
🍁My Bipolar Boy💞🍁
.
.
.
.
Pertandingan sudah berjalan kurang lebih 20 menitan, tapi Cahya sama sekali tak membuka suaranya untuk Bryan. Sesekali Cahya berseru senang ketika tim sekolahnya dulu mencetak angka.
Yups, kali ini memang yang main adalah tim Volley putra dari Sma Nusa Bangsa. Makanya sesekali Cahya berseru senang ketika tim yang digawangi oleh Marcel itu mencetak angka.
Namun sejak tadi, ada yang sama sekali tidak menikmati pertandingan ini. Dia adalah Bryan. Sejak tadi dia hanya diam apalagi begitu mendengar suara sang istrinya yang kerap kali berseru senang, ketika tim Smanya dulu mencetak angka.
Sebenarnya bukan masalah seruan itu. Tapi Bryan merasa tidak senang kalau istrinya itu menyebut nama pria lain. Dia sama sekali tidak suka.
Ditambah lagi sejak tadi, Cahya sama sekali tidak berbicara padanya setelah kepergian gadis yang tadi sempat menganggunya itu.
"Sayang." Panggil Bryan yang sayangnya kalah keras dengan suara bising didalam Gor ini. Sebenarnya Cahya mendengar panggilan itu. Hanya saja dia tidak memgubrisnya.
"Sayang." Kali ini Bryan memegang tangan Cahya membuat si empunya menatap kearahnya.
"Apa?" Satu kata tanya itu keluar dari mulut Cahya. Bryan mengambil napas sejenak begitu mendengar ucapan singkat yang barusan diberikan sang istri itu.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kau kenapa?"
"Nggak Apa - apa."
"Jangan bohong."
"Memangnya siapa yang bohong?" Cahya menatap suaminya itu yang sejak tadi mengajaknya ngobrol itu.
Lagi dan lagi Bryan menghela napas, dirinya tidak tahu kenapa istrinya itu sensi sekali. Padahal sebelum kesini, istrinya itu baik-baik saja. Lantas apa yang tadi terjadi pada istrinya itu.
"Kau marah padaku?" Tanya Bryan yang membuat Cahya merotasikan matanya.
"Siapa juga yang marah." Ucap Cahya yang terkesan ketus itu. Belum sempat menjawab, keburu Cahya yang kembali bersorak begitu melihat timnya kembali mencetak angka.
"Yee, Go Marcel Go Marcel Go Mar..." Belum selesai Cahya bicara, mulutnya sudah lebih dulu dibungkam oleh Bryan. Dan kepala Cahya dihadapkan kearah sang tersangka pembekapan.
"Ehemm." Cahya memberikan tatapan pada sang suami untuk segera melepaskan bekapannya itu.
Begitu pertandingan kembali berjalan setelah ada yang mencetak angka tadi, Bryan baru melepaskan bekapannya pada mulut sang istri.
Begitu terlepas, langsung saja Cahya menghirup oksigen sebanyak mungkin. Dari deru nafasnya saja, terlihat jelas kalau Cahya seperti berlari puluhan km.
"Kau apa-apaan sih, main bekep-bekep mulut aku." Cahya tak mengerti kenapa tiba-tiba suaminya itu membungkam mulut dan hidungnya.
Dengan kesal Bryan menatap kearah Cahya. "Aku tidak suka kalau kamu menyebut nama pria lain!" Tekannya pada kata tidak suka itu.
Cahya membuang napas kasar. "Aku kan hanya menyemangati. Lagipula itu memang yel-yel tim Volley." Jelas Cahya yang berusaha sabar menghadapi tingkah yang tak biasa dari suaminya itu.
"Tetap saja aku tidak suka!" Bryan berkata seolah tak ingin dibantah sama sekali.
Cahya memejamkan matanya agar tidak terpancing emosi. Lagipula harusnya dia yang marah, kenapa malah Bryan yang marah padanya.
Dia saja hanya menyoraki nama pria lain, Bryan langsung marah. Sedangkan Cahya begitu melihat Viona mendekati Bryan, masa harus diam saja.
Cahya tak menanggapi, hanya menatap sebentar kearah Bryan sebelum mengalihkan pandangannya kearah lapangan. Bryan mengeram begitu melihat respon acuh yang di berikan Cahya padanya itu.
Dengan sedikit sentakan, Bryan menarik dagu Cahya agar menghadapnya. "Aku tidak suka melihat kau menatap pria lain. Sekarang tatap aku." Bryan sama sekali tidak peduli dengan suara bising yang ada di Gor ini. Fokusnya hanya satu, yaitu kepada sang istri.
Cahya agak meringis pelan begitu merasakan tarikan di dagunya mulai terasa nyeri. Mungkin karena Bryan tak sengaja menariknya terlalu keras sehingga meninggalkan efek nyeri pada sang empunya.
"Auww sakit, Bryan." Ringis Cahya pelan. Untungnya posisi mereka saat ini agak berjarak dengan orang-orang. Ditambah lagi bagian barisan belakang mereka tidak ada orang sama sekali.
Dan di samping mereka juga hanya ada beberapa orang saja, namun mereka sedang fokus pada pertandingan. Jadinya tidak terlalu memperhatikan sepasang suami istri itu.
Bryan belum mau melepaskan genggamannya pada dagu Cahya. Dan Cahya bisa melihat ada pancaran kemarahan yang tersirat dari sorot mata suaminya itu.
__ADS_1
Dengan susah payah, Cahya berusaha menelan ludahnya. Seakan tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemarahan seorang Bryan Giovino Wirautama.
Cukup lama keduanya dalam posisi seperti itu, hingga suara sorakan kembali terdengar. Dan kali ini lebih keras dibandingkan yang tadi, sebab kali ini merupakan luapan kesenangan dari para pendukung tim yang menang ronde 1 ini.
Bryan mulai melepaskan genggamannya itu. Walaupun belum reda, Bryan berusaha mengendalikan diri agar tidak kelewat batas. Cahya diam - diam menghembuskan nafas lega. Sudah sejak tadi dia merasa gelisah akibat tatapan tajam dari Bryan itu.
Baru juga sebentar merasa lega, tiba- tiba Bryan langsung menatapnya. "Ingat perkataan tadi. Dan ku harap kau tidak lagi mengulangi hal yang sama." Cahya mengangguk mengiyakan perkataan sang suami.
Setelah pembicaraan itu berakhir, tidak ada dari keduanya yang membuka suara. Bahkan setelah ronde kedua berakhir.
"Kau mau pulang atau masih mau disini." Perkataan itu membuat Cahya menoleh. "Aku masih mau disini. Lagipula timku belum bertanding, masa aku pulang tanpa menonton mereka tanding." Ucap Cahya sedikit ragu kalau Bryan masih mengizikannya untuk melanjutkan menonton pertandingan ini.
"Kau masih mau disini bukan karena ada di Marcel itu, kan?" Mungkin bagi Bryan pertanyaan itu biasa, tapi tidak bagi Cahya. Sebab Cahya merasa kalau Bryan menuduhnya dengan membawa bawa nama Marcel didalamnya.
"Apa maksudmu?" Cahya tidak tahu kenapa suaminya itu bisa terkesan menuduhnya begitu. Padahal dia masih ingin disini karena memang ingin menonton pertandingan volley apalagi yang akan main adalah timnya. Bukan hanya menonton si Marcel bertanding.
"Sudahlah, jika kau masih mau disini. Lanjutkan saja." Tanpa aba-aba, Bryan langsung berdiri dari posisinya dan mulai melangkah keluar dari Gor. Meninggalkan Cahya begitu saja.
Cahya terdiam begitu melihat Bryan yang dengan tiba-tiba pergi begitu saja. Butuh beberapa menit sampai Cahya kembali menghembuskan napas panjang. Diraihnya ponselnya itu dan mengetikkan beberapa kata dan mengirimkan kepada orang lain.
Begitu melihat pesannya bercentak 2 abu-abu. Cahya kembali menatap ke lapangan seolah tengah mencari seseorang.
Bingo 0_0
Tatapan keduanya bertemu, Cahya langsung mengangkat ponselnya dan sedikit mengoyangkannya memberi isyarat lewat gerakannya itu. Dan untungnya seseorang yang dia tatap itu tahu apa maksud dari gerakannya itu.
Setelah itu Cahya mulai melangkah meninggalkan Gor untuk mencari sang suami. Tapi begitu sampai di tempat parkir tadi, Cahya sama sekali tidak menemukan dimana Bryan berada.
Dia mencoba untuk menghubungi nomor ponsel Bryan. Nomor itu memang aktif, saja tak ada balasan membuat Cahya kembali menghela napas berat.
"Bryan kemana, ya. Apa mungkin dia kembali kerumah mama. Tapi tidak mungkin, lantas kemana. Apa mungkin dia pergi ke hutan perbatasan, ya." Pikiran Cahya langsung tertuju pada ingatan akan malam dimana dirinya di turunkan dijalan tengah hutan itu.
Cahya bergidik menbayangkan apa yang barusan di ingatnya itu. Dengan panik, Cahya langsung mencari kendaraan yang bisa membawanya menuju ke tempat Bryan berada.
Untungnya di dekat Gor ada pangkalan ojek. Jadi Cahya bisa mencari Bryan dengan Jasa Ojek ini. Lagipula kalau mencari kendaraan lain, belum tentu langsung dapat.
"Pak, bisa antar saya." Ucap Cahya dengan wajah khawatir.
Sang tukang ojek itupun menjawab, "Bisa neng. Neng mau kemana?"
Selama di perjalanan Cahya tak bisa membendung rasa khawatirnya. Dia takut kalau Bryan sampai berbuat nekat. Apalagi saat ini Bryan tengah marah padanya.
🍁My Bipolar Boy🍁
Kini Cahya turun dari ojek setelah itu membayar ongkos ojek tersebut. Begitu diterima, Cahya langsung bergegas menuju kearah dalam bangunan bertingkat ini.
Setelah memencet tombol, lift pun bergerak naik dimana didalamnya terdapat Cahya yang saat ini tengah mencoba mensugestikan dirinya kalau sang suami pulang ke apartemen.
Ya, memang saat ini Cahya memutuskan untuk mencari Bryan di apartemen. Siapa tahu Bryan ada disana. Kalau sampai tidak ada, entah Cahya harus mencarinya dimana lagi.
Begitu lift terbuka, Cahya langsung bergegas menuju kearah apartemennya. Dibukanya password yang sudah dia hapal diluar kepala itu. Begitu terdengar bunyi ceklek, Cahya langsung masuk kedalam.
Shock😧
Itulah yang dirasakan oleh Cahya begitu melihat keadaan tempat tinggalnya bersama sang suami itu. Padahal sebelum pergi ke Gor tadi, apartemennya tadi sudah bersih dan semua barang - barang tertata ditempat masing-masing.
Tapi kini...
Semua berantakan, bahkan ada beberapa pecahan kaca yang bersumber dari vas yang ditempatkan di ruang tamu ini.
"Argrhh." Teriakan itu membuat Cahya yang masih berdiri diambang pintu terkejut.
Dengan langkah hati - hati Cahya masuk lebih dalam untuk mencari sumber suara tersebut. Baru beberapa langkah dari posisinya tadi, Cahya kembali mendengar suara dari asal kamarnya bersama sang suami itu.
Brakk
Pyarr
Kali ini bukan suara teriakan melainkan sebuah suara benda jatuh dan kemungkian benda itu pecah begitu bergesekan dengan lantai.
Tak lagi memperdulikan hal sekitarnya, Cahya langsung bergegas menuju ke kamarnya. Jujur saja Cahya takut tapi perasaan khawatir lebih mendominasi dirinya saat ini.
Keadaan yang sama berantakannya juga terjadi diruang santai yang tadi dilewati oleh Cahya. Tanpa perlu menduga, Cahya sudah tahu siapa pelaku pemberantakan tempat tinggalnya itu.
Siapa lagi kalau bukan sang suami.
__ADS_1
Memangnya ada berapa orang yang bisa masuk seenaknya kedalam apartemen ini. Ditambah lagi dengan fitur password dan sidik jadi, membuat apartemen ini sulit untuk dimasuki bagi mereka yang tidak tahu apa password dan sidik jari yang sama untuk membuka pintu apartemennya ini.
Pintu kamar utama tertutup, tapi Cahya bisa mendengar suara bantingan itu dari arah dalam. Hal itu tentu membuat Cahya berkesimpulan kalau ada orang didalam kamarnya.
Dengan langkah pelan, Cahya membuka knop pintu dan mendorongnya masuk agar Cahya bisa melihat kondisi kamarnya dan sang suami itu.
Terlihat seseorang yang membelakanginya dan Cahya tahu betul postur tubuh orang itu, yang mana tak lain adalah suaminya sendiri.
Dengan langkah cepat, Cahya langsung berlari kearah sang suami dan langsung menubrukan badannya kearah Bryan.
"Ku mohon hentikan, Bryan. Jangan melukai dirimu." Cahya semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang suami. Apalagi tadi dia sempat melihat tangan kanan Bryan berdarah.
Bryan yang semula ingin melemparkan vas itu malah tidak jadi melakukannya karena merasakan tubuhnya di pelukan oleh seseorang.
"Tolong kendalikan dirimu. Aku minta maaf kalau sudah membuatmu marah seperti ini." Suara itu dibarengi dengan isak tangis membuat Bryan terdiam.
Keadaan dalam kamar hanya diisi oleh suara tangisan Cahya. Sebenarnya Cahya juga tidak tahu kenapa dia langsung menangis seperti ini. Perasaan dan tangisan ini hadir begitu saja tanpa bisa Cahya kendalikan.
Keduanya berada dalam posisi itu cukup lama, hingga Bryan membuang vas itu kearah ranjang mereka dan mulai membalikkan tubuhnya menghadap sang istri.
Cahya menunduk dan masih terdengar suara isakan pelan membuat Bryan perlahan mengangkat dagu sang istri. Bahkan Bryan tidak memperdulikan tangannya yang berdarah.
Hal itu juga membuat wajah Cahya sedikit tersapu oleh darah milik Bryan tadi.
"Jangan menangis. Aku tidak suka melihatnya." Diusapnya pelan airmata yang mengenang dipipi lembut milik istrinya itu.
Dengan menekan perasaannya, Cahya mulai menenangkan diri dan mulai menghentikan tangisannya itu walaupun agak kesulitan.
"Jangan melukai dirimu sendiri seperti ini. Aku tidak suka!" Ucapan itu terkesan membalas ucapan Bryan sebelumnya. Memang kenyataannya Cahya tidak suka melihat Bryan melukai dirinya sendiri seperti sekarang ini.
Ditariknya pelan tubuh sang istri agar berada dalam dekapannya itu. "Baiklah, aku tidak akan melukai diriku sendiri." Ucap Bryan sambil mencium puncak kepala Cahya.
Cahya sedikit mendongak untuk menatap kearah mata sang suami, seolah mencari kebenaran dari tiap kata-kata yang tadi diucapkan oleh suaminyaitu.
"Beneran tidak akan melukai diri sendiri lagi, kan? Janji!" Cahya menyodorkan jari kelingkingnya kearah Bryan.
Dengan segera, Bryan menautkan jari kelingkingnya, sehingga kedua jari kelingking mereka saling terikat.
"Bisa ku pegang ucapanmu tadi?."
Sepertinya Cahya masih ragu akan ucapan Bryan itu. Melihat sang istri yang terlihat belum percaya sepenuhnya padanya membuat Bryan menundukkan kepalanya dan menyapu lembut permukaan bibir sang istri dengan bibirnya.
Perasaan Cahya kembali berdesir seiring dengan gerakan lembut yang Bryan ciptakan itu. Cahya sadar ini bukan kali pertama mereka berada dalam posisi seperti ini.
Tapi entah kenapa rasanya selalu membuatnya deg-degan. Untung saja keduanya sudah sah jadi pasangan. Coba kalau belum, hal ini akan membuat dosa bagi keduanya😆.
Cukup memakan waktu lama keduanya larut dalam aktivitas mereka, hingga Cahya menepuk dada Bryan beberapa kali karena merasa tidak bisa bernapas.
Dengan tidak rela, Bryan menghentikan aktivitasnya dan kembali menatap kearah wajah sang istri yang sudah memerah sempurna itu. Ditambah lagi dengan bercak darah akibat luka ditangannya itu.
"Sudah percaya?" Cahya tak menjawabnya tapi langsung kembali memeluk tubuh Bryan dan membenamkan kepalanya didada bidang milik suaminya itu.
Bryan terkekeh pelan melihat wajah sang istri yang memerah karena malu. Dibalasnya pelukan itu hingga membuat tubuh kedua anak adam ini tak berjarak sedikitpun.
.
.
.
🍁🍁🍁
Huft, gimana ngefeel atau nggak?😊. Tapi kalian jangan ngebayangin adegan tadi, ya.
BAHAYA LOH, YA😅.
Tolong anak kecil di skip aja bagian itu. Kasihan otak suci kalian, nanti tercemari oleh hal hal yang belum sepantasnya kalian pikirkan😉
Dan Terimakasih Sudah Berkunjung Sampai Sejauh Ini💞😍
.......
🍁My Bipolar Boy🍁
Sampai jumpa lagi😉💞
__ADS_1