My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
120. Kebersamaan


__ADS_3

Sejak kejadian dimana Bryan memarahi Cahya, keduanya tidak saling sapa. Cahya sendiripun lebih memilih untuk tidak sakit hati. Lagipula bertemu dengan Bryan hanya akan menimbulkan pertengkaran.


Kini di ruang keluarga apartemen Bryan tengah terjadi sedikit pertengkaran. Hal ini di sebabkan oleh Sanjaya yang berniat membawa pulang Bryan kembali ke Indonesia.


Tapi sayangnya Bryan sama sekali tidak mau. Dia ingin berada disini, karena 'kekasihnya' berada di benua ini. Tapi Irena tetap meminta agar Bryan kembali pulang.


Cahya hanya duduk diam sambiil memperhatikan ketiga orang di depannya. Sejujurnya Cahya ingin agar suaminya itu ikut dia pulang. Tapi mendengar ke kukuhan Bryan untuk tetap disini membuat Cahya menghembuskan napas panjang.


Lagi - lagi pembahasan tentang Martha membuat hati Cahya terluka. Jadi dari pada lebih sakit hati, mending Cahya tidak ikut nimbrung kedalam obrolan suami dan mertuanya itu.


"Ma, aku tetap mau disini. Lagipula pacarku juga ada disini."


"Sudah berapa kali mama katakan sama kamu, kalau Martha bukanlah pacarmu. Tapi Cahya itu adalah istrimu."


Bryan tampak menghela napas panjang, dia menatap lelah kearah ibunya yang selalu menyebut kalau Cahya adalah istrinya. Padahal tak ada secuil ingatannya tentang Cahya di pikirannya.


"Bryan, ikut mama dan ayah pulang. Untuk urusan kuliah, biar ayah yang urus." Bujuk Sanjaya kepada sang anak. Tapi seperti pilihan Bryan tetap sama.


"Ma, ku mohon. Biarkan aku disini saja." mohonnya yang membuat Irena bingung harus jawab apa.


Cahya menatap sang suami yang sejak tadi memohon untuk tinggal lebih lama disini. Dia sendiri sudah pasrah, misalkan Bryan tetap ingin disini. Dia tidak bisa memaksa.


Sanjaya menarik napas dalam. "Baiklah, ayah tidak akan memaksa kehendakmu. Kalau kau masih mau disini, silahkan." Bryan yang semula menunduk itupun mulai mendongakkan kepalanya.


"Benarkah, Yah?"


Sanjaya mengangguk pelan. "Tapi hanya sampai semua urusan kuliahmu selesai. Lalu kau harus segera pulang."


Bryan mengangguk pelan, setidaknya dia masih bisa disini. Walaupun hanya setelah urusan kuliahnya kelar. Dalam ingatannya, masih ada sisa dua bulan untuk dirinya lulus dari kampusnya itu.


"Tapi, Yah---"


Sanjaya lebih dulu memotong ucapan istrinya itu. "Biarkan saja, Ma. Lagipula tidak akan sampai 3 bulan Bryan disini."


Irena mau tak mau akhirnya ikut menyetujui ucapan suaminya itu. "Lalu kapan kita akan berangkat, Yah?"


"Nanti pukul 2 siang, Ma." Jawaban dari Sanjaya diangguki oleh sang istri.


Bryan berdiri dari posisinya membuat ketiga orang di dekatnya menatapnya seakan - akan bertanya 'Mau pergi kemana?'.


"Aku mau ketemu dengan Martha."


"Mau ngapain?" Irena menatap datar kearah putranya itu. Tidak tahukah perkataannya tadi itu bisa melukai perasaaan Cahya.


"Tentu saja berkencan lah, Ma. Memangnya mau apalagi."


"Lalu bagaimana dengan istrimu? Kau tega meninggalkan dia sendirian disini?" Sejenak Bryan menatap kearah Cahya yang juga menatapnya itu.


"Dia kan akan ikut pulang sama Mama dan Ayah. Jadi dia juga harus siap - siap dong."


"Cahya akan tetap tinggal disini bersamamu." Mata Bryan terbelalak begitu mendengar ucapan itu. Apa dia tidak salah dengar tadi.


"Bukannya tadi ayah bilang akan pulang bersamanya dan juga mama. Kenapa sekarang dia malah harus tinggal disini."

__ADS_1


Sanjaya menatap sang anak yang nampak tidak suka akan ucapannya tadi. Lagipula Sanjaya pikir, dengan Cahya ada disekitar Bryan. Ingatan Bryan pasti akan cepat pulih. Jadi dia akan ingat siapa itu Cahya di hidupnya.


"Ayah berubah pikiran, karena kau tidak mau ikut. Jadi Cahya harus tinggal bersamamu selama kau disini."


"Tapi, Ya---"


"Ayah tidak terima penolakan. Kau disini, Cahya juga harus disini. Kau ikut pulang, Cahya pun akan ikut pulang juga."


Bryan menatap datar kearah ketiga orang di depannya itu. Perasaan kesal mulai menggerogoti hari Bryan. "Terserah."


Setelah mengatakan hal tersebut, Bryan berlalu pergi. Dan tentunya tak lupa mengebrak pintu sebagai tanda bahwa dia tengah marah pada orangtuanya itu.


Cahya menatap nanar kearah hilangnya sang suami. 'Segitu tidak maunya Bryan tinggal dengannya. Sampai - sampai menolak keputusan orang tuanya itu.'. Begitulah pemikiran Cahya saat ini.


"Kau sangat berubah, Mas." Batin Cahya pilu.


🌾 🌿 🌾


"Kamu hati - hati disini, ya. Jaga diri baik - baik. Jangan lupa makan. Kamu harus ingat, sekarang kamu sedang hamil muda." Mendengar ucapan itu membuat airmata Cahya turun.


Segitu pedulinya mama mertuanya itu padanya. Sampai - sampai mengingatkannya akan pentingnya menjaga kondisinya saat ini.


"Iya, Ma. Cahya bakalan jaga diri. Mama dan Ayah baik - baik ya disana. Jangan lupa jaga kesehatan juga. Dan untuk masalah Bryan, biar Cahya yang urus, Ma."


Irena tersenyum lembut kearah menantunya itu. Dielusnya pelan kepala anak menantunya itu. "Mama percaya, kamu pasti bisa memulihkan ingatan Bryan."


"Ayah juga percaya itu. Jadi jangan menyerah, Ya." Sanjaya ikut tersenyum menyakinkan Cahya agar tidak mudah menyerah.


Suara mikrofon yang menandakan waktu keberangkatan pun tiba. Kini kedua orangtua Bryan mulai berpamitan pada Cahya. Dan mereka sedikit kecewa karena Bryan tidak mengantar mereka ke bandara.


Tapi tak jauh dari posisinya, Cahya bisa melihat kehadiran seseorang yang sangat familiar di hidupnya. Dan kini orang tadi Cahya lihat sudah ada di hadapannya.


"Mana orangtuaku?"


"Sudah naik pesawat."


Cahya masih menatap orang itu yang tak lain adalah suaminya. Siapa lagi kalau bukan si Bryan. "Darimana saja kau ini? Orangtuamu mencarimu sejak tadi."


Terdengar nada dingin yang diucapkan oleh Cahya. Entah kenapa moodnya mendadak turun hanya karena melihat wajah suaminya itu.


"Harus gitu aku memberitahu?" Cahya menghela napas. Rasanya percuma bila harus memaksa suaminya itu untuk jujur padanya. Lagipula Cahya bisa menebak kalau Bryan pasti bertemu dengan 'Kekasihnya' itu.


Cahya tak menjawab. Dia lebih memilih berlalu dari hadapan suaminya itu. Bryan yang ditinggal begitu saja hanya bisa mengumpat pelan.


Walaupun begitu, Bryan juga ikut berlaku dari sana. Sejujurnya tadi dia sempat lupa kalau orangtuanya akan pulang ke negara asalnya. Begitu ingat, dia malah tidak sempat melihat orangtuanya.


Dan sekarang, dia malah ditinggal pergi begitu saja oleh Cahya. Padahal ada hal yang ingin dia bicarakan dengannya itu.


Cahya sendiripun tak begitu memusingkan akan pulang naik apa. Toh dia tadi kesini naik mobil milik orang tuanya Bryan. Tapi langkahnya langsung terhenti, begitu sadar akan sesuatu.


"Aku kan tidak bisa naik mobil!" Pekiknya begitu sadar akan hal penting ini. Kenapa dia bisa lupa hal seperti ini. Dan sekarang dia bingung harus pulang naik apa.


Bryan yang tadi masih berjalan dibelakang Cahya pun mengernyit, begitu mendengar pekikan Cahya tadi. Apalagi saat ini dia bisa melihat kalau Cahya mendadak panik begitu.

__ADS_1


"Kenapa?"


Cahya terlonjak kaget akibat ucapan dari arah belakangnya itu. "Aku pulangnya naik apa ini?"


Alis Bryan bertaut, "Memangnya tadi kesini naik apa?" Cahya mengambil napas panjang. "Tadi kesini dengan mama dan ayah. Tapi masalahnya, aku tidak bisa nyetir mobil."


"Sini."


Cahya menatap bingung kearah tangan Bryan yang tersodor ke arahnya, seolah meminta sesuatu padanya. "Apanya?"


"Kunci mobil. Biar aku yang nyetir." Paham akan hal itu, segera saja Cahya memberikan kunci mobil yang tadi diberikan Sanjaya padanya ke tangan Bryan.


"Ayo." Walaupun tak ada gandengan yang disodorkan oleh Bryan padanya, tapi Cahya merasa hatinya menghangat. Setidaknya Bryan ada inisiatif untuk pulang bersamanya.


Ya, setidaknya ada kemajuan dalam interaksi mereka berdua.


...🌿 🌾 🌿 ...


Kini Cahya baru saja selesai masak. Dan dia berniat memanggil suaminya untuk makan bersama. Belum sempat niatnya terlaksana, Cahya sudah melihat suaminya itu berjalan ke arahnya.


Lebih tepatnya kearah pintu. Dan sepertinya Bryan ingin pergi, sebab lihat saja. Bryan sudah rapi dan tentu saja sangat tampan di matanya itu.


"Kau mau kemana?" Tidak ada panggilan 'Mas' untuk Bryan dari Cahya. Sebab setelah pulang dari bandara. Bryan memintanya untuk tidak memanggilnya 'Mas', sebab dia merasa kalau hubungan mereka tidak sedekat itu.


Makanya Cahya tidak memanggil Bryan dengan sebutan Mas. Hanya sekedar namanya saja. Walaupun itu berat untuk Cahya, tapi sebisa mungkin dia menuruti apa kata suaminya itu.


"Aku mau pergi."


"Pergi kemana?"


Bryan memutar bola matanya malas. "Kencan." Bryan dengan santainya bilang begitu pada istrinya sendiri.


Sedangkan Cahya berusaha menguatkan hatinya. Dan dia hanya ber'Oh' ria. "Tapi sebelum pergi, bisakah kau makan terlebih dulu."


"Tapi,"


"Tolong untuk kali ini saja. Aku sudah susah payah memasak semua ini untukmu." Pandangan Cahya jatuh pada makanan yang sudah dia masak.


Kalau seandainya Bryan tetap tidak mau makan masakannya. Dia bingung harus dia apakan makanan sebanyak ini. Tapi suara kursi berderit membuat Cahya mendongak.


Dan tatapanya yang tadinya sendu, berubah menjadi hangat. Begitu melihat keberadaan suaminya yang sudah duduk di depannya itu.


"Untuk kali ini saja." jawabnya yang diangguki oleh Cahya.


"Mau makan apa? Biar akan yang siapkan." Cahya bergerak mengambil piring kosong untuk mengisinya dengan makanan.


Bryan tak menjawab. Dia hanya menunjuk beberapa lauk yang dianggapnya menggugah seleranya itu. "Ini, silahkan dinikmati." Cahya menyodorkan piring yang sudah terisi kepada Bryan.


Mereka berdua mulai menikmati makan malam berdua, setelah sekian lama mereka kembali bertemu. Walaupun tak ada pujian atau komentar atas masakannya dari bibir Bryan. Yang jelas perasan ibu hamil ini sangatlah bahagia.


Sungguh sederhana sekali, ya membuat ibu hamil ini bahagia.


...🌾 🌿 🌾...

__ADS_1


...🍁Terimakasih atas Votenya🍁...


...❤  ❤  ❤...


__ADS_2