My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
68. Reuni XII IPA 3


__ADS_3

Previous Chapter


Sesampainya di luar, terlihat GoCar yang sudah menunggu karena tadi Rima berangkat dengan GoCar. Sedangkan Bryan tadi membawa motor sport bewarna merah itu.


๐Ÿ’žM.B.B๐Ÿ’ž


"Kau ikut denganku, ya." Ucap Rima sambil mengandengan tangan Cahya. Tapi belum juga selangkah, cekalan lain ditangan Cahya membuat dirinya berhenti melangkah.


Rima juga ikut berhenti karena ia sadar kalau Cahya tidak mengikuti langkah kakinya. Bisa ia lihat kalau ternyata tangan Cahya sudah dipegang oleh dirinya dan juga si calon tunangannya Cahya itu.


"Kau ikut denganku." Perkataan dari Bryan terdengar seperti perintah bagi Cahya.


Cahya menatap kearah Rima seolah bertanya 'aku harus apa?'. Tapi wajah Rima berubah menjadi memelas begitu melihat tatapan Cahya padanya itu. Sejenak Cahya menghela nafas sebentar sebelum melepaskan tangan Bryan pelan.


"Aku bareng Rima, ya. Kamu nggak apa apa kan?" Tanyanya takut membuat Bryan marah. Tapi sepertinya itu berhasil memancing kemarahan Bryan. Lihat saja tatapan mata Bryan yang terlihat menajam itu.


Cahya buru buru meralat ucapannya takutnya malah membuat Bryan marah.


"Kamu kan bawa motor, jadi mending aku bareng dengan Rima. Nanti pulangnya aku sama kamu, gimana?" Cahya berharap Bryan setuju dengan usulannya ini.


Bryan sejenak mengalihkan pandangannya kemudian kembali menatap kearah Cahya setelah mengangguk pelan membuat Cahya tersenyum lega.


"Baiklah, kau hati hati dijalan. Sampai ketemu disana, ya." Cahya mulai melangkah menuju kearah GoCar bersama dengan Rima. Begitu sudah didalam mobil Cahya melambaikan tangannya kearah Bryan.


"Hati-hati, ya." Cahya tersenyum, Bryan hanya menatapnya dengan senyum tipis di bibirnya itu. Kemudian begitu mobil melaju ia ikut melajukan motornya setelah memakai helmya itu.


Di dalam mobil๐Ÿš˜


"Calon tunanganmu serem juga, ya." Rima masih memperhatikan Bryan yang ada dibelakang mobil yang mereka tumpangi.


"Serem gimana?" Cahya juga ikut menatap kearah belakang dimana disana ada Bryan yang tengah mengendarai motor yang entah milik siapa, Cahya juga kurang tahu.


"Tapi dia juga ganteng banget. Kayak mirip Kim Taehyung BTS." Mendengarnya membuat Cahya mengingat moment dimana dia sempat bilang pada Bryan kalau dirinya itu mirip dengan idolanya, siapa lagi kalau bukan V BTS.


"Beruntung sekali dirimu. Jadi pengen punya pacar kayak Jungkook Oppa." Rima mulai dalam mode halunya, membuat Cahya menatapnya sambil menghela nafas pendek.


"Mulai deh, kalau kau sama Jungkook Oppa terus si Adam gimana?" Pertanyaan itu membuat kehaluan Rima buyar.


"Issh, kau ini. Bisa nggak si jangan bawa bawa dia. Kau tahu sejak kamu pindah setiap hari dia datang ke kelas, membuatku jadi bahan 'Cie Cie' anak anak." Ada nada sebal yang begitu ketara di ucapan Rima barusan.


Cahya menghadap kearah depan, tidak lagi menghadap kearah Bryan yang Ada dibelakangnya.


"Jangan begitu. Nanti aku bisa suka padanya. Kalau sampai terjadi aku akan jadi orang pertama yang kau traktir."


Kemudian Cahya tertawa begitu melihat respon dari Rima yang nampak mendengus kesal itu. Selanjutnya mereka mulai mengobrol tentang keseharian teman sekelasnya dulu begitu Cahya pindah sekolah.


Cukup memakan waktu yang lama, hingga akhirnya mobil yang mereka berdua telah sampai didepan mall. Kenapa di mall, karena restoran yang menjadi tempat mereka ketemuan ada di dalam sana.


Setelah membayar, Cahya dan Rima keluar dari dalam mobil dan menunggu kedatangan Bryan yang baru saja tiba di parkiran.

__ADS_1


Kini Cahya dan Rima menghampiri Bryan untuk sama sama masuk kedalam mall. "Ayo." Ajak Cahya pada Bryan.


Bryan kini berada dibelakang Cahya dan Rima, beberapa kali ia menahan perasaan dongkol dalam hatinya. Karena rencananya ia ingin membawa Cahya ke suatu tempat yang sudah ia rencanakan. Tapi yang terjadi malah Cahya harus bertemu dengan teman temannya itu.


Kalau bukan karena gadis itu, mungkin sekarang dia dan Cahya sudah sampai ditempat yang indah. Lagi lagi Bryan mendengus kesal.


Setelah naik eskalator menuju lantai 2 akhirnya mereka bertiga sudah sampai di depan restoran tempat anak kelas XII IPA janjian.


Begitu masuk bisa ketiganya dengar kalau disebelah kanan mereka sudah terdengar suara tawa yang begitu keras.


"Hai Guys." Sapa Rima dengan Cahya dalam tarikan tangannya. Sedangkan lagi lagi Bryan mendengus sebal melihat Rima dengan seenaknya menarik tangan Cahya.


"Hai, si ibu negara." Canda Cita begitu melihat kehadiran Rima dan Cahya.


Semua saling bersalaman dan bertos ria. Tapi mereka agak mengernyit begitu melihat kehadiran Bryan dibelakang Cahya dan Rima.


Menyadari kalau semua teman temannya menatap kearah Bryan, membuat Cahya segera mengenalkan mereka dengan Bryan.


"Kenalin dia ini Bryan, te.." belum juga selesai, ucapan Cahya sudah dipotong oleh seseorang yang tak lain adalah Bryan.


"Pacarnya Cahya." Ucapan itu mengundang reaksi terkejut dari semua teman Cahya.


Mata para sahabat perempuan Cahya langsung terbelalak begitu mendengar ucapan itu. Setelahnya mereka bersorak senang sekaligus memberi ucapan selamat pada Cahya dan Bryan.


"*Cie Cie, yang udah punya gandengan mah beda, ya."


"Selamat ya. Akhirnya punya pacar juga."


"Sungguh tidak terduga."


"Belum juga 3 hari pindah tapi sudah langsung punya pacar. The Best lah ๐Ÿ‘"


"Selamat ya ibu negara, akhirnya sekarang nggak jomblo lagi."


"Yah, populasi jomblo berkurang, tapi aku kapan punya pacar๐Ÿ˜ญ"


"Nanti. Kalau sudah nikah๐Ÿ˜„*."


Itulah ucapan mereka pada Cahya yang membuat pipi Cahya bersemu merah. Hal itu tentu disadari oleh banyak orang disana termasuk Bryan yang sejak tadi menatap kearah Cahya.


"Sudahlah, kita kesini mau makan bukan malah ngecengin aku." Cahya berusaha membuat teman temannya ini tidak lagi men'Cie cie' kan dirinya itu.


Setelahnya Cahya duduk di meja yang masih kosong diikuti oleh Rima dan tentu saja Bryan. Rima duduk disamping Febri yang sesama penyuka Kpop. Sedangkan Cahya duduk didepan mereka dan disampingnya tentu saja ada Bryan.


Meja disini sudah di susun menyatu membentuk persegi panjang jadi khusus yang duduk disana adalah anak XII IPA 3 dan beberapa orang yang menjadi kekasih dari anak XII IPA 3 termasuk Bryan didalamnya.


Kini Cahya tengah makan. Walaupun tadi sore dia sudah makan dengan anak volley SNB tapi tetap saja ia masih lapar. Melihat kalau Bryan sejak tadi menatap ke arahnya tanpa menyentuh makanannya itu membuat Cahya bingung.


"Kau tidak makan? Apa tidak lapar?" Bryan tak langsung menjawabnya membuat Cahya menghentikan acara makanannya.

__ADS_1


"Kenapa?"


Bryan bukannya menjawab malah menopangkan dagunya diatas tangannya sambil menatap lurus kearah Cahya.


Jangan tanya bagaimana sistem kerja jantung Cahya saat ini. Yang pasti jantungnya berdetak dengan kencang. Merasa tidak kuat digarap dengan pandangan intens membuat Cahya menundukkan kepalanya.


Bryanpun mengangkat dagu Cahya agar kembali menatap kearah matanya. Bisa Bryan lihat pipi kekasihnya itu merona. Melihatnya membuat senyum Bryan mengembang.


"Jangan menunduk. Dan tatap mataku." Suara yang dikeluarkan oleh Bryan memang terdengar pelan bahkan cenderung berbisik. Tapi entah kenapa perkataan itu terdengar begitu jelas di telinga Cahya.


Kini warna pink di pipi Cahya nampak terlihat jelas. Apalagi setelah perkataan Bryan barusan. Jangan lupakan degup jantung miliknya yang makin kencang itu.


"Jangan sampai Bryan mendengarnya." Mohon Cahya dalam hati.


"Lanjutkan makanmu. Jangan Blushing begitu." Nampaknya Bryan memang berniat menggoda Cahya.


Cahya tak lagi menatap kearah Bryan, ia lebih memilih menatap kearah lain selain Bryan. Bryan yang melihat tingkahnya hanya bisa menampilkan seringaian miliknya itu.


Ternyata interaksi keduanya telah dilihat hampir oleh semua anak XII IPA 3 itu. Banyak dari mereka yang kembali ngecengin mereka berdua.


Tapi tawa mereka sedikit terganggu lantaran celetukan si mulut comel, siapa lagi kalau bukan di Gilang.


"Lah aku kira. Si ibu negara bakalan pacaran sama si ketua Volley...Ups" si Gilang langsung menutup mulutnya begitu menyadari tatapan semua temannya mengarah padanya itu.


Termasuk Cahya dan Bryan. Seketika Cahya menatap kearah Bryan. Takutnya Bryan salah paham dan marah padanya.


Bahkan mereka baru saja baik kan, masa harus marahan lagi.


Dan benar saja Bryan sudah menguarkan tatapan tajam. Membuat Cahya menelan ludahnya susah payah.


"Sepertinya Bryan marah lagi." batin Cahya sambil menatap kearah Bryan.


...Perhatian...


***Yah. Si Bryan ngamuk ini mah๐Ÿ˜ฑ


Yang kemarin kemarin udah nyempetin komen tapi belum aku bales, aku minta maaf ya. Walaupun begitu aku ttp baca komenan kalian, tapi kadang bingung mau balas apa๐Ÿ˜‚.


Jadi mohon bersabar ya๐Ÿ˜***


Up๐Ÿ’ž


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys๐Ÿ˜‰.


๐ŸTerimakasih๐Ÿ

__ADS_1


๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜


__ADS_2