My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
58. Pa(k)man Kepala Sekolah


__ADS_3

πŸ’žM.B.BπŸ’ž


Orang tadi masuk lebih dalam ke ruangan tersebut. Membiarkan fokusnya tertuju pada kedua anak manusia yang tengah berada diatas ranjang.


Jangan dulu berspekulasi negatif ya.


Kedua anak itu hanya tertidur. Mungkin bukan dua tapi hanya satu. Dan kalian tahu kan siapa yang tengah tertidur?. Orang tadipun melangkah menuju kearah Cahya yang masih setia mengelus surai sang ponakan.


Begitu sampai disamping Cahya, orang tadi menepuk pelan bahu Cahya yang tentu saja mendapat respon terkejut dari Cahya. Bahkan ia sempat terlonjak walaupun tidak sampai membuat Vino terbangun dari tidurnya.


"Pak kepala sekolah." Sapa Cahya begitu melihat siapa yang menepuk bahunya itu.


"Sttt." Desis sambil menempelkan jari telunjuknya diatas bibinya sendiri. Untung saja Cahya paham akan isyarat itu. Jadi ia tidak hati berteriak dan mulai memelankan suaranya.


"Ada apa pak?"


Orang yang tadi dipanggil paman oleh Vino itupun menatap lembut kearah Cahya. "Kau mau paman antar ke kelasmu? Mungkin setelah ini bel pergantian jam" jelasnya yang dimengerti oleh Cahya.


"Iya pak, tapi tunggu sebentar." Ucap Cahya sambil berusaha memindahkan kepala Vino yang ada di pangkuannya sepelan mungkin.


Bram menatap kearah Cahya yang kini tengah berusaha memindahkan kepala ponakannya tapi sepertinya agak kesulitan. Karena begitu berpindah sedikit saja. Kepala itu kembali ketempat semula. Seolah enggan untuk beranjak pergi dari sana.


Perlu usaha ekstra untuk Cahya bisa memindahkan kepala Vino dari pangkuannya keatas bantal. Lima menit berlalu dan akhirnya,


Huft...


Cahya membuang nafas lega.


Kemudian ia baru ingat kalau bukan dirinya dan Vino saja yang ada diruangan ini. Begitu ia menoleh kearah samping kanan.

__ADS_1


Benar saja. Sang kepala sekolah tengah memperhatikan dirinya. Sejenak ia menundukkan kepalanya berusaha menahan malunya.


Bram menyadari kalau satu satunya gadis yang ada diruangan ini tengah bersemu. Ia sedikit terkekeh begitu melihat pemandangan yang mungkin sedikit romantis itu.


"Ya sudah, ayo paman antar ke kelas." Ucapnya yang membuat Cahya mendongak menatap kearah pak kepsek dan kemudian menganggukkan kepalanya.


Bram berjalan lebih dulu setelah melihat respon Cahya. Sedangkan Cahya kini mulai beranjak dari ranjang dan mengambil tasnya yang tadi sengaja dia letakkan diatas sofa.


Begitu meraih tasnya, Cahya langsung memakainya di balik punggungnya. Sejenak ia menoleh kearah Vino yang sedang terlelap.


Senyum Cahya terbit begitu melihat pemandangan di depannya. Dan lagi lagi, jantungnya berdetak abnormal.


Ia memegang dada kirinya untuk memastikan getaran aneh namun tidak menyakitkan itu. Baru saja ia ingin menyelami lebih dalam tentang apa makna getaran itu. Sebuah suara yang memanggil namanya membuatnya menoleh.


"Cahya, kamu masih ingin disitu atau ikut paman?"


"Ayo ikut paman" ajaknya membuat langkah Cahya perlahan mulai menjauhi ranjang dimana ada seorang pemuda tengah terlelap diatasnya.


Sebelum benar benar keluar, Cahya kembali menoleh kearah Vino sebelum menutup pelan pintu penghubung ruangan dengan dunia luar.


Ceklek


Pintupun tertutup rapat.


"Ayo," ajakan itu membuat Cahya menatap kearah pak kepsek kemudian ikut melangkah kemana langkah pak kepsek membawanya.


Selama perjalanan hanya diisi dengan keheningan. Cahya sendiripun canggung dan bingung saat ini. Tidak mungkin kan dia mengajak bicara pak kepsek begitu saja.


Memangnya topik apa yang ingin dia bicarakan. Sedangkan pak Bram menatap sekelilingnya sekalian mengecek bagaiamana keadaan sekolah yang di amanahkan padanya itu.

__ADS_1


Beberapa pintu kelas ada yang tertutup menunjukan bahwa didalam sana tengah terjadi pembelajaran. Sedangkan ada juga pintu yang sengaja dibiarkan terbuka.


Baik Bram ataupun Cahya bisa melihat proses pembelajaran yang tengah diberikan oleh seorang guru itupun.


"Kamu tidak sekelas dengan Vino tidak apa - apa, kan?" Bram mulai bertanya pada Cahya yang tentu saja membuat Cahya agak terkejut.


"Tentu saja tidak apa - apa, pak." jawaban itu keluar dari mulut Cahya membuat Bram tersenyum mendengar.


"Jangan panggil pak. Kau bisa panggil saya paman Bram saja. Sama seperti Vino memanggil saya."


Kembali lagi Cahya cukup terkejut atas permintaan pak kepsek di depannya itu.


Bram menyadari kalau orang dibelakangnya itu terkejut. Tapi tak lama suara tawanya keluar. Membuat koridor yang tadinya sepi jadi sedikit berisik akibat suaranya itu.


Hahaha


πŸ’žM.B.BπŸ’ž


...Perhatian...


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


Terimakasih atas dukungan dari kalian semua. Dan sudah baca sampai part ini.


🍁Terimakasih🍁


πŸ˜πŸ˜‡πŸ˜

__ADS_1


__ADS_2