
๐My Bipolar Boy๐
.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, seharusnya pasangan muda ini sedang berada di area sekolah. Tapi mereka saat ini malah sedang menuju ke area pusat perbelanjaan.
Ets, tenang saja. Keduanya bukan membolos di hari senin ini. Hanya saja sekolah dipulangkan lebih awal karena pemberitahuan dadakan terkait acara karya wisata itu.
Para siswa kelas 12 menyambut suka cita acara tersebut, tapi sepertinya tidak dengan Bryan. Lihat saja raut mukanya saat ia mendengar pengumuman pulang lebih awal karena besok kelas 12 akan melalukan karya wisata.
Kalau bukan karena ancaman kecil dari omnya itu, bisa dipastikan Bryan tidak akan ikut acara itu. Lagipula lebih menyenangkan pergi liburan hanya berdua dengan Cahya, dibandingkan ikut acara rombongan seperti ini.
Tolong garis bawahi kata hanya berdua, ya.
Tapi sudahlah, yang penting saat tiba disana. Bryan tidak akan jauh - jauh dari Cahya. Bahkan kalau bisa mereka berdua menginap di tempat yang sama. Lebih tepatnya di kamar yang sama.
Balik lagi ke posisi Bryan dan Cahya.
Mereka berdua tadinya ingin langsung pulang, tapi tidak jadi karena mereka ingin menghabiskan waktu bersama. Ditambah lagi mereka juga harus membeli beberapa barang yang mereka butuhkan untuk karya wisata nanti.
Dan tibalah kini keduanya di sebuah pusat perbelanjaan. Tapi terlebih dulu mereka berdua mengganti seragam mereka dengan pakaian biasa.
"Aku mau ganti baju dulu, ya." Niatnya Cahya ingin meminta izin pada suaminya itu kalau dirinya ingin ke kamar mandi yang ada di basement mall ini untuk berganti pakaian.
Ooh, ya. Di mobil mereka memang sudah tersedia beberapa steel pakaian, jadi saat ada acara dadakan seperti ini, mereka lebih gampang untuk berganti pakaian.
Baru saja ingin membuka pintu, tangan Cahya lebih dulu ditarik oleh Bryan. Cahya menatap bingung kearah suaminya itu. "Kenapa, Bryan?"
"Ganti disini saja." Balasan itu malah membuat Cahya menaikkan alisnya bingung.
"Maksudmu, aku ganti baju disini? Didalam mobil?" Bryan mengangguk mengiyakan perkataan istrinya itu.
"Kenapa harus disini. Di kamar mandi kan bisa, Bryan?" Tanya Cahya lagi.
Bryan tampak menghela napas sebentar sebelum menatap tepat di mata istrinya itu. "Aku tidak mau ada yang melihatmuย saat berganti pakaian apalagi sampaiย merekammu menggunakan kamera tersembunyi."
Cahya menjatuhkan rahangnya tak percaya dengan apa yng barusan dia dengar itu. Cahya tahu kalau Bryan itu bisa bertindak posesif. Tapi tidak seperti ini juga, bahkan Cahya baru tahu kalau kasar ke posesifan Bryan mulai meningkat seperti ini.ย ย
Tanpa aba - aba, Cahya langsung mencubit gemas kedua pipi milik Bryan. "Issh, ngemesin banget sih, suaminya siapa sih ini."
Perasaan yang di cubit pipinya, tapi kok efeknya sampai ke detak jantungnya, ya. Bryan - Bryan. Perlahan pipi Bryan mengeluarkan semburat merah membuat Cahya tertawa gemas melihatnya.
"Kamu kenapa suamiku tercinta? Kok pipinya merah begitu." Masih dengan suar tawanya, Cahya kembali melontarkan pertanyaan yang semakin menambah tebal warna merah di pipi Bryan.
Tanpa mengatakan apa - apa, Bryan langsung menerjang tubuh Cahya dengan melayangkan banyak gelitikan diarea pinggang dan kecupan di area wajah istrinya itu.
Cahya mengerang kecil ketika mendapati tingkah usil suaminya itu. Bukannya apa, tapi Cahya tidak siap menerima bertubi - tubi kejahilan yang dilakukan suaminya itu.
"Bryan, hentikan. Geli." Cahya sungguh tidak tahan dengan gelitikan yang diberikanย oleh Bryan padanya itu.
Tapi seakan tak mendengar, Bryan masih saja melanjutkan aksi mengerjai istrinya itu. "Rasakan, siapa suruh berani menggodaku duluan. Maka inilah hukumannya."
Cahya kembali memekik ketika Bryan yang bukannya menghentikan gelitikannya malah menambah kecepatannya.
Untung saja kaca mobil mereka itu gelap, jadi orang dari luar tidak akan tahu apa yang sedang terjadi di dalam mobil ini. Tapi orang yang ada didalam mobil bisa melihat dengan jelas apa yang ada di luar mobil.
Bryan baru menghentikan aksinya ketika melihat Cahya mulai lemas dan sedikit mengeluarkan air mata di sudut matanya karena kebanyakan tertawa itu.
__ADS_1
"Iya, maaf. Tadi itu kan aku hanya bercanda." Ucap Cahya begitu reda dari efekan gelikan Bryan tadi.
Bryan hanya mengangguk kemudian berniat untuk membuka seragamnya. Cahya yang tadi memang menghadap kearah Bryan pun sontak membulatkan matanya kaget.
"Jangan buka disini, Bryan?" Cegah Cahya menghentikan aksi buka seragam yang dilakukan oleh Bryan itu.
Bryan menghentikan aksinya dan kini mulai memperhatikan istrinya yang saat ini sedang memalingkan mukanya itu.
Niat jahil dibenak Bryan sebutkan muncul. Di dengan pelan mulai membuka semua kancing seragamnya. Setelah semuanya terlepas, Bryan segera membuka seragamnya dan mulai membuangnya ke jok belakang.
Jadi saat ini Bryan sudah bertelanjang dada disamping Cahya yang masih saja setia memalingkan muka. Bryan tidak tahu saja, kalau sebenarnya Cahya sudah menutup matanya karna malu.
"Sayang lihat sini. Aku tidak jadi ganti baju." Ujar Bryan yang jelas - jelas sebuah kebohongan. Padahal nyatanya dia sudah lepas seragam.
Cahya menggelang pelan, "Nggak mau. Pasti kamu bohong, kan." Cahya tahu kalau selain Bryan itu posesif. Dia juga sangat sering mengerjainya.
Dan kali ini Cahya tidak berniat menjadi korban kejahilan suaminya itu.
"Aku beneran nggak bohong. Coba lihat kemari, biar kau percaya." Bryan masih mencoba menyembunyikan tawanya begitu melihat respon gelengan dari istrinya itu.
"Nggak mau, kamu pasti lagi ngerjai aku, kan. Aku tidak akan tertipu lagi." Cahya masih kekeh dengan posisinya saat ini yang sedang membelakangi Bryan.
Dengan tarikan yang cukup kuat, tubuh Cahya berpaling ke hadapan sang suami. Karena terkejut, reflek Cahya membuka matanya.
Dan bisa kalian tebak, hal apa yang pertama kali Cahya lihat. Yups, benar. Tubuh indah milik suaminya itu. Benar kan apa yang di pikiran Cahya, kalau suaminya itu pasti mengerjainya.
"Bryan, kenapa harus buka seragam segala, sih!" Dengus Cahya kesal karena kelakuan usil sang suami.
Bukannya meraka bersalah, Bryan malah terkekeh begitu melihat respon memerah di wajah cantik istrinya itu.
"1 - 1, sayangku. Sekarang kita impas." Kekeh Bryan sambil mengambil baju yang ada di jok mobilnya. Tanpa perlu waktu lama, kini baju tadi sudah terpasang membalut tubuh atletisnya itu.
Tanpa mengatakan apa - apa, Cahya langsung saja beralih duduk ke jok belakang lewat celah kursi depan. Baru saja Bryan ingin bertanya, tapi suara Cahya lebih dulu mendahuluinya.
Bryan menurut, tapi sesekali Bryan mengerjai Cahya dengan berbicara "Itu apa, kok bulat - bulat gitu." Ucapnya usil.
Cahya tak menghiraukan ucapan tersebut. Dia malah semakin mempercepat proses ganti bajunya. Tapi bukannya berhenti, Bryan malah semakin menjadi.
"Kok di tengahnya ada warna pink gitu. Lucu deh kalau bisa lihat langsung." Cahya mengeram kesal akibat ucapan Bryan barusan.
"Bryan jangan macem - macem deh." Dengus Cahya yang tak dihiraukan oleh Bryan.
Jujur saja Bryan hanya bercanda dengan apa yang dia katakan itu. Buktinya dia sama sekali tidak menoleh kearah Cahya. Dan masih tetap menghadap ke depan seperti apa yang disuruh Cahya tadi.
"Iih, kok sekarang sudah nggak kelihatan sih. Padahal pink - pinknya lucu loh." Sepertinya niatan Cahya untuk menjambak rambut Bryan bisa segara terlaksana.
"Bryan!!!" Sungut Cahya yang di balas ketawaan dari suaminya itu.
๐๐โ๐๐
"Hei, sayang. Kenapa cepat sekali jalannya." Bryan masih berusaha mengimbangi laju kaki sang istri yang sejak keluar dari mobil sudah secepat ini.
Ngomong - ngomong, saat ini keduanya sudah berada didalam gedung pusat perbelanjaan. Dan sejak Cahya keluar dari mobil, dia sama sekali tidak menanggapi apa yang dikatakan suaminya itu.
Salah Bryan sendiri, kenapa masih saja mengerjai Cahya. Kan ini balasannya.
Hup
Tangan Kanan Cahya di tangkap oleh Bryan, membuat langkah kaki Cahya terhenti. "Masih marah?"
Tanpa menjawab pun seharusnya Bryan tahu kalau Cahya ini sedang kesal dengannya. Dan ini apa, Bryan malah bertanya hal tersebut kepada Cahya.
Jelas lah, jawaban Cahya pasti tidak. Yups, tidak! Karena sejujurnya Cahya hanya ingin membalas perbuatan Bryan dengan balik mencueki Bryan.
__ADS_1
'Sepertinya itu tidak buruk juga kan, ya?' Batin Cahya sambil menahan senyumannya.
Bryan membuang napas panjang, dirinya akui kalau kali ini dia yang salah. Niatnya hanya ingin mengerjai, kalau tahu Cahya akan marah seperti ini. Bryan pasti tidak akan melakukan aksi jahilnya itu.
"Aku hanya bercanda, tidak lebih sayangku." Cahya bergidik sendiri begitu mendengar ucapan sayangku dari mulut suaminya itu.
"Sudah deh, Nggak mau denger lagi." Ucap Cahya sambil menutup kedua tangannya. Dalam sekali sentak, akhirnya tangan Cahya terlepas dari genggaman tangan Bryan.
"Ayo. Katanya tadi mau beli se--," ucapan Cahya terpotong oleh sebuah teriakan di balik tubuhnya. Membuat baik Cahya dan Bryan menoleh kearah sumber suara.
"Kak Bryan!" Panggil seorang gadis yang kini mulai berlari mendekati Cahya dan Bryan.
Rasa dongkol di hari Cahya kembali mencuat, kala mengetahui siapa yang kini berlari ke arahnya itu. Ralat, lebih tepatnya kearah suaminya yang tak lain adalah Bryan.
"Kakak disini juga. Kok bisa samaan, ya. Jangan - jangan kita jodoh ya, kak." Ucap gadis itu yang tak lain adalah Viona.
Cahya berdehem begitu mendengar ucapan manis yang terasa dibuat - buat itu. Sedangkan Viona berbalik menatap Cahya dengan raut wajah sinis. Tapi begitu kembali menghadap Bryan, senyumannya kembali terbit.
Huft๐ค
Cahya menghembuskan napas kasar, dirinya tak menyangka akan kedatangan tamu tak diundang seperti Viona kali ini.
Lagipula, apa itu tadi. Jodoh? Hello, tolong sentil ginjal Viona sekarang juga๐ค. Beraninya bilang jodoh dengan Bryan, padahal si Viona itu tahu kalau Cahya itu tunangan Bryan. Bahkan kalau tahu yang sebenarnya, apa masih bisa Viona menggoda suaminya itu.
Kesal banget kalau jadi Cahya saat ini, karena melihat tangan kiri sang suami tiba - tiba dirangkul oleh Viona. Cahya ragu, Viona ini sebenarnya pura - pura lupa atau amnesia sih.
Masa dia bisa lupa dengan kejadian di pertemuan terakhir mereka itu. Dimana Viona meninggalkan jejak tangannya di pipi Cahya, yang membuat Bryan marah padanya.
Kalau beneran pura - pura lupa, berarti Viona memiliki muka tembok sekali teman - teman. Kalau Cahya jadi Viona, pasti dirinya sudah tidak akan berani mengganggu hubungan keduanya itu.
Tapi ini...
Dan Cahya semakin bertambah kesal karena melihat respon Bryan yang diam saja dirangkul oleh Viona. Cahya berbalik membelakangi kedua anak manusia ini, setelahnya ia berjalan kedepan dengan kaki di hentakan.
"Ayo, katanya tadi mau beli sesuatu. Kalau nggak jadi ya sudah, aku pulang!" Tekan Cahya di kalimat terakhirnya itu.
Mulai ngegas Cahya kita, teman - teman๐
Bryan menyentak rangkulan Viona di lengannya itu, kemudian mulai menyusul istrinya yang sepertinya tengah terbakar cemburu itu.
Seulas senyum di bibir Bryan terkembang kala melihat respon api cemburu dari sang istri. "Lucu juga kalau sedang cemburu begini." Batin Bryan yang masih menatap sang istri yang masih menghentakan kakinya kesal itu.
Tapi senyuman Bryan mulai memudar begitu mendengar seruan di belakangnya itu. "Kak, Bryan. Aku ikut kakak, ya."
"Ini anak satu nganggu mulu, sih." Gumam Bryan kesal dengan kelakuan gadis di belakangnya itu. Bryan semakin mensejajarkan badannya di samping istrinya itu. Dan mulai merangkul mesra bahu mungil sang istri.
Walaupun awalnya sempat mendapat sentakan, tapi bukan Bryan namanya kalau menyerah begitu saja dan membuat Cahya tak bisa luluh padanya itu.
โ๐โ๐โย ย
.
.
.
๐My Bipolar Boy๐
Terimakasih sudah hadir dan menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. Terimakasih juga untuk setiap Vote dan Komentar kalian semua๐๐
๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ๐
Sampai jumpa lagi๐๐
__ADS_1