My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
99. Keisengan Cahya


__ADS_3

🍁My Bipolar Boy🍁


.


.


.


Hari ini adalah tepat hari keempat UN berlangsung. Dan itu artinya hari ini juga penentuan dari kesepakatan yang telah mereka buat 4 hari yang lalu.


Tentu kalian masih ingat dengan kesepakatan yang dibuat oleh pasangan baru ini. Yups, tentang rencana honeymoon mereka. Apakah pemenangnya si Bryan ataukah Cahya yang sempat ragu untuk rencana honeymoon itu.


Dan mari kita lihat, sedang apa pasangan baru kita ini pagi buta begini. Ternyata Cahya sudah lebih dulu bangun dibandingkan suaminya itu. Mungkin Bryan masih kelelahan akibat bermain game semalam.


Bahkan Cahya saat ini pun sudah membersihkan diri dan melakukan kewajibannya. Cahya memang berniat untuk membiarkan suaminya itu tidur lebih lama lagi.


Mungkin 10 menit kedepan, Cahya akan membiarkan Bryan terlelap. Tapi setelah itu, dia tentu akan membangunkan suaminya untuk melakukan kewajibannya dan bersiap ke sekolah.


Cahya menyiapkan pakaian seragam milik Bryan yang saat ini tengah dia tata di nakas samping ranjang mereka.


Karena waktu sudah berlalu 10 menitan, akhirnya Cahya mendekati Bryan untuk membangunkannya. Cahya berdiri disamping Bryan yang masih terlelap.


Dipandanginya wajah suaminya itu. Cahya mengakui kalau suaminya itu sangat tampan. Bahkan tak kalah tampan bila dibandingkan dengan biasnya itu.


Cahya juga bersyukur menjadi istri dari Bryan yang sangat baik padanya dan sayang kepadanya. Ya, walaupun kadang Bryan juga mengesalkan, apalagi kalau sudah ngambek. Susah buat ngebujukinya.


Tapi bagaimanapun sikap suaminya itu, Cahya tetap bahagia dengan pernikahannya ini. Walaupun awalnya dia sendiri ragu akan pernikahannya ini. Apalagi fakta kalau dia dan Bryan itu dulu sama sekali tidak saling kenal.


Mungkin kalau tidak karena suatu hal itu, Cahya yakin tidak akan mengenal sosok suaminya itu. Ini bukan kebetulan, tapi ini adalah takdir mereka berdua.


Oke, stop bicara masa lalu. Sekarang kita bahas masa depan.


Cahya mulai mengelus pelan surai sang suami agar membuat suaminya itu bangun dari tidurnya. Tapi hal itu belum berhasil membuat Bryan membuka matanya.


Cara kedua yang dilakukan oleh Cahya untuk menbangunkan Bryan adalah dengan memanggil namanya lembut.


"Bryan sayang, bangun." Ucapnya berkali - kali. Tapi belum ada pergerakan sama sekali dari Bryan.


Cahya masih memikirkan cara untuk membangunkan suaminya itu. Dan ide jahil pun tercetus di pikirannya. Dengan cara ini, Cahya yakin kalau Bryan akan segera bangun.


Lihat saja. Mari kita buktikan kebenarannya.


Perlahan Cahya mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang suami. Bisa Cahya rasakan hembusan halus menerpa wajahnya begitu posisinya saat ini sangat berdekatan dengan sang suami.


Diusapnya pelan pipi mulus milik Bryan yang kadang membuat Cahya merasa iri dengan kelembutan kulit suaminya itu.


Dengan gerakan pelan, Cahya mulai memberikan kecupan di kening Bryan. Karena belum bangun, Cahya kembali memberikan kecupan di pelan di kelopak mata suaminya itu.


Karena belum bangun juga, Cahya kembali melayangkan bibirnya di pipi kanan dan kiri suaminya itu untuk memberikan sedikit kecupan.


Setelah melakukan aksinya tadi, Cahya sedikit menjauhkan wajahnya untuk melihat reaksi sang suami. Tapi yang sedikit membuatnya mengerucutkan bibirnya begitu melihat suaminya itu tidak bangun juga.


Dan cara selanjutnya yang menurut Cahya paling ekstrim dibandingkan tadi akan dilakukan oleh Cahya. Cahya kembali mendekatkan bibirnya ke bibir ranum sang suami.


Dikecupnya pelan dan tak begitu lama. Setelahnya Cahya perlahan meniup area sekitar yang baru dia kecup itu setelah sedikit membuat jarak dengan wajah Bryan.


Cahya masih memberikan tiupan kecil dibibir Bryan yang kemudian dia menurunkan posisi tiupannya kearah dagu dan berujung dileher sang suami.


Cahya mulai tersenyum kecil begitu merasakan pergerakan tipis yang di lakukan oleh suaminya itu. Mungkin itu bentuk respon atas tingkah usil Cahya itu.


Baru saja ingin menjauhkan wajahnya agar menyisahkan banyak jarak. Namun gerakan tiba - tiba yang dilakukan oleh sang suami membuat Cahya memekik kaget.


Dan tak lama disusul oleh suara...


Brukk


Suara itu bersumber dari tubuh Cahya yang jatuh menindih badan Bryan akibat tarikan yang dibuat oleh Bryan agar posisi mereka berdua bisa sangat berdekatan. Bahkan tidak ada jarak seinchi pun dari tubuh mereka berdua.


"Bryan." Pekik Cahya yang masih kaget akibat ulah suaminya itu.

__ADS_1


Cahya sama sekali tidak memikirkan kalau suaminya itu akan menarik badannya seperti saat ini. Kalau tahu begini, mending tadi Cahya tidak mengusili Bryan.


Sebab, kalau Bryan sudah dalam mode memeluknya erat seperti ini, maka akan lama untuk melepaskannya. Itupun kalau yang memeluk mengizinkan untuk terlepas. Kalau tidak, tentu kalian tahu jawabannya.


Cahya menghembuskan napas kesal begitu melihat seringaian yang terpampang di depan matanya itu, yang mana bersumber dari bibir Bryan.


"Bryan, aku tahu kamu sudah bangun, ya." Ucap Cahya pada suaminya itu.


Mendengar hal itu malah semakin membuat sudut bibir Bryan tertarik keatas. "Bryan, bangun. Ini sudah pagi."


Ya, benar ini sudah pagi. Walaupun sinar matahari belum tampak sama sekali. Sebab ini masih jam 04.40 A.M.


"Kalau kau tidak bangun. Maka perjanjian kita waktu itu batal. Ehm lebih tepatnya aku saja yang menang." Cahya mengatakan hal itu sambil tersenyum senang.


Tak terima denga ucapan Cahya barusan membuat Bryan perlahan membuka kedua matanya.


Melihat Bryan yang sudah membuka matanya membuat Cahya menaikkan alisnya. Apalagi setelah mendengar kekehan dari suaminya itu.


Cahya berusaha melepaskan pelukan mereka. Bukan mereka sih, lebih tepatnya hanya Bryan yang saat ini memeluk tubuh Cahya.


"Tidak ada yang dibatalkan. Perjanjian itu harus tetap terlaksana." Ucap Bryan sambil menatap tepat di kedua mata Cahya.


Cahya memutar kedua bola matanya malas, apalagi setelah mendengar nada bicara suaminya yang tak terbantahkan itu.


Cahya yang mengangguk. "Baiklah, kalau begitu lepaskan pelukan ini. Kau harus segera mandi. Kita akan berangkat ke sekolah, Bryan."


Bukannya mengiyakan, Bryan malah menggeleng. "Apa maksud gelenganmu itu, Bryan?" Tanya Cahya begitu melihat gelengan itu tadi.


Bryan tak membalas perkataan istrinya itu. Dia malah memutar posisi mereka berdua yang mana membuat Cahya kembali memekik kaget.


Bagaimana tidak kaget, tadi posisi Cahya ada diatas sekarang sudah berpindah posisi menjadi di bawah Bryan, sangking cepatnya sampai Cahya tidak sadar kalau posisi mereka akan berubah.


Cahya memukul pelan bahu suaminya itu akibat kesal terhadap tindakannya. "Bikin kaget, tau." Dengus Cahya yang mendapat kekehan dari suaminya itu.


"Lagipula siapa dulu yang iseng?" Cahya mencebikkan bibirnya begitu mendengar perkataan itu.


Cahya berusaha untuk mengeser posisi Bryan yang masih bertahan di atasnya itu. "Awas dong, Bryan. Kamu mandi sana." Cahya masih kekeh membuat Bryan berpindah dari posisinya. Tapi hasilnya nihil, sebab Bryan sama sekali tidak berpindah seinchi pun dari posisinya tadi.


"Nggak tahu." Responan itu membuat Cahya semakin mendumel dibuatnya.


Cahya tak lagi berontak seperti tadi. Kini dirinya hanya diam sambil menatap sengit kearah suaminya itu yang masih dibalas dengan senyum manis dari bibir Bryan.


"Sudah menyerah?" Goda Bryan begitu melihat istrinya yang kini sudah diam.


"Cepat mandi sana, kau bau tau." Ledek Cahya yang membuat Bryan menatap kesal kearah sang istri.


Chup


"Itu balasannya kalau kau berani meledekku." Ucap Bryan sambil menarik sudut bibirnya keatas begitu melihat wajah Cahya yang perlahan memerah.


Enam detik setelahnya, suara erangan mulai terdengar di dalam kamar yang didominasi warna abu-abu itu. Tentu saja pelakunya erangan itu adalah bersumber dari mulut Bryan yang telah mendapat amukan dari istrinya itu.


Setelah keributan yang dibuat oleh mereka selesai, kini Bryan sudah ada didalam kamar mandi, sedangkan Cahya sedang mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua.


Berhubung stok makanan mereka tidak banyak karena sudah dari 3 hari kemarin keduanya telah memakan stok makanan yang ada. Dan didalam kulkas hanya tersisa beberapa butir telur, sawi dan beberapa buah apel membuat Cahya memutuskan untuk membuat sandwich. Lagipula masih tersisa banyak roti tawar diatas meja makan.


Tak berselang lama, kemunculan Bryan yang masih belum di sadari oleh Cahya karena dirinya masih sibuk mengoreng telur. Dan pelukan yang didapatnya itu membuat Cahya akhirnya sadar kalau sosok suaminya itu ada di belakangnya saat ini.


"Masak apa?" Pertanyaan itu bersumber dari Bryan yang kini tengah memeluk Cahya dari belakang.


"Aku sedang menggoreng telur. Hari ini kita sarapan sandwich saja, ya. Tidak apa-apa, kan?" Bryan menggeleng pelan di bahu sang istri yang menjadi tumpuan dagunya itu.


"Tidak apa, apapun yang dimasak oleh istri ku pasti aku makan."


Cahya menahan senyumannya begitu mendengar perkataan receh dari sang suami. "Kalau aku masak batu, memangnya kau mau memakannya?"


Bryan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku yakin kau tidak mungkin memasak batu apalagi sampai menyuruhku untuk memakannya."


Mendengar jawaban itu membuat Cahya tertawa. Lagipula dirinya belum pernah berpikiran akan memasakkan batu untuk suaminya itu.

__ADS_1


Mungkin bisa dicoba lain waktu😄.


Akhirnya sarapan untuk mereka berdua sudah siap. Kini keduanya mulai memakan sarapan mereka sambil sesekali melempar obrolan.


🍁🍁🍁


Mobil hitam yang baru saja tiba di parkiran itu kini berhenti. Didalam mobil tersebut terdapat 2 sosok anak manusia berbeda gender. Dan keduanya juga memakai seragam sekolah yang sama, hanya saja yang membedakan keduanya adalah yang satu memakai rok yang satunya memakan celana panjang.


"Ayo, Bryan. Aku mau sampai ke kelas secepatnya." Ucap Cahya yang kini berniat turun dari dalam mobil. Tapi saat akan membuka pintu, pintu itu tak kunjung terbuka. Bagaimana bisa terbuka kalau pintu itu saja telah di kunci oleh sang pemiliknya.


Cahya menatap Bryan kesal. Dirinya ini sedang terburu - buru untuk masuk kelas. Tapi sosok yang dipandanginya itu malah tidak membiarkannya keluar dari dalam mobil.


"Bryan, tolong buka pintunya. Aku benar - benar harus sampai ke kelas sekarang juga." Ucap Cahya dengan nada memohon. Tapi Bryan sama sekali tidak menuruti apa keinginannya itu.


Lagipula apa susahnya membiarkan dia keluar dari mobilnya itu. Kenapa Bryan harus menahannya seperti ini.


"Kenapa harus terburu-buru, ini juga masih jam 6 pagi. Ujian dimulai jam setengah 8, sayang." Cahya tak memperdulikan ucapannya suaminya itu. Lagipula alasan kenapa Cahya ingin cepat - cepat ke kelasnya adalah untuk belajar sekaligus mengambil buku catatannya.


Dan kalian tahu, buku catatannya yang tertinggal di kelas adalah materi ujian untuk hari ini. Dan kalian pasti bertanya kemarin malam Cahya belajar dengan apa, kalau bukunya saja ketinggalan di sekolah.


Jawabannya adalah, Cahya hanya belajar beberapa menit dan itupun hanya dari buku catatan Bryan. Asal kalian semalam Cahya dibuat tidak fokus belajar karena terganggu oleh keusilan suaminya itu. Siapa lagi kalau bukan Bryan Giovino Wirautama.


Kesal rasanya kalau harus mengingat hal tersebut. Suaminya itu benar benar membuatnya tak bisa berdekatan lama dengan buku materi yang dipelajarinya itu.


"Ayolah, sayangku. Istrimu ini sedang terburu-buru. Jadi lebih baik sekarang sayang ku ini membukakan kunci pintu ini." Kali ini Cahya memberikan tatapan puppy eyes miliknya itu.


Bryan yang kini menatap wajah istrinya itu sontak memalingkan wajahnya kearah lain. Tidak kuat melihat wajah mempesona dari istrinya itu.


"Baiklah, tapi dengan satu syarat." Ucapnya pada Cahya.


"Apa syaratnya?" Tanya Cahya penasaran.


"Cium dulu." Lagi lagi Cahya merasa kesal + aneh dengan suaminya itu. Sejak kapan suaminya itu semesum ini. "Kira-kira apa yang mempengaruhinya, ya?" Batin Cahya sambil menatap sang suami.


"Baiklah. Tapi kau harus tutup mata, ya." Ucapnya yang membuat Bryan menoleh kearah Cahya.


"Kenapa harus tutup mata?" Tanyanya penasaran.


"Lah mau apa tidak, kalau nggak mau ya sudah." Balas Cahya sambil menatap lurus kearah Bryan.


Setelah menghela napas panjang, akhirnya Bryan mulai menuruti perkataan istrinya itu dengan mulai menutup matanya pelan.


Cahya yang melihat kalau Bryan baru saja menutup matanya itupun mulai tersenyum samar. Dengan perlahan Cahya mendekatkan wajahnya kearah Bryan sembari tangannya mulai mencari tombol kunci otomatis.


Begitu tangannya menyentuh tombol itu, langsung saja Cahya menekanya dan mulai menjauh dari Bryan. Setelahnya dia keluar dari mobil sang suami dengan tawa yang mulai mengudara diluar mobil itu.


Bryan yang tidak merasakan apapun menyentuh wajahnya pun mengernyit heran ditambah lagi dengan suara tawa sang istri yang mulai mengalun menjauh dari posisinya saat ini.


Merasa ada yang tidak beres, Bryan mulai membuka matanya dan begitu membuka mata yang dilihatnya pertama kali ada bangku disampingnya kosong. Itu berarti sosok sang istri tidak ada di depannya saat ini.


Begitu menoleh kearah samping, Bryan bisa melihat Cahya yang masih berlari untuk menuju ke kelasnya itu disertai dengan tawa yang masih mengudara.


Melihat hal itu tentunya membuat Bryan sebal dan gemas dalam waktu bersamaan. Sebal karena tidak jadi dicium sang istri dan gemas karena melihat tingkah lucu Cahya yang masih bisa dia lihat dari sini.


Manisnya😍


.


.


.


.


🍁My Bipolar Boy🍁


Dan Terimakasih Sudah Berkunjung Sampai Sejauh Ini💞😍


.......

__ADS_1


Sampai jumpa lagi😉💞


__ADS_2