My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
21. Diantar Pulang


__ADS_3

💛💙💛💜💛💙


Semua yang ada disana menatap kearah dokter Ibram kecuali Vino yang sedang tertidur akibat efek obat yang baru diminumnya itu.


Irena kembali menatap kearah Cahya, "Iya, lebih baik Cahya pulang bareng Om Ibram saja. Mama akan lebih tenang daripada kamu harus naik bus."


Perkataan dari Irena membuat Cahya agak terkejut, tapi sekalipun ia ingin menolaknya ada saja halangannya.


"Iya, kau pulang bareng Om saja. Tenang saja di jamin aman kok." Ibram yang telah selesai merapikan tasnya kembali menatap kearah Cahya.


Cahya bingung harus apa, tapi seketika ucapan dari ayahnya Vino membuat Cahya menghela nafasnya.


"Iya, sebaiknya kau diantar om Ibram. Takutnya kalau naik bis malam malam begini, bisa terjadi apa apa denganmu. Ayah tidak ingin itu terjadi kepadamu, nak."


Cahya pun hanya bisa mengiyakan saja ajakan om Ibram itu.


"Baiklah, Cahya pulang bersama Om Ibram. Itupun kalau tidak merepotkan."


"Tidak sama sekali. Lagian kau juga sebentar lagi jadi keponakan om, kan." perkataan itu tanpa sadar membuat wajah Cahya bersemu merah.


Entah apa yang salah pada dirinya, hingga rasanya malu mendengar perkataan yang seakan mengisyaratkan restu dari om Ibram itu untuk bersama Vino.


Ia mencoba mengenyahkan pemikiran yang barusan terlintas didalam benaknya itu. Cepat cepat ia berpamitan pada orangtuanya Vino itu.


"Kalau begitu, Cahya pamit pulang Ma, Yah." pamitnya tak lupa sambil mencium tangan Sanjaya dan Irena itu.


Irena sempat terkejut melihat perlakuan sopan dari calon menantunya itu. Ia tersenyum hangat begitu melihat Cahya selesai mencium tangan.


"Hati hati dijalan ya. Dan Ibram, aku titip Cahya. Tolong jaga Cahya." Ibram hanya mengangguk kepalanya lalu ikut berpamitan.


"Kita permisi dulu." Sanjaya dan Irena membalasnya dengan tersenyum.


Sebelum pergi Cahya menatap sejenak kearah Vino. Entah kenapa perasaannya agak sulit di deskripsikan saat ini.


Yang mungkin diantara perasaan yang menyelimuti itu lebih mendominasi kearah cemas.


Setelahnya Cahya pamit sambil tersenyum dan mulai mengikuti langkah Om Ibram yang menunggunya di pintu kamar.


Kepergian Ibram dan Cahya diikuti oleh para pelayan yang memang sedari tadi ada di dalam kamar.

__ADS_1


"Aku rasa, Cahya memang yang terbaik dari semua gadis yang pernah kita jodohkan dengan Vino, Pa." Ucapan Irena disetujui oleh Sanjaya.


"Ku rasa begitu adanya, ma." Sanjaya memeluk istrinya sambil menatap kearah pintu yang baru dilalui Cahya, Ibram dan para pelayan tadi.


Keduanya lantas memilih untuk meninggalkan kamar Vino setelah menyelimuti badan Vino dengan selimut dan memastikan suhu ruangan tetap terjaga.


.......


Ibram dan Cahya sekarang sudah berada didalam mobil. Keadaan didalam mobil pun agak canggung dan hal itu di sadari oleh Ibram membuat buka suara.


"Cahya, boleh om tanya sesuatu padamu?" Pertanyaan itu membuat Cahya menolehkan pandangannya kearah Om Ibram yang kini fokus menyetir sambil sesekali menatapnya.


"Silahkan om." Cahya memperbolehkan Ibram untuk bertanya padanya.


"Rumahmu dimana ya, soalnya om tidak tau harus mengantarmu kemana?" Cahya menepuk dahinya pelan.


Seakan baru ingat kalau om Ibram sudah berbaik hati untuk mengantarnya tapi dia malah tidak memberitahukan alamat rumahnya itu.


"Rumah Cahya ada dikawasan pondok hati Om."


Ibram menganggukkan kepalanya dan mengarahkan mobilnya kearah kawasan yang tadi sudah disebutkan oleh Cahya itu.


"Om boleh tanya lagi?" Cahya mengangguk.


"Sejauh mana kamu sudah mengenal Vino?" Pertanyaan itu membuat Cahya yang sebelum menatap kearah luar mobil langsung beralih kearah Om Ibram.


"Maksudnya om?"


"Maksud om, sudah berapa lama kamu mengenal Vino?"


Cahya menghela nafas, "Baru hari ini Cahya bertemu keluarga Wirautama" perkataan Cahya membuat Ibram agak terkejut.


"Benarkah?" Cahya hanya menganggukkan kepalanya.


Ibram agak bingung harus menanyakan apa lagi pada Cahya, pasalnya fakta yang diucapkan Cahya barusan membuat otak Ibram memproses dengan cepat.


"Ehm, menurutmu Vino itu bagaimana?" Cahya kembali mengingat moment yang beberapa jam lalu sempat dilaluinya dengan Vino.


"Vino baik walaupun agak manja, om." Cahya tersenyum saat mengatakannya.

__ADS_1


"Kalau Bryan?" Cahya bingung harus menjawab apa. Mengetahui kalau Cahya agak engan menjawabnya membuat Ibram angkat bicara.


"Jujur saja, om juga tidak akan memarahimu."


Cahya meneguk ludahnya susah payah, baru bisa menjawabnya.


"Bryan itu agak misterius, posesif dan sedikit kasar" Dalam hati Cahya berdoa semoga om Ibram tidak memarahinya.


Hahahahaha


Begitu mendengarnya Ibram malah tertawa, membuat Cahya mengernyit bingung.


"Om kenapa?" Tanya Cahya pada Ibram.


Sedangkan Ibram masih berusaha menghentikan tawanya.


"Maafkan Om, om hanya merasa jawabanmu agak lucu." walaupun sudah mencoba menghentikan tawanya, tapi tetap saja terselip tawa di kata katanya.


"Lucu?" Ulang Cahya yang kurang mengerti.


"Kalau boleh tau, kenapa kamu bisa jadi calon tunangan Vino. Padahal katamu, kamu baru hari ini bertemu keluarga Wirautama."


Cahya agak bingung menjelaskannya dari mana.


"Sebenarnya, awalnya om saya ada kerja sama bisnis dengan seseorang. Karena kekurangan modal, om dan rekan bisnisnya pinjam uang ke perusahaan pak Sanjaya. Tapi ternyata rekan bisnis itu menipu om saya. Sehingga uang yang tadinya ingin dibuat usaha malah digelapkan olehnya."


Ibram cukup terkejut mendengarnya.


"Jadi kamu mau bertunangan dengan Vino karena itu?" Mendengar hal tersebut Cahya hanya bisa menghembuskan nafas panjang.


.


.


💛💙💜💙💛


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?

__ADS_1


Jangan dulu berprasangka buruk tentang Cahya, ya. Karena ada alasannya.


__ADS_2