My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
62. Kok Gini?


__ADS_3

๐Ÿ€M.B.B๐Ÿ€


Tak begitu lama pak Bambang pun datang untuk mengajar. Selama pelajaran berlangsung, Cahya sama sekali tidak fokus mendengarkan pelajaran yang diajar oleh pak bambang tersebut.


Bahkan beberapa kali ia tertangkap tengah melamun. Pikiran hanya tertuju pada satu orang yang sedari tadi dipikirkannya itu.


Bahkan ia bahkan menantikan jam pelajaran ini cepat berlalu agar ia bisa cepat-cepat menemui orang yang dipikirkannya sejak tadi itu.


"Kau kenapa?" Pertanyaan itu membuat Cahya menoleh kearah Wulan.


"Aku tidak apa-apa," balas Cahya sambil tersenyum.


"Kalau tidak Apa Apa, kenapa kau tampak gelisah? Kau sakit?" Lagi lagi Cahya menggeleng pelan.


"Aku tidak sakit, hanya saja aku ingin pelajaran ini cepat selesai," Cahya mengucapkannya dengan pelan, takut terdengar ke telinga pak Bambang.


"Ooh, apa kau lapar?" Wulan mengatakan seperti itu karena berfikir mungkin Cahya ingin cepat istirahat karena tak kuat menahan lapar.


"Sedikit."


Cahya mengakui kalau perutnya memang meminta untuk diisi. Ia baru sadar kalau sejak kemarin malam belum sempat makan. Apalagi jam istirahat pertamanya ia hanya minum es teh manis saja.


Belum sempat Wulan kembali bicara, suara dari arah belakang mereka membuat keduanya sedikit menoleh.


"Berisik."


Keduanya menaikkan kedua alisnya begitu mendapati kalau Fael yang tengah berbicara.


Tak ingin memikirkannya membuat Cahya dan Wulan kembali menoleh kedepan, takut ketahuan sama pak Bambang kalau mereka tidak mendengarkan penjelasannya.


Setelah itu, keduanya tak lagi terlibat pembicaraan karena mata pak Bambang tengah mengawasi ke penjuru kelas dan setelah itu memberikan soal pada mereka.


Akhirnya waktu yang dinanti oleh Cahya tiba juga. Apalagi pak Bambang baru saja keluar kelas setelah mengucapkan salam membuat beberapa orang sudah bergegas keluar kelas begitupun dengan Cahya.


Ia tadi juga sempat bilang pada Wulan kalau ia sedang terburu buru begitu Wulan bertanya padanya tadi.


Kini dirinya sudah ada didepan koridor kelas XII IPA 1. Dimana disitulah kelas Vino berada.


Ia bisa melihat beberapa murid sudah keluar dari kelas tersebut, tapi sejauh ini ia belum melihat Vino keluar dari kelas. Ia kini sudah berada tepat didepan pintu kelas Vino yang terbuka satu sisi. Ia melongok kedalam untuk mencari keberadaan Vino.


Nihil


Cahya tidak menemukan keberadaan Vino di penjuru kelas ini. Bahkan ada beberapa siswi yang menatap dirinya penasaran.


"Dia tidak ada didalam kelas. Lalu dia dimana?" Batin Cahya yang kembali tidak tenang.


Namun matanya menangkap keberadaan seorang gadis yang tadi sempat makan bareng Vino. Ia mencoba masuk ke kelas itu dan menuju kearah memainkan ponselnya.


"Kau bukannya yang tadi bersama Vino kan? Sekarang dia ada dimana?" Pertanyaan itu membuat gadis tadi mendongak menatap siapa yng tengah mengajaknya bicara itu.


Begitu tahu kalau itu adalah Cahya. Gadis itu malah kembali meneruskan kegiatannya dan mengabaikan Cahya begitu saja.


"Hei, aku bicara padamu."


Tapi tak ada sahutan dari si gadis itu.

__ADS_1


"Hei, kau mendengarkan?"


Merasa kalau Cahya menganggu membuat gadis tadi mengeram kesal.


"Bisa diam tidak, berisik sekali sih. Tidak lihat aku sedang berbalas pelan dengan Bryan".


Perkataan tersebut membuat Cahya terkejut.


"Ta..di kau bicara apa?".


Cahya mengira kalau pendengarnya salah, tapi ternyata. "Kau tuli ya, aku bilang aku sedang berbalas pesan dengan BRYAN" tekannya pada akhir kalimatnya.


"Dia baru saja bilang Bryan. Sejak kapan Bryan muncul?," Itulah pemikiran Cahya saat ini.


Sekarang Cahya diam membuat gadis itu kesal. "Kau kenapa diam disini. Ini kan bukan kelasmu, sana pergi" usir Dinda pada Cahya.


Yap, gadis tadi memang Dinda. Gadis yang sama yang tadi mengajak Vino makan bekal darinya dan membuat bakso yang telah dipesan Cahya tidak jadi dimakan oleh Vino.


Cahya menyadari beberapa tatapan penasaran yang dilayangkan oleh murid yang masih tersisa di dalam kelas.


Apalagi begitu nama Bryan disebut, para siswi di sekitar Cahya dan Dinda seperti tengah menanti kelanjutan cerita diantara mereka.


"Bisa ikut aku sebentar" Dinda mengangkat alisnya.


"Kau pikir aku mau?" Bukannya menjawab, Dinda malah balik tanya.


"Sebentar saja. Tidak akan lama."


"Tidak mau!" Tolak Dinda membuat Cahya menghela nafas pelan.


"Ini tentang Vino." Pernyataan singkat itu membuat Dinda akhirnya mau untuk diajak bicara.


"Apa yang ingin kau katakan?"


"Aku mohon kepadamu agar tidak memanggil Vino dengan nama Bryan. Cukup kemarin malam saja kau panggil dia seperti itu." Dinda mengangkat alisnya menatap Cahya aneh.


"Memangnya kenapa? Apa masalahnya. Toh dulu dia sering dipanggil Bryan."


"Itu kan dulu. Aku harap kau tidak memanggilnya Bryan."


"Memangnya kau siapanya? Kau bukan saudaranya, keluarganya atau bahkan bukan pacarnya."


Pernyataan itu seakan menohok perasaan Cahya. Dirinya juga bingung, kenapa dia harus repot memberitahukan Dinda agar tidak lagi memanggil Vino dengan sebutan Bryan.


Melihat Cahya yang diam tentu membuat Dinda mengulas senyum remeh.


"Sudahlah, bicara denganmu tidak ada gunanya."


Dinda bersiap pergi kalau saja tidak mendengar ucapan Cahya barusan.


"Sekali lagi, jangan coba coba kamu sebut Vino dengan nama Bryan lagi" ancam Cahya pada Dinda yang berada di depannya itu.


"Memang kenapa? Itukan hak hak aku" jawab Dinda judes.


"Kalau kamu lakuin itu, kamu bisa memancing sisi lain dari seorang Bryan Giovino Wirautama" peringatan dari Cahya di anggap angin lalu oleh Dinda.

__ADS_1


"Cih, omong kosong" dengus Dinda kemudian meninggalkan Cahya yang masih setia dengan pikirannya tentang Vino.


"Semoga saja dia tidak mengabaikan ucapanku." Setelahnya Cahya berlalu untuk kembali mencari keberadaan Vino.


Ditengah pencariannya, akhirnya Cahya menemukan sosok yang dicarinya.


"Vino," panggilnya, namun tidak dihiraukan oleh sang pemilik nama.


"Apa itu Bryan, ya?" Tanyanya begitu melihat respon dari orang yang tak jauh darinya. Kemudian ia berusaha menyesuaikan langkah dengan pemuda yang kini berada selangkah di depannya.


"Vino mau kemana?" Tanyanya lagi, tapi diabaikan.


"Vino kok nggak jawab pertanyaan Cahya".


"Vin..."


"Kau berisik sekali. Bisa diam tidak?!" Bentakan itu membuat Cahya terdiam.


Kini mereka berdua berhenti di koridor yang banyak dilalui para siswa. Bahkan ada beberapa siswa yang berhenti untuk melihat Cahya dan Bryan.


"Ka..u ke..napa?."


Cahya hanya bisa mengatakan hal tersebut dengan terbata bata.


"Ck, sebenarnya kau ini siapa. Namaku bukan Vino tapi Bryan." Ucapan itu kembali menyentak Cahya dari lamunannya.


"Penganggu," ucap Bryan sebelum pergi dari sana, meninggalkan tanya dibenak para siswa namun meninggalkan goresan tipis namun dalam di hati Cahya.


"Dia lupa padaku?" Batin Cahya yang entah kenapa agak sakit mendengarkannya. Cahya mulai mendengar bisikan dari para siswa yang melihat peristiwa tadi.


***Ternyata dia bukan pacarnya Bryan.


Syukurlah, sainganku tidak bertambah.


Kalau bukan pacarnya, dia itu siapa?.


Mungkin orang yang ingin menggoda pangeran sekolah kita***.


Tak ingin mendengar ucapan pedas yang lainnya, Cahya memutuskan untuk kembali ke kelas. Mengabaikan ucapan tidak tidak dari beberapa murid yang dilayangkan untuknya.


...Perhatian...


Up๐Ÿ’ž


Kok pada jahat ya๐Ÿ˜ฏ


kasihan Cahyanya๐Ÿ˜ญ


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


Kalau masih, tunggu kelanjutannya di part selanjutnya.


Makasih yang udah mau Like + Komen Ya๐Ÿ’–

__ADS_1


๐ŸTerimakasih๐Ÿ


๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜


__ADS_2