
๐M.B.B๐
"Berhenti."
"Aku mohon berhenti."
"Tolong berhenti."
"Kalau tidak berhenti, sekarang juga aku akan lompat."
"Silakan."
Begitulah teriakan yang terdengar dari dalam mobil. Keadaan keduanya juga sangat berbeda. Kalau Cahya sekarang ini tengah ketakutan setengah mati. Bryan malah seolah sangat menikmati.
Belum lagi senyuman manis namun mengandung makna tersendiri bagi sang pemilik, masih bertengger ria diwajah sang pria.
"Bry...an Aku mohon berhenti. Kenapa kau jadi seperti ini?" Cahya tak kuasa menahan ketakutannya. Apalagi sedari tadi kecepatan mobil hanya turun sedikit yang sama sekali tak ada efeknya bagi Cahya.
"Tolong Bryan," pinta Cahya sambil menatap Bryan yang masih fokus pada jalanan.
"Sebenarnya apa maumu, Bryan? Kenapa tiba tiba kau bisa hadir?" Pertanyaan itu membuat Bryan mendengus mendengarnya.
Tapi ada yang berubah dari sorot matanya. Semula Bryan memang sangat menakutkan dengan aura yang dimilikinya. Tapi sorot matanya masih biasa saja. Berbeda dengan saat ini.
Sorot tajam yang syarat akan kemarahan yang tak ingin disembunyikan oleh sang pemiliknya lagi. Ia menoleh kearah Cahya yang memang masih menatap ke arahnya.
"Tutup mulutmu, sebelum aku benar benar membunuhmu." Pernyataan tegas itu tak terbantahkan membuat Cahya bergetar mendengarnya.
Nafas Cahya seolah terdekat ditenggorokannya begitu melihat langsung sorot tajam dari seorang Bryan Giovino Wirautama.
Walaupun begitu Cahya sepertinya masih tidak bisa mengerem mulutnya itu, membuatnya mengeluarkan perkataan yang membuat Bryan bertambah marah.
"Aku mohon kembalikan Vino."
Perkataan yang terdengar jelas di telinga Bryan membuat si empunya *** setir mobilnya dengan keras.
**Citt
__ADS_1
Brak**
Cahya yang tak tahu kalau Bryan ingin mengerempun tak bisa menahan tubuhnya yang melesat kearah dashboard.
Duagkh
Berakhirlah dahi Cahya mengenai pinggiran dashboard karena memang Cahya tidak memakai sabuk pengaman.
"Aduh." Ringis Cahya sambil memegangi kepalanya yang mendadak pening itu.
Bagaimana tidak, kalian tahukan Dashboard mobil itu keras. Tangan terantuk kesana saja sudah sakit, apalagi dahi yang langsung terasa sampai ke saraf.
Belum juga reda rasa pusing di kepala, Cahya harus merasakannya lagi karena sentakan kasar dari putra ayah Sanjaya dan mama Irena itu.
"Mulutmu memang benar benar tidak bisa ditutup ya! Atau perlu aku yang menutupnya?!" Ancaman kali ini sangat membuat Cahya gemetaran. Apalagi Bryan yang melepas seatbelt dan mendekat ke arahnya.
"Ka..kau Ma..u a..pa?"
"Kira kira apa?"
Posisi Bryan saat ini sangat dekat dengan Cahya. Bahkan Cahya bisa merasakan hembusan nafas dari mulut Bryan.
Jangan tanya bagaimana keadaan Cahya saat ini. Yang jelas Cahya masih berusaha menghilangkan pusing dikepala dan mengatur detak jantungnya yang serasa bekerja berkali lipat dari biasanya.
"Br..yan Ku..mo..hon jang..an Apa..Apa..kan aku." pinta Cahya untuk kesekian kalinya.
Bukannya nurut Bryan malah terus mendekat kearah Cahya. Bisa ia lihat betapa gugupnya gadis di depannya itu.
Namun seringaian mulai tercipta dengan begitu sempurna membuat Cahya memejamkan matanya saat menyadari betapa dekatnya wajahnya dengan wajah Bryan.
"Kau takut?" Pertanyaan retoris itu keluar dari bibir manis Bryan.
Manis? Emangnya dah pernah coba๐. #AbaikanKegajeanku
Jarakpun semakin menyempit, bahkan kalau diukurpun tidak sampai 8 cm.
**7 Cm...
__ADS_1
6 Cm....
5 Cm...
4 Cm...
3 Cm...
2 Cm....
Hayoo loh Nungguin apaan sih๐...
Belum saatnya part itu keluar๐...
Jangan baper atau sampai ngebayangin ya.
Terkhusus untuk para adek adek pembaca dibawah 18 tahun๐**.
๐M.B.B๐
...Perhatian...
Sebelumnya aku mau ngucapin makasih bagi yang udah nyempetin vote ya๐.
Hallo Ya๐
Masih setia baca M.B.B kan?
Kalau masih, tunggu kelanjutannya di part selanjutnya.
Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys๐.
Setidaknya hargailah suatu cerita, karena bagaimanapun juga menulis itu lebih sulit daripada membaca
๐Terimakasih๐
๐๐๐
__ADS_1