My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
82. Romantis


__ADS_3

Previous Chapter


Baru saja Bryan ingin memberikan golden cardnya kepada pegawai tadi untuk membayar cincin pesanan mereka. Tapi tangan Cahya lebih dulu mencegahnya membuat Bryan menatap bingung ke Cahya.


๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ


"Kenapa?" Hanya itu pertanyaan yang terlontar di bibir Bryan begitu Cahya menarik tangannya menjauh dari pegawai tadi.


"Sepertinya kita pilih cincin yang lain saja." Satu alis Bryan terangkat begitu mendengar perkataan Cahya barusan.


"Maksudmu?" Cahya menghela napas sejenak, kemudian ia mulai berjinjit untuk bisa mencapai telinga Bryan sebelum membisikinya sesuatu.


"Apa tidak terlalu kemahalan? Kita cari yang lain saja, ya." Bisik Cahya pelan agar hanya keduanya yang mendengarnya.


Begitu menyelesaikan bisikannya, Cahya segera merubah posisinya seperti biasanya. Bagaimanapun juga sejak tadi pegawai tadi terus menatap kearah keduanya, tentu saja hal itu membuat Cahya gugup.


"Itu tidak terlalu mahal. Jadi kau tidak perlu memikirkan harganya." Bryan mengulas senyum tipis yang mampu membuat Cahya terdiam. Lebih tepatnya terpesona melihat senyuman itu.


Tapi kenyataan seolah menyadarkannya dari kata kata yang sempat diucapkan oleh Bryan barusan.


"Tidak terlalu mahal? Jadi berapa katagori mahal untuknya kalau segitu saja dianggap tidak terlalu mahal." Jerit Cahya dalam hati.


Cahya tak sadar saat dirinya tengah melamun memikirkan perkataan Bryan barusan, Bryan ternyata sudah menyerahkan golden cardnya pada pegawai tadi.


Bahkan sampai Bryan sudah selesai mengurus administrasi pembayaran untuk cincin pernikahan mereka, Cahya tetap saja masih dalam posisi yang sama.


"Ayo," ajak Bryan sambil mengandeng tangan Cahya membuat sang empunya tersentak kaget.


"Huh?" Bingung Cahya yang kini mulai melangkah mengikuti langkah Bryan disampingnya.


Seketika pandangannya mengarah kearah pegawai toko tadi yang tersenyum kearahnya. Bingung dengan apa yang terjadi, lantas Cahya menghentikan langkahnya membuat Bryan juga ikut terhenti langkahnya.


"Ada apa?"


"Kamu jadi membeli cincin itu?" Pertanyaan itu dibalas anggukan oleh Bryan membuat mulut Cahya mengangga tak percaya.


"Kenapa dibeli?"


"Memangnya kenapa?" Bukannya menjawab, Bryan malah balik bertanya membuat Cahya gemas sendiri.


"Bukannya itu mahal, bahkan menurutku sangat mahal."


Bryan mengangguk membenarkan perkataan Cahya barusan. "Memang mahal, lalu kenapa?" Rasanya Cahya ingin segara meraup muka Bryan yang terlihat tak berdosa begitu menyelesaikan kalimatnya tadi.


"Untuk apa uang sebanyak itu dikeluarkan hanya untuk membeli sepasang cincin. Lebih baik cari yang lebih murah, Bryan."

__ADS_1


Bryan menggelengkan kepala tidak setuju. "Bukannya kau suka dengan cincin itu. Lalu kenapa harus cari yang lain?"


Ya, Cahya tak bisa memungkiri kalau dirinya sangat menyukai cincin tadi. Tapi begitu tahu harganya yang selangit itu, dia langsung down.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik sekarang kau ikut denganku. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


"Mau kemana? Bukan tempat yang aneh aneh, kan?" Bukannya menjawab, Bryan malah kembali menggandeng tangan Cahya untuk segera pergi menuju tempat yang dimaksud oleh Bryan barusan.ย 


Cahya pasrah begitu tangannya digenggam erat oleh Bryan yang kini menuju ke arah basement untuk mengambil mobilnya yang terparkir disana.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Sudah hampir dua jam mereka berdua menghabiskan waktu bersama di taman bermain. Ternyata Bryan membawa Cahya ke sebuah taman bermain, atau lebih tepatnya taman area permainan.


Karena sudah sejak tadi keduanya menikmati waktu bersama, main bersama, tertawa bersama pokoknya sejak tadi keduanya tak henti mengulas senyum bahagia.


Ditambah lagi kawasan taman bermain ini juga tak begitu banyak pengunjung lantaran masih weekday. Tapi kalau sudah weekend, jangan ditanya. Bakalan penuh sesak taman ini karena banyaknya orang yang ingin berlibur ketempat ini.


Matahari mulai meninggi sampai tepat berada diatas kepala, yang mana jam mulai memasuki waktu makan siang.


Bryan juga sudah mengajak Cahya untuk istirahat sekaligus makan siang bersama. Kini keduanya telah berada disalah satu restoran yang di sediakan oleh taman bermain ini.


Tentunya setelah keduanya melaksanakan kewajiban mereka, barulah mereka ke restoran ini untuk makan.


"Kau mau pesan apa?" Pertanyaan itu datang dari Bryan yang tengah memperhatikan Cahya yang kini sedang membuka buku menu.


Tak berselang lama Bryan kembali ketempat semula. Dilihatnya kini Cahya tengah tersenyum sambil menatap ponsel dalam genggamannya itu.


Hal itu membuat Bryan menaikkan alisnya penasaran.


"Kau sedang apa?" Pertanyaan itu membuat Cahya terkejut bukan main. Sebab dirinya hanya fokus pada ponselnya, makanya dia sampai terkejut begitu.


"Tidak ada." Ucap Cahya kemudian menatap lagi kearah ponselnya. Karena merasa diabaikan langsung saja Bryan mengambil ponsel tersebut yang tentu saja membuat Cahya kembali tersentak.


"Bryan balikin, kenapa diambil?" Bryan sama sekali tidak menggubris. Dirinya malah menatap layar ponsel milik Cahya yang saat ini menampilkan 7 pemuda berkulit putih tengah menari mengikuti lagu.


Cahya yang menyadari raut wajah Bryan yang berubah segera menjelaskan.


"Itu BTS, Bryan. Aku sedang menonton comebacknya mereka. Dan itu judul lagunya Boy With Luv." Jelas Cahya yang tak ingin membuat Bryan salah paham padanya.


Sejenak ia pandang mv milik BTS itu. Dan dirinya sempat menatap lama pada salah satu pemuda berambut biru. Entah kenapa dirinya merasa ada kemiripan antara dia dan pemuda berambut biru tersebut.


Tapi tak lama, Bryan mematikan video itu dan mengantongi ponsel Cahya kedalam saku celananya itu. Cahya yang melihatnya kembali menghela napas pasrah.


Percuma jika dirinya meminta ponselnya sekarang, pasti tidak akan di kasih. Dan bisa jadi ujung ujungnya malah Bryan marah padanya. Cahya tak ingin itu terjadi. Makanya lebih baik sekarang dirinya yang mengalah.

__ADS_1


Berselang 5 menit pesanan mereka akhirnya datang juga. Keduanya memutuskan untuk makan karena perut mereka sudah lebih dari 5 jam tidak terisi makanan.


Selama proses makan berlangsung, tak henti hentinya Bryan memberikan perhatian kepada Cahya. Seperti mengusap sudut bibir Cahya yang terkena saus pasta, mengusap lembut kepala Cahya bahkan menarik hidung Cahya lantaran gemas dengan tingkah gadisnya itu.


Sepertinya keduanya lupa tempat atau gimana. Mereka berdua seolah melupakan kalau tempat yang sedang mereka huni saat ini dapat dilihat oleh berpasang pasang mata yang melihat keromantisan keduanya.


Bahkan diantara mereka ada yang berharap memiliki kekasih seperti Bryan yang sangat romantis itu.


"Bryan, sudahlah aku malu." Gumam Cahya yang merasa malu lantaran jadi pusat perhatian para pengunjung restoran ini.


"Kenapa harus malu? Aku kan menjahili pacarku sendiri." Perkataan itu malah membuat pipi Cahya semakin memerah karena malu.


"Ishh, kamu makan saja. Tuh makananmu masih banyak." Tunjuk Cahya pada makanan didepan Bryan yang masih tersisa banyak.


Bagaimana tidak kalau sejak tadi bukannya makan malah terus mengganggunya saat makan. Bahkan makanan Cahya hampir habis karena Cahya sangat lapar.


"Iya, ini aku makan. Tapi suapi, ya." Pinta Bryan sambil menatap kearah Cahya. Cahya mendengus pelan.


"Sejak kapan kau jadi manja begini?" Pertanyaan itu membuat Bryan terkekeh pelan. Cahya sendiri pun sampai terkesima melihat wajah tampan sekaligus manis itu.


Bahkan para pengunjung remaja perempuan dibuat melting oleh senyum Bryan. Tak jarang terdengar jejeritan dari mereka karena gemas dengan Bryan. Seketika Cahya tersadar dari lamunan sesaatnya itu saat mendengarnya jeritan dari pengunjung disini.


Bisa ia lihat beberapa gerombolan perempuan yang menurutnya beberapa tahun diatasnya itu tengah menatap kagum kearah Bryan. Apalagi Bryan masih mempertahankan senyumannya yang tentunya membuat gadis gadis disana jejeritan.


Cahya mendengus melihatnya, kemudian ia membuang muka dan kembali memakan makanannya itu. Bryan yang melihat perubahan ekspresi diwajah gadisnya itu mengernyit bingung.


"Kenapa?" Cahya tak menjawab walaupun sebenarnya dia tahu kalau Bryan tengah mengajaknya bicara.


Kemudian Bryan mengedarkan pandangannya ke penjuru restoran, ingin mencari tahu kenapa raut wajah gadisnya itu berubah menjadi masam. Dan sepertinya ia tahu apa yang menjadi alasan dari gadisnya itu marah dan membuang muka padanya.


Tapi seringaiannya tercipta begitu tahu apa yang tengah terjadi pada gadisnya itu. Ia kemudian menggenggam tangan Cahya yang ada diatas meja membuat Cahya menatap kearah Bryan.


"Jangan cemburu, aku hanya milikmu." Perkataan itu sukses membuat Cahya blushing luar biasa. Senyuman Bryan kembali menghiasi wajah tampangnya begitu melihat wajah Cahya yang memerah karena malu.


Bryan sama sekali tidak berniat melepaskan genggaman tangan itu. Bahkan setelah keduanya berlalu dari restoran itu menuju ke tempat yang ingin dituju oleh Bryan.


ย 


************M.B.B**********


...Perhatian Harap Dibaca...


Kalian masih setia baca M.B.B kan? Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys๐Ÿ˜‰. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini๐Ÿ˜Š. Usahakan untuk memberi Vote, ya.


๐ŸTerimakasih Semuanya๐Ÿ

__ADS_1


๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜


__ADS_2