My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
27. Kenangan


__ADS_3

πŸ‚πŸ€πŸƒπŸ€πŸƒπŸ€πŸ‚


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Cahya sampai didepan pintu kepala sekolah yang bersebelahan langsung dengan ruang guru.


Diketuknya pintu tersebut dan baru ada sahutan di ketukan kedua.


"Masuk." Sahutan dari dalam membuat Cahya membuka pintu itu dengan pelan.


"Ooh kamu Cahya, sini duduk."


Pak kepala sekolah menyuruh Cahya untuk duduk diskusi didepan mejanya itu.


Setelah Cahya duduk, pak kepala sekolah menunjukan sebuah berkas pada Cahya, yang tentunya membuat Cahya sendiri kebingungan.


Seolah tau bahwa muridnya itu bingung atas apa yang disodorkannya itu membuat pak kepsek buka suara.


"Ini berkas kepindahan kamu dari sekolah ini. Kemarin pak Sanjaya sudah bilang pada saya, kalau kamu mau pindah."


Sekarang Cahya paham apa maksud pak kepseknya itu menyodorkan berkas padanya.


"Kau bisa tanda tangan disini, sebagai bukti bahwa kau telah pindah dari sekolahan ini."


Cahya yang mengerti segera membubuhkan tandatangannya diberkas tersebut, kemudian menyerahkan kembali kepada pak kepsek.


Keadaan kembali hening setelah pak kepsek memeriksa berkas tadi.

__ADS_1


Tapi suara pak kepsek membuat Cahya yang sedari tadi diam segera mendongakkan kepalanya untuk menatap kepseknya itu.


"Beneran kau mau pindah sekolah? Memangnya ada yang membuatmu tidak nyaman sekolah disini?" Pertanyaan itu membuat Cahya menarik sudut bibirnya pelan.


Ia tidak mungkin kan berkata sejujurnya tentang hal yang sama yang ditanyakan oleh sahabatnya tadi.


"Sebenarnya saya betah bersekolah disini pak, hanya saja ada suatu kondisi dimana saya memang harus pindah walaupun sebenarnya itu berat buat saya." Cahya menjelaskan walaupun tidak beserta alasannya, karena itu hal tidak untuk dibeberkan kesemua orang.


"Sebenarnya bapak merasa kehilangan, karena kamu termasuk murid berprestasi disini. Bahkan beberapa hari yang lalu kau bisa membawa tim mu untuk juara pertama ditingkat provinsi." Pak kepsek masih menatap kearah Cahya.


Cahya bingung harus menanggapi seperti apa.


"Dan selamat untuk kerja keras mu untuk membanggakan sekolah ini. Ya walaupun sebentar lagi kau pindah, semoga kau betah di sekolah barumu," lanjut pak kepsek sambil tersenyum cerah.


"Aamiin, ya sudah kamu kembali kelas. Kalau kamu kelamaan disini bapak bisa nangis nih." Canda pak kepsek walaupun kenyataan Cahya bisa melihatΒ  mata pak kepsek memerah.


"Bapak bisa saja." Timpal Cahya sambil tertawa pelan. Inilah kadang yang membuat Cahya harus memikirkan ulang tentang rencana kepindahannya itu.


Suasana yang akan sangat dirindukan olehnya nantinya, keakraban teman temannya di tim voli, keramahan guru gurunya bahkan sifat humoris dari pak kepseknya itu.


"Kalau begitu Cahya pamit pak. Sekali lagi terimakasih atas bimbingan bapak selama saya bersekolah disini. Dan maafkan segala kelakuan saya apabila kurang berkenan dihati bapak kepala sekolah," Cahya mengatakan sambil tersenyum manis.


Pak kepala sekolah yang mendengarnya pun ikut tersenyum, "Tuhkan jadi melow begini. Bapak nangis nih ya." Candaan kembali terlontar dari mulut pak kepsek, lagi lagi membuat Cahya tertawa.


"Ya sudah ini berkas kamu bawa, untuk data kepindahan kamu di sekolah barumu nanti" Pak kepala sekolah menyerahkan salinan berkas yang tadi sempat ditanda tangani oleh Cahya kepada sang pemilik.

__ADS_1


Cahya menerima berkas itu, "Terimakasih banyak pak."


"Ya sudah kamu boleh pergi." Cahya yang mendengarnya langsung bersalaman tangan dengan pak kepsek yang disambut baik oleh pak kepsek.


"Cahya pamit pak, Assalamualaikum." Pamitnya sambil tersenyum yang dibalas hal serupa oleh pak kepsek.


Setelah keluar dari ruang kepala sekolah, ia kembali melangkah menuju kelasnya namun ditengah perjalanannya ke kelasnya suara bel istirahat berbunyi menghentikan sejenak langkah kaki.


Cahya bisa melihat beberapa guru keluar dari ruang kelas menuju kearahnya karena ruangan guru berada dibelakang Cahya.


Cahya menunduk sambil menyapa guru yang lewat disampingnya itu yang dibalas hal serupa oleh guru itu.


Dan Cahya bisa melihat para murid yang berbondong bondong keluar kelas menuju ke beberapa tempat terutama ke kantin sekolah.


Cahya tersenyum melihat pemandangan di depannya, karena mungkin itu menjadi kenangan yang tak akan dilihatnya lagi, begitu besok ia tidak lagi bersekolah disini.


πŸ’›πŸ’™πŸ’œπŸ’™πŸ’›


**Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


~Terimakasih~


πŸ’žπŸ’™πŸ’žπŸ’™**

__ADS_1


__ADS_2