
Setelah memikirkan cukup matang, mama Rena pun menyetujui usul yang diajukan oleh sang suami.
Ia juga memikirkan kondisi sang anak jika ada yang mencibir nya, itu akan menjadi masalah yang serius, karena mental nya pasti akan terganggu.
Apalagi, jaman sekarang itu, mulut saja pedasnya mengalahkan cabai.
Brian yang mengetahui Levin akan pindah ke desa pun membuat nya bersedih.
Ia membayangkan dirinya yang sendiri setiap hari nya.
Tapi mau bagaimana lagi? Ini mungkin yang terbaik untuk sahabat nya itu.
Hari ini, Rafa alias levin, sudah bisa keluar dari rumah sakit setelah luka luar dan sendinya sembuh total.
Selama di rumah sakit, baik mama Rena maupun papa Angga dibuat pusing oleh tingkah Levin yang setiap detiknya hanya diisi rengekan manja.
Oh ya, mulai sekarang panggil nya Raffa ya, jangan Levin.
Sekarang, mereka sedang berada dalam perjalanan untuk ke desa tempat mereka yang baru.
Memang Sulit untuk beradaptasi dan menerima lingkungan baru, tetapi karena mama Rena dan papa Angga yang baik hati dan ramah, membuat mereka disegani dan mudah akrab di manapun mereka berada.
"Loh mah, emang ini jalan ke rumah??" Tanya Raffa
"Iya, rumah baru" jawab mama Rena sambil mengelus pelan rambut anak kesayangannya itu.
"Nggak ke rumah lama??"
__ADS_1
Kan.... Anaknya mulai kepo lagi, kalau begini terus nggak akan ada habisnya!!!
"Rumah lama banyak tikus dan ular nya" sahut papa santai
"Hhiiii" Raffa bergidik ngeri membayangkan tikus dan ular
"Tapi pah, ini juga banyak pohon dan sawahnya, itu malah banyak tikus sama ularnya loh pah" kali ini, papa Angga sepertinya salah memberi alasan tentang ular dan tikus.
"Rumah kita direnovasi sayang, jadi kita di desa aja ya, disini banyak temannya dan udaranya juga sejuk, jadi mau ya??" Ujar mama Rena merayu
"Oke, asal sama mama"
Papa Angga yang mendengar hal itupun merucutkan bibirnya tanda tak suka dengan jawaban Raffa.
Raffa yang melihat hal itu pun malah semakin menjadi jadi dengan menjulurkan lidahnya dan tidur dengan posisi kepala menyender sang mama.
Hal seperti ini sering terjadi akhir akhir ini, sehingga tak membuatnya heran lagi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Akhirnya mereka sampai di rumah mereka.
Rumah minimalis yang dikelilingi tanaman indah yang membuat siapapun yang menjadi merasa tenang setelah melihat nya.
"Duh capek" keluh Raffa langsung membaringkan tubuhnya pada sofa yang ada di ruang tengah.
"Situ yang duduk aja cepek, apa kabar papa yang nyetir" sindir papa Angga
"Mama!!" Seru Raffa
__ADS_1
"Papah!!" peringat mama rena sambil melototkan matanya.
"Iya iya" seru papa sambil melengos pergi.
"Huuu, sama mama aja takut" ejek Raffa
"Raffa!!" Peringat mama Rena agar anaknya tersebut tidak meneruskan ejekannya
"Iya ma maaf"
Itulah kehidupan keluarga papa Angga yang tetap harmonis walau sesuatu menimpa mereka, mereka tetap semangat dan ikhlas menjalani kehidupan mereka dengan bahagia.
Setelah beristirahat, Raffa menemui mama nya yang berada di teras rumah bersama sang papa yang menikmati secangkir kopi.
"Mah, Raffa jalan jalan boleh??" Izin Raffa
"Nggak boleh sayang, disini itu, jalanan nya belok belok, takutnya kamu malah nyasar" ucap mama Rena
"Nggak jauh jauh kok mah" kali ini, rayuannya disertai dengan puppy eyes.
"Tapi....." Belum selesai berbicara, papa Angga langsung memotong ucapan sang istri
"Biarin lah mah, biar dia juga adaptasi, nanti ada yang ngawal kok" sela papa Angga
"Okelah, hati hati ya sayang" pesan sang mama
"Oke mah"
__ADS_1
🌻🌻🌻