My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
42. Mendadak Berubah


__ADS_3

🍁M.B.B🍁


Sudah hampir 2 jam Vino dan Cahya menghabiskan waktu di Games Land ini. Awalnya Vino minta pulang begitu turun dari bianglala, alasannya adalah karena Vino tidak ingin membuat Cahya di dimarahi oleh orang lain karena membelanya seperti tadi.


Tapi Cahya kekeh membujuk Vino agar menikmati segala wahana di Games Land tanpa harus mempedulikan omongan orang orang.


Awalnya Vino menolak bujukan Cahya, tapi pada akhirnya ia luluh juga. Yang akhirnya keduanya menikmati kebersamaan mereka.


Dan entah kenapa hari ini Vino merasa sangat bahagia. Sedari tadi bibirnya tak berhenti melepas senyuman.


"Kau sudah puas Vin?" Pertanyaan itu membuat Vino yang memang sedari tadi menatap Cahya.


"Apanya?" Tanya Vino yang belum begitu paham.


"Mainnya." Sahut Cahya singkat.


"Ehm." Gumam Vino mengiyakan.


Cahya yang mendengarnya hanya tersenyum kecil. "Kalau gitu kita pulang, ya." Bujuk Cahya pada Vino yang diangguki oleh Vino.


Sekarang ini keduanya tengah berjalan menuju pintu keluar, tapi kehadiran seseorang yang memanggil Vino membuat Cahya menoleh.


"Bryan." Panggilan itu diteriaki oleh seorang gadis membuat beberapa pengunjung menatap ke arahnya begitupun dengan Cahya.


Gadis tadi segera berlari menuju kearah Vino membuat Cahya mengernyit alisnya bingung.


"Siapa gadis ini." Pikir Cahya.


"Hai, kau disini juga." Ucap gadis itu yang seakan akan telah mengenal Vino.

__ADS_1


"Kau siapa?" Tanya Vino polos membuat gadis tadi melongo tidak percaya.


"Kau lupa denganku?" Tanyanya tak percaya. Vino menatap gadis yang diperkirakan seusia Cahya itu bingung.


"Vino tidak ingat pernah bertemu dengan kamu" jawabnya sambil mengerutkan alisnya.


Gadis tadi terkejut mendengarnya, jangan jangan Bryan hilang ingatan, begitu pikirnya.


"Kau beneran tidak ingat denganku?" Pertanyaan yang kembali membuat Vino bingung.


Vino segera memalingkan wajahnya kearah Cahya yang kini juga menatapnya.


"Cahya kenal dengan dia?" Tunjuknya pada gadis tadi yang kini tengah mengamati keduanya.


Cahya menggelengkan kepalanya pertanda tidak tahu.


Cahya sebenarnya ingin mengasumsikan kalau gadis di depannya itu mungkin salah orang, tapi perkataan yang di dengar itu membuatnya membelalakan matanya.


Perkataan itu tanpa disadari mendatang sosok lain dalam diri Vino. Yap, siapa lagi kalau bukan sang tersangka pemilik nama yang disebutkan oleh Dinda tadi.


Tatapan Vino yang sebelumnya bingung seketika berubah menjadi menajam membuat Cahya yang ada di sebelahnya tersentak kaget.


"Kau tentu tidak lupa atau bahkan sampai amnesia kan, Bryan." Dinda kembali berucap tanpa menyadari adanya tatapan tajam mengarah padanya.


"Jangan sebut nama itu lagi." Suara yang terdengar itu terkesan mengintimidasi yang mendengarnya.


Termasuk kedua gadis disekitar sang pemilik nama. "Apa maksudmu Bryan? Aku kan biasanya memang memanggilmu Bryan."


Bryan yang mendengarnya lantas menatap tajam kearah Dinda membuat gadis itu terkejut.

__ADS_1


Sebab belum pernah ia mendapatkan tatapan seperti itu dari Bryan. Karena selama mereka kenal, Bryan selalu menatapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Bukan tatapan tajam seperti ini.


"Jangan lagi kau sebut nama itu. Kalau kau tidak ingin aku menghabisimu!"


Dinda yang mendengarnya bisa merasakan amarah yang begitu kuat dalam setiap intonasi dari sang pemilik nama membuat tubuhnya menegang.


"Ka..kau ke..na..pa ja..di se..perti...ini." Ucap Dinda sambil terbata bata. Bahkan ia tanpa sadar memundurkan langkahnya untuk antisipasi.


"Kau tidak perlu tahu! Dan jangan pernah menyebut nama itu lagi, kalau kau tidak ingin habis ditanganku."


Bryan mengatakan hal itu dengan pandangan tajam yang senantiasa terarah kearah Dinda. Kemudian berlalu pergi begitu saja.


Bahkan dia meninggalkan Cahya yang terdiam membeku akibat ucapan Bryan barusan.


Ia hanya tidak menyangka kalau Vino dalam mode Bryan bisa semenakutkan itu. Selama beberapa detik ia masih terdiam, sebelum ia menyadari kalau ia ditinggal oleh Vino atau Bryan itu. Entah Cahya harus memanggilnya apa.


Dinda yang melihat Cahya yang ingin pergi mengikuti jejak Bryanpun segera berjalan ke arahnya.


Cahya yang ingin pergi mengejar Bryan harus terhenti akibat sebuah tangan yang menggenggam lengannya, membuat Cahya mau tak mau harus menghentikan langkahnya. Kemudian menatap siapa yang menggenggam lengannya itu.


🍁M.B.B🍁


...Perhatian...


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


**Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guysπŸ˜‰.

__ADS_1


🍁Terimakasih🍁**


πŸ˜πŸ˜‡πŸ˜


__ADS_2