My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
74. Babak Belur


__ADS_3

๐ŸƒM.B.B๐Ÿƒ


Setelah masuk kedalam mobil, mang Asep segera menjalankan mobilnya sembari mencari lokasi apotik terdekat. Cahya yang duduk disamping Bryan, ia pun segera membuka tasnya, selama beberapa detik mencari akhirnya benda yang dicarinya ketemu juga.


"Ini." Beri cahya pada Bryan.


Sedangkan Bryan hanya menatapnya tak mengerti.


"Hilangkan bercak darahmu itu pakai sapu tangan ini." Jelas Cahya sambil menyodorkan saputangan itu.


Tak kunjung diambil, membuat Cahya menghela nafasnya.


"Ya sudah, mendekatlah kemari biar aku hilangkan bercak darah diwajah mu itu."


Perkataan itu membuat Bryan mendekatkan diri kepada Cahya. Cahya yang tak mengira bahwa akan sedekat inipun kembali menahan nafasnya pertanda gugup.


"Kenapa dekat sekali? Mundur lagi, Yan." Ucap Cahya sehalus mungkin. Akhirnya Bryan memundurkan posisi duduknya beberapa cm saja, hal itu lagi lagi membuat Cahya menghembuskan nafas berat.


Tak mau memikirkan posisinya saat ini, segera aja Cahya meraih wajah Bryan untuk dihadapkan ke arahnya itu.


Mencoba sepelan mungkin agar Bryan tidak merasa kesakitan Cahya pun kembali memfokuskan pada luka diwajah Bryan itu. Tapi sepertinya ia agak kesulitan fokus, karena tatapan mata yang terus mengarah padanya itu membuatnya gugup.


"Kenapa?" Satu pertanyaan lolos dari bibir Cahya.


Tapi tak ada balasan.


Menghela nafas sabar, Cahya kembali meneruskan kegiatannya tadi yang sempat tertunda itu.


Hening


Tak ada yang bicara.


"Bryan." Panggil Cahya begitu selesai membersihkan bercak darah diwajah Bryan. Namun tak ada sahutan membuat Cahya harus menatap kearah mata Bryan.


Sebenarnya ia agak ragu untuk memanggilnya Bryan kembali, tapi apa boleh buat.


"Bryan" panggil Cahya pelan.


"Hm"


Akhirnya ada balasan, tapi itu hanya sebuah deheman yang entah apa maksudnya.


"Non, disana ada apotik." Tunjuk mang Asep pada sebuah toko yang lumayan besar. Cahya yang sedari tadi menatap kearah Bryan pun segera mengalihkan pandangannya ke mang Asep.


"Ooh, iya mang." Jawab Cahya sambil berniat turun dari mobil tapi belum juga niatnya terlaksana tangan Cahya sudah lebih dulu dipegang oleh orang disampingnya itu membuat Cahya menoleh ke arahnya bingung.


"Kenapa?" Tanya Cahya begitu ia rasakan gengaman di tangannya itu mengerat.


"Jangan pergi." Mendengar ucapan Bryan membuat Cahya tersenyum simpul.


"Hanya sebentar kok, aku ingin ke apotik beli obat untuk lukamu." Jelas Cahya pada Bryan.


"Tidak boleh." Ucapan tegas itu meluncur begitu saja dari bibir Bryan membuat Cahya menghela nafasnya.


"Baiklah, aku tetap disini." Balas Cahya pada akhirnya, mendengarnya membuat Bryan tersenyum tipis.


"Mang, Cahya minta tolong boleh?" Tanyanya pada sang supir keluarga Bryan itu.


"Boleh non, mau minta tolong apa?" Tanyanya pada nonanya itu.


"Tolong belikan obat merah, perban dan antiseptik di apotek."


"Bisa non." Mendengarnya segera saja Cahya mengeluarkan uang seratus ribuan dari tas sekolahnya dan menyerahkan pada sang supir.


Awalnya sang supir sudah menolak, tapi Cahya bersikeras untuk tetap mengunakan uangnya saja.


"Tidak perlu non, pakai uang saya saja," tolak sang supir karena ia agak sungkan menerima uang tersebut karena sang supir tahu nonanya itu juga bukan dari keluarga berada.

__ADS_1


"Tidak apa apa mang, uangnya mang disimpan saja untuk keperluan keluarganya mang. Jadi pakai uangnya Cahya saja, ya." Karena tak enak menolak ketulusan sang nona, sang supir pun menerimanya dan pamit untuk membelinya.


Dan Hal tersebut tak luput dari mata Bryan yang memang sedari tadi memperhatikan interaksi antara Calon tunangannya dengan supirnya itu.


Blam


Pintu mobil tertutup menyisakan kedua anak adam yang tengah dilanda keheningan itu.


"Ooh ya, tadi kau bertengkar karena apa?" Akhirnya Cahya buka suara seakan baru ingat tentang hal yang sejak tadi ingin ia tanyakan itu.


Tapi Bryan sama sekali tak mau menjawabnya membuat Cahya tersenyum paham.


"Baiklah, kalau tidak ingin menjawabnya. Aku tidak akan memaksa." Pada akhirnya Cahya memilih diam daripada memaksa Bryan untuk cerita. Toh sepertinya Bryan engan untuk membahasnya.


Karena bingung ingin mengobrol apa, membuat keadaan didalam mobil menjadi hening.


Sampai,


"Kenapa kau menghindariku?" Pertanyaan itu sukses membuat Cahya tersentak kaget. Ia tak menyangka kalau orang disampingnya itu menyadari kalau selama seminggu ini ia memang menghindarinya.


"Si..sia..pa yang meng..hindari..mu." Walaupun Cahya berusaha tidak gugup tapi nyatanya ia tidak bisa menghindari kegugupannya itu.


"Kau." Sederhana namun terasa penuh penekanan. Cahya mengalihkan pandangannya. Sejujurnya ia tidak ingin menghindar, tapi dia masih gugup kalau harus bertemu dengan Bryan ataupun Vino. Cahya tak membuka suaranya sampai mang Asep datang.


*********


Mereka berdua baru saja tiba di rumah Bryan. Apalagi melihat memar diwajah Bryan yang mulai membiru membuat Cahya khawatir.


Awalnya ia berniat membawa Bryan ke rumah sakit. Tapi memang dasarnya keras kepala, si Bryan malah menolak usulannya mentah mentah.


Apa boleh buat, Cahya juga tidak bisa merubah keputusan Bryan tersebut. Soal pertanyaan yang sempat membuat keadaan mereka tadi menjadi canggung sekarang sudah clear.


Karena tadi Cahya sudah meminta maaf kepada Bryan soal dirinya yang terkesan menghindari Bryan. Tapi ia sudah menjelaskan kalau dirinya itu tidak berniat menghindar, hanya saja ia merasa canggung kalau harus bertatap muka dengan Bryan ataupun Vino.


Saat ini Bryan sedang dipapah oleh Cahya menuju kedalam rumah. Sedangkan untuk tas sekolahnya ada di mang Asep.


Dan lihatlah sekarang, Cahya berusaha keras menyeimbangkan tubuhnya dan tubuh Bryan agar tidak sampai jatuh.


Begitu pintu terbuka, suara teriakan seorang wanita langsung terdengar begitu ia melihat sosok sang anak sedang di papah oleh calon menantunya itu.


"Ya tuhan, Vino. Kenapa bisa sampai begini." Irena segera menghampiri putra tunggalnya itu. Ia memeriksa kondisi wajah sang putra yang babak belur itu.


Sedangkan Bryan meringis kecil begitu merasakan tangan ibunya itu tak sengaja bersinggungan dengan memar diwajahnya.


"Sudahlah, bu. Aku tidak apa apa." Irena sempat terkejut begitu mendengar suara bass putranya itu.


Irena segera membantu Cahya untuk menyapa Bryan menuju ke sofa. "Duduklah, biar mama ambilkan obat untukmu."


Tapi belum sempat berdiri dari posisinya, terlebih dahulu Cahya menawarkan dirinya untuk mengambil kotak p3k.


"Biar Cahya saja, ma. Mama temani saja Bryan."


Irena tersenyum. "Terimakasih ya, nak Cahya." Cahya mengangguk kemudian berjalan menuju dapur karena kotak p3knya ada disana.


Setelah menemukannya, Cahya langsung bergegas menuju ruang tengah dimana mama Irena dan Bryan ada disana. Tapi tak lupa ia membawa sebaskom air es dan handuk kering untuk mengompres memar diwajah Bryan.


"Ini kotak p3knya, ma." Cahya menyodorkan kotak p3k pada mama Irena kemudian menaruh baskom dan handuk diatas meja.


"Kenapa bisa begini? Kamu itu ngapain aja sampai mukanya bonyok begini?" Nada khawatir begitu kental terdengar di telinga Bryan dan Cahya.


Cahya tersenyum begitu merasakan bagaimana khawatirnya sosok seorang ibu terhadap anaknya. Sungguh perasaan rindu mulai merasuk kedalam hatinya, begitu mengingat perhatian yang kedua orangtuanya berikan padanya dulu.


Kini ia hanya bisa mengingat tapi tak akan pernah bisa merasakannya lagi. Namun ia tidak boleh sedih, karena pasti orangtuanya juga akan ikutan sedih. Dia yakin sekarangpun orangtuanya sedang bahagia diatas sana, makanya ia juga harus bahagia.


"Aduh..pelan pelan ma..sakit..Ini." Ringis Bryan karena tangan mamanya yang menekan lukanya agak keras.


"Makanya kalau sudah tahu sakit, kenapa masih suka ngelakuin kayak gini."

__ADS_1


Dulu memang sering Bryan pulang dengan keadaan seperti ini. Bahkan lebih parah. Jawaban yang diberikan olehnya malah membuat Irena menekan kasar luka putranya itu.


Bagaimana tidak? Lah orang ditanya 'kenapa bisa kayak gini?' Jawaban Bryan malah 'Biasa mah, anak laki laki. Mama nggak perlu repot ngobatin kayak gini, palingan nanti juga sembuh sendiri.'


Dengan santainya ia ngomong begitu padahal Irena sudah khawatir setengah mati. Makanya jangan salahkan Irena kalau luka anaknya itu bertambah. Soalnya yang dikhawatiri malah santai begini.


Cahya berusaha menahan tawanya begitu melihat perdebatan kecil antara ibu dan anak itu. Entah kenapa muka Bryan yang biasa sangar dan dingin bisa berubah lucu saat sedang diobati oleh mamanya itu.


Bagaimana tidak? Kalau Bryan sendiri sampai meringis meringis gitu saat menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh mamanya itu. Soalnya dijawab dengan santai bahkan kelewat santai membuat mama Irena gemas sendiri dengan putra tunggalnya itu.


Setelah selesai dibersihkan dari darah, telpon mama Irena berdering membuat sang empunya terpaksa mengangkatnya.


Ternyata yang menelpon adalah sang suami tercinta.


"Assalamualaikum, iya pa. Ada apa?"


"Wa'alaikumsalam, mama bisa ikut papa tidak keluar negeri?"


"Sekarang?"


"Iya, sekarang. Memangnya mama tidak bisa ikut?"


"Tapi Bryan sedang terluka, pa. Ini juga baru selesai mama bersihin lukanya."


"Memang Bryan kenapa? Kok bisa sampai terluka? Apa papa cancel saja kerjaan diluar negerinya."


"Jangan pa, papa bisa kan kalau mama tidak ikut papa kali ini."


"Kalau mama tidak ikut, papa pasti kesulitan disana. Lah memang dirumah tidak ada orang?"


"Lah terus gimana, pa? Ada Cahya juga disini."


"Mama minta tolong aja sama Cahya, biar dia ngerawat Bryan dulu. Biar nanti papa telpon Ibram untuk jagain Bryan sampai kita pulang."


"Oke mama setuju. Mama akan kesana sekarang."


"Iya, ma. Tapi diantar mang Asep kan kesininya?"


"Iya pa. Nanti mama diantar sama mang Asep. Oke, tungguin mama sebentar, ya."


"Hari hati dijalan, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." Begitu panggilan selesai, Irena menatap anaknya dengan wajah sedih. Bryan yang melihat raut wajah ibunya itu mengernyitkan dahinya. "Mama kenapa?"


"Mama baru ditelpon papa, katanya mama suruh nemenin papa keluar negeri. Tapi kamu gimana? Masa mama tinggalin kamu sendirian apalagi kamu lagi sakit begini."


Bryan hanya ber'Oh' ria membuat Irena menghembuskan napas panjang.


"Bryan bisa jaga diri. Lagipula Bryan bukan anak kecil lagi, ma."


"Tapi, tetap saja mama khawatir."


Cahya hanya menjadi penonton saja. Ia sendiri bingung harus menanggapinya dengan apa.


...Perhatian...


Bakalan disuruh buat jagain Bryan atau nggak nih si Cahya? Kalau iya, gimana suasana diantara mereka berdua, ya?


Up๐Ÿ’ž


Masih setia baca M.B.B kan?


Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys๐Ÿ˜‰. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini Budayakan vote setelah selesai baca, ya๐Ÿ˜Š


๐ŸTerimakasih๐Ÿ


๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2