My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
56. Pacar Itu Apa?


__ADS_3

🍁M.B.B🍁


Cahya yang sedang bingung berbanding terbalik dengan Vino yang nampak biasa saja. Mungkin Vino sudah biasa diomongin oleh siswa disini. Toh Vino sendiri juga tidak kenal dengan mereka.


Disepanjang koridor, banyak mata yang menatap memuja kearah Vino. Namun begitu melihat kehadiran Cahya, sebagian orang disana penasaran siapa itu Cahya.


Ditatap sedemikian rupa membuat Cahya tidak nyaman.


"Vin, kita keruang kepala sekolah dulu, ya. Vino tau tempatnya?" Tanyanya sambil berjalan disamping Vino.


Vino menoleh sebentar kearah Cahya sebelum menjawab. "Vino tahu."


Mendengar membuat Cahya mengulas senyum manis. "Tolong anterin, ya." Mohon Cahya.


"Tidak mau."


Seketika Cahya blank mendengar perkataan itu. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya berusaha mencerna 2 kata yang entah kenapa terasa sulit dipahami Cahya.


"Kenapa?" Hanya itu yang ditanyakan oleh Cahya begitu paham maksud Vino tadi.


Sambil mengerucutkan bibirnya, Vino menatap Cahya, "Vino ngantuk. Vino mau bobo."


"Tapi Vin..."


"Tidak mau, Vino mau bobo." Vino masih kekeh dengan apa yang diucapkannya. Bahkan ia berjalan lebih cepat dibandingkan Cahya.


Perlahan namun pasti Cahya menghembuskan nafas panjang.


"Ternyata kalau sama Vino, sulit juga ya." Batin Cahya.


Cahya menatap sekeliling koridor. Ternyata ia baru sadar kalau koridor yang baru dilaluinya ini mulai sepi, hanya ada beberapa siswa yang terlihat nongkrong didepan kelas.


Cahya menghentikan langkahnya saat retinanya menangkap seorang pemuda yang berjalan berlawanan arah dengan mereka.


Jarak Vino dengannya sudah terpaut 3 langkah. Membuat Cahya lagi lagi menghembuskan nafas pasrah.


Namun jarak dia dengan pemuda tadi semakin dekat. Tiba tiba Cahya merentangkan tangannya untuk mencegah pemuda tadi berjalan.


Pemuda tadi mengernyitkan dahinya, melihat Cahya yang tiba tiba menghentikan langkahnya.


Belum sempat pemuda tadi bertanya, sudah lebih dulu Cahya mengeluarkan suaranya.


"Maaf, aku hanya ingin bertanya dimana ruang kepala sekolah?"


Pemuda tadi meneliti penampilan Cahya dari atas sampai bawah membuat Cahya risih sendiri diperhatikan seperti itu.


"Kau murid baru?" Cahya mengangguk.


"Ada di sebelah kiri dari ujung koridor ini." Jawabnya yang membuat Cahya tersenyum kearah pemuda tadi.


Belum juga ingin mengucapkan terimakasih, tangan Cahya sudah lebih dulu ditarik oleh seseorang.


"Kenapa masih disini. Katanya mau ke ruangan kepala sekolah. Ayo Vino antar."


Bisa ditebakkan siapa yang narik tangan Cahya😎.


Saat ingin menoleh kearah pemuda tadi yang kini juga tengah menatap ke arahnya itu, tarikan ditangan Cahya semakin kuat membuat Cahya agak meringis pelan.


Tinggal sedikit lagi Cahya bisa mengucapkan terimakasih, tapi tarikan di tangannya makin bertambah kencang.


"Vin, berhenti dulu, ya." Pinta Cahya yang tak digubris oleh Vino. Cahya pun hanya pasrah ditarik begitu saja. Keduanya pergi meninggalkan pemuda tadi.


Pemuda tadipun juga membalikkan badan kearah berlawanan dari Vino dan Cahya. Namun tak lama ada yang aneh dari raut wajah pemuda tadi.


Sudut kiri bibirnya tertarik keatas, membentuk sebuah senyum yang entah kenapa terlihat berbahaya.

__ADS_1


"Menarik." Gumamnya sambil berjalan melanjutkan langkah menuju tujuan awalnya.


Tak begitu lama, Vino berhenti mendadak membuat Cahya membentur punggung tegap Vino.


"Aduh," ringisnya pelan.


Belum sempat Cahya buka suara, terlebih dulu Vino mengeluarkan suaranya. "Kita sudah sampai."


Seketika Cahya mendongak keatas dan menemukan papan bertuliskan Headmaster Office.


"Ayo masuk." Vino langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu membuat seorang pria pertengahan 30 an itu yang ada didalam terlonjak kaget.


"Hai, paman." Sapanya dengan ceria. Seseorang yang disapa paman itupun menatap kearah Vino.


"Hai, Vin. Sudah berangkat sekolah, ya." Sosok tadi bernama Bramantyo. Adik kandung dari Irena Guntoro.


Vino memberikan senyum manisnya untuk sang paman "Sudah paman." Namun pandangan dari Bramantyo itu mengarah pada sosok satu satunya gadis diantara mereka.


"Itu siapa?" Tanyanya pada Vino.


"Teman Vino." Seakan ingat sesuatu, Bram sapaan dari paman Vino itupun mempersilahkan Vino dan Cahya duduk dulu.


"Kamu murid baru, kan?" Pertanyaan itu diangguki oleh Cahya begitu duduk dihadapan orang yang diketahuinya sebagai kepala sekolah itu.


"Oke, nama kamu siapa?"


"Nama saya Cahya Larasati, pak."


"Oke, data kamu sudah saya terima. Dan jangan panggil pak, panggil saja Paman Bram." Lagi lagi perkataan itu dibalas anggukan oleh Cahya.


Keduanya terlibat obrolan perihal kepindahan Cahya ke sekolah ini. Agaknya itu membuat salah seorang dari mereka merengut sebal.


"Paman, kapan selesai. Vino mau tidur."


Baik Bram ataupun Cahya menoleh kearah Vino. Bram hanya tersenyum maklum.


Belum juga Cahya menjawab, lebih dulu Vino memotongnya. "Tidak boleh, Cahya harus mengantar Vino dulu."


Paman Bram menaikkan alisnya, "Memangnya kau mau kemana?".


"Vino mau bobo." Sepertinya paman Bram masih loading ketika mencerna ucapan dari sang ponakan.


"Ishh, paman lama. Ayo Cahya, antar Vino kekamar Vino."


Begitu mendengar kamar, seketika loading yang tadinya baru 37% kini mendadak menjadi 100%.


"Tapi Vin, Cahya masih belum tahu ruangan Cahya dimana."


"Vino, tidak mau tahu. Vino ngantuk mau bobo." Vino masih kekeh dengan ucapannya itu.


"Tapi Vin..."


Belum juga Cahya selesai bicara, Paman Bram sudah lebih dulu berbicara.


"Ya, sudah. Kau antar saja Vino. Nanti setelah istirahat Paman akan mengantarmu ke kelasmu."


Paman Bram itu tahu siapa Cahya, jadi lebih baik ia mengijinkan Cahya bolos jam pertama daripada sang ponakan ngamuk yang mana malah bikin riweuh nantinya.


Walaupun masih dalam keadaan bingung, Cahya menganggukkan kepalanya. Kemudian mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih paman. Selamat pagi." Pamitnya disusul tarikan tangan Vino.


"Vino pamit paman." Vino masih setia menarik tangan Cahya kemudian membuka pintu bertepatan dengan bel masuk berbunyi.


Keduanya masih dalam posisi begitu disepanjang perjalanan dikoridor. Walaupun sudah bel, masih ada beberapa siswa di depan koridor kelas membuat pandangan mereka tertuju pada Vino dan Cahya.

__ADS_1


Cahya tentu agak risih. Beda lagi dengan Vino yang nampak biasa. Walaupun begitu senyum di bibir Vino masih terulas membuat beberapa siswi dibuat blushing karenanya.


***Senyumannya sungguh manis


Tatapannya bikin hati cenat cenut.


Wajahnya imut dan tampan sekali, kan.


Kok aku deg degan ya, jangan jangan aku jatuh cinta.


Sama, aku mau pingsan rasanya


Jangankan kamu, aku aja meleleh dibuatnya.


Hei, dia itu punya ku ya!


Ngimpi kali kau ini!!


Jangan ngrebut calon pacarku ya***!!!


Koridor yang awalnya sepi, kini mula didominasi oleh suara para siswi yang memperebutkan Vino.


Tentu saja perkataan mereka didengar oleh Cahya, yang entah kenapa terasa panas dipendengaran Cahya.


"Apa-apaan mereka itu." gumam Cahya pelan.


"Pacarku itu apa?" Pertanyaan itu membuat Cahya menatap Vino yang kini menghentikan langkahnya karena tadi mendengar kata 'pacarku' dari mulut salah satu siswi yang dilewatinya.


Seketika Cahya meloading pertanyaan Vino barusan.


**2%


5%


10%


17%


23%


38%


51%


64%


73%


87%


96%


97%


98%


99%


100**%


"Kamu tidak tahu itu apa?" Mata Cahya membulat tak percaya😱.


...Perhatian...


Terimakasih atas dukungan dari kalian karena sudah menyempatkan baca sampai bab ini.

__ADS_1


🍁Terimakasih Semuanya🍁


😍😇😍


__ADS_2