My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
112. Hari Perpisahan


__ADS_3

...☀My Bipolar Boy☀...


.......


.......


Hari ini adalah hari keempat setelah diberitahukannya bahwa siswa kelas 3 dinyatakan lulus 100%. Karna siswa kelas tiga tidak memiliki kepentingan di sekolah, jadi banyak dari mereka yang tidak berangkat ke sekolah.


Begitupun dengan Bryan dan Cahya yang saat ini tengah berlibur ke puncak. Hal ini atas permintaan Cahya, mengingat sebentar lagi dia akan jarang bertemu langsung dengan suaminya itu.


Apalagi rencana kuliah Bryan sudah disetujui oleh mama Irena dan ayah Sanjaya. Keduanya sempat bertanya alasan kenapa Cahya tidak ikut kuliah di luar negeri. Dan jawaban yang Cahya berikan adalah dia ingin kuliah disini agar tidak jauh dari sang mertua dan keluarga bibinya.


Oleh karena itu, Bryan tidak bisa memaksa Cahya untuk ikut bersamanya kuliah disana. Dan Cahya pun tidak keberatan akan hal, yang penting baginya adalah suaminya itu bisa setia padanya.


Balik ke Bryan dan Cahya. Kini kedua sudah berada di sebuah villa milik keluar Bryan. Lebih tepatnya adalah villa pemberian kakeknya Bryan untuk Bryan.


Bicara soal kakek dan nenek Bryan. Cahya sudah pernah bertemu dan saling ngobrol dengan mereka. Memang saat menikah, kakek dan nenek Bryan tidak bisa hadir, lantaran sedang berada di luar kota.


Namun beberapa minggu setelahnya, Bryan dan Cahya mengunjungi kediaman sang kakek di luar kota. Keduanya pun menerima Cahya dengan baik. Dan keduanya berharap kalau Bryan segera mendapatkan momongan.


"Villanya bagus, ya." gumam Cahya sambil mengamati keadaan sekitar. Dia baru saja diajak masuk kedalam oleh Bryan. Beberapa barang antik menghiasi isi dalam dari villa ini. Bahkan hampir 80% pembuatan villa ini menggunakan bahan dasar kayu jati.


Saat ini Cahya berjalan menuju ke lantai 2 diikuti oleh Bryan. Villa ini tampak terawat karena memang ada orang yang ditugaskan untuk menjaga dan membersihkan villa ini.


Mereka adalah mang diding dan istrinya bi marsih. Keduanya tinggal tak jauh dari villa ini. Dan mereka juga diizinkan apabila ingin menginap disini. Tadi Bryan sudah bertemu dengan mang diding yang memberikan kunci villa ini padanya.


"Kau suka pemandangannya?" tanya Bryan sambil memeluk pinggang Cahya yang kini tengah memandang kearah luar dari balkon lantai 2.


Cahya mengangguk, matanya masih tertuju pada pemandangan di depannya yang sangat memanjakan mata itu. Warna hijau menjadi warna yang paling mendominasi dari apa yang dia lihat saat ini.


Jelas saja, karena villa ini berada di perbukitan. Bryan sengaja mengajak Cahya kesini untuk liburan sekaligus bulan madu yang sempat gagal karena acara kemarin.


"Syukurlah kalau kau suka. Dulu sewaktu aku masih kecil, aku sering diajak kemari. Namun mungkin terakhir kali aku kemari itu saat aku kelas 3 SMP." Bryan mulai bercerita sembari memeluk istrinya.


"Memangnya setelah SMA kamu nggak kesini lagi? Bryan menggeleng pelan. Cahya merasakan pergerakan di bahu kanannya membuatnya mengalihkan pandangannya dari pemandangan di depannya kearah Bryan.


..."Kenapa?"...


Helaan napas Bryan keluarkan dari celah bibirnya. "Mungkin lebih tepatnya setelah keberadaan si Vino." Mendengar kata Vino, membuat Cahya yang sempat sedikit melupakan keberadaan sosok si Vino itu terkejut.


Ditambah lagi, sosok si Vino itu jarang sekali muncul akhir - akhir ini. Makanya Cahya agak sedikit melupakannya. Mungkin setelah menikah, Cahya sudah tidak lagi bertemu dengan Vino.


Tatapan terkejut yang hadir di mata Cahya membuat Bryan terkekeh pelan. Cahya mengabaikan kekehan itu, karena dia jauh lebih penasaran kenapa Bryan itu tahu tentang Vino.


"Jadi kau tahu tentang si Vino?" Bryan mengangguk kecil.


"Benarkah? Aku tidak menyangka kalau kau akan tahu adanya si Vino." Cahya tak berniat memberikan jeda dalam ucapannya tadi. Dia bahkan kembali bertanya.


"Bukannya seharusnya kau itu tidak tahu, ya." Bryan mengendikan bahunya acuh. Lalu dia mulai menjawab pertanyaan dari sang istri.


"Awalnya aku pun tak tahu. Tapi akhir-akhir ini aku tahu kalau dia itu ada. Dan dia menjadi salah satu bagian dari tubuhku."


"Kalau boleh tahu, apa yang kau rasakan ketika kau tahu ada Vino dalam tubuhku." Cahya membalikkan posisinya menjadi menghadap kearah sang suami. Dia penasaran dengan jawaban yang akan Bryan ucapkan.


Bryan menundukkan pandangan, sebab tubuhnya lebih tinggi dari sang istri. "Tentu aja aku bingung, tapi lama kelamaan aku paham dan tidak terlalu mempermasalahkannya."


Cahya mengangguk mengerti. Kini tatapan Bryan tertuju pada mata Cahya. Dengan senyum kecil, Bryan mulai bertanya pada sang istri. "Kau tidak penasaran kenapa si Vino itu jarang muncul?"


Cahya mengangguk kecil. "Sejujurnya sih aku malah sempat melupakan dia, karena dia jarang muncul l. Tapi karena kau mengingatkanku tentangnya. Aku malah kangen dengan dia."


Bisa Cahya rasakan kalau suaminya ini tengah menatapnya dengan tajam. Mungkin bisa dibilang Bryan itu tengah cemburu pada sosok lain dari dirinya itu.


"Kenapa menatapku begitu?" Bryan tak menjawab ia hanya melengos sambil mendengus kecil. Cahya terkekeh melihat respon suami atas perkataannya tadi. Lantas Cahya menangkup pipi Bryan dan menghadapkannya ke arahnya.


"Jangan bilang kau cemburu?" Bryan langsung menyanggahnya dengan cepat. "Kata siapa? Aku nggak cemburu." Cahya sangat tahu akan arti dari tatapan mata Bryan saat ini.


Dengan polos, Cahya menjawabnya. "Kataku. Kan tadi aku bilang kalau kamu itu cemburu."


"Tapi aku nggak cemburu." Bryan masih kekeh dengan sanggahannya tadi. Mendengar hal itu malah semakin membuat Cahya tertawa. "Kalau cemburu tinggal bilang. Jangan malu - malu begitu." goda Cahya sambil menoel dagu mulus Bryan.


Diperlakukan seperti itu membuat pipi Bryan sedikit memerah. "Beneran nggak cemburu?" Bryan langsung mengangguk.


..."Yakin?"...

__ADS_1


..."Yakin."...


..."Beneran?"...


..."Bener."...


..."Serius?"...


..."Serius."...


"Kalau sama Marcel, kamu cemburu nggak?" Pancing Cahya yang seperti berhasil membuat Bryan langsung mendatarkan ekspresinya. Melihat hal itu membuat Cahya sedikit gugup.


Dengan tawa yang terdengar di paksakan, Cahya mulai merangkul leher Bryan dengan kedua tangannya itu. "Natepnya jangan kayak gitu ah. Senyum dong." ucap Cahya sambil memberikan senyum manis pada sang suami.


Bryan masih mempertahankan ekspresi datarnya itu. Dia bisa cemburu hanya dengan mendengar nama pemuda lain di sebutkan oleh mulut istrinya itu. Entah kalian mau menyebut Bryan pencemburu atau posesif. Bryan tidak peduli.


"Senyum manisnya mana. Cahya mau lihat." bujuk Cahya agar Bryan tidak lagi berekspresi datar begitu. "Ya, sudah nggak mau. Awas, aku mau masuk kedalam." Cahya melepaskan rangkulanya dan berusaha mengeser posisi Bryan yang mengungkungnya itu.


Bukannya menuruti apa mau Cahya, Bryan malah semakin mengungkung tubuh Cahya dalam jerat tangannya itu. "Kalau aku nggak mau, lalu kau mau apa?"


"Mau masuk." jawabnya polos sambil tersenyum manis. Bryan berusaha menahan senyuman. Wajah polos dengan senyum manis itu mampu membuat hati Bryan berdesir hebat.


"Minggir dong suamiku yang paling ganteng. Tapi masih gantengan Kim Taehyung sih." Cahya mengatakan hal itu sambil tertawa pelan. Dia itu suka sekali mengusili Bryan dengan membandingkannya dengan sang bias.


Untung saja yang dia usili tidak pernah marah padanya. Dan pengecualian untuk nama idol dari negeri ginseng itu, Bryan tidak akan mudah cemburu begitu mendengar nama itu di sebut oleh sang istri. Sebab dia tahu, sosok wajah Kim Taehyung itu sedikit mirip dengan wajahnya.


Setelah puas menjahili Bryan. Kini Cahya kembali fokus ke pokok pembicaraan mereka tadi. "Lalu kenapa sekarang Vino jarang muncul. Apa kau beneran sudah sembuh atau gimana?"


"Entah, yang pasti untuk saat ini, aku sudah tidak mudah marah dan mampu mengendalikan emosi dengan baik."


"Lalu ketika Vino muncul, apa yang kau rasakan? Apa kau menyadari kalau dia mulai menguasai tubuhmu?" 


Bryan sempat menggeleng. "Aku tidak merasakan banyak perubahan ketika Vino muncul. Sebab dia yang menguasai tubuhmu, namun akhir - akhir ini. Aku sadar ketika dia hadir. Namun hal itu tidak berlaku bagi Vino."


"Maksudnya?" Cahya masih bingung dengan penjelasan tadi. "Hanya aku yang tahu kehadirannya. Namun dia tidak tahu akan kehadiranku. Intinya ketika Vino yang ada di depanmu, dia tidak tahu kalau aku itu ada di tubuh ini."


Cahya mengangguk mengerti dengan penjelasan panjang lebar dari suaminya itu. "Apa itu sebabnya perubahan sikap kalian sangat berbeda drastis?"


Bryan mengangguk seadanya. "Mungkin saja." Cahya mengamati wajah Bryan, "tapi ada satu persamaan di antara kalian berdua." Bryan menaikkan alisnya bingung sambil menatap wajah sang istri.


"Tapi lebih tampanan aku atau si Kim itu?" Dengan polos, Cahya langsung menjawabnya. "Tentu saja lebih tampan Kim Taehyung. Dia itu tinggi, putih, murah senyum, suaranya merdu, badannya bagus, punya six---" Belum sempat Cahya menyelesaikan ucapannya, lebih dulu dihentikan oleh Bryan.


"Jadi kamu membayangkan tubuh pria lain, huh? Beraninya kau mengucapkannya di depanku. Rasakan ini." Tanpa aba - aba, Bryan langsung menggelitiki pinggang Cahya.


Mendapat serangan gelitikan yang dilayangkan oleh suaminya itu kepadanya, membuat Cahya kegelian. Bahkan beberapa kali Cahya meminta untuk Bryan menghentikannya, namun diabaikan oleh Bryan.


Kedua anak manusia ini masih larut dalam menikmati sejuknya alam, di tengah matahari yang berada diatas pucuk kepala itu.


...☀❄☀❄☀❄❄☀...


Waktu terasa berlalu dengan cepat. Nyatanya Bryan dan Cahya telah menyelesaikan acara liburan sekaligus bulan madu mereka itu, selama 3 hari dan kini keduanya sudah pulang kembali ke rumah mereka dengan selamat.


Walaupun hanya 3 hari disana. Namun keduanya sangat menikmati waktu mereka berdua, tanpa diganggu oleh siapapun. Banyak tempat yang sudah mereka kunjungi selama berada disana. Dan itu merupakan pengalaman yang menyenangkan dan tidak mengecewakan bagi keduanya. Dan bisa dibilang, itu sebagai kenang - kanangan, karna sebentar lagi keduanya akan jarang bertemu.


Walaupun Cahya senang berbulan madu dengan Bryan disana, namun tak menampik perasaan gelisah di hatinya. Kita tentu tahu, bahwa sebentar lagi Cahya akan berpisah dengan suaminya dalam waktu yang cukup lama.


Membayangkannya saja membuat Cahya gelisah sendiri. Tapi bukan berarti dia ingin menghambat keinginan suami itu untuk pergi. Lagi pula semua persyaratan untuk kuliah disana sudah diurus oleh Bryan, berapa hari yang lalu. Dan yang lebih membuat Cahya agak galau adalah waktu kepergian Bryan ke Australia itu bertepatan dengan hari wisuda. 


Intinya setelah Bryan menerima surat kelulusan dari sekolah, Bryan akan segera berangkat menuju ke bandara, karena sistem awal perkuliahan disana memang lebih cepat dibandingkan disini. Mungkin disini harus menunggu beberapa minggu untuk proses awal perkuliahan.


...🍁☀🍁☀🍁☀🍁☀🍁...


Hari yang dinantikan oleh semua murid kelas 3 telah tiba. Namun ada juga yang berharap kalau hari ini tidak datang secepat ini. Bukan karena dia tidak ingin, tapi ada alasan kenapa dia tidak ingin ada hari ini.


Lebih tepatnya dia tidak ingin melepas kepergian suaminya ke luar negeri. Berat banget rasanya akan ditinggal pergi jauh oleh sang suami. Berkali-kali dia tekankan untuk merelakan namun semakin besar usahanya untuk merelakan, maka semakin kuat juga perasaan gelisah itu menghampiri dirinya.


Jujur saja, Cahya sudah sangat mencintai sang suaminya itu. Dan dia tidak ingin kehilangan Bryan. Perasaan khawatir itu selalu muncul, tiap kali Cahya memikirkan nasibnya yang akan di tinggal oleh Bryan.


Cahya sadar diri, dia bukan gadis cantik dan juga bukan gadis yang sempurna. Masih banyak gadis di luaran sana yang jauh lebih baik darinya. Bahkan lebih cantik darinya.


Cahya hanya ingin terus hidup bersama Bryan. Dan Cahya ingin Bryan tetap setia padanya, walaupun di luaran sana masih banyak perempuan yang lebih menarik dan terpelajar daripada dirinya.


Katakanlah kalau saat ini Cahya tengah merasa insecure.

__ADS_1


"Kau ini kenapa? Sejak tadi kuperhatikan kau itu diam saja?" tanya Bryan sambil fokus menyetir mobil yang sedang melaju menuju ke sekolahan itu.


Di sampingnya, Cahya hanya menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan itu. "Aku baik - baik saja."


"Beneran?" Cahya mengangguk. Dia tidak mencoba untuk jujur pada Bryan, kalau sebenarnya dia tidak ingin Bryan pergi. Namun hal itu cukup Cahya pendam sendiri.


Bryan melirik kearah sang istri yang kini sibuk memperhatikan keadaan di luar jendala. Sebenarnya sudah beberapa kali, Bryan menangkap ekspresi melamun dari sang istri. Tapi ketika ditanya, selalu saja jawabnya 'tidak apa - apa,'.


"Kau sedang ada masalah? Kalau iya, bicarakan saja padaku." Bryan masih mencoba untuk membujuk Cahya agar menceritakan masalahnya padanya.


Bryan bukan orang bodoh, sehingga dia tidak tahu kalau Cahya tampak tidak rela atas kepergiannya ke Sydney itu. Tapi Bryan ingin Cahya jujur padanya. Kalaupun Cahya berterus terang akan keberatannya di tinggal olehnya, pasti Bryan tidak akan pergi.


"Bukan masalah yang serius, Bryan. Aku hanya sedang memikirkan nilai ujianku." Walaupun Bryan tahu kalau bukan itu permasalahannya. Namun dia tidak ingin memaksa Cahya untuk cerita.


"Jangan terlalu di pikirin. Hasilnya pasti bagus. Waktu itu kan kau Sud sg belajar dengan keras. Pasti hasilnya akan baik."


Cahya mengangguk sambil tersenyum kearah Bryan. "Iya, suamiku yang paling tampan." Bryan mengelus lembut kepala Cahya. Sedangkan Cahya membalasnya dengan tersenyum manis.


...☀🍁☀🍁☀🍁☀🍁☀🍁...


Beberapa jam sudah terlewati. Kini dua pasang suami istri tengah berada di bandara. Mereka adalah pasangan ayah Sanjaya + mama Irena dan pasangan Bryan + Cahya.


Setelah menghadiri acara wisuda tadi, Cahya beserta mertuanya pergi menuju ke bandara untuk mengantar Bryan. Pesawat yang nantinya akan ditumpangi Bryan akan berangkat kurang dari 45 menit lagi.


Di acara wisuda tadi, Bryan meraih nilai tertinggi dalam hasil ujian nasional di sekolah. Bahkan untuk tingkat nasional, Bryan menduduki posisi 3 teratas. Kebanggan tentu saja melingkupi hati kedua orangtuanya dan tentu saja istrinya.


Bahkan Cahya sempat tak percaya akan prestasi yang berhasil Bryan torehkan itu. Namun rasa ketidakpercayaan itu langsung musnah begitu melihat sosok sang suami tengah menyampaikan beberapa kata diatas panggung saja.


Kalau boleh Cahya bilang, Bryan itu sosok paket komplit. Dia itu sudah tampan, cerdas, sholeh, baik, pengertian, kaya dan tentunya sosok penyayang. Sayang kedua orang tua dan tentunya sayang istrinya.


Beruntungnya Cahya bisa mendapat sosok seperti Bryan. Walaupun awalnya tidak mudah, namun Cahya berharap untuk kedepannya. Hubungannya dengan Bryan selalu diberikan kemudahan dan tak mudah goyah.


Penumpang pesawat Tiger Airlines dengan tujuan keberangkatan ke Sydney Australia akan segera berangkat kurang dari 20 menit. Untuk semua penumpang diharap masuk ke kabin pesawat, karna pesawat akan segera lepas landas.


Pengumuman itu membuat Cahya yang tadi memeluk Bryan, segera mengendurkan palukannya. "Pesawatnya sudah mau berangkat." ucap Cahya sambil menahan perasan sesaknya itu.


Sejak tadi dia berusaha untuk menahan air matanya. Dia tidak ingin membebani kepergian Bryan yang akan menuntut ilmu. Cahya tidak ingin egois, walaupun pikiranya menyuruhnya untuk egois kali ini.


"Kau hati - hati disini. Nanti kau tinggalnya di rumah mama, ya. Biar ada yang jagain, jangan tinggal sendirian di apartemen." Cahya mengangguk. Posisi keduanya sudah berdiri, setelah mengatakan hal tadi.


Bryan kembali membawa tubuh sang istri kedalam dekapannya. "Jangan nakal - nakal, awas saja kalau berani lirik laki - laki lain. Aku pasti akan langsung mengurungmu dikamar." bisik Bryan di telinga kanan Cahya.


Dengan perlahan air mata yang sejak tadi ditahannya itu mulai membasahi pipi Cahya. "Seharusnya aku yang bilang begitu padamu. Jangan berani melirik gadis lain disana. Awas saja, nanti aku cari suami baru."


Cahya mengancam Bryan hanya sekedar untuk main - main saja. Mana bisa dia memikirkan cowok lain sedangkan sosok sang suaminya sudah termasuk paket komplit.


Bryan terkekeh mendengar ancaman itu. Bukan karena dia meremehkan, tapi dirinya yakin kalau Cahya tidak akan mudah berpaling darinya. Dia yakin akan hal itu.


Bryan mulai mengurai pelukan itu. "Baiklah. Aku harus segera pergi. Mama, aku titip Cahya, ya. Tolong jagain dia, kalau dia nakal mama marahi saja." Cahya mendengus begitu mendengar ucapan itu.


Bryan pikir dirinya itu anak kecil apa, segala nakal dibawa - bawa. Bryan tertawa pelan, begitu melihat respon dengusan dari istrinya itu.


"Aku pergi dulu, ya. Ingat pesanku tadi. Kalau berani melanggar, siap - siap dengan hukumannya." Bryan mendaratkan bibirnya di kening dan bibir Cahya. Walaupun Bryan tahu kalau ini tempat umum, tapi dia tidak peduli. Toh dia juga tidak mengenal mereka. Jadi untuk apa memikirkan pandangan mereka terhadap tingkahnya itu.


Pipi Cahya merona, dia hanya tidak menyangka kalau akan di cium oleh Bryan di tempat umum seperti ini. Walaupun hanya sebuah kecupan tanpa iringan *******, tapi itu cukup membuat Cahya malu.


Dipukulnya pelan bahu Bryan sebagi pelampiasan atas rasa malu yang ditimbulkan oleh Bryan itu. "Kau membuatku malu, tahu."


"Biarin aja. Aku kan suami sahmu." Tekan Bryan pada kata 'Suami Sahmu' itu. Setelah memeluk mama dan ayahnya, kini Bryan mulai berjalan menjauh dari posisi ketiga orang yang sangat penting di hidupnya itu.


Tatapannya jatuh pada Cahya yang saat ini tengah tersenyum sambil sesekali menyeka air matanya itu. Bryan sebenarnya tidak tega meninggalkan Cahya disini. Tapi dia juga tidak ingin memaksa Cahya untuk ikut dengannya.


Lagipula Bryan cukup tenang meninggalkan sang istri yang tentu saja akan dijaga dengan baik oleh mamanya itu. Dan Bryan juga telah menugaskan beberapa orang, untuk mengawasi serta menjaga istri dan keluarganya selama dirinya menuntut ilmu dinegara orang.


Hal itu Bryan lakukan untuk menjaga keluarga yang dia sayangi, agar tidak terjadi apa - apa yang dapat membahayakan mereka.


Sosok Bryan sudah tak terlihat lagi, sebab dirinya sudah melangkah menuju ke kabin pesawat. Dengan senyum yang belum luntur, Cahya sudah memantapkan hatinya untuk merelakan Bryan pergi.


Toh tujuan dari kepergian Bryan itu adalah hal baik. Jadi tidak seharusnya dia memberatkan langkah sang suami untuk menggapai cita - citanya. Lagipula Cahya yakin Bryan akan setia padanya. Dan disini, Cahya cukup menjaga hatinya dan terus berdoa untuk keselamatan sang suami di negera orang.


Semoga saja tidak ada pihak ketiga yang berusaha mengoyahkan bahtera rumah tangga mereka berdua.


...☀💥☀💥☀💥☀💥☀💥...

__ADS_1


💖 Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. Terimakasih juga yang sudah mau memencet love, serta memberikan vote maupun komentar dalam part ini.😍💖


...☀❇☀❇💖❇☀❇☀...


__ADS_2