
๐M.B.B๐
Cahya masih sedikit syok dengan apa yang diketahuinya itu. Bisakah ada yang menyadarkan Cahya saat ini.
Vino menatap Cahya polos dengan memiringkan kepalanya. Membuat Cahya memijat pelan dahinya.
"Nanti Cahya jelasin. Sekarang kita ke ruangannya Vino, ya." Bujuk Cahya sekaligus mengalihkan pembicaraan ini.
Vino pun langsung terinjak senang dan seolah melupakan pertanyaannya tadi. Entah benar benar melupakan atau menunggu moment yang tepat.
Keduanya kembali menelusuri koridor yang mulai jarang dilalui oleh para siswa. Mungkin karena memang sudah bel masuk atau mungkin karena koridor ini tidak boleh dimasuki sembarangan orang? Entahlah.
Setelah melalui koridor yang cukup panjang, akhirnya kedua manusia itu sampai di depan ruangan. Dimana koridor yang tadi dilewatinya itu mengarah langsung ke depan pintu ruangan tersebut.
"Ayo masuk."
Vino mulai memasuki ruangan tersebut diikuti oleh Cahya. Begitu sampai didalam, Cahya nampak terkejut mengetahui keadaan didalamnya.
Bukan karena berantakan atau kotor namun sebaliknya. Ruangan ini sangat bersih ditambah lagi dengan peralatan mewah didalamnya. Belum lagi Ac yang bertengger di atas tembok. Sungguh terlalu mewah untuk ukuran milik pribadi.
__ADS_1
"Vino mau bobo. Cahya temenin, ya." Ucapan dari Vino membuyarkan lamunan Cahya yang tadi sempat mengagumi ruangan tersebut.
"I..ya," dengan kikuk Cahya melangkahkan kakinya kearah ranjang yang kini ditempati oleh Vino.
"Ayo temani." Dengan sedikit tarikan kini Cahya sudah berpindah posisi menjadi terduduk disamping Vino. Vino langsung meletakkan kepalanya diatas paha Cahya yang terlapisi rok sekolah.
Jelaslah, kalau nggak Cahya pasti malu.
Untuk kesekian kalinya Vino berhasil membuat tubuh Cahya menegang akibat ulahnya.
"Usap." Satu kata yang langsung dimengerti oleh Cahya. Perlahan tangan Cahya mengusap pelan kepala Vino. Seperti halnya yang tadi sempat dilakukannya di dalam mobil.
Vino tampak memejamkan matanya begitu merasakan usapan lembut dikepalanya. Apalagi suhu ruangan yang relatif dingin membuat Vino merasa sangat nyaman.
Dipandanginya wajah Vino yang nampak polos dengan posisinya saat ini.
Sepintas ingatan Cahya masih tertuju pada kepingan memori di masa lalunya. Tentang bagaimana awal mula ia bisa mengenal Vino sekaligus Bryan lewat perjodohan ini. Walaupun ada setitik kesedihan dimana secara tidak langsung ia hanya sebagai pelunasan hutang paman dan bibinya.
Tapi Cahya tidak membenci paman dan bibinya, karena bagaimanapun juga itu bukan kesalahan mereka. Mereka juga korban disini.
__ADS_1
Dan Cahya juga merasakan adanya kebahagiaan begitu mengenal keluarga Wirautama ini. Dimana ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang sudah sejak lama ia rindukan.
Senyum Cahya masih setia di bibirnya. Bahkan ia tak berniat untuk melunturkannya barang sekejap.
Entah sudah berapa lama, kedua anak manusia ini dalam posisi seperti itu, yang jelas mereka tak menyadari kehadiran sesorang yang tadi sempat mereka temui.
...Perhatian...
I'm Comeback guys๐ ada yang kangen nggak? Ayo ada gitu yang kangen๐๐๐ Becanda ya, jangan dibawa serius๐๐.
Hallo Yaโ
Masih setia baca M.B.B kan?
Kalau masih, tunggu kelanjutannya di part selanjutnya.
Makasih yang udah mau Vote+komen Ya๐
Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys๐.
__ADS_1
๐Terimakasih๐
๐๐๐