
🍁My Bipolar Boy🍁
.
.
.
.
Tepat jam setengah 8 malam, para siswa dan guru mulai menuju ke kafetaria hotel untuk makan malam. Tadi setelah sampai ke hotel, semua murid mulai menuju kamar masing - masing untuk bersih - bersih sekaligus menunaikan kewajiban.
Dan berhubung para siswa mulai lapar, disinilah mereka berada. Acara makan malam ini berlangsung cukup lama karena memang jumlah siswanya yang banyak. Dan tadi para guru pendamping sudah menjelaskan aturan malam yang harus di turuti oleh semua siswa.
Jadi, maksimal keluar dari kamar hotel itu jam 10 malam. Dan setiap jam tersebut, akan ada guru pendamping yang akan mengecek tiap kamar yang huni oleh para siswanya.
Aturan ini diberlakukan agar tidak ada yang keluar dari kamar hotel selepas jam 10. Karena ditakutkan para siswa berpergian dan malah keluar dari hotel.
Sejak tadi, Bryan sama sekali tidak lepas dari Cahya. Bahkan Bryan sampai menunggu didepan pintu kamar hotel Cahya. Entahlah apa alasanya sampai Bryan berbuat segitunya. Padahal tadi Cahya sudah bilang untuk menunggunya di lobby saja.
"Kamu tadi ngapain sampai nunggu didepan pintu kamar. Aku kan sudah bilang, tunggu saja di lobby, biar aku saja yang kebawah." Ucap Cahya yang baru saja duduk di meja kafetaria.
Cahya dan Bryan itu baru selesai mengambil makanan yang sudah di siapkan. Dan kini keduanya berada di meja yang sama.
"Ya, nggak apa - apa. Lagian itu kemauanku." Cahya lantas menganggukkan kepalanya. "Tapi lain kali nunggunya di lobby saja, ya." Kali ini Bryan yang mengangguk.
Keduanya kembali meneruskan acara makan mereka itu. Tak sampai 20 menit, keduanya telah merampungkan acara makan malam mereka.
"Setelah ini mau kemana?" Pertanyaan itu datang dari Bryan yang berada di samping Cahya yang tengah mencuci tangannya itu di wastafel.
Begitu selesai mencuci tangan, Cahya lantas menoleh kearah sang suami. "Nggak tahu. Memangnya mau kemana?"
"Gimana kalau kita keluar lihat pemandangan." Alis Cahya terangkat satu. "Memangnya boleh keluar dari hotel?"
Bryan mengangguk, "Bolehlah, tuh lihat banyak siswa yang keluar. Lagipula kalau nggak keluar, mau ngapain di dalam hotel." Cahya menengok kearah beberapa siswa yang ia lihat baru saja keluar dari pintu hotel.
Dan ternyata bukan beberapa saja, tapi hampir semuanya yang telah menyelesaikan makan malam, mereka mulai berjalan keluar.
"Aku kira harus di hotel terus. Ternyata boleh keluar juga, ya." Cahya tertawa diujung kalimatnya itu. Bryan menatap kearah sang istri sambil menyelesaikan acara membasuh tangannya itu.
"Atau jangan - jangan kau mau berduaan denganku di dalam kamar, ya." Goda Bryan yang membuat Cahya segera menutup mulut suaminya itu.
Hal itu Cahya lakukan karena ada beberapa orang yang menuju kearah mereka berdua, lebih tepatnya menuju kearah wastafel yang ada di depan mereka berdua itu.
Cahya langsung menarik Bryan menjauh dari wastafel tersebut sambil memberikan senyum canggung kearah beberapa orang yang melihat aksinya membekap mulut Bryan itu.
Setelah keluar dari hotel, barulah Cahya melepaskan bekapan tersebut. Sebenarnya Bryan bisa saja melepaskan bekapan tangan istrinya itu. Tapi Bryan tidak berniat melakukannya.
Cahya menatap Bryan dengan cemberut. "Kau jangan bicara seperti tadi di tempat umum. Nanti orang - orang berpikir yang enggak - enggak."
"Yang enggak - enggak gimana?" Helaan napas keluar dari mulut Cahya. "Kalau anak - anak disini salah paham gimana. Mereka kan tahunya kita itu baru tunangan, bukannya menikah, Bryan."
Bryan mulai paham akan maksud pembicaraan istrinya itu. "Ya itu bagus. Jadi kita tidak harus menyembunyikan status asli kita. Biar anak - anak disini tahu, kalau kau itu isteriku."
Cahya melempar tatapan malas kearah sang suami. Susah memang ngomong sama suami posesif kayak Bryan gini. Dengan langkah di hentakan, Cahya mulai berjalan menjauhi suaminya itu.
Bryan yang ditinggalipun lantas mulai berjalan mengikuti langkah istrinya itu. Senyum tipis mulai Bryan tampilkan di sela bibirnya itu.
Sebenarnya tidak ada yang salah dari ucapan Bryan tadi. Hanya saja Bryan tahu bagaimana kekhawatiran Cahya, kalau seandainya status asli mereka itu di ketahui banyak orang. Mungkin Cahya khawatir kalau banyak orang menuduhnya hamil duluan, makanya Cahya tidak mau hal itu terjadi.
Lagipula, ucapan orang itu yang tidak sesuai fakta bisa dikatakan fitnah. Dan tentunya itu akan mendapat dosa.
Setelah berjalan beberapa meter, Cahya menghentikan langkahnya. Bryan yang ada di belakangnya pun mengernyitkan dahinya bingung. "Kenapa berhenti?" Tanyanya begitu sampai di sisi kanan Cahya.
Cahya menoleh sebentar sebelum kembali menatap kearah depan. "Indah sekali." Gumam Cahya begitu melihat pemandangan indah didepan matanya itu.
Bryan yang mendengar gumaman sang istripun menoleh kearah titik fokus dari mata Cahya itu. Dan yang di dapatinya adalah pemandangan lautan disertai suara ombak serta taburan bintang di angkasa sana.
Bryan mengakui kalau pemandangan di depannya itu memang sangat indah. Tapi akan jauh lebih indah bila ditambah menatap wajah sang istrinya itu. Apalagi kalau wajah istrinya itu tengah bersemu akibat ulahnya.
"Kita kesana yuk." Tanpa mendengar jawaban dari Bryan, Cahya lantas segera menarik tangan suaminya itu untuk berjalan mendekat kearah bibir pantai.
Begitu sampai disana, Cahya mulai mengendurkan tarikannya dan akhirnya genggaman itu terlepas. Sebab Cahya saat ini tengah merentangkan kedua tangannya untuk menikmati angin yang berhembus cukup kencang ini.
"Enak sekali hawanya disini. Indah lagi" Bryan mengangguk sambil masih tetap memandang kearah Cahya.
"Iya, indah. Sangat indah." Balas Bryan tanpa mengalihkan pandangannya. Cahya memutar kepalanya kearah kanan dan menemukan kalau Bryan itu sedang menatapnya.
"Apanya?" Masih dengan arah tatapan yang sama, Bryan menjawabnya. "Pemandangan didepanku ini." Ujar Bryan sambil tersenyum.
__ADS_1
Pipi Cahya mulai bersemu begitu melihat tatapan yang diberikan oleh Bryan padanya dan mendengar apa yang diucapkannya itu.
"Yang indah itu ada disana, Bryan." Tunjuk Cahya kearah laut lepas. Tapi Bryan malah menggeleng. "Tapi menurutku lebih indah yang ada didepanku saat ini."
"Issh, sejak kapan kau pintar merayu seperti ini, Bryan?" Sahut Cahya yang kini mulai mendudukan diri di atas bongkahan kayu yang memang disediakan sebagai tempat dudukan itu.
Bryan ikut mendudukan diri di samping istrinya itu. Dirinya tertawa pelan begitu menyadari kalau wajah istrinya kini mulai bersemu merah. Walaupun terlihat samar, sebab penerangan di sekiranya tidak terlalu terang.
Keduanya kembali larut dalam obrolan ringan yang menyenangkan. Bahkan keduanya sampai melupakan fakta bahwa bukan hanya mereka saja yang tengah menikmati suasana alam ini.
Bahkan beberapa siswa yang menyaksikan interaksi antara Bryan dan Cahya itu, sampai dibuat iri dengan sisi romantis yang di lakukan oleh Bryan tadi.
Bagaimana tidak iri, Bryan dengan romantisnya menyampirkan jaket yang tadi dipakainya itu ke badan Cahya. Belum lagi dengan sisi lembutnya. Bryan memeluk dan tertawa bersama Cahya itu.
Sungguh pemandangan yang Uwu, sekaligus bikin iri para kaum jomblovers.
"Kita kembali ke hotel yuk, ini sudah mau jam sepuluh." Ajak Cahya yang menyadari kalau di sekitar mereka sudah mulai tidak seramai yang tadi itu.
Sebenarnya Bryan masih engan untuk berpisah dengan Cahyanya itu. Tapi dia tahu kalau lebih lama disini malah akan membuat Cahya masuk angin.
Bryan mengangguk sambil berdiri dari posisinya. Kemudian dia mengulurkan tangan kearah Cahya untuk membantunya berdiri. Cahya yang peka pun mulai memyambut uluran tersebut.
"Terimakasih." Ucap Cahya setelah dibantu berdiri oleh Bryan, walaupun sebenarnya Cahya juga bisa berdiri sendiri tanpa dibantu oleh Bryan.
Kini keduanya mulai melangkah menuju ke hotel dengan bergandengan tangan. Setibanya mereka di lobby, keduanya terpaksa berpisah sebab kamar mereka itu berbeda lantai.
Bryan ada di lantai 1 dan Cahya ada di lantai 3. "Aku ke kamar dulu, ya. Kamu langsung tidur, jangan begadang cuma gara - gara main game." Titah Cahya kepada suaminya itu.
"Iya. Padahal aku masih ingin terus lebih lama bersamamu. Tsk, menyebalkan sekali harus tidur tanpamu, padahal biasanya..."
Belum sempat Bryan menyelesaikan ucapannya. Mulutnya kembali di bekap oleh Cahya. "Bryan, tadi kan aku sudah bilang. Jangan bicara seperti itu didepan umum. Nanti ada yang dengar."
Cahya menatap sekitar, untung saja tidak ada yang menyadari akan ucapan Bryan tadi. Cahya menurunkan telapak tangannya dari mulut Bryan. Setelahnya dia menghela napas lega.
"Untung saja nggak ada yang dengar. Ya sudah aku ke kamarku dulu." Pamit Cahya yang kini mulai memasuki lift yang ada di depannya itu.
Begitu masuk, Cahya kembali menatap kearah suaminya itu. "Ingat kata - kataku tadi. Dan jangan berbuat nekat." Larang Cahya mengingat Bryan itu suka sekali berbuat hal nekat dan yang tidak terpikirkan oleh akal.
Cahya masih melambaikan tangannya kearah Bryan, hingga pintu lift tertutup. "Aku tidak janji." Gumamnya yang mungkin hanya di dengar oleh Bryan sendiri. Tak lupa smirk andalannya mulai terbit kala memikirkan ide yang kini bersarang di pikirannya itu.
❄☀❄☀❄☀❄☀❄☀❄☀❄☀❄☀❄☀❄☀
Sudah lebih dari sejam dia menunggu moment ini, setelah pemeriksaan yang di lakukan oleh guru pendamping tadi. Yups, tadi jam 10 an, guru pendamping memang mengecek apakah para siswa sudah berada di dalam kamar mereka masing - masing atau belum.
Dan ternyata semunya sudah ada didalam kamar, walaupun saat pengecekan berlangsung, masih saja ada yang belum tidur, tapi guru pendamping membiarkan saja. Asalkan mereka yang belum tidur tidak keluyuran dan keluar dari hotel ini. Tapi tetap saja, batas maksimalnya adalah jam 11.30, semuanya harus sudah tidur, sebab besok masih ada kegiatan yang harus di lakukan.
Tapi tampaknya peraturan itu tidak berlaku bagi sosok yang kini mulai memasuki sebuah kamar yang di huni oleh 5 orang gadis itu. Tujuannya kemari adalah menjemput sang bidadari hatinya.
Dilihatnya kelima gadis itu sudah tertidur lelap. Mungkin karena kecapekan akibat perjalanan dari sekolah sampai ke tempat ini. Sosok itu mendekati seorang gadis yang posisi tidurnya ada di samping kanan ranjang.
Jadi ada 2 ranjang di kamar ini. Dimana salah satu ranjang di gunakan oleh 3 orang. Dan ranjang lainnya hanya di gunakan 2 orang saja. Dan untungnya posisi targetnya saat ini sangat menguntungkan sosok itu tadi.
Coba saja kalau posisi tidur sang target ada di tengah, akan sedikit menyulitkan sosok ini untuk membawa pergi targetnya itu. Begitu sampai di sisi gadis yang menjadi tujuannya kemari, sosok tadi perlahan menyelipkan tangannya diantara punggung dan paha bawah dari tubuh gadis itu.
Mungkin karena terlalu capek, membuat gadis tadi sama sekali tidak terbangun. Padahal kini tubuhnya sudah berada di gendongan dari sang sosok ini tadi.
"Kau sangat manis bila tertidur seperti ini." Batin sosok tadi sambil menatap gadis yang ada di gendongannya saat ini.
Dengan perlahan dan tidak ingin membangunkan gadis yang ada di dalam pelukannya itu, sosok tadi mulai berjalan menuju pintu. Untungnya keempat gadis lainnya tidak ada yang terbangun. Jadi bisa dipastikan aksi dari sosok ini aman terkendali.
Begitu keluar dari kamar tadi, sosok tadi mulai berjalan menuju ke lift untuk membawa sang bidadarinya itu ke kamarnya. Tapi belum mencapai lift, dari kejauhan terlihat 2 sosok guru pendamping yang terlihat baru saja selesai mengecek keberadaan para siswanya.
Buru - buru, sosok tadi membuka pintu tangga darurat agar tidak ketahuan. Dan benar saja, baru saja dirinya menutup pintu tangga darurat, salah seorang dari guru pendamping itu menyadari keberadaannya.
"Siapa disana?" Pertanyaan itu masih bisa sosok tadi dengar, cepat - cepat dia menaiki tangga menuju ke lantai 5.
Mungkin akibat goncangan yang tercipta, membuat gadis yang ada di dalam gendongan itu mulai merasa terusik dan kini secara perlahan mulai membuka matanya.
Awalnya sempat buram sebab efek dari bangun tidur, tapi setelah beberapa detik, mata gadis itu melebar begitu sadar dimana posisinya saat ini berada.
"Yak!! Siapa kau?! Turunkan aku!" Jerit gadis itu sambil meronta dalam gendongan itu. Sosok tadi segera menatap kearah gadis yang kini mulai berontak dari gendongannya.
Sedikit merasa kewalahan mengatasi berontakkan itu membuat sosok tadi segera menurunkan tubuh sang gadis. Begitu diturunkan, gadis tadi segera menjauh dari sosok ini.
"Siapa kau?! Berani sekali menggendongku seperti tadi. Kau mau menculikku?!" Walaupun perkataan gadis itu terdengar marah. Tapi dari tatapannya amat tersirat rasa ketakutan yang besar.
Gimana nggak takut. Kalau malam - malam begini, kau di gendong oleh orang yang tidak dikenal. Pasti takut lah.
Gadis tadi yang tak lain adalah Cahya itu mulai menatap tajam kearah sosok yang tadi menggendongnya itu. Sosok ini menggunakan masker dan hoodie, jadi agak menyulitkan Cahya untuk tahu siapa jati diri dari sosok di depannya itu.
__ADS_1
Belum sempat menjawab, suara langkah kaki dari tangga bawah membuat sosok tadi langsung menarik tangan Cahya. Dengan kondisi yang masih blank, Cahya pun ikut terseret akibat tarikan itu.
Blam
Kedua orang ini telah sampai di lantai 5 dan kini sosok tadi kembali menarik tangan Cahya untuk dibawanya ke sebuah kamar yang letaknya tak jauh dari pintu tangga darurat dan lift itu.
Kesadaran Cahya mulai terkumpul kembali kala dirinya sudah masuk ke dalam kamar hotel yang entah milik siapa ini. "Apa yang kau lakukan?!"
Sosok tadi tak menjawab, dia malah berjalan semakin mendekat kearah Cahya membuat Cahya berjalan mundur menjauh dari sosok itu.
"Jangan berani - berani mendekat atau aku akan teriak!" Serentak Cahya yang tak membuat sosok tadi gentar untuk mendekati dirinya itu.
Dengan sedikit dorongan, tubuh Cahya sudah terjatuh keatas ranjang yang ada di belakangnya itu.
Brukk
Bunyi dentuman itu berasal dari tubuh Cahya yang mengenai permukaan ranjang. Cahya berniat untuk bangun dari posisinya. Tapi belum juga niatan itu terlaksana, dirinya sudah ditindih terlebih dahulu oleh sosok ini.
"Hei! Menjauhlah dariku?!" Seru Cahya sambil memukul tubuh dari sosok yang Cahya perkirakan itu adalah laki - laki.
"Tolong! Tolong aku! Siapapun tolong aku! Bryan tolongin aku!!" Teriak Cahya sambil berusaha mendorong sosok ini agar menjauh darinya.
Tapi anehnya sosok ini malah tertawa membuat Cahya mengerutkan dahinya. Seakan tersadar siapa sosok ini sebenarnya membuat Cahya berseru kesal.
"Bryan!! Kamu ngerjain aku ya?!" Geram Cahya pada sosok ini yang tak lain adalah Bryan. Bagaimana Cahya bisa tahu kalau itu suaminya sendiri? Jawabannya ada di suara gelak tawa dari sosok ini.
Cahya hafal sekali bagaimana suara tawa milik suaminya itu. Merasa kalau dirinya sudah ketahuan membuat sosok tadi perlahan mulai melepas masker yang di pakainya itu. Dan melepaskan tudung hoodie yang dikenakannya itu.
"Hahaha, kau ini manis sekali sih kalau lagi ketakutan seperti itu." Ujar Bryan sambil meneruskan tawanya itu.
Cahya mendorong tubuh Bryan agar menjauh darinya itu. Kemudian Cahya bangkit satu posisi tidurnya menjadi duduk di atas ranjang.
"Kau benar - benar menyebalkan! Aku ketakutan setengah mati, kau malah tertawa seperti ini!" Marah Cahya pada sang suami.
"Aku marah padamu!" Ujar Cahya yang kini mulai berniat turun dari ranjang untuk menuju ke kamarnya. Melihat Cahya yang ingin pergi, segera saja Bryan menahan tangan Cahya.
"Kau mau kemana?" Tanpa menoleh, Cahya menjawabnya. "Ke kamarku lah." Ucapnya sedikit ketus.
"Tidak boleh! Kau harus disini, tidur denganku." Titah Bryan yang tak digubris oleh Cahya. Buktinya Cahya masih saja melepaskan genggaman tangan itu. Begitu terlepas, Cahya terus melangkahkan kakinya kearah pintu keluar.
"Berhenti disitu atau kau akan tahu hukumannya" Kali ini Bryan berucap dengan nada tajam miliknya. Cahya sempat tertegun sejenak dia bahkan sampai berhenti melangkah.
"Aku tidak peduli." Balasnya acuh kemudian kembali meneruskan langkahnya yang sempat terhenti itu.
Geram karena ucapannya tak didengar membuat Bryan dengan cepat meraih tubuh Cahya dan membopong tubuh Cahya dibahunya.
"Apa yang kau lakukan, Bryan? Turunkan aku!" Ucapan yang terlontar dari bibir Cahya sama sekali tidak Bryan gubris. Dengan sekali sentak, Bryan kembali menjatuhkan tubuh Cahya keatas ranjang untuk yang kedua kalinya.
"Yak!.." Belum sempat Cahy bicara, sebuah gigitan di lehernya membuatnya meringis kesakitan.
"Akh, sakit Bryan." Ringis Cahya yang merasa sedikit nyeri di lehernya itu. Setelah menciptakan satu tanda, Bryan tak henti membuat karya lainnya di area yang berbeda.
"Ini akibatnya bila menentang ucapanku." Ucap Bryan yang kini mulai tersenyum miring di ceruk leher sang istri. Cahya tak lagi memberontak seperti tadi. Dia hanya tidak ingin menambah hukuman yang diberikan Bryan untuknya itu.
Detik mulai berganti menjadi menit ....
"Tidurlah, aku tahu kau lelah." Ucap Bryan kepada Cahya sambil mengelus kepala istrinya itu. Cahya mengangguk, lantas mulai membenamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya itu.
Yups, sebenarnya Bryan tidak melakukan hal yang menjurus ke adegan dewasa. Dia hanya memberikan beberapa gigitan tanpa melukai leher milik sang istri. Hal itu hanya gertakan saja yang dibuat Bryan agar istrinya itu menurut padanya.
Dan kini keduanya sudah berada di bawah selimut yang sama, saling berpelukan dan terbuai akan mimpi yang mendatangi kedua anak manusia ini.
Dan hal gila yang Bryan lakukan untuk membuatnya tidur seranjang dengan istrinya itu adalah menculiknya dari kamar hotel. Dan membawanya ke kamar yang sudah dia sewa untuk ia bermalam.
Bukankah itu ide yang antimainstream. Walupun hampir ketahuan, untungnya Bryan bisa lolos. Coba kalau tidak? Bisa berabe urusannya😄.
❕🍁❕🍁❕
.
.
.
🍁My Bipolar Boy🍁
Terimakasih sudah hadir dan menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. Terimakasih juga untuk setiap Vote dan Komentar kalian semua💖😍
__ADS_1
Sampai jumpa lagi💙