My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
95. Fansgirl Dadakan


__ADS_3

🍁My Bipolar Boy💞🍁


.


.


.


Setelah adegan penuh drama tadi, kini suasana sudah mulai ceria. Namun celetukan dari Cherlie membuat semua anggota tim kini beralih menatap kearah yang bersangkutan.


"Kak Cahya, kata Kimmy kakak sudah punya tunangan, ya?" Cahya menoleh sebentar kearah Kimmy yang disambut cengiran oleh yang bersangkutan.


Sebelum menjawab, Cahya menarik napas panjang. "Iya, kakak sudah punya tunangan." Hampir semua anggota berseru penasaran, membuat Cahya kembali menghela napas.


"Kalian ini, jangan berisik begitu. Tuh di lihatin orang-orang." Memang benar, saat ini banyak pasang mata yang menatap kearah mereka semua.


Semuanya mulai bersikap biasa, mencoba tidak seheboh yang tadi. "Terus kakak kesini sama tunangan kakak dong?" Cahya mengangguk membenarkan perkataan dari adik tingkatnya dulu.


Memang benar, kebanyakan yang ikut pertandingan kali ini adalah adik kelasnya. Ada kemungkinan para seniornya atau yang seangkatan dengan Cahya tengah sibuk mempersiapkan ujian. Mengingat memang semakin dekat dengan pelaksanaan ujian nasional.


"Terus tunangan kakak yang mana?" Pertanyaan itu membuat Cahya menatap kearah dimana Bryan berada. Begitu ditemukan posisi duduknya Bryan, Cahya lantas menunjuk dengan jarinya.


"Itu tunangan kakak." Tunjuknya pada sang suami. Sebenarnya bukan maksud Bryan dan Cahya untuk menutupi pernikahan mereka berdua. Tapi mengingat kondisi keduanya yang memang masih berstatus sebagai siswa, membuat Bryan dan Cahya mau tak mau harus menyembunyikan status sah mereka.


Walaupun awalnya sempat tidak disetujui oleh orangtua Bryan. Bahkan Bryan sendiripun awalnya juga tidak mau menyembunyikan status mereka, tapi apa boleh buat. Ini juga untuk kepentingan bersama, jadi inilah kesepakatan keduanya.


Semua tatapan penasaran tadi berubah menjadi tatapan penuh kekaguman, begitu melihat sosok sang tunangan dari Cahya tersebut.


"Beneran itu tunangan kakak?" Cahya menaikkan alisnya begitu mendengar perkataan itu. "Memangnya kenapa?"


Bukannya menjawab, adik kelasnya itu malah berkata sesuatu yang membuatnya tertawa. "Kakak nemu dia dimana? Aku mau dong satu." Ucapan itu disetujui hampir dari semua anggota tim.


"Kok dia mirip Kim Taehyung, ya kak." Pernyataan itu membuat Cahya ikut menatap kearah suaminya. Memang ia akui, suaminya itu sangat mirip dengan salah satu member dari Bts itu.


"Apa jangan jangan suaminya itu kembaran dari V Bts, ya." Batin Cahya sambil terkekeh pelan.


Merasa terus dipandangi oleh seseorang, membuat Bryan yang tadi fokus pada ponselnya kini mengedarkan pandangannya untuk mengetahui siapa sekiranya yang menatap ke arahnya itu.


Bingo 0_0


Tepat disudut lapangan sana, bisa Bryan lihat sekumpulan gadis tengah menatap kearahnya. Ternyata sang istri juga berada dalam perkumpulan itu. Melihat Bryan yang menatapnya dari arah tribun penonton, membuat Cahya melemparkan sebuah senyuman.


Hal itu tentu saja dibalas oleh Bryan dengan memberikan senyuman yang tak kalah manis dari sang istri.


Dari senyuman itu mengakibatkan pekikan yang tak bisa dikatakan pelan. Bukan hanya yang bersumber dari perkumpulan Cahya tadi, tapi juga dari banyak gadis yang memang sejak tadi menatap kearah Bryan.


"Akhh, manis banget senyumannya😳."


"Lihat deh dia senyum padaku😍"


"Jantungku deg-degan, guys😱."


"Tanggung jawab kalau aku baper loh, ya😵!"

__ADS_1


"Ya tuhan, pengen bawa pulang😗."


"Pengen jadiin suami😘."


"Karungin boleh, kan😚!"


"Langsung nikah, aku rela bang😍!"


"Inginku memiliki😘."


Jeritan itu membuat beberapa orang yang tak paham situasi hanya bisa mendengus karena merasa terganggu. Tapi bagi mereka yang tengah menatap satu titik fokus yang sama, mah masa bodo dengan mereka yang merasa terganggu.


"Maka nikmat mana yang engkau dustakan." Ucap beberapa dari adik kelas Cahya yang tertangkap pendengarannya itu. Cahya sendiri hanya geleng-geleng kepala begitu melihat banyaknya respon dari para gadis yang melihat senyum suaminya itu.


Cahya akui senyuman suaminya itu memang manis, tapi perasaan respon dia nggak seheboh gini juga pas ngelihat senyuman suaminya itu. Padahal hampir tiap hari, Cahya ngelihat senyuman manis suaminya itu.


Bryan menatap datar begitu melihat respon tak biasa dari para gadis begitu melihat senyumannya yang ia tujukan untuk istrinya seorang. Tapi ada beberapa orang yang terlalu pede, hingga mengira senyumannya untuknya. Padahal mah hanya untuk Cahya seorang.


Anda terlalu geer, Bro😆.


Walaupun sudah biasa, tapi tetap saja bisa berefek pada Cahya. Buktinya pipi Cahya mulai bersemu merah. Padahal sebelumnya mah biasa-biasa saja.


Cahya mulai menatap kearah lain, untuk meredakan pipinya yang mulai bersemu itu. Dia kembali memusatkan pandangannya pada adik kelasnya, yang ternyata masih setia menatap kearah sang suami.


"Ehem." Dehem Cahya untuk menyadarkan mereka dari rasa terpesonanya pada senyum manis milik Bryan Giovino Wirautama itu.


Semua anggota tim yang mendengar deheman itupun mulai mengalihkan pandangannya menuju kearah sumber suara. Begitu mengetahui siapa yang berdehem, membuat semuanya tersenyum kikuk.


"Sudah selesai mengagumi tunanganku." Ucap Cahya berniat menggoda adik kelasnya itu.


"Jangan cemburu ya, kak. Kami nggak mungkin ngambil dia dari kakak. Tapi kalau dianya mau sama aku, aku nggak bakal nolak." Ucap Nurul yang memang dasarnya ceplas ceplos.


Ucapan itu membuat beberapa temannya menjitak pelan kepala Nurul. "Aduh." Ringisan itu keluar dari mulut Nurul begitu merasakan kepalanya dijitak oleh teman-temannya. Ya, walaupun sebenarnya sih jitakan itu terasa pelan.


"Dasar Kamu ini. Lagipula siapa juga yang cemburu. Kamu mah ada - ada saja." Cahya yang terkekeh dalam menanggapi ucapan itu.


"Cemburu juga nggak apa-apa lagi, kak. Kan dia memang milik kakak." Goda Kimmy sambil menaik turunkan alisnya.


Cahya mengeleng pelan. "Sudah jangan bahas yang itu. Sekarang kakak mau tanya sampai mana persiapan dan strategi kalian untuk pertandingan ini?" Tanyanya serius, bukan lagi main-main seperti tadi.


Semua anggota tim mulai larut dalam diskusi ini. Dan kalian bisa lihat, bagaimana kompaknya mereka semua dalam diskusi saat ini. Buktinya semuanya mendapat giliran untuk bertanya dan menjawab mengenai strategi yang akan mereka gunakan.


"Dia mau ngapain kesana?" Gumam Kimmy pelan.


Sangking seriusnya, gumaman sepelan itupun terdengar sampai ke telinga mereka. "Ada apa, Kim?" Tanya Cahya yang memang berada disebelah Kimmy.


"Itu kak. Ngapain dia kesana deket-deket sama tunangan kakak." Ucap Kimmy yang membuat Cahya dan yang lain menoleh kearah Bryan.


Dan ternyata Bryan yang tadi duduk sendiri dibarisan tribun 3 dari atas, kini sudah berdua. Ditemani oleh seorang gadis yang tak asing bagi semuanya terutama Cahya.


Cahya tentu mengenal siap gadis itu, walaupun tidak terlalu akrab, tapi Cahya tahu siapa gadis itu.


"Iya, ngapain si Viona duduk disitu. Mana mepet-mepet lagi, kak." Cahya tak menanggapi, dirinya hanya fokus menatap kearah 2 orang disana yang terlibat dalam sebuah obrolan.

__ADS_1


Yap, gadis tadi bernama Viona Anjarsari. Salah satu primadona di sekolah sebelah. Dia juga adalah ketua tim cheerleader di sekolahnya itu.


Kenapa Cahya bisa tahu sosok bernama Viona itu? Jawabannya adalah karena beberapa kali Cahya dan Viona terlibat dalam perdebatan. Entah alasan apa sampai-sampai Viona ini sering kali membuat gara-gara dengan Cahya.


Sebenarnya bukan hanya Cahya, rekan setimnya juga pernah terlibat cek-cok dengan ketua cheerleader ini. Tapi yang paling sering memang Cahya yang direcokin mulu sama ini anak.


Ada bagian dalam diri Cahya yang merasa panas begitu melihat posisi keduanya. Dia merasa posisi mereka terlalu dekat, walaupun Cahya tahu betul siapa yang berusaha untuk mendekati dan siapa yang berusaha menjauh.


"Kak, samperin deh. Takutnya dia mau mengambil tunangan kakak. Bahaya itu loh, kak." Ucapan itu malah membuat rasa panas tadi mulai kembali menyala. Padahal sebelumnya hampir mereda.


Belum sempat Cahya membalasnya. Sebuah suara peluit mulai terdengar di penjuru Gor. Tentu saja Cahya tahu apa maksud dari tiupan peluit itu.


Itu menandakan pertandingan akan segera di mulai. 


"Kakak kesana dulu, ya. Kalian semua semangat mainnya." Support Cahya yang diangguki oleh yang lainnya. Kini semua anggota tim mulai membentuk lingkaran dan mulai berdoa untuk kelancaran pertandingan mereka. Serta begitu selesai berdua, semuanya mulai menunpukkan tangan dan bersorak, "Fighting!" Sorakan itu menggema, namun masih kalah dengan suara penonton.


"Kalau begitu, kakak pamit dulu." Cahya pamit pada semuanya untuk kembali ketempat duduknya. Dalam perjalanan menuju ke bangku tribun, Cahya masih memfokuskan pandangannya kearah sang suami.


Dan mungkinkah Cahya cemburu melihat Viona berusaha mendekati suaminya itu.


Setelah menempuh beberapa puluh detik, akhirnya Cahya sampai di barisan tribun sang suami. Dan ternyata Bryan memang sedang menatap kearahnya itu.


Viona yang sejak tadi berusaha mengajak bicara cowok di depannya itu namun tak digubris itupun mendengus dalam hati. Ditambah lagi dengan kedatangan Cahya kemari.


"Mau apa kau kesini?" Terdengar jelas nada sinis dari mulut Viona. Cahya yang semula belum dudukpun kini mulai menduduki posisi di samping sang suami.


"Duduk." Jawaban singkat yang didengarnya itu membuat Viona berdecih pelan.


"Ditempat lain kan bisa, kenapa harus disini. Kau mengganggu tahu." Cahya yang tadinya tak ingin menggubris omongan Vionapun kini balik menatap ke arahnya.


"Memangnya tempat ini punyamu." Viona berusaha menahan ke kesalannya pada Viona. Lagipula siapa yang tidak kesal kalau dianggap penganggu.


Mendengar hal itu membuat Viona semakin menatap tajam Cahya. "Lagipula kenapa kau masih disini. Tuh lihat teman-temanmu sudah manggil-manggil dari tadi."


Memang benar apa yang diucapkan oleh Cahya. Dari arah lapangan, beberapa anggota cheerleader mulai memanggil kapten mereka, siapa lagi kalau bukan si Viona ini. Tapi yang dipanggil bukannya nyaut, malah tetep disini.


Viona mengumpat pelan. Kemudian dia bangkit dari posisinya dan menatap kearah Bryan. "Ooh, ya. Nanti kamu lihat penampilan aku, ya." Ucap Viona yang terdengar dibuat-buat di telinga Cahya.


Begitu melewati Cahya, Viona melemparkan tatapan sinis yang dibalas acuh oleh Cahya. "Awas kau, jangan dekat-dekat dengannya. Dia itu incaranku." Ucapnya pelan namun penuh penekanan.


Cahya sendiri pun tak membalasnya, hanya mengendikkan bahunya, seolah apa yang barusan dia dengar itu hanya angin lalu. Respon itu kembali membuat Viona dongkol dibuatnya.


Dia lantas pergi dari sana menuju teman-temannya yang sejak tadi tak berhenti memanggil namanya itu. "Berisik banget sih jadi orang." Umpat Viona disela langkahnya itu.


Gitu-gitu, yang berisik itu temen-temenmu loh, Viona😆


.


.


.


Terimakasih Sudah Berkunjung Sampai Sejauh Ini😇😍.

__ADS_1


Akankah ada orang ketiga yang akan menggoyahkan mahligai pernikahan Bryan dan Cahya ini? Semoga saja tidak, ya.😊


__ADS_2