
🍀🍀
Dalam hati Cahya bergumam, pasti hal itu yang dipikirkan oleh om Ibram.
"Cahya tau om, om pasti berpikiran seperti itu. Dan Cahya memang tidak bisa menyalahkan Om." Cahya tidak menatap kearah Ibram begitu mengucapkannya.
"Memang jika mendengar penjelasan tersebut, Cahya juga akan berfikiran sama seperti yang om pikirkan saat ini." Cahya berucap seolah tau apa pemikiran Om Ibram tentang itu.
Ibram tak kunjung bicara, membuat Cahya meneruskan ucapannya.
"Awalnya Cahya terpaksa menerimanya. Jujur Cahya ingin sekali menolaknya, tapi memikirkan betapa banyak beban yang dipikul paman dan bibi membuat Cahya tidak tega."
Cahya berusaha keras menahan airmatanya. Katakanlah ia cengeng, karena memang begitulah adanya.
"Tapi Cahya tak akan setega itu, paman dan bibi sudah banyak membantu Cahya bahkan mau menyekolahkan Cahya." Cahya tersenyum begitu mengingat kebaikan paman dan bibinya itu.
"Memangnya ayah dan ibumu kemana?" Pertanyaan itu membuat senyum Cahya perlahan luntur.
Tak ada balasan dari Cahya membuat Ibram menoleh kearah Cahya.
"Kamu kenapa?" Ibram tentu saja bingung melihat Cahya yang tak kunjung membalas ucapannya.
"Cahya tidak apa - apa, om." Cahya membuka suaranya.
Ibram hanya menganggukkan kepalanya, tapi ia kembali menanyakan pertanyaannya tadi.
"Jadi orangtuamu dimana?".
__ADS_1
Cahya menghembuskan nafasnya yang membuatnya agak sesak.
"Orangtua Cahya sudah lama meninggal."
Sontak saja Ibram terkejut, membuatnya langsung meminta maaf.
"Maafkan Om, Cahya. Om tidak tau." sesal Ibram yang langsung dijawab oleh Cahya.
"Om tidak salah, Om kan tidak tau tentang hal itu" Cahya kembali menatap kearah Ibram.
...Suasana mendadak canggung...
"Kenapa jadi canggung begini ya, om." Cahya mengubah suasana yang tadinya hening menjadi menghangat.
"Iya, ya." Ibram menanggapinya dengan tertawa pelan.
Cahya diam sebentar sebelum ia kembali bersuara.
"Sejujurnya Cahya belum bisa sepenuhnya menerima, karena Cahya belum mencintai Vino om."
Ibram kembali menatap Cahya sebentar dan kembali menatap kearah jalanan.
"Tapi Cahya akan mencobanya, lagipula Vino juga bersifat baik pada Cahya." Mendengarnya tentu saja membuat Ibram mengulas senyum tipis.
"Om yakin, kamu bakalan suka sama Vino. Ya walaupun nantinya kembali ke diri kalian masing masing."
"Om berharap yang terbaik untuk kalian berdua nantinya." Ibram kini sudah memasuki kawasan perumahan yang disebutkan oleh Cahya tadi.
__ADS_1
"Rumahmu yang mana?" Cahya menatap kearah luar mobil dan menunjuk salah satu rumah di kanan jalan.
"Itu rumah paman Cahya, om." Tunjuknya pada sebuah rumah minimalis bertingkat 2 itu.
Tak lama mobil yang dikendarai oleh Ibram berada tepat didepan pintu gerbang rumah bewarna biru itu.
"Ini rumahmu?" Cahya menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih sudah mau mengantarkan Cahya pulang, Om." ucapnya sambil melepaskan seatbelt nya itu.
"Oke sama sama. Jangan sungkan sungkan kalau sama om ya nak Cahya". Cahya tersenyum menanggapinya.
"Cahya masuk dulu om. Om hati hati dijalan." ucapan itu diangguki oleh Ibram.
Setelah mengatakan hal itu, Cahya keluar dari mobil tersebut.
Selepas turun Cahya menatap kearah Ibram yang kini juga tengah menatapnya.
"Hati hati Om." Cahya melambaikan tangannya kearah Ibram yang dibalas senyum oleh Ibram.
Tak lama mobil itu berlalu pergi meninggalkan Cahya yang masih ada diluar gerbang rumah.
Menyadari angin semakin dingin, membuat Cahya memutuskan untuk masuk kerumah menggunakan kunci cadangan.
.
.
__ADS_1
💛💙💜💙💛