
🍂🍂🍂🍂🍂
Semua orang panik, begitu juga dengan beberapa pelayan yang mendengar teriakan kesakitan Vino tadi.
Irena mulai menangis sambil menatap anaknya yang tengah ada dipangkuannya itu.
"Lebih baik, Vino kita letakkan di kamarnya saja." Sanjaya berusaha tenang walau dalam hati ia juga dilanda rasa kekhawatiran yang tinggi.
Hanya saja ia tidak ingin menunjukkannya didepan sang istri dan Cahya. Bisa bisa keduanya makin panik nantinya.
Tanpa basa basi Sanjaya langsung membopong putranya dan membawanya ke kamar Vino diikuti oleh Irena, Cahya serta beberapa pelayan.
Cahya berusaha menenangkan mamanya Vino, walaupun dalam dirinya juga ada rasa khawatir yang kian pekat melingkupi.
"Ma, tenang. Vino pasti baik baik saja." Cahya mengusap lembut punggung Irena. Ia berusaha menyalurkan rasa hangat agar Irena sedikit merasa lebih baik.
"Tapi Vino bagaimana? Mama sangat khawatir," ucap Irena disertai tangisannya.
Cahya memeluk Irena tak lupa sambil mengusap punggung Irena.
"Sabar ma. Vino pasti baik baik saja." Keduanya masuk kedalam kamar begitu melihat Sanjaya masuk dan meletakkan Vino di ranjangnya.
Irena langsung menerjang sang putra yang kini mulai kehilangan kesadaran.
"Vino." Panggil Irena sambil memegang tangan Vino. Vino yang mendengarnya menolehkan pandangannya kearah sang mama.
"Ma...Ke..pala..Vin..o sa..kit." Vino tidak berhenti mengeram kala rasa sakit di kepalanya kian bertambah.
Irena yang mendengarnya langsung memegang kepala Vino. "Mana yang sakit, bilang sama mama." Irena sudah tidak mampu membendung airmata.
Sanjaya yang berada dibelakangnya langsung memeluk sang istri.
"Ma, tenang saja. Vino pasti baik baik saja."
Baik Cahya maupun pelayan yang melihat adegan barusan bisa ikut merasakan bagaimana perasaan satu keluarga itu.
Tak begitu lama, dokter yang tadi di telpon oleh Sanjaya datang juga. Ia langsung mendekat kearah Vino.
"San, lebih baik aku periksa Vino dulu." Dokter tersebut memanggil Sanjaya membuat Sanjaya dan Irena menoleh ke sumber suara.
Tanpa menunggu jawaban, dokter tadi pun segera memeriksa keadaaan Vino. Sedangkan Vino hanya bisa mengerang sambil memegangi kepalanya.
Tak lama ia meminta seseorang untuk mengambil air.
__ADS_1
"Tolong ambilkan segelas air." Cahya yang berada tak jauh dari posisi meja nakas pun segera mengambil segelas air yang memang sudah ada disitu.
Lantas ia langsung memberikannya pada sang dokter. "Ini dok." Cahya menyodorkan gelas yang dipegangnya kearah sang dokter.
"Terimakasih" dokter tadi menerima gelas tersebut sambil mengucap terimakasih yang dibalas anggukan oleh Cahya.
Tak lama dokter itu meminta Vino untuk meminum obat pereda rasa sakit yang dibantu oleh Irena.
Setelah itu Vino mulai melepaskan tangannya yang sedari tadi *** kepalanya itu. Deru nafasnya pun mulai beraturan.
Irena dan Sanjaya yang melihatnya mulai bisa bernafas lega.
"Tenang saja, Vino baik baik saja. Memangnya apa yang terjadi hingga membuat reaksi Vino seperti itu?" Pertanyaan dari dokter tersebut membuat para pelayan penasaran.
Pasalnya memang tak ada yang melihat kejadian secara langsung, hanya tahu saat Vino mengerang kesakitan saja.
"Tadi Vino sempat menahan Cahya untuk pergi, ia bahkan menggenggam kuat tangan Cahya. Jadi kamu berdua membantu untuk melepaskan genggaman tersebut." Jelas Sanjaya pada dokter sekaligus sahabatnya itu.
"Siapa itu Cahya?" Dokter tadi atau yang sering dipanggil Ibram merasa agak asing dengan nama Cahya itu.
"Ini Cahya." Irena menarik Cahya kesisinya. "Dia ini calon tunangan Vino." Perkataan itu membuat Ibram menoleh kearah Cahya dan Irena.
Merasa diperhatikan membuat Cahya menundukkan kepalanya untuk bersikap sopan.
"Halo Dokter." sapa Cahya gugup.
"Panggil saja Om Ibram." Cahya menganggukan kepalanya.
"Lalu kalau hanya seperti itu. Kenapa tadi Vino kelihatan kesakitan begitu?" Perkataan dari sang sahabat membuat Sanjaya menghela nafasnya.
"Kau tau sendirikan, kalau Vino agak manja dan posesif. Saat kami berdua ingin melepaskan tangannya dari Cahya, ia berontak. Dan tak lama ia seperti merasa kesakitan di kepalanya."
Penjelasan dari Sanjaya membuat Ibram mengangguk kepalanya pertanda mengerti.
"Oke kalau begitu. Saranku sebaiknya turuti saja kemauannya. Takutnya saat ia berontak malah akan berakibat pada ingatannya."
Kedua orangtua Vino menatap anaknya sedih.
"Bagaimana menyembuhkan Vino?" Tanya Irena yang kini mulai menangis.
Cahya yang berada di sisinya segera memeluknya dari samping.
Ibram menatap kearah Vino yang sepertinya sudah mulai terlelap.
__ADS_1
"Kurasa apapun yang ada kaitannya dengan ingatannya dimasa lalu harus dijauhkan."
"Aku hanya takut, kepribadian gandanya akan merubah mentalnya. Mungkin saat ini hanya pribadi Vino atau Bryan saja yang memenuhi jiwanya. Tapi yang aku takutkan, ada kepribadian lain yang berefek pada jiwanya."
Penjelasan itu membuat Irena tak kuasa menahan tangisnya. Ia makin mengeratkan pelukannya pada Cahya.
Cahya yang dipelukpun perlahan mengusap punggung mama Irena, seolah menyalurkan perasaan lewat usapannya.
"Tapi kalian berdua jangan khawatir, selama tidak ada yang membuatnya ingat akan masa lalunya. Vino akan tetap baik baik saja." Ucapan Ibram membuat Sanjaya menghembuskan nafas lega.
Setidaknya mereka berdua tidak perlu khawatir selama Vino tidak mengingat kenangan buruk dimasa lalunya.
"Kalau begitu, aku pamit dulu. Kasihan sekar dan Dio dirumah pasti nungguin" Ibram berniat pamit pada sahabatnya itu.
Ia memasukan peralatan yang tadi sempat dikeluarkannya kedalam tas miliknya.
Cahya yang ikut memperhatikan kini mengalihkan eksistensinya kearah jam dan ia cukup terkejut mengetahui jam berapa sekarang ini.
Jadi Cahya memutuskan untuk pamit sekalian. Walaupun ia masih khawatir terhadap Vino. Tapi tidak mungkin kan ia bersikeras untuk menemaninya.
Apalagi ia sudah berjanji pada bibinya untuk pulang sekaligus menemani bibinya itu.
Cahya membuka suaranya "Ma, Cahya pamit pulang ya? Kasihan bibi dirumah hanya bersama Aziel saja." pamit Cahya yang merasa agak tidak enak pada orangtuanya Vino itu.
Irena melepaskan pelukannya, ia menatap kearah Cahya.
Sebenarnya ia ingin menahan Cahya untuk tidak pulang ke rumahnya. Tapi bagaimana pun juga ia tidak bisa memaksanya.
"Baiklah, kau pulang naik apa?"
"Cahya pulangnya naik bus, ma." Irena menatap langsung kearah Cahya, sepertinya ia tidak setuju dengan ide pulang naik bis. Apalagi ini sudah cukup malam untuk ukuran anak gadis pulang malam.
"Kamu, diantar supir saja. Mama khawatir kalau kamu pulang sendirian. Apalagi naik bus."
Perkataan Irena membuat Cahya bingung harus jawab apa. Ia ingin menolak tapi sungkan. Mau menerima tapi rasanya agak gimana gitu.
"Bagaimana kalau Cahya pulang bersamaku saja." ucap seseorang yang baru selesai dengan urusannya.
.
.
💛💙💜💙💛
__ADS_1
Hallo Ya
Masih setia baca M.B.B kan?