
Previous Chapter
***Bahkan mereka baru saja baik kan, masa harus marahan lagi.
Dan benar saja Bryan sudah menguarkan tatapan tajam. Membuat Cahya menelan ludahnya susah payah.
"Sepertinya Bryan marah lagi." batin Cahya sambil menatap kearah Bryan***.
๐๐M.B.B๐๐
Cahya yang sadar akan tatapan tajam Bryan langsung menggenggam tangan Bryan. Bryan menatap kearah Cahya yang kini juga sedang menatap ke arahnya. Tapi tak lama, Bryan langsung mengalihkan pandangannya dari Cahya.
"Jangan didengarin ucapan si Gilang barusan," ucap Satya yang berada disamping Gilang.
Gilang yang menyadari tatapan Bryan tadi mengarah padanya pun segera meralat ucapannya.
"Sorry Bro tadi bukan gitu maksud gue. Jangan dimasukin ke hati omonganku tadi. Dan Btw selamat ya udah pacaran sama ibu negara. Baik baik, soalnya kalau ibu negara ngamuk berabe urusannya."
Mendengar ucapan itu membuat beberapa anak XII IPA 3 menepuk dahi mereka.
Sreet
Suara kursi di dorong mundur membuat banyak pasang mata menatap kearah sang pelaku.
"Bryan, kau mau kemana?" Cahya menatap bingung kearah Bryan yang baru saja berdiri dari posisinya.
"Toilet." Cahya yang mendengarnya hanya bisa mengangguk. Setelah itu Bryan berlalu dari hadapan mereka semua.
Kini semua anak perempuan disana menatap tajam kearah Gilang. Gilang yang di tatap begitu menelan ludahnya susah payah.
"Kenapa?"
"Gara-gara kamu, pacarnya Cahya jadi pergi kan. Kalau punya mulut itu dijaga." Si pemarah mulai mengomel kearah Gilang.
"Iya nih, disaring dulu kalau ngomong. Kalau sampai ada apa apa dengan hubungan mereka. Kau harus tanggung jawab." Si bawel Cantika ikut membela Putri.
Sedangkan anak laki laki mulai ikut merasa tegang begitu melihat tatapan mematikan dari si Monster XII IPA 3 itu, siapa lagi kalau bukan si Citra.
Cahya yang melihatnya tentu langsung mengalihkan pembicaraan. "Sudahlah, Bryan tidak akan marah. Jadi jangan saling menyalahkan. Kalian lanjut makan saja."
Cahya mulai menyendokkan makanan kedalam mulutnya. Nafsu makannya sedikit menurun begitu tadi melihat tatapan Bryan padanya itu.
Ia sendiri bingung, tidak mungkinkan kalau Bryan cemburu. Memang dirinya sepenting itu bagi Bryan, Tidak kan?
__ADS_1
Itulah yang sedang dipikirkan oleh Cahya saat ini. Hingga tepukan pelan diatas tangan kirinya membuat Cahya mendongak.
Ternyata si Rima yang baru saja menepuk pelan tangannya itu.
"Ada apa?"
Rima menggeleng pelan, "Kau memikirkan calon tunanganmu itu ya? Memangnya calon tunanganmu itu tahu siapa orang yang dimaksud oleh Gilang tadi?"
Cahya menggeleng tidak tahu.
Melihat respon Cahya membuat Rima tersenyum. "Sudah jangan terlalu dipikirkan. Toh dia tidak tahu, mungkin saja dia memang mau ke toilet."
Cahya sedikit menghembuskan nafas lega. Ia sejenak berpositif thinking. Mungkin saja Bryan memang mau ke Toilet bukan pergi karena cemburu.
Cahya kembali makan dan sesekali menimpali pandaan teman temannya itu. Suasana yang tadinya canggung berangsur membaik. Buktinya semuanya sudah tertawa begitu mendengar banyolan dari Bimo yang memang terkenal lucu itu.
Kedatangan seseorang yang duduk disamping Cahya membuat Cahya reflek menoleh. Ternyata orang itu Bryan.
"Sudah selesai dari kamar mandi?" Sebenarnya tanpa Cahya bertanya pun, ia sudah tahu jawabannya. Tidak mungkin kan kalau Bryan belum selesai tapi dia sudah duduk disamping dirinya.
"Hmm." Hanya sebuah deheman yang entah kenapa terdengar dingin di telinga Cahya membuat Cahya tidak lagi bertanya pada Bryan. Karena waktu sudah semakin larut, membuat beberapa dari mereka langsung menyarankan untuk pulang.
"Gimana sebelum pulang kita foto dulu. Kalian semua setuju?" Si biang selfie mulai angkat bicara.
"Ide bagus. Ayo cari posisi." Semua mulai heboh mempersiapkan diri. Bahkan ada beberapa cewek kembali membenahi dandanan mereka. Membuat para cowok yang melihatnya memutar mata mereka malas.
Salah seorang dari mereka mulai meminta tolong pada mas mas pelayan untuk menfoto mereka.
Posisinya mereka bergaya candid, seolah tidak menyadari adanya kamera.
Beberapa lagi membentuk barisan, para cewek berdiri sedangkan para cowok posisi jongkok ataupun duduk dilantai.
Dan ada posisi acak, dimana yang membawa pasangan berdiri berdekatan sedangkan yang tidak bawa alias jomblo menempati posisi didepan dengan posisi jongkok ataupun duduk dilantai.
"Selesai," ucap mas mas tadi sambil menyerahkan kamera yang dipeganginya pada sang pemilik, siapa lagi kalau bukan si Rian.
Semua pada berebut untuk melihat hasil fotonya. Berbeda dengan Cahya dan Bryan yang kini dalam kondisi canggung.
Mungkin hanya Cahya yang merasa canggung. Soalnya Bryan tampak biasa saja.
Kenapa canggung. Karena sedari tadi foto. Bryan selalu saja memeluk pinggangnya membuat Cahya malu sendiri. Bahkan tadi hampir semua menyoraki dan men'Cie-Cie' dirinya.
Entah kenapa Cahya tak bisa menghentikan senyuman di bibirnya begitu mengingat moment tadi.
__ADS_1
"Kau kenapa senyum senyum sendiri?" Rima menaik turunkan alisnya berniat menggoda sahabatnya yang tengah blushing itu.
"Apa sih. Siapa juga yang senyum senyum," elaknya membuat Rima tertawa.
"Pakai ngelak lagi. Sudah ketahuan juga. Buktinya tuh pipi kenapa merah begitu." Cahya langsung memegang kedua pipinya mengutuk mendengar ucapan Rima.
Apalah daya, bukanya menghilang rona di pipi Cahya malah semakin terlihat. Diam diam Bryan melihat dan mendengar interaksi keduanya. Ia tersenyum tipis begitu melihat pipi Cahya yang nampak bewarna merah itu.
ย
"Ayo pulang." Ajak Bryan sambil menarik tangan Cahya. Melihat Bryan yang berdiri membuat semuanya menatap kearah Bryan.
"Aku dan Cahya pamit pulang. Untuk makanannya sudah aku bayar." Sontak saja membuat semuanya terkejut. Tapi tak lama semua mengulas senyum senang.
"Thanks loh bro udah bayari makanan kita semua. Pacarnya ibu negara menang the best๐." Salah satu dari mereka angkat bicara.
Sedangkan Bryan hanya mengangguk pelan. "Kami pamit." Begitu selesai mengucap salam. Bryan dan Cahya keluar dari restoran. Tapi sepertinya Cahya masih terkejut soal Bryan yang mentraktir anak satu kelas.
Setibanya di luar restoran. Bryan langsung mengengam telapak tangan Cahya membuat Cahya terkesiap.
Seolah belum yakin dengan apa yang didengarnya tadi. "Beneran, tadi kamu semua yang bayar?"
Pertanyaan itu membuat Bryan sejenak memelankan langkahnya kemudian menatap kearah Cahya yang memang lebih pendek dari tingginya itu.
Anggukan yang diberikan oleh Bryan malah kembali membuat Cahya syok.
"Benaran? Anak sekelas aku itu ada banyak. Apa nggak ngerepotin kamu?"
Kali ini Bryan menggeleng. "Ayo jalan. Aku mau membawamu ke suatu tempat." Cahya yang ditarikpun ikut melangkahkan kakinya. "Kemana?"
"Nanti juga kau tahu." Ucap Bryan sambil menunjukkan seringaian miliknya tanpa disadari oleh Cahya.ย
...Perhatian...
Yah. Si Bryan mau ngapain ini ๐ฑ
Up๐
Hallo Ya
Masih setia baca M.B.B kan?
Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys๐.
__ADS_1
๐Terimakasih๐
๐๐๐