
🍁My Bipolar Boy🍁
Pasti dengan melihat apa yang terjadi apalagi posisinya dengan Bryan tentunya akan membuat orang lain salah paham. Bagaimana tidak, Bryan dengan erat memeluk pinggangnya dan dia masih tertidur dengan lelap.
Seingat Cahya tadi malam dia menaruh guling di tengah-tengah mereka, tapi sekarang kemana guling itu. Bahkan Cahya tidak melihat guling itu berada diatas ranjang.
Cahya bergulir menatap kearah keluarganya, bisa ia lihat tatapan dari beberapa pasang mata yang menatapnya terkejut. Bahkan paman dari Bryan saja sampai mengangga begitu.
Cahya sekarang menatap Bryan yang masih setia memeluk pinggangnya. Dia berniat membangunkan Bryan agar kesalahpahaman ini tidak berlanjut.
"Bryan bangun. Bryan bangun." Panggil Cahya tapi tak ada respon sama sekali. Hal itu makin membuat Cahya panik.
"Bryan, bangun. Bryan bangun." Kali ini Cahya lebih mengeraskan volume suaranya agar Bryan cepat bangun.
Cahya berusaha menepuk bahu Bryan agar cepat bangun dari tidurnya itu. Akhirnya setelah percobaan beberapa kali, nampak Bryan mengeliatkan tubuhnya.
"Ada apa, Vino masih mengantuk." Ucapnya yang terdengar parah khas orang yang baru bangun tidur.
Cahya sempat kaget saat orang di sebelahnya itu adalah si Vino bukannya Bryan. Tapi dirinya tak ingin memusingkan hal itu dulu. Karena masalah didepan matanya jauh lebih memusingkan nantinya.
"Bangunlah dan lihatlah apa yang ada di hadapanmu." Ujar Cahya sambil menatap kearah Vino sebelum kembali menatap kearah 5 orang didepan ranjangnya itu.
Vino membuka matanya paksa saat Cahya menyuruhnya untuk menatap kearah depannya. Dan bisa ia lihat kalau ada ayah, mama dan pamannya itu. Tapi 2 orang yang lainnya ia tidak tau siapa.
"Ayah, mama, sama paman kenapa ke kamar Vino?" Sepertinya Vino tidak ingat kalau ini bukan kamarnya melainkan kamar hotel.
"Vino mandi dulu, ya. Mama mau bicara sama Cahya sebentar." Suruh Irena pada putranya itu.
Bukannya menuruti apa kata sang mama, Vino malah menggelengkan kepalanya. "Vino masih ngantuk, ma. Vino mau bobo lagi." Ucapnya dengan parah khas orang bangun tidur.
"Ya, sudah. Vino bobo lagi. Mama dan yang lainnya ada didepan, ya." Setelah mengatakan hal itu, Irena memberi kode pada semuanya untuk keluar dari kamar menuju ke ruang tengah.
Semua sudah pergi keluar begitupun dengan Cahya yang tadi sebelum keluar sudah lebih dulu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kini diruang tengah suasana masih hening. Belum ada satupun yang membuka suaranya. Cahya diam diam mengeratkan gengamannya di atas pahanya. Dirinya benar benar gugup saat ini.
Bagaimana tidak? Kalau dirinya baru saja tertangkap basah tengah tidur berdua dengan Vino. Tapi jujur mereka berdua tidak melakukan hal yang dilarang. Mereka hanya tidur berdampingan tanpa melakukan apa apa.
Tapi apa mereka yang melihatnya posisinya tadi bisa langsung percaya. Sungguh Cahya sangat gugup saat ini.
"Ada hal yang ingin mama bicarakan padamu, kau tidak melakukan hal 'itu' kan?" Pertanyaan dari mama Irena membuat Cahya langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, ma. Kami hanya tidur di ranjang yang sama, tidak lebih." Cahya berusaha menyakinkan mamanya Vino itu kalau ia dan Vino tidak melakukan apapun selain tidur.
__ADS_1
Melihat tatapan yang Cahya berikan padanya membuat Arena menghela napas lega. "Baiklah, mama percaya. Lagian kalau kalau mau melakukan hal itu tunggu sampai 4 hari kedepan, ya." Godaan itu membuat pipi Cahya memerah karena malu.
Sedangkan sang suami terkekeh melihat wajah calon menantunya yang memerah itu.
Banyak pertanyaan yang dilontarkan sang bibi dan juga mamanya Vino itu pada Cahya. Yang dibalas jawaban sejujur jujurnya oleh Cahya, termasuk juga alasan kenapa tidak pulang kerumah. Dan Cahya menjawabnya karena hujan deras jadi mereka berdua memutuskan untuk menginap di hotel ini.
Sudah 1 jam sejak kepulangan Cahya dan keluarga dari hotel ini. Sedangkan Bram yang tadi disana sudah kembali ke sekolahan untuk mengurusi keperluan Ujian Nasional yang hanya menunggu hitungan minggu untuk diadakan.
Vino yang tadi menyambung tidurnya saat ini sudah terbangun dari tidur lelapnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, tapi hanya dirinya yang berada di kamar bernuansa putih itu.
Dirinya lantas turun dari ranjang dan melangkah menuju keluar kamar untuk mencari keberadaan seseorang. Singkatnya tadi ada banyak orang tapi kenapa sekarang sepi sekali.
"Ma..Mama." Panggil Vino berusaha mencari keberadaan mamanya itu.
"Ma.."
Belum sempat Vino selesai bicara, terdengar sahutan dari arah dapur "Vino sudah bangun."
Tanpa aba aba Vino langsung memeluk mamanya, Irena yang menerima pelukan itu langsung membalas pelukan sang putra. "Vino kenapa, ehm?"
Sedangkan Vino hanya menggeleng. "Vino laper, ma." Mendengar jawaban sang putra membuat Irena terkekeh geli.
"Ya, sudah. Vino mandi dulu baru makan, ya. Nanti mama siapin makanannya." Vino langsung melepaskan pelukannya kemudian mengangguk.
Untuk pakaiannya sudah disiapkan, bersamaan dengan pakaian Cahya tadi pagi. Karena baik Vino maupun Cahya tidak ada yang bawa baju ganti.
Beberapa menit kemudian, barulah Vino tiba dan segera menghampiri mamanya itu.
Irena yang menyuruh Vino untuk duduk "Duduklah, Vino." Vino langsung duduk disamping mama itu. Irena langsung menyiapkan makanan untuk anak kesayangannya itu.
Dengan riang, Vino menerima sodoran piring yang diberikan mamanya itu. Niat awal Vino langsung ingin menandaskan makanan yang ada dipiringnya itu.
Tapi sang mama lebih dulu menahannya. "Berdoa dulu, Vin." Ucap Irena sambil memegang tangan putranya itu.
Vino menepuk keningnya karena terlupa sesuatu. Dengan perlahan Vino memejamkan mata sambil menumpu kedua telapak tangannya didepan dadanya.
"Aamiin." Selesai Vino berdoa kemudian dia langsung memakan makanannya itu. Disampingnya Irena tersenyum melihat tingkah putra sematawayangnya itu. Irena juga ikut menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Kedua ibu dan anak itu saling bercanda dan bercerita selama makan. Sungguh sangat menyenangkan melihat keduanya itu.
Selesai makan, Vino baru sadar kalau didalam kamar hotel ini hanya ada dirinya dan sang mama. Lantas kemana perginya kelima orang lainnya itu.
"Ma," Panggil Vino kepada mamanya itu.
Irena menoleh kearah sang putra yang ada disampingnya. Kini keduanya tengah berada diruang santai. Keduanya asyik menonton kartun kesukaan Vino.
__ADS_1
"Ayah dan Uncle Bram kemana? Bukannya tadi mereka ada disini. Terus Cahya kemana, ma? Lalu kedua orang tadi itu siapa, ma? Vino belum pernah melihat mereka." Tanya Vino bertubi tubi.
Irena tersenyum simpul mendengar rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh Vino. "Ayah pergi ke kantor, uncle bram kembali ke sekolah untuk mengurusi sesuatu. Dan kedua orang tadi itu paman dan bibinya Cahya." Jelas Irena pada putranya itu.
Merasa tidak puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh mamanya itu, Vino kembali bertanya. "Lalu Cahya kemana? Dia pergi ninggalin Vino ya, ma?"
Irena menggeleng, kemudian dia menatap Vino lembut. "Cahya tidak ninggalin Vino, Cahya hanya pulang ke rumahnya. Tadi dia dijemput paman dan bibinya itu."
Vino mengangguk mengerti. Kemudian kembali membuka suaranya. "Vino mau ketemu Cahya, ma. Bolehkan?"
Irena menatap Vino sebentar sebelum menggeleng pelan. Hal itu membuat Vino menurunkan senyumannya. "Kenapa, ma?"
Sejujurnya tadi mereka semua sudah membahasnya, tentang Vino dan Cahya yang tidak boleh bertemu dulu. Istilahnya mereka berdua tengah dipingit sebelum menikah. Jadi kedua belah pihak keluarga juga sudah menyetujuinya termasuk Cahya sendiri.
Lagian masa pingitannya hanya paling lama sampai 4 hari saja. Karena pernikahan keduanya hanya tinggal menghitung hari saja.
"Ma," panggil Vino lagi karena mamanya itu tidak menjawab pertanyaannya itu.
"Cahya masih sibuk untuk mengurusi kepindahannya dari sekolah lamanya, Vin. Lagian kan tadi Vino sudah bertemu dengan Cahya."
"Tapi tadi Cahya tidak pamit dengan Vino, ma. Vino mau ketemu dengan Cahya, ma." Rengek Vino membuat Irena bingung harus bagaimana.
Irena masih menggeleng pelan membuat Vino mengerucutkan bibirnya itu. "Ma," Vino menunjukkan raut wajah melas miliknya membuat Irena tidak tega. Tapi dia juga tidak bisa mengizinkan Vino untuk bertemu dengan Cahya.
"Tolong mengertilah, Vin. Beberapa hari lagi, Vino pasti ketemu sama Cahya. Vino sabar menunggu, kan?" Bukannya mengangguk, Vino malah menggeleng.
"Tapi Vino mau ketemu Cahya sekarang, ma. Sebentar saja. Ya Ya ya," bujuk Vino yang berusaha meluluhkan hati mamanya itu.
Tapi lagi lagi Vino harus menelan rasa kecewa saat mamanya masih tidak mengizinkannya untuk bertemu dengan Cahya.
"Baiklah, Vino ngambek sama mama." Begitu mengatakan hal itu, Vino lantas berlalu menuju ke kamarnya tadi itu. Meninggalkan Irena yang masih tertawa pelan begitu melihat raut wajah putra kesayangannya itu.
Irena tahu kalau putranya itu tidak bisa marah lama lama padanya. Kalau dia lapar, pasti Vino akan mencarinya. Irena masih terkikik begitu membayangkan anaknya yang saat ini sedang dalam mode ngambeknya itu.
************M.B.B**********
...Perhatian Harap Dibaca...
Maaf karena suka lama untuk Upadate, lagi fokus ke dunia nyata dulu🙏..
Kalian masih setia baca M.B.B kan? Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya, guys😉. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini😊. Usahakan untuk memberi Vote, ya. Kalau tidak juga tidak apa apa.
🍁Terimakasih Semuanya🍁
__ADS_1
😍😇😍