
🍁My Bipolar Boy🍁
Jadi daripada membuat mereka celaka, lebih baik mereka berdiam diri di hotel ini. Toh juga mereka telah memesan kamar hotel. Bukan mereka sih lebih tepatnya hanya Bryan yang memesan sebuah kamar.
Kini keduanya sudah berada di dalam kamar hotel. Mereka juga sudah mempersiapkan diri dan bersiap untuk tidur. Tapi Cahya bingung mau tidur dimana. Soalnya ranjangnya hanya ada satu. Saat mengedarkan pandangannya kearah kamar hotel, titik fokus Cahya terpusat pada sofa yang berada di salah satu sudut kamar.
Dirinya baru saja ingin melangkah kesana, sebuah interupsi berhasil mengejutkan dirinya.
"Kau mau kemana?" Cahya membalikkan badannya untuk menatap si pemilik suara dan memang benar dia adalah si Bryan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Itu aku ingin tidur di sofa." Jawab Cahya pelan. Dirinya mengalihkan pandangannya saat menatap kearah Bryan. Kenapa?Soalnya Bryan itu baru selesai mandi. Bahkan rambutnya masih meninggalkan jejak tetesan satu ujung rambutnya itu.
"Kenapa harus di sofa?" Cahya menatap Bryan bingung.
"Terus aku harus tidur dimana?" Jawaban yang keluar dari bibir Bryan membuat Cahya terkejut.
"Tentu saja di ranjang. Memangnya mau dimana lagi." Seketika mata Cahya melebar.
"Apa kau bilang?" Rasa terkejut masih melingkupi diri Cahya.
Bukannya menjawab, Bryan malah balik tanya "Kau tidak dengar perkataanku tadi?"
"Dengar, tapi kau serius?" Jujur saja Cahya masih meragukan pendengarannya tadi, mungkin saja ia salah dengar kalau tadi Bryan bilang untuk tidur di ranjang.
"Memangnya kau lihat aku sedang bercanda? Cahya menggeleng. "Tidak sih, tapi kita nggak boleh tidur satu ranjang."
Bryan menatap lurus kearah Cahya, "Memangnya kenapa?" Cahya kebingungan sendiri harus menjawab apa.
"Lebih baik aku tidur di sofa saja, kau yang tidur di ranjang. Bagaimanapun juga kau yang memesan kamar ini. Jadi kau berhak untuk menempati ranjang itu." Ungkap Cahya panjang lebar.
Bryan menggelengkan kepalanya, membuat tetesan air itu terciprat kemana mana. "Kita akan menempati ranjang itu bersama sama." Perkataan itu memang terdengar biasa, tapi entah kenapa terdengar ambigu ditelinga Cahya.
"Tidak usah, lebih baik aku yang tidur di sofa dan kau yang tidur di ranjang." Cahya masih kekeh untuk tidak tidur satu ranjang dengan Bryan. Bagaimanapun juga mereka belum sah jadi suami istri. Jadi belum boleh tidur seranjang.
Ada geraman tertahan dari mulut Bryan. Karena ia sangat membenci penolakan. Kalian ingat kan siapa yang ada didepan Cahya saat ini. Dia itu Bryan bukan Vino.
"Aku tidak menerima penolakan."Sejujurnya Cahya menyadari perubahan nada suara Bryan barusan. Tapi tetap saja hatinya menolak untuk seranjang dengan Bryan. Mereka itu belum menikah, jadi belum boleh tidur bareng.
__ADS_1
"Sudahlah, hari juga semakin malam. Lebih baik kita tidur saja." Baru ingin melangkah menuju kearah sofa, tapi tatapan dari Bryan membuat nyali Cahya menciut.
Dengan berat hati Cahya akhirnya harus tidur seranjang dengan Bryan. Ia pun dengan perlahan menaiki ranjang yang berbeda sisi dengan Bryan. Bryan juga melakuakan hal yang sama. Kini mereka berdua sudah berada dalam satu ranjang yang sama.
Perasaan gugup lebih mendominasi hati Cahya. Cahya pun lebih memilih tidur di tepi ranjang dan sebelumnya Cahya sudah memindahkan bantal guling ke tengah tengah. Hal itu dimaksudkan sebagai pembatas di antara dirinya dan Bryan.
Jelas Bryan melihat kelakuan Cahya, ia mengernyitkan dahinya bingung. "Kenapa Cahya membuat benteng dengan guling di tengah-tengah ranjang mereka?" Itulah yang dipikirkan oleh Bryan.
Tak tahan dengan rasa penasarannya, Bryan memulai membuka suaranya. "Kau sedang apa?"
"Aku hanya ingin membuat batasan ini, agar kau tidak melewatinya."
"Memang untuk apa?"
"Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Jawab Cahya sambil menata bantalnya sendiri untuk tidur.
"Memangnya apa yang akan terjadi?"
Skakmat
"Ya...Ya begitulah. Ini sudah malam, selamat tidur." Setelah mengatakan hal itu, Cahya mulai mengistirahatkan diri sambil memunggunggi Bryan yang masih dalam posisi duduk.
Baru juga ingin melayangkan pertanyaan, tapi Bryan sadar kalau itu hanya akan menjadi perdebatan yang makin panjang. Dan Bryan lebih memilih untuk mengalah. Dirinya mulai membaringkan tubuhnya sambil menatap punggung Cahya yang masih setia membelakanginya itu.
Mungkin sudah sekitar 5 menit keadaan seperti ini berlangsung dan sebenarnya keduanya tidak bisa tidur. Cahya masih deg-degan dan berusaha untuk tidak membuat gerakan sekecil apapun, sedangkan Bryan masih sama yaitu mengamati Cahya dari balik batasan guling yang tadi sempat dibuat oleh cahaya itu.
10 menit berlalu, Cahya pikir Bryan sudah tertidur, karena tak adanya pergerakan ataupun suara dari pria dibelakangnya itu. Ia pun mencoba membalikkan tubuhnya dan menoleh ke arah Bryan dan ternyata Cahya salah duga, dengan tenang Bryan yang masih dalam posisi semula yaitu menatap kearahnya sambil menyunggingkan senyumannya.
Merasa ketahuan sudah menatap Bryan, membuat Cahya cepat cepat mengalihkan pandangannya begitu tertangkap bahas tengah memperhatikan Bryan.
"Kok belum tidur?" Tanya Bryan sambil memperhatikan Cahya. Tetapi hanya gelengan yang didapat oleh Bryan. "Kenapa belum tidur?" Kembali Bryan bertanya pada Cahya.
"Aku belum ngantuk." Jawab Cahya pelan, karena jujur saja dirinya masih gugup saat ketahuan tengah memperhatikan Bryan tadi.
"Sebaiknya kau tidur. Ini sudah malam, tidak baik bila kau begadang. Nanti kau bisa sakit." Bentuk perhatian itu membuat pipi Cahya memerah karena malu.
Tentu saja Bryan tidak menyadari hal itu, karena posisi Cahya yang membelakangi Bryan. "Baiklah akan kucoba untuk tidur. Kau juga harus tidur, jangan menatapku terus." Kata Cahya pelan. Namun hal itu masih bisa didengar oleh Bryan.
__ADS_1
Dengan usil Bryan menjawabnya, "Memangnya siapa yang menatapmu?".
"Kau lah, masa aku." Jawabnya itu keluar dari bibir Cahya.
"Kepedean, aku tidak menatapmu."
"Terus kenapa kau menatap kearah sini terus?" Cahya masih tak membalikkan badan saat berbicara dengan Bryan.
"Kau benar benar kepedean sekali, ya. Memangnya aku itu menatapmu? Aku hanya menatap guling ini bukan menatapmu." Bryan membalas ucapan Cahya sambil menepuk pelan guling yang ada di tengah-tengah mereka.
Cahya yang mendengar itu, hanya mendengus pelan. Dirinya tahu Bryan sengaja menggodanya. Tak ingin memperpanjang masalah sepele ini, Cahya memutuskan untuk tidur tanpa membalas perkataan Bryan tadi.
Bryan terkekeh pelan saat menyadari sepertinya Cahya tengah merajuk karena kata-katanya tadi.
"Kau itu lucu sekali. Jangan mudah percaya dengan perkataan orang dan Selamat malam Cahyaku." Mendengar kata Cahyaku membuat Cahya blushing tapi dirinya tak kunjung membalikkan badannya karena saat ini dirinya sungguh-sungguh sangat malu.
Keduanya mencoba untuk tidur karena mereka merasa besok adalah hari yang panjang untuk keduanya. Hari pun mulai berganti. Entah siapa yang merubah posisi lebih dulu, yang tadinya posisi kedua anak manusia saling berjauhan kini sudah saling mendekat dan tak berjarak sedikitpun. Maksudnya adalah saling berpelukan.
Tapi tak jauh dari kamar mereka rombongan orang terlihat bergegas ke salah satu kamar yang ada di hotel ini. Mungkin ada sekitar 5 orang yang berjalan tergesa-gesa kearah salah satu bilik kamar yang ada di situ. Tanpa mengetuk mereka langsung masuk begitu saja, setelah sebelumnya memasukkan sebuah kunci duplikat kamar itu. Namun pemandangan pertama yang mereka lihat membuat kalima orang itu terkejut bukan main.
Pasalnya di atas ranjang kingsize terdapat dua anak manusia saling berpelukan dengan balutan selimut, membuat dua diantara kelima orang tadi menjerit keras.
"Cahya, Bryan!!" Seruan itu lantas belum cukup untuk membangunkan kedua anak manusia yang masih terlelap dalam tidur mereka. Namun saat teriakan kedua, berhasil mengusik salah satu dari kedua orang yang berada diatas ranjang.
Awalnya si perempuan yang terbangun lebih dulu, begitu merasakan kehadiran seseorang selain dirinya dan orang yang melamarnya tadi malam itu. Dan ternyata benar saja, di depan matanya ia melihat ada dan bibinya beserta keluarga dari laki-laki yang tadi malam itu melakukan hal romantis padanya.
************M.B.B**********
...Perhatian Harap Dibaca...
Kira kira apa yang akan terjadi?
Kalian masih setia baca M.B.B kan? Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys😉. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini😊. Usahakan untuk memberi Vote, ya.
🍁Terimakasih Semuanya🍁
😍😇😍
__ADS_1