
🍁My Bipolar Boy🍁
.
.
Tepat di jam sarapan, Cahya yang baru keluar dari kamar hotelnya kini berlalu menuju ke kamar sang suami yang ada di lantai 5. Sepanjang perjalanan menuju kesana, tak henti Cahya mengulas senyum bahagia di bibirnya.
Semoga saja dia suka. Batinnya. Setelah sampai di lantai kamar sang suami. Cahya sudah bisa melihat kalau suaminya itu juga baru keluar dari kamar hotelnya.
"Sayang," panggil Cahya kepada suaminya itu. Bryan yang mengenali suara sang istri, segera menoleh untuk mencari sumber suara tadi. Dan tak jauh dari sana, terlihat istrinya tengah melambaikan tangan padanya.
Dengan gerakan cepat, Cahya segera menghambur ke pelukan suaminya itu. Bryan sendiri yang mendapatkan perlakuan seperti itu tengah saja senang. Tapi dirinya agak bingung kenapa istrinya itu bersikap seperti ini.
Tapi Bryan tidak menampik kalau dirinya merasa senang atas sikap manis sang istri kepadanya itu. "Kau belum sarapan, kan?" Cahya menggelengkan kepalanya menandakan dia belum sarapan.
Bryan langsung mengajak Cahya untuk menuju ke kafetaria hotel. Selama di perjalanan, tak henti Cahya bergelayutan manja di lengan kekar sang suami. Setibanya mereka di lantai dasar, sudah banyak siswa yang berada di lantai ini dengan tujuan menikmati sarapan mereka.
Cahya yang masih bergandengan tangan itupun lantas semakin mengeratkan genggamannya, begitu melihat satu sosok yang sejak kemarin berusaha menjauhkannya dari suaminya itu.
Sosok tadi langsung melebar matanya begitu melihat kedekatan Bryan dan Cahya. Dia pikir foto itu bisa jadi bencana bagi hubungan keduanya, tapi apa yang ia lihat ini. Bukannya terjadi pertengkaran, keduanya malah semakin mesra.
Hal itu tentu saja membuat sosok tadi semakin geram. Terlihat jelas dimatanya kalau Cahya barusan menatapnya sinis. Gagal sudah rencanaku. Batinnya. "Hei, Bryan." sapa sosok tadi begitu melihat Bryan dan Cahya berada tak jauh darinya itu.
Bryan yang merasa namanya dipanggil itupun lantas melirik sedikit kearah si pemanggil. Tapi, begitu tahu kalau yang memanggilnya itu si sosok itu, Bryan sama sekali tidak memperdulikannya.
Baru saja ingin berlalu menjauh, tapi tangannya ditahan oleh Cahya. "Sayang, tidak sopan berlalu begitu saja bila ada yang memanggil nama kita." omel Cahya kepada sang suami
Bryan mengangguk sekilas. "Ada apa?" Sosok tadi yang tak lain adalah Viona itupun kembali mengulas senyum kearah Bryan. Beda lagi saat menatap kearah Cahya, ekspresinya langsung berubah masam seketika.
"Kau sudah tahu perihal foto yang tengah jadi perbincangan?" Cahya yang mendengar perkataan Viona, langsung dibuat kaget.
"Baru juga semalam masalah itu kelar, masa mau diungkit lagi." Begitulah pemikiran Cahya saat ini.
Bryan mengernyit, "memangnya foto apa?" Bryan bukannya kepo, hanya saja dia bingung terkait foto yang dibilang oleh Viona tadi. Dan apa hubungannya dia dengan foto itu, sampai si Viona ini menanyakan hal itu padanya.
__ADS_1
Belum sempat Viona menjawabnya, lebih dulu di potong oleh Cahya. "Sayang, kita sarapan dulu, ya. Perutku sudah lapar." Viona menatap kesal kearah Cahya yang membuatnya tidak bisa menjelaskan foto itu kepada Bryan.
Pasti dia sangaja. Batinnya. "Bryan, foto itu adalah foto ...." Kembali ucapan itu dipotong oleh Cahya. "Sayang." Rengek Cahya kepada sang suami.
Mendengar rengekan sang istri membuat Bryan mengulum bibirnya, melihat kelakuan sang istri yang sangat berbeda dari biasanya.
"Baiklah, sekarang kita makan, ya. Biar perutmu itu tidak lapar." Bryan beralih menatap ke Viona. "Tidak ada lagi yang dibicarakan, kan." Setelah mengatakan hal itu, Bryan dan Cahya berlalu dari sana, meninggalkan Viona yang kini menatap kesal kearah mereka. Lebih tepatnya sih hanya Cahya yang ditatap kesal oleh Viona.
"Lihat saja nanti. Kau pasti akan tahu akibatnya." Begitu mengatakan hal itu, Viona berlalu pergi dari sana menuju ke suatu tempat.
❇🔸❇🔸❇🔸❇🔸❇🔸
Para siswa kini sudah berada di tepi pantai. Setelah acara sarapan berakhir, para siswa digiring ke tepi pantai karena acara selanjutnya akan segera dimulai.
Kali ini berbeda dengan acara kemarin. Kalau kemarin mereka naik bus, kali ini mereka akan menaiki sebuah kapal. Om Bram sudah menyewa 3 unit kapal berukuran sedang yang mampu menampung sekitar 100 orang.
Para siswa menyambut hal itu dengan antusias. Setelah diberitahu kalau mereka akan menuju ke sebuah pulau yang jaraknya tak begitu jauh dari lokasi hotel ini.
Ada beberapa siswa dan guru yang tidak ikut menaiki kapal, sebab alasanya mereka tidak kuat dengan angin laut atau katanya lainnya gampang mabuk perjalanan.
Suasana di dalam dan luar kapal juga sangat nyaman. Di dalamnya sudah tersedia sofa - sofa yang dipergunakan untuk duduk. Sebagian siswa mulai berpencar, sesuai keinginan mereka.
Pemandangan lautan biru mulai memanjakan mata mereka semua. Belum lagi angin yang berhembus cukup kencang, menambah kesan tersendiri bagi penikmatnya.
Saat inipun Bryan dan Cahya tengah duduk di luar kapal. Bukan hanya mereka berdua saja yang ada disana, tapi para siswa yang lain juga ada disana. Tentu saja mereka ingin menikmati pemandangan laut lepas.
Cahya memejamkan matanya perlahan begitu angin laut mulai menerpa wajahnya. Bryan yang sajak tadi menemani istrinya itupun, tersenyum tipis begitu melihat senyum diwajah sang istri.
Dengan usil, Bryan mulai menjawil hidung Cahya yang mana membuat Cahya sedikit terganggu akibat ulahnya.
"Jangan usil, Bryan." Gerutu Cahya yang masih dengan mata terpejam.
Bryan terkekeh pelan begitu mendengar gerutuan dari sang istri. Kembali Bryan melalukan aksinya tadi, tapi kali ini diiringi dengan cubitan pelan di pipi sang istri.
Karena kesal ucapannya tak digubris oleh sang suami, membuat Cahya akhirnya membuka matanya. "Usil banget sih." Kali ini Cahya membalasnya dengan mencubit pipi Bryan lumayan kencang.
__ADS_1
Bryan meringis pelan begitu kedua pipinya di tarik gemas oleh sang istri. "Rasain, makanya jangan usil jadi orang." Cahya melemparkan tatapan kesal kearah suaminya itu.
Bukannya marah, Bryan malah memeluk tubuh Cahya erat, seolah tak ingin melepaskannya. Cahya berusaha berontak, tapi semakin dia berontak maka Bryan akan semakin erat memeluknya.
Merasakan respon sang istri yang tak lagi berontak membuat Bryan tersebut manis kearah istrinya itu. "Kau manis, aku jadi ingin memakanmu." ucap Bryan di samping telinga istrinya itu.
Wajah Cahya bersemu merah mendengar ucapan gombal dari suaminya itu. "Kau belajar merayu darimana, huh?" Bryan terkekeh mendengarnya.
Sambil tersenyum, Bryan menjawabnya, "aku tidak perlu belajar hal seperti itu, karena tanpa belajar pun. Aku tetap bisa membuatmu blushing seperti ini." ucapnya disertai sedikit godaan itu.
Mendengar jawaban itu tentu saja membuat wajah Cahya semakin memerah karena malu. "Gombal mulu. Lama - lama aku ceburin kamu ke laut, ya. Mumpung saat ini kita ada di tengah laut." Cahya mengatakan hal itu disertai sedikit ancaman. Walaupun ancaman tadi hanya sekedar main - main saja.
Mana tega Cahya berbuat seperti itu pada suaminya sendiri, yang ada dirinya malah dirinya yang berdosa kerena berniat mencelakai suaminya sendiri.
Suara tawa yang dikeluarkan oleh Bryan membuat dahi Cahya sedikit mengerut karena merasa heran dengan sikap suaminya itu. Belum sempat dirinya bertanya, Bryan lebih dulu mengeluarkan suaranya.
"Kau mana tega berbuat begitu padaku." Bryan menaik turunkan kedua aslinya. Cahya tak membalas, sebab apa yang dikatakan oleh Bryan itu memang benar.
Keduanya masih melanjutkan aksi canda tawa mereka tadi tanpa menyadari tatapan iri di berpasang mata yang sejak tadi menatap kearah mereka itu. Iri karena melihat keromantisan yang di tujukan Bryan kepada Cahya itu.
Tapi diantara tatapan iri tadi, ada satu tatapan yang mengisyaratkan kebencian yang semakin menggelora dimata orang itu. Dengan kesal dia berlalu menjauh dari sana sambil memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan untuk memisahkan keduanya.
❇🔸❇🔸❇🔸❇🔸
Bryan baru saja berlalu pergi untuk mengambil minuman. Dan Cahya masih tetap di posisinya tadi. Dia menatap kearah ponselnya yang berisikan foto dirinya dan sang suami yang tadi sempat dia abadikan itu.
Cahya tersenyum begitu melihat wajah konyol suaminya di foto yang dilihatnya saat ini. Tadi Cahya memang sempat meminta Bryan untuk berpose konyol, walaupun awalnya mendapatkan penolakan dari Bryan, tapi tetap dilakukannya karena Cahya pura - pura ngambek agar suaminya itu menuruti kemauannya.
Aktivitas Cahya sedikit terganggu begitu bahunya ditepuk agak keras. Dengan cepat Cahya menoleh untuk melihat siapa yang sudah menepuk bahunya itu.
.
.
Siapakah gerangan yang menepuk bahu Cahya itu?
__ADS_1
❇Terimakasih sudah setia dengan cerita ini❤❇