
Jam sudah menunjukkan pukul 01.15 A.M. Tapi belum ada tanda - tanda kalau seseorang yang sedang dia tunggu akan datang. Sudah sejak tadi dia menunggu kedatangan sang suami yang berkata akan kencan dengan orang lain.
Sejujurnya, hati istri mana yang tidak akan sakit. Kalau suaminya mengatakan akan berkencan dengan orang lain. Begitupun dengan hati Cahya saat ini.
Walaupun dia tahu, kalau suaminya sama sekali tidak ingat akan dirinya. Tapi apakah salah bila Cahya merasakan sakit pada hatinya itu? Tapi untuk kali ini Cahya sama sekali tidak menangis.
Perasaanya lebih dominan pada rasa cemas dan khawatir pada suaminya ini. Sebab sampai jam segini, Bryan sama sekali belum pulang. Apakah Bryan tidak akan pulang hari ini atau terjadi sesuatu dengan suaminya itu.
Entah hanya kerena memikirkannya saja, Cahya sudah sekhawatir ini. Belum lagi, Bryan sama sekali tidak menghubunginya. Bahkan memberi kabar pun tidak.
Alasan kenapa Cahya tidak menelpon atau mengirim pesan pada Bryan adalah karena perintah dari Bryan sendiri. Setelah selesai makan bersama, Bryan berpesan agar tidak mengganggunya. Dan itu artinya, Cahya tidak boleh menelpon atau sekedar mengirimi pesan padanya.
Tiba - tiba pintu masuk terbuka dan menampilkan kedua orang yang kini mulai melangkah menuju kearah tangga. Mata Cahya terbelalak begitu melihat suaminya dalam kondisi tidak baik - baik saja.
Mana bisa dikatakan baik - baik saja. Kalau nyatanya Bryan berada di bawah pengaruh alkohol. Dan sejak kapan suaminya itu berani mengonsumsi minuman keras.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Pertanyaan Cahya tadi membuat langkah si pemarah terhenti. "Bisakah kau tidak menghalangi jalanku." Balasan itu Cahya dapatkan dari Amertha yang sedang memapah suaminya itu.
Menyadari kondisi suaminya, lantas Cahya membiarkan Amertha untuk memapah suaminya itu. Segala macam pertanyaan mulai timbul di benak Cahya.
Tak ingin ambil pusing, kini Cahya mulai mengikuti langkah keduanya yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.
Tanpa di suruh. Cahya mulai membuka pintu kamar Bryan untuk memudahkan Amertha membawa Bryan ke dalam kamar.
Amertha meletakan tubuh Bryan diatas ranjang. Dan hal itu tak luput dari pandangannya Cahya yang kini masih berada di ambang pintu.ย
"Sekarang bisa kau jelaskan, kenapa suamiku bisa seperti ini?"
Amertha menoleh kearah Cahya yang masih memperhatikannya itu. Tapi dia engan untuk buka suara. Pandangannya kembali beralih pada Bryan yang sudah mulai tertidur lelap.
Tak ada jawaban dari orang yang dia tanya membuat Cahya berjalan mendekat kearah ranjang. "Kau belum menjawab pertanyaanku."
Hening
"Kau --"
"Aku membawanya ke pesta ulangtahun temanku." Alis Cahya terangkat satu. Kalau hanya ke pesta, tak mungkin Bryan bisa sampai mabuk begini. Kecuali kalau pestanya itu di...
Mata Cahya terbelalak begitu pemikirannya terarah kearah sana. "Jangan bilang kalau pestanya itu --"
Belum sempat Cahya selesai bicara, tapi sudah lebih dulu di potong oleh Martha. "Ku pikir Bryan biasa minum - minum. Tapi karena terlalu banyak minum, Bryan sampai seperti ini."
Sejak Jasmine kenal dengan Bryan, dia belum pernah melihat Bryan menyentuh minuman keras ataupun meminumnya. Tapi kenapa sekarang dia mau minum - minuman seperti itu.
Dan lebih parahnya sampai mabuk begini. Untung saja kedua orangtuanya sudah pulang ke tanah air. Kalau masih disini dan melihat kondisi anak mereka, Apa yang akan orangtuanya lakukan padanya.
__ADS_1
"Terimakasih karena sudah membawa Bryan pulang." Sebelum melanjutkan ucapannya, Cahya mengambil napas panjang. "Dan kau bisa menginap disini untuk malam ini."
Cahya menawarkan Amertha untuk menginap hanya sebagai bentuk terimakasih. Apalagi ini sudah larut malam. Dan lagi, Amertha tetaplah seorang perempuan yang tidak baik pulang terlalu larut malam.
Amertha tersenyum senang atas tawaran dari Cahya. Walaupun dia sudah tahu siapa itu Cahya bagi Bryan. Tapi hal itu tak menyurutkan langkahnya untuk mendapatkan hati Bryan.
Biarpun banyak orang mengatai dirinya egois ataupun seorang pelakor. Amertha tidak peduli. Yang ada dalam pikirnya adalah dia bisa selalu bersama dengan pujaan hatinya ini. Terlepas dari apa yang dia lakukan ini salah, dia tidak peduli.
Namun senyum itu langsung hilang begitu mendengar ucapan selanjutnya dari Cahya. "Kau memang boleh menginap disini. Tapi bukan sekamar dengan suamiku." Tekannya pada kata suamiku itu.
Cahya menatap kearah pintu seakan mengisyaratkan agar Amertha bisa keluar dan menempati kamar yang lain. Amertha mendengus pelan namun tetap berjalan menjauh dari Bryan.
Cahya menatap sendu kearah sang suaminya yang sudah tertidur pulas. Entah itu efek dari minuman yang dia tengak, atau karena memang Bryan sangat kelelahan.
Diamatinya penampilan Bryan yang tidak seperti biasanya. Walaupun dengan pakaian casual, Bryan selalu tampil rapi. Dan kali ini jauh dari kata rapi.
Secara perlahan, Cahya berjalan mendekat ke sisi yang lainnya. Cahya mulai melepaskan kedua sepatu Bryan dan dengan telaten menganti pakaia Bryan, terakhir Cahya membenarkan selimutnya agar Bryan tidak merasa kedinginan.
Selesai dengan tugasnya, Cahya mulai mengamati penampilan suaminya yang sudah jauh lebih baik daripada yang tadi. Ada perasaan resah yang dirasakan oleh bumil ini.
Dia hanya merasa kala hubungannya dengan Bryan mulai berjarak. Belum lagi dengan adanya Martha diantara mereka. Membuat jarak itu kian melebar.
Padahal Cahya selalu berharap kalau pernikahannya ini akan terus ada bahkan sampai maut memisahkan. Tapi, lagi - lagi rasa takut hadir di hati Cahya. Takut akan kemungkinan kalau pada akhirnya Bryan akan pergi meninggalnya dan sang buah hati.
"Ku harap Mas cepat mengingat semuanya dan kita serta anak kita bisa terus bersama untuk kedepannya." Gumam Cahya sambil mengecup pelan kening Bryan sambil mengusap pelan perutnya itu.
Pagi - pagi sekali, Cahya sudah bangun dan kini tengah menyiapkan sup dan sarapan untuk mereka bertiga. Padahal dia baru tidur 3 jam saja.
Semalam dia tidur di kamarnya. Sedangkan Amertha tidur di kamar yang pernah digunakan oleh orangtuanya Bryan. Selesai dengan masakannya, Cahya mulai menuangkan sup dan pelengkap lainnya kedalam wadah diatas nampan.
Setelah itu dengan gerakan pelan serta hati - hati, Cahya mulai melangkah menuju ke kamar suaminya. Saat baru sampai di depan kamar Bryan, pintu di sebelahnya terbuka dan menampilkan Amertha yang kini berdiri di ambang pintu.
"Kalau kau lapar, kau bisa makan - makanan di meja makan." Ujar Cahya sambil menatap sekilas pada Amertha.
Amertha tak membalas ucapan Cahya. Dia malah menatap lama kearah Cahya. Baru saja ingin masuk, ucapan dari Amertha menghentikan langkahnya.
"Bisakah kau melepaskan Bryan untukku?"
Sebelum menoleh, Cahya berusaha menormalkan kembali ekspresi terkejutnya tadi. "Jika pertanyaanmu itu kembali ke dirimu, apa jawabanmu?"
Amertha masih bergeming di tempatnya tadi. Dia menatap Cahya yang kini juga tengah menatapnya. "Tidak, aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur mencintai Bryan."
"Begitupun dengan aku. Bahkan statusku adalah istri sahnya."
"Tapi sekarang Bryan sama sekali tidak mengingatmu. Bahkan tidak mengenalmu. Yang dia tahu, aku adalah kekasihnya bukan kau."
__ADS_1
Perasaan egois kembali bersarang di hati Amertha. Sebab sejak pertama kali bertemu dengan Bryan, Amertha sudah jatuh hati padanya.
Tapi selama itu juga, perasaanya diabaikan oleh Bryan. Dan mungkin inilah saatnya dia bisa memiliki Bryan, walaupun dia tahu kalau Bryan sudah milik Cahya. Tapi dia sama sekali tidak peduli.
"Kalaupun sekarang dia tidak mengenalku atau bahkan tidak mengingatku. Bukan berarti akan selamanya seperti itu."
Cahya tak lagi menatap kearah Martha. "Tolong, lepaskan Bryan untukku." Amertha sudah berada di samping Cahya dengan mengantupkan kedua tangannya itu.
Permohonan itu bagai api yang kian cepat menyambar hati Cahya. Bukankah ini terlihat seperti Cahya yang berperan sebagai antagonisnya. Padahal peran itu seharusnya tersemat pada Amertha.
"Tidak. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa melepas Bryan."
Amertha tak menyerah, dia malah memegang tangan Cahya yang sedang memegang nampan itu. Karena tak siap, gelas teh yang masih cukup panas itu bergoyang dan isinya sedikit tumpah mengenai tangan Amertha.
Amertha yang kagetpun refleks berteriak dan mulai menarik kembali tangannya itu. Aku akibat teriakan itu membuat Bryan yang sebenarnya sudah terbangun itupun mulai berjalan menuju pintu kamarnya.
Dirinya dibuat kaget dengan keberadaan Cahya yang persis berada di depan pintu kamarnya. Dan dia lebih terkejut lagi saat melihat Amertha tengah mengipasi tangannya yang sedikit melepuh itu.
"Kau kenapa?"
Suara itu membuat keduanya menoleh. Dan kini berdiri sosok yang sejak tadi menjadi topik pembahasan kedua perempuan ini.
"Astaga, tanganmu kenapa?"
Bryan sedikit mendorong Cahya yang menghalangi jalannya untuk mendekat kearah Martha itu. Akibatnya mangkok dan gelas yang ada diatas nampan terjauh.
Pyarr
Cahya jelas terkejut dengan.apa yang terjadi. Bahkan dirinya terlambat menghindari siraman sup dan teh yang kini membasahi kakinya itu.
Rasa panas bercampur perih langsung terasa di kakinya. Bryan sejenak terpaku dengan apa yang barusan terjadi. Entah kenapa perasaan bersalah mulai melingkupi hatinya. Itupun hanya sedikit.
"Biar aku bereskan." Cahya langsung berjongkok dan mulai mengambil pecahan dari mangkok dan gelas tadi. Bahkan rasa perih di kakinya dia abaikan.
Pandangan Bryan masih terfokus pada Cahya. Bahkan dia tidak lagi menatap kearah Amertha yang bahkan sudah melupakan rasa panas di tangannya itu. Malahan kini rasa.panas itu mulai menjalar pada hatinya.
Sebab Bryan malah sibuk memperhatikan Cahya ketimbang ditanya. Ditariknya paksa tangan Bryan agar menatap dirinya. "Ay, sakit." Rengeknya sambil menunjuk kearah tangannya itu.
Bahkan tak terlihat luka sedikitpun di tangan Amertha. Karena memang ciptratan tadi hanya mengenai tangnnya sedikit sedikit saja. Tidak seperti Cahya yang harus menahan perih akibat kesiram kuat sup yang masih panas.
...๐๐๐๐๐๐...
...๐พ ๐ฟ ๐พ...
...๐Terimakasih atas Votenya๐...
__ADS_1
...โค โค โค...