saja oleh Cahya.


Deg Deg Deg


Detak jantung Cahya bertambah kencang.


"Apa aku jatuh cinta?" Tanyanya pada diri sendiri sambil menatap Vino yang ada di hadapannya itu.


"Ya sudah, Cahya mau pulang mumpung masih jam segini." Cahya berusaha mengalihkan pandangannya dari Vino kemudian berjalan menuju ruang santai diikuti oleh Vino dibelakangnya.


"Ayo kita pulang sekarang." Vino yang tadinya ada di belakang kini mulai menggandeng tangan Cahya dan menariknya untuk berjalan dibelakangnya.


Tautan tangan itu diperhatikan seksama oleh Cahya. Ia hanya tak menyangka kalau Vino akan menggandengnya seperti sekarang ini.


Entah kenapa hatinya menghangat merasakan genggaman tangan itu.


Jangan bilang Cahya sudah jatuh hati pada Vino atau Bryan itu. Cahya sendiripun bingung mendefinisikan perasaannya itu seperti apa.


Biarlah ia mengikuti alur yang berjalan sebagaimana mestinya itu.


Kini keduanya sudah sampai di depan pintu apartemen. Tak perlu dikunci, karena jika pintu sudah tertutup rapat maka secara otomatis akan terkunci.


Kini keduanya sedang menunggu lift yang belum kunjung terbuka. Begitupun dengan tautan tangan mereka yang belum terlepas sedari tadi.


Ting!


Entah karena kebanyakan orang atau memang liftnya yang sempit membuat pergerakan didalam lift kurang nyaman.


Dan ternyata dibelakang Cahya ada seorang pria yang mungkin berusia awal 30 itu tengah memperhatikan Cahya dengan intens.


Memang di dalam lift itu ada 7 orang termasuk Vino dan Cahya. Diantara 7 orang itu memang Vino dan Cahya yang termuda. Ada 2 pria dewasa, 2 wanita dewasa yang sepertinya istri dari kedua pria dewasa tadi beserta pria yang ada dibelakang Cahya itu.


Memang beberapa pasang mata menyadari tatapan intens dari pria itu yang menatap lurus kearah Cahya. Namun mereka engan untuk menegurnya dan mengabaikannya begitu saja.


Dan sepertinya Cahya lupa dengan apa yang dikenakannya saat ini. Vino yang menatap ke penjuru ruangan mulai menyadari tatapan intens pria tadi pada Cahya. Dan Vino sangat tidak menyukai hal itu.


Cahya yang entah kenapa merasa sedang ditatap pun mulai menolehkan sedikit pandangannya ke belakang. Dan ternyata memang ia tengah di tatap oleh orang yang tak dikenalnya.


Rasa tak nyaman mulai timbul dalam diri Cahya. Dan ia baru ingat kalau sekarang ini ia sedang memakai pakaian yang menurutnya tidak cocok kalau harus dipakai diluar rumah.


Ia merutuki dirinya sendiri yang lupa kalau sedang memakai piyama sutra berwarna navy yang entah milik siapa ini.


Piyama Guys๐Ÿ˜ฑ


Apalagi piyama itu bermodel terusan yang hanya bisa menutupi sampai diatas lutut itu. Ia mulai *** ujung piyamanya untuk menyalurkan ketidaknyamanan yang dirasakannya itu.


Vino melihat dengan jelas bagaimana tegang dan tidak nyamannya Cahya saat ini. Matanya melebar begitu melihat pria tadi berusaha memegang area belakang tubuh Cahya.


Sungguh sekarang ini Vino ingin sekali marah. Auranya mulai tidak bersahabat membuat Cahya yang ikut merasakannya mendadak bergidik ngeri.


Satu ruangan lift itu juga bisa merasakan adanya aura yang berbahaya dari sosok pemuda termuda diantara mereka itu. Tapi tak ada yang berani berkomentar. Karena sebagai orang disana sudah tahu siapa orang dihadapan mereka itu.

__ADS_1


Yap siapa lagi kalau bukan anak dari pak Sanjaya Wirautama dan Irena Wirautama. Seorang pengusahaan sukses dinegara ini. Bahkan gedung apartemen yang mereka pijaki ini adalah milik putra mereka.


Jadi tidak ada yang berani, kalau ada berarti cari mati dia. Oke balik ke Vino ups atau mungkin sebentar lagi berubah menjadi Bryan? Who knows.


Tatapan tajam itu Vino arahkan pada tangan pria itu. Tak berapa lama terdengar bunyi yang cukup nyaring di dalam raungan yang hanya selebar 3 X 2 meter itu.


Sreett!!!


Vino menarik genggaman meraka membuat Cahya berpindah tempat didepan Vino. Sedangkan Vino agak bergeser membuat dirinya berada tepat di depan pria tadi yang hampir saja melecehkan Cahya dengan tangannya itu.


Cahya kaget karena tarikan itu dan posisinya saat ini. Bagaimana tidak kalau dilihat dari samping maka akan terkesan Vino memeluk Cahya karena jarak keduanya yang memang tak berjarak itu.


Ingat, lebar lift tak selebar untuk 3 orang yang berjajar bersamaan kan๐Ÿ˜Ž.


Pria tadi mendengus begitu ada menyadari aksinya tadi. Ia mulai bergeser agak jauh membuat jarak dengan Vino yang masih setia dibelakang Cahya itu.


Vino tak memundurkan posisinya walaupun di belakangnya sudah tidak sesesak tadi. 5 menit berlalu dengan posisi yang masih bertahan seperti sebelumnya.


Beberapa kali tampak Cahya yang menelan ludahnya gugup karena posisinya itu.


Ia juga tak berani menoleh kebelakang, takutnya jantungnya bekerja abnormal lagi seperti tadi. Makanya ia hanya diam dan berdoa semoga liftnya cepat terbuka.


Ting!


Dan sepertinya doa Cahya terkabul.


Orang orang tadi keluar dari lift berserta pria yang hampir saja berbuat kurang ajar pada Cahya itu. Kini tinggal Cahya dan Vino didalam lift.


Sebenarnya Cahya ingin keluar, tapi menyadari pakaian uang dikenakannya saat ini membuatnya gusar. Bukan itu saja posisi Vino yang tak berubahpun membuat Cahya tak bisa keluar dengan mudah.


Sreett


Sebuah jaket tersampir rapi diatas bahu Cahya. Membuat Cahya reflek meluruskan pandangannya kedepan. Walaupun ia tahu siapa pelaku penyampiran itu, tapi tetap saja ia agak terkejut saat tahu bahwa orang dibelakangnya memberikan secara tidak langsung jaketnya untuk mengatasi kegusarannya tadi.


"Ayo, kita jalan." Ucapnya sambil menarik tangan Cahya agar mengikutinya keluar dari lift yang perlahan mulai menutup. Meninggalkan jejak peristiwa yang tak mudah dilupakan oleh Cahya.


๐ŸM.B.B๐Ÿ


...Perhatian...


Ciee Cahya๐Ÿ˜†.


Pertanda ini mah๐Ÿ˜.


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


Kalau masih, tunggu kelanjutannya di part selanjutnya. Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys๐Ÿ˜‰.


๐ŸTerimakasih๐Ÿ


๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2