My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
90. Tegang


__ADS_3

🍁My Bipolar Boy🍁


Akhirnya acara pernikahan usai sudah. Bahkan kini sang mempelai sudah digiring masuk kedalam kamar hotel yang sudah disiapkan sebelumnya.


Kini Cahya melangkah dengan gugup saat mengikuti Bryan yang berjalan lebih dulu di depannya. Bahkan sejak tadi degup jantungnya tidak ingin berdetak dengan normal.


Sejak tadi, Cahya menahan debaran yang tak kunjung usai. Apalagi sebelum kesini, dia di usili oleh pamannya Bryan. Siapa lagi kalau bukan paman Bram.


Sejak tadi keduanya di cie-cie kan oleh paman Bram. Ditambah lagi dengan godaan yang berakhir tepukan yang dilayangkan oleh Bryan kearah pamannya itu.


Bagaimana Bryan tidak kesal, sejak tadi pamannya itu tidak berhenti menggoda isterinya. Bahkan tadi Bryan melihat sendiri kalau pipi Cahya merona akibat godaan yang dilayangkan oleh pamannya itu.


Maka jangan salahkan Bryan kalau tadi dia kelepasan memberikan tepukan keras ditangan Bram saat akan menyentuh tangan istrinya itu.


Mungkin saja saat ini Bram tengah diobati oleh kakaknya alias mamanya Bryan. Untung saja Bryan tidak memukul wajah Bram, coba kalau itu ia lakukan. Maka bisa dipastikan, wajah Bram akan membiru keesokan harinya.


Kini kedua anak manusia itu mulai memasuki kamar yang telah disiapkan. Bahkan dengan gugup, Cahya memasuki ruangan yang ternyata sudah di hias ala kamar pengantin itu.


Jujur saja, Cahya masih bingung dengan apa yang harus dirinya lakukan itu. Apalagi kalau mengingat ini merupakan malam pertamanya dengan Bryan.


Memikirkannya saja mampu membuat pipi Cahya kembali bersemu. Bryan yang tadi mempersilahkan Cahya masuk terlebih dahulu, kini menatap Cahya dengan alis terangkat.


"Kau kenapa?" Pertanyaan itu membuat Cahya menoleh kearah belakang. Dimana posisi Bryan berada saat ini.


Cahya mengangkat alisnya bingung. "Kenapa apanya?" Jelas Cahya belum paham kenapa Bryan menanyakan tentang dirinya yang bahkan tidak kenapa-napa.


Bryan mengeleng pelan. Setelah menutup pintu kamar, Bryan melangkah mendekati Cahya yang membuat Cahya semakin gugup dibuatnya.


Kini posisi Bryan sudah tepat berada didepan Cahya. Cahya sedikit mendongak agar bisa menatap wajah Bryan. Jelas saja, karena tubuh Bryan lebih tinggi daripada Cahya. Makanya Bryan harus menunduk dan Cahya harus mendongak untuk saling bertatap.


"Kau bersemu karena gombalan pamanku itu." Mendengar ucapan itu membuat Cahya mengeleng. "Lalu kenapa?"


Sekarang ini Cahya menunduk, masa dia harus jujur kalau sebenarnya dia gugup sebab ini malam pertama dengan status mereka yang sudah menikah itu.


Tak mendengar jawaban dari Cahya membuat Bryan memajukan langkahnya mendekati Cahya. Cahya yang merasakan kalau Bryan semakin mendekat kearahnya mendengarkan kepalanya.


Seketika tatapan keduanya bertemu. Bahkan jarak diantara keduanya sudah lumayan dekat. Semakin dekat posisi Bryan dengannya, maka semakin kencang detak jantung Cahya.


"Kenapa?" Satu kata yang Bryan ucapkan seakan sarat akan nada menuntut jawaban.


Nada suara yang dikeluarkan oleh Bryan membuat Cahya sedikit takut. Dengan langkah mundur, Cahya berusaha menjaga jarak dengan Bryan.


Tapi setelah melihat tatapan mata yang dipancarkan oleh Bryan membuat Cahya menyesal memundurkan langkahnya.


Tahu begini dirinya pasti tidak mungkin melangkah menjauh. "Bry.." Belum sempat Cahya menyelesaikan ucapannya, Bryan sudah lebih dulu mendorong pelan tubuh Cahya kearah ranjang yang penuh kelopak bunga mawar itu.


Bruk


Tubuh Cahya sukses terlentang diatas ranjang. Cahya tidak mengira kalau Bryan akan mendorongnya. Cahya yang belum mempersiapkan diri pun akhirnya jatuh keatas ranjang walaupun dengan dorongan pelan yang dilakukan oleh suaminya itu.


Belum hilang rasa keterkejutan Cahya tadi, kini ditambah lagi dengan Bryan yang tiba tiba menindih badan Cahya membuat sang empunya tubuh langsung menegang seketika.


Walaupun posisi Bryan saat ini tidak benar benar menindih badan Cahya melainkan memberi sedikit jarak diantara tubuh mereka.

__ADS_1


Deru napas Cahya terdengar memburu. Sebenarnya diantara semua yang ia rasakan saat ini, yang paling dominan adalah rasa gugup. Bagaimana pun juga wajar bila memiliki perasaan gugup seperti saat ini.


Ditambah lagi memang status mereka berdua sah dimata agama dan negara.


"Bryan." Ucap Cahya pelan. Dia sendiri masih berusaha untuk menormalkan detak jantungnya. Ditambah lagi, Bryan masih setia menatap dalam ke arahnya.


"Jawab." Tekan Bryan pada perkataannya itu. Dengan memberanikan diri, Cahya menjawab pertanyaan Bryan tadi.


"A..ku gu..gup kare..na mu." Bryan menaikkan alisnya pertanda bingung dengan apa yang diucapkan oleh Cahya itu.


Menyadari raut bingung diwajah suaminya itu membuat Cahya menelan salivanya gugup. "Ini ma..lam per..tama ki..ta." Perkataan gugup dari istrinya itu mampu membuat sudut bibir Bryan terangkat, menciptakan smirk andalannya.


🔞Warning Guys🙈🔞


"Lalu kenapa kalau ini malam pertama kita. Memangnya apa yang mau kau lakukan bersamaku?" Bryan menaik turunkan alisnya berniat menggoda Cahya.


Wajah Cahya semakin bersemu merah dibuatnya, membuat Bryan ingin sekali memakan istrinya itu. Memakan dalam artian lain, ya😏.


Dengan cepat bahkan sebelum di sadari oleh Cahya, Bryan sudah melayangkan kecupan lembut di bibir pink miliknya itu. Hal itu tentu saja membuat Cahya membeku.


Bryan menatap wajah istrinya yang saat ini tengah terdiam akibat ulahnya itu. Dengan gemas, Bryan kembali melancarkan kegiatan yang sempat terhenti itu.


Cahya tak kunjung membalas kecupan itu. Tapi dirinya juga tidak menolaknya. Saat ini pikiran Cahya entah melayang kemana. Tapi hal itu tak berlangsung lama, sebab Bryan mengigit kecil bibirnya itu membuat Cahya mengaduh pelan.


Hal itu tidak disia-siakan oleh Bryan yang masih saja melancarkan aksinya bersama istrinya itu.


Kita biarkan sepasang suami istri baru itu dengan kegiatan mereka. Terserah kalian ingin membayangkannya bagaimana. Aku nggak mau kasih tahu😆.


Setelah sampai ditempat tujuannya, seseorang tadi menempelkan telinganya di daun pintu. Orang tadi sepertinya berniat untuk menguping pembicaraan dari sang pemilik daun pintu itu.


Tapi sejauh ini orang tadi sama sekali belum mendengar g apapun dari balik pintu itu. Sungguh orang tadi bukanlah orang jahat. Tapi orang yang terlalu kepo dengan urusan orang lain. Apalagi orang lainnya itu adalah keponakannya sendiri.


Orang tadi masih berusaha mendengar suara dari dalam kamar yang ada di depannya itu. Tapi sampai saat ini belum juga bisa dengar suara keponakan dan keponakan iparnya itu.


Tapi sepertinya kelakuan orang itu mengundang rasa penasaran dari sosok yang kini mulai mendekati orang tadi dengan pelan.


Saat sudah sampai di belakang orang tadi. Sosok tadi langsung berdehem membuat orang tadi terkejut.


"Yak, kenapa kau mengagetkanku." Seru orang tadi yang tak lain adalah paman Bram. Sedangkan sosok tadi hanya menatap penuh selidik kearah adik ipar sahabatnya itu.


Paman Bram lama-lama risih juga dipandangi begitu. "Kenapa menatapku begitu?"


Bukannya menjawab, sosok tadi malah balik bertanya, "Kenapa kau disini?" Paman Bram tampak gelagapan saat ditanyai begitu.


Mana mungkin dirinya bilang, dia disini karena penasaran dengan malam pertama keponakannya itu. Itu sama sekali bukan ide yang bagus. Bisa-bisa dirinya dicermati habisan sama kakaknya itu.


Tanpa mendengar jawaban dari Bram saja, sosok tadi tahu apa yang akan Bram lakukan disini. "Sebaiknya kau masuk ke kamarmu. Daripada kau kena masalah nantinya." Saat sosok tadi yang tak lain adalah Om Ibram.


Bram mengeleng pelan. Dia masih penasaran. Sedangkan mengatasi rasa penasaran itu adalah dengan mencari tahu sumber dari rasa penasaran itu sendiri.


Dengan gerakan pelan, Bram berusaha membuka pintu itu dengan sepelan mungkin. Tapi apa yang keduanya dengar membuat keduanya membeku.


"Aww, sakit Bryan."

__ADS_1


"Salah sendiri, kenapa kau mendorongku."


"Kau yang salah malah menyalahkanku."


"Lihat, lecet kan. Sampai berdarahkan."


"Ya, mau gimana lagi. Sudah resikonya."


"Issh, nyebelin banget sih."


"Baiklah, aku minta maaf. Sini aku elus elus biar nggak sakit lagi."


"Tapi pelan pelan. Aww, Bryan. Aku kan sudah bilang pelan pelan."


"Iya, sungguh cerewet istriku ini. Jadi pengen nyium lagi."


"Issh, Bryan kenapa nyium aku terus sih."


"Habis kamu ngemesin. Aku pengen makan kamu deh."


Plak


"Aduh, kenapa memukulku."


"Katanya mau ngobatin. Tapi dari tadi kamu nyium aku mulu."


"Iya, ya. Sini dekatan dong."


Setelah itu tidak ada lagi suara yang terdengar membuat Bram dan Ibram saling pandang. Setelah itu suara dari 2 orang yang ada dikamar itu kembali terdengar membuat Bram dan Ibram langsung menegang.


"Kita lanjutin yang tadi, ya. Kan ini sudah aku obati dan sudah tidak sakit lagi, kan."


Dan terdengar suara gerusak gerusuk yang membuat Bram menatap kearah Ibram.


"Aku kembali ke kamarku dulu. Tiba tiba aku merindukan isteriku." Ucap Ibram sambil melangkah menuju ke kamar hotelnya. Meninggalkan Bram yang menatap honor pada pintu yang ada di depannya itu.


Dengan langkah panjang, Bram segera menyusul Ibram disertai suara teriakan itu. "Tungguin!" Bram masih berusaha mengimbangi langkah Buram yang sudah beberapa meter di depannya itu.


Dengan langkah terburu buru, Bram masih sempatnya mengumpat dalam hati. "Sial." Batinnya sambil menatap kebagian bawah tubuhnya itu. Sepertinya Bram harus mandi air dingin malam ini😅.


Sedangkan 2 orang pemilik kamar yang mendengar teriakan dari luar kamar mereka itu saling pandang. Dengan perlahan Bryan turun dari ranjangnya itu sambil mendengus pelan, siapa sekiranya yang berteriak ditengah malam seperti ini.


Setelah sampai didepan pintu, Bryan mengernyit pelan begitu menyadari bahwa pintu kamarnya itu tidak tertutup dengan rapat. Seingatnya tadi dia menutup rapat pintu itu walapun memang tadi dia tidak menguncinya.


Setelah melihat lorong yang ada didepan kamarnya itu, tidak ada orang sama sekali. Dengan acuh Bryan kembali masuk ke kamar sambil mengunci pintu kamarnya itu agar tidak ada lagi yang menganggu kegiatannya dengan istrinya itu.


💞My Bipolar Boy💞


Jangan dibayangin, nanti malah jadi ke😍


🍁Terimakasih Semuanya🍁


😍😇

__ADS_1


__ADS_2