
Previous Chapter
"KELUAR SEKARANG JUGA!! ATAU AKU SENDIRI YANG MENYERETMU KELUAR". Ancaman itu sepertinya sangat ampuh membuat Cahya mengigil ketakutan.
ππM.B.Bππ
Melihat Cahya yang masih saja diam membuat Bryan kembali tersulut emosi.
"CEPAT KELUAR!" Tekannya lagi membuat Cahya tersentak kaget namun masih tetap diam di mobil.
"Cepat keluar. Aku bilang KELUAR." Walaupun terlihat jelas kalau Bryan masih marah, tapi setidaknya ia menurunkan nada bicaranya.
Cahya berusaha bicara walaupun ia tidak berani menatap kearah Bryan secara langsung.
"Tapi apa salahku hingga membuatmu marah?"
"Kau terlalu banyak bicara. Keluar!" bentak Bryan membuat Cahya membeku ketakutan.
"Tapi di luar sangat gelap." Cahya masih kekeh untuk tidak turun dari dalam mobil.
"Apa peduliku." Hanya itu yang diucapkan Bryan. Cahya pun mau tak mau akhirnya keluar dari dalam mobil.
Begitu Cahya keluar dari dalam mobil tanpa mau berlama lama, Bryan menancap gas meninggalkan Cahya sendirian disana.
Cahya menatap sendu kearah Bryan yang meninggalkannya begitu saja.
Bolehkah Cahya menganggap Bryan kejam? Karena meninggalkannya sendirian disini.
__ADS_1
Bagaimanapun juga di sekitar Cahya sungguh gelap, bahkan tak terlihat rumah penduduk satupun disekitar sini.
Cahya mulai pasrah, mau bagaimana lagi ia tidak hafal daerah sini dan satu-satunya yang bisa diandalkan nya saat ini adalah ponselnya.
Seakan ingat sesuatu, Lisa langsung merogoh tas selempangnya dan mencari keberadaan ponselnya.
Namun keberuntungan sepertinya tidak berpihak pada Cahya karena begitu melihat ponselnya, ternyata isi daya di ponsel Cahya hanya tinggal 7%.
Cahya memanfaatkannya untuk menghubungi para sahabatnya, tapi tak kunjung balasan membuat Cahya benar-benar bingung dan frustasi.
"Angkat dong Rim. Tolong aku," hanya itu yang diucapkan Cahya sama berkali-kali ia mencoba menghubungi temannya yang lain namun hasilnya tetap sama.
Karena sudah sedari tadi mencoba menelpon namun tak ada balasan isi daya di ponsel berkurang menjadi 4%.
Cahya menghela nafas panjang. Dalam hati ia membatin, rasanya percuma dan sia-sia makanya Ia menggunakan sisa daya tersebut untuk menyalakan senter.
Segala macam pemikiran berkecambuk di dalam otak Cahya, apalagi tidak ada orang di sekitarnya membuatnya sangat ketakutan.
Bohong kalau ia tidak ingin menangis. Nyatanya dia sudah menangis.
Cahya hanya tidak menyangka akan ditinggal oleh Bryan di tempat ini lebih tepatnya di tengah hutan. Cahya mulai menyapukan tangannya di pipinya yang basah karena air matanya.
Beberapa kali ya memohon agar setidaknya ada 1 orang yang mau menolongnya agar ia bisa pulang untuk menemui bibinya.
Seakan ingat sesuatu, Cahya lantas menelepon bibinya untuk meminta pertolongan, tapi naasnya ponselnya mati karena kehabisan daya.
Yang itu artinya lampu senter di ponselnya juga ikutan mati.
__ADS_1
Gelap
Itulah satu kata yang mengambarkan keadaan saat ini.
Bahkan bulan seolah malu menampakkan sinarnya untuk menolong Cahya. Apalagi kabut hitam yang sedari tadi menutupi sang rembulan dengan begitu sempurna.
Cahya benar-benar ketakutan, ia pun duduk dengan menopang kepalanya dilupakan tangannya. Mulai terdengar lagi isakan kecil dari mulat Cahya yang menandakan ia tengah menangis.
Cahya benar-benar sudah putus asa. Mungkin ia akan menunggu esok hari dan kembali Ke rumahnya dengan berjalan kaki.
Tapi untuk sekarang ia ingin diam di sini dulu, berharap ada yang menolongnya.
πM.B.Bπ
...Perhatian...
Cahya yang malang, kira kira ada yang menolongnya atau tidak ya?.
Tunggu part depan yaπ.
Hallo Ya
Masih setia baca M.B.B kan?
Kalau masih, tunggu kelanjutannya di part selanjutnya.
πTerimakasihπ
__ADS_1
πππ