My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
tujuh...


__ADS_3

Di desa yang sama, seorang wanita sedang sibuk membereskan buku bukunya, ia baru saja selesai dengan jam terakhir di sekolah nya.


"An, bareng yuk" ajak sandi, salah satu teman Brianna alias Anna.


~Brianna Kalista


Gadis kelas 2 SMA yang tergolong dalam gadis desa yang cantik dan menawan. Ia baik hati dan suka menolong sehingga banyak orang yang menyukai dirinya, termasuk sandi, teman nya dari kecil.


"Nggak usah san, makasih" tolak halus Anna, bukannya tidak menghargai, tetapi ia tau bahwa sandi menyukai nya. Ia tidak ingin memberi sandi harapan palsu walau dengan pulang sekolah bersama.


"Yaudah, hati hati ya" ucap sandi menelan kekecewaan untuk yang kesekian kalinya.


Bukan hanya sekali ia berusaha mendekati Anna sang pujaan hati, tetapi sudah beberapa kali dan hasilnya tetap nihil yang membuatnya lebih tertantang untuk mendapatkan hati sang Brianna Kalista. Gadis baik hati dan pekerja keras.


Anna hanya membalasnya dengan senyuman, ia tahu bahwa sandi kecewa, Tapi kata ibunya lebih baik seperti itu, daripada sudah terlanjur nantinya.


Anna segera bergegas keluar karena setelah ini, ia harus membantu orang tuanya memanen sayuran.

__ADS_1


Ia memang dikenal dengan anak yang berbakti kepada orang tua karena setiap pagi, ia akan membantu ibunya untuk menata sayuran yang akan mereka jual ke pasar dan pulangnya, Anna membantu orang tuanya berkebun.


Anna pulang dengan jalan kaki. Sebenarnya di rumahnya ada sepeda, tapi ia lebih suka jalan kaki saja. Katanya biar bisa melihat lebih detail pemandangan yang ada di desa, begitulah katanya.


Padahal dari kecil dia sudah tinggal di desa ini. Mungkin karena sangat mencintai tempat kelahirannya sehingga dia tidak pernah bosan untuk melihat ciptaan Tuhan yang ada.


Disisi lain, Raffa sedang sibuk memperhatikan pemandangan yang ada.


Tetapi terkadang ia merasa risih, karena setiap orang yang lewat, pasti membicarakan sesuatu seperti...


"Duh, ganteng nya, anake sopo to kii"


"Woalah le, awakmu opo bule to"


Dan masih banyak lagi, sebenarnya Raffa ingin menjawab atau sekedar menyapa mereka, tetapi setelah tau mereka memakai bahasa daerah yang Raffa hanya bisa setengah nya saja, maka Raffa hanya memilih diam dan sesekali tersenyum.


Karena melihat jalanan yang akan dilalui nya ramai, Raffa pun membelokkan badannya ke arah lainnya, lebih tepatnya seperti ke arah ladang, begitu pikirnya.

__ADS_1


Sedangkan di belakang Raffa, ada 2 orang lelaki yang terus mengawasi nya karena itu adalah perintah dari papa Angga.


Raffa memilih ke arah ladang atau kebun itu, karena dilihatnya, itu sepi dan ia bisa menyendiri dan menghirup udara segar tanpa ada kebisingan.


Seperti memang benar saran sang papa yang mengajak nya kesini hingga bisa merilekskan pikiran nya dan dapat mempercepat proses penyembuhan.


Setelah sampai di tempat yang dikiranya nyaman, Raffa langsung jalan Tanpa memperhatikan jalanan yang dilaluinya.


Lalu tiba tiba.....


BRUK......


"Hhuuuaaa mama" teriak Raffa yang jatuh tersungkur, hingga membuat seseorang yang kakinya di senggol tadi terkejut.


"Yaampun, sini aku bantuin" pekik Anna


Ternyata, orang yang kakinya membuat Raffa tersandung adalah Anna, ia memang pergi ke kebun atau ladang milik ayahnya untuk membantu orang tuanya. Tiba di sana, ia selonjorkan kakinya terlebih dahulu, karena lelah setelah menempuh perjalanan dari sekolah ke ladang.

__ADS_1


Memang jika tidak hati hati orang akan mengira tidak ada siapa siapa, karena posisi Anna yang duduk dan tertutup daun pada bagian badannya.


🌻🌻🌻


__ADS_2