
🍁My Bipolar Boy🍁
.
.
.
.
Sesuai dengan kesepakatan yang telah di buat sebelumnya, dimana Cahya kalah dalam tantangan kemarin. Jadi rencananya besok keduanya akan pergi berbulan madu.
Hal itu juga sudah diberitahukan kepada orangtua Bryan. Bahkan saat ini pasangan muda itu sedang berada dikediaman Ayah Sanjaya dan Mama Irene.
Mereka saat ini tengah berada di ruang makan. Selain mendapat kunjungan dari Bryan dan Cahya. Pasangan Sanjaya dan Irena juga sedang kedatangan anggota keluarga yang lain yaitu Om Bram.
"Jadi kalian ingin pergi liburan?" Pertanyaan itu diangguki oleh Cahya karena Bryan sama sekali tidak mengubris ucapan omnya itu.
"Padahal ini baru 2 hari dari pelaksaan UN, kalian sudah mau liburan aja."
"Memangnya kenapa?" Ujar Bryan sambil menatap tajam adik dari ibunya itu.
Bukannya Bryan tidak sopan menatap anggota keluarga dengan tajam seperti itu. Hanya saja tadi Bram menjahili Bryan dengan membawa pergi Cahya dari daerah kekuasaannya alias kamar mereka.
Tentu saja Bryan kesal, siapa juga yang tidak kesal kalau istri kalian diajak pergi begitu saja padahal kalian sedang berunding masalah bulan madu.
Makanya sejak tadi Bryan sama sekali tidak merespon ucapan Bram. Sebenarnya niat Bram 'menculik' Cahya hanya untuk menjahili Bryan saja.
Buktinya setelah membawa lari Cahya tadi, Bram langsung menyuruh Cahya untuk menemui kakaknya alias ibu mertua Cahya di dapur.
Salah sendiri membuat Bram kesal beberapa hari yang lalu, makanya Bram 'menculik ' Cahya saja. Makanya sejak tadi Bryan selalu melayangkan aura permusuhan dengan omnya itu. Apalagi kalau Bram sudah berusaha menarik perhatian Cahya.
Back to Story💙
Setelah menanggapi ucapan itu, Bram langsung saja menanggapinya. "Ya, kenapa harus terburu - buru. Tunggu kelulusan kalian saja kan bisa." Bryan mendengus mendengar ucapan itu. Tanpa menghiraukan ucapan omnya itu, Bryan melanjutkan acara makannya.
"Memangnya kenapa kalau mereka buru - buru, Bram. Apa ada masalah denganmu?"
Skak Mat❕
Ucapan dari kakaknya itu membuat Bram bungkam. Dan dengan seringaian di bibirnya Bryan menatap kearah Bram yang sedang mati kutu akibat ucapan mamanya itu.
Ditatap seperti itu membuat Bram tidak mau kalah. "Soalnya sebentar lagi kelas 12 akan ada karya wisata. Bukannya lebih baik mereka ikut karya wisata saja." Kali ini Bram menaik turunkan alisnya begitu mendapati keponakannya itu mempertajam tatapannya padanya itu.
Sebenarnya Bram ngeri sendiri dengan tatapan Bryan padanya itu. Tapi Bram coba cuek, sebab disini ada kakak dan kakak iparnya, jadi dia aman dari terkaman sang keponakan.
"Apa kalian ikut karya wisata saja?" Pertanyaan itu membuat senyum Bram mengulas sambil menatap Bryan dan Cahya.
Kali ini yang bertanya adalah ayah Sanjaya. Jadi bisa dipastikan rencana bulan madu mereka berdua akan terancam gagal.
Cahya menatap kearah sang suami, seolah meminta jawaban dari pertanyaan ayah mertuanya itu. Bryan juga balik menatap Cahya.
Dengan menghela napas, Bryan kembali menatap omnya itu. "Memangnya kapan diadakan?" Bram tampak bingung akan pertanyaan tiba - tiba itu.
Sebenarnya sekolah tidak mengadakan acara karya wisata seperti yang dia bilang tadi. Hanya saja karena ada tujuan tertentu yang ingin Bram capai, makanya dia akan mengadakan acara karya wisata itu.
"Ehm, 4 hari lagi." Jawab Bram sedikit ragu. Dan sayangnya Bryan tidak semudah itu di bohongi.
"Terlalu lama, lebih baik aku pergi honeymoon saja dengan Cahya." Ucapan itu membuat Bram langsung meralat ucapannya.
"Ets, bukan 4 hari, tapi 3 hari lagi." Sahut Bram cepat.
Sanjaya dan Irena hanya menatap bingung dengan apa yang diucapkan adiknya itu. 'Sebenarnya itu 4 atau 3 hari lagi.' Itulah yang dipikirkan keduanya.
"Masih terlalu lama. Aku bahkan bisa pergi besok pagi." Jawab Bryan enteng. Bram benar - benar kesal dengan perkataan enteng yang barusan diucapkan oleh Bryan itu.
"Baiklah 2 hari lagi. Tapi kau harus ikut. Oke." Perkataan ets Perintah itu Bram tujukan untuk keponakannya yang saat ini tengah menatapnya itu.
Sebenarnya itu memang perkataan atau pemaksaan sih. Karena menurut Cahya, adiknya mama Irena itu terkesan membuatnya dan Bryan harus ikut dalam karya wisata itu. Dalam artian tidak boleh menolak dan tidak ada acara honeymoon - honeymoon itu.
Coba jelaskan pada Cahya, apa itu hanya perasaannya saja atau memang benar kalau om Bram memang berniat menggagalkan acara honeymoonnya dengan Bryan.
Kalau memang benar, lantas alasan apa yang mendasari hal tersebut?
Cahya bingung sendiri memikirkan hal itu. Lebih baik dia diam daripada salah omong yang akan membuat Bryan marah padanya.
"Coba kau tanya Cahya, dia mau ikut karya wisata atau tidak." Baru saja Cahya berniat untuk diam. Malah omnya itu bertanya sambil membawa namanya segala.
Cahya menggeleng tidak tahu. "Aku ikut apa yang diinginkan oleh Bryan saja." Ucapan itu tak memuaskan Bram namun membuat Bryan tersenyum kemenangan sambil menatap adik mamanya itu.
Tatapan Bryan seolah mengisyaratkan 'Nah kan, aku yang menang.' Membuat Bram mendengus pelan.
Tak ingin kehabisan cara, maka membuat Bram mengeluarkan senjata pemungkasnya. "Baiklah kalau kalian tidak ingin ikut, maka hasil UN kalian berdua tidak akan keluar."
Ancaman itu membuat ketiga orang disana menatap Bram dengan tatapan tak percaya. Berbeda lagi dengan satu - satunya orang yang menatap tak suka dengan ucapan yang dikeluarkan dari mulut omnya itu.
Sreet
__ADS_1
Bryan memundurkan kursi yang tengah ia duduki itu lantas berdiri sambil menatap tajam omnya itu. "Sebenarnya apa maumu, hah! Kanapa kau seolah melarang kami untuk berbulan madu."
"Padahal kami berdua sudah sah menjadi suami istri!" Lanjutnya sambil menatap sengit ke arah omnya itu.
Masih mencoba sewenang mungkin, Bram mulai menjawabnya. "Untuk acara honeymoon kalian bisa kalian tunda dulu hingga surat kelulusan kalian keluar. Dan acara karya wisata ini adalah sebagai sarana perpisahan untuk kelas 12 nanti." Ujar Bram santai.
"Lagipula kegiatan ini sudah ada sebelum angkatan kalian berdua. Jadi kalau harus ikut atau surat kelulusan kalian tidak akan keluar."
Ingin sekali Bryan menghadiahi satu tonjokan di muka omnya itu. Tapi dia sudah berjanji dengan Cahya, kalau dia harus mencoba untuk sabar dan tidak gampang terpancing emosi.
Sangking kesalnya Bryan lebih memilih meninggalkan ruang makan tanpa menghiraukan ucapan Cahya yang memanggil namanya itu.
Cahya berniat bangkit dari posisinya, tapi tangannya tertahan oleh seseorang yang tidak lain adalah Bram. Cahya menaikkan alisnya begitu mendapati gelengkan dari Bram.
"Apa maksud gelengan om itu?" Cahya bertanya pada Bram. Sejujurnya Sanjaya dan Irena juga penasaran kenapa Bram menghentikan niat Cahya untuk mengejar Bryan.
"Biarkan saja dulu si tukang ngambek itu." Bram benar - benar cari perkara dengan Bryan.
Sanjaya hanya menggelengkan kepalanya begitu mendengar julukan yang Bram sematkan pada putra satu - satunya itu.
"Jadi ada apa sebenarnya? Kenapa kau tampak melarang keduanya untuk berbulan madu? Coba jelaskan secara rinci!" Irena tampak tak mengerti dengan jalan pikiran adik satu - satunya itu.
Dari cara bicaranya tadi, Irena sepertinya menangkap kalau adiknya itu berusaha untuk menggagalkan acara bulan madu anak dan mantunya itu.
Kalau saja alasan dibalik itu semua adalah karena tidak rela Bryan mendahuluinya punya anak. Jangan salahkan Irena kalau sepulangnya Bram dari rumah ini dalam kondisi babak belur.
Bram membuang napasnya sebelumya mulai menjelaskan alasan dibalik tingkahnya yad itu. "Akan aku jelaskan. Kalian lupa 4 hari lagi itu hari apa?"
"Hari kamis." Jawab Irena. Bram menepuk jidatnya pelan. Memang benar jawaban yang diberikan oleh kakaknya itu. Tapi bukan itu maksud dari pertanyaannya itu.
"Bukan itu, tepatnya tanggal berapa?" Sanjaya tanpa menghitung tanggal berapa 4 hari lagi dari sekarang. Dan setelah tahu itu tanggal berapa. Sanjaya langsung membulatkan matanya.
"Tanggal ..."
Belum sempat Sanjaya selesai bicara, Bram dengan tidak sopannya memotong ucapan dari kakak iparnya itu.
"Nahkan, sudah tahu. Makanya aku berniat memberi kejutan untuk si tukang ngambek itu." Sanjaya dan Irena saling pandang sebelum keduanya kompak menggelengkan kepalanya.
"Kau ini ada - ada saja." Ujar Irena yang tak menyangka karena itu alasan dibalik tingkah usil adiknya terhadap anaknya itu.
Cahya menatap bingung ketiga orang di dekatnya itu. Sebenarnya ada apa dengan tanggal itu. Memangnya ada acara apa? Apakah sepenting itu hingga membuat Bram berniat menggagalkan acara bulan madunya dengan Bryan.
Bram yang sadar kalau Cahya tampak kebingungan itupun segera menjelaskannya. "Sini aku bisikin."
Bram mulai mendekat kearah telinga Cahya untuk memberitahukan tentang tanggal yang dia maksud tadi. Cahyapun mendekatkan telinganya kearah om Bram, supaya lebih mudah mendapatkan informasi terkait tanggal itu.
Kaget😱
Itulah yang dirasakan oleh keempat manusia ini. Bagaimana itu terjadi bahkan tanpa mereka prediksi sama sekali.
Dan jawabannya ada di sosok anak adam yang kini menatap tajam kearah Bram karena sudah berani mendekati Cahyanya itu.
"Beraninya kau mendekati isteriku. Jangan karena kau omku, kau bisa menyentuh istriku seenak maumu." Balas Bryan tajam sambil menarik tangan Cahya cukup kuat agar berdiri dibelakangnya.
"Jangan pernah kau ulangi perbuatanmu tadi, atau aku sendiri yang akan melenyapkanmu. Camkan perkataanku itu." Ujar Bryan marah.
Tanpa pamit, Bryan langsung saja membawa pergi Cahya dari rumah orangtuanya itu. Bahkan sangking kagetnya, Cahya sampai ikut tidak pamit dengan mertuanya itu.
Salahkan saja Bryan yang langsung menariknya pergi tanpa memberinya waktu untuk sekedar berpamitan.
Bram tampak meringis kesakitan saat akan bangkit dari posisinya. Untungnya saja sang kakak sigap menolongnya. "Kau sih, sudah tahu sifat Bryan seperti itu. Masih saja jahil, inilah akibatnya."
Bram tak menanggapi ucapan kakaknya itu. Dia masih larut dalam rasa sakitnya itu. Bayangkan saja kalian di dorong dari kursi. Pasti sakit, sama seperti keadaan Bram saat ini.
"Awas saja, kalau rencana ini sampai gagal. Dia akan aku jadikan dendeng." Sungut Bram yang masih mengelus pinggang dan pinggulnya yang terasa nyeri itu.
Belum cukup nyeri di area tubuhnya, rasa nyeri mulai menjalar di kepalanya yang baru saja di jitak oleh kakaknya itu.
"Apaan sih, kak?" Tak terima di jitak begitu saja, membuat Bram menatap kesal kearah kakak kandungnya itu.
"Sebelum kau menjadikan anakku dengdeng. Lebih dulu kau yang aku jadikan dendeng, Bram." Mendengar ucapan itu membuat Bram mulai mengeluarkan tanda peacenya kearah kakaknya itu.
"Peace✌, kak." Sahutnya di disertai cengirannya.
Balik ke Bryan dan Cahya.
Dengan tidak sabaran, Bryan segera masukkan Cahya kedalam mobil dan ia langsung bergegas juga untuk masuk mobil. Kini keduanya sudah ada didalam mobil.
Tanpa membuang waktu, Bryan langsung menancap gas untuk kembali ke apartemen mereka berdua. Daripada disini hanya membuatnya semakin bertambah marah.
Kembali terulang, dengan kejadian waktu itu. Dimana Bryan mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata - rata, hingga membuat Cahya tak henti berdoa untuk keselamatan mereka berdua.
Cahya tak berani membuka suara atau meminta Bryan untuk menurunkan kecepatannya. Dia tahu kalau kali ini Bryan benar - benar marah. Sama halnya dengan amarah yang pernah membuatnya diturunkan paksa oleh Bryan di tengah hutan.
Tentu kalian masih ingat kejadian itu, kan. Ya, walaupun saat itu Bryan kembali menjemput Cahya, tapi tetap saja membuat Cahya sedikit trauma bila mengingatnya.
Bayangkan saja gimana rasanya kalian ditinggal sebegitu saja tanpa tahu kalian ada dimana dan tanpa bekal apapun ditengah gelapnya malam. Dan Cahya tidak berharap kejadian itu kembali terulang di hidupnya. Cukup sekali dan tidak lagi.
__ADS_1
Akhirnya Cahya bisa bernapas lega begitu mobil yang ia tumpangi sudah ada di dalam basement apartemen mereka berdua. Setidaknya tuhan masih memperpanjang umur mereka.
Bryan turun lebih dulu disusul oleh Cahya. Tapi Cahya cukup kesulitan dalam mengimbangi langkah lebar Bryan. Makanya saat Bryan sudah masuk kedalam lift, Cahya baru sampai di pintu lobby.
Pintu lift tertutup meninggalkannya Cahya yang tidak berhasil mengejar langkah suaminya itu. Untung saja di gedung apartemen mereka tersedia 2 lift, jadi begitu lift yang satunya terbuka. Cahya langsung buru - buru memasukinya.
Cahya baru menekan tombol lift begitu semua orang yang tadi menaiki lift keluar semua dari lift tersebut.
Lift pun mulai bergerak keatas menuju ke lantai dimana apartemen Bryan berada. Begitu keluar dari lift, pintu apartemen mereka sudah tertutup. Entah Bryan yang sudah lebih dulu sampai dan langsung memasuki apartemen mereka atau Bryan belum kunjung membuka pintu apartemen mereka itu.
Opsi pertama lebih meyakinkan untuk Cahya. Jadi dengan langkah cepat, Cahya langsung menekan password yang ada di samping pintu apartemennya itu.
Begitu masuk kedalam ternyata Bryan sudah ada didalam dan kini dia sedang duduk di sofa ruang santai.
Dengan pelan, Cahya mulai menghampiri suaminya itu. Tanpa melirikpun, Bryan sudah tahu kalau Cahya sudah sampai.
"Bryan." Panggil Cahya kepada suaminya itu. Tapi tak ada respon yang didapatkan oleh Cahya. Hal itu tentu membuat Cahya menjadi serba salah.
"Pasti Bryan salahpaham lagi." Batin Cahya begitu melihat respon acuh dari suaminya itu.
"Bryan, kau marah padaku? Ku mohon jangan marah. Tadi itu cuma salah paham." Bryan sama sekali tidak menoleh kearah Cahya. Saat ini sebenarnya Bryan tengah bergelut dengan dirinya sendiri.
Ingin sekali Bryan marah dan mengeluarkan semua emosinya. Tapi dia sudah berjanji pada Cahya agar bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Dengan ragu, Cahya mulai menarik pelan telapak tangan Bryan yang kemudian dia genggam. Respon yang sama masih Bryan berikan kepada Cahya.
Hal itu tentu saja membuat Cahya harus memutar otak agar Bryan tidak tambah marah dengannya.
Karena tak ada cara lain yang bisa dia lakukan. Maka ini adalah pilihan yang paling tepat untuk Cahya lakukan saat ini.
Grep
Pelukan itu diciptakan oleh Cahya dan terarah kearah Bryan. "Aku mohon maafkan aku. Aku tidak ingin melihatmu marah padaku." Pelukan itu semakin mengerat disetiap kata yang diucapkan oleh Cahya itu.
Bryan menoleh sedikit kearah Cahya dan sayangnya Cahya tidak melihat itu. Dengan membuang napas panjang, Bryan mulai membalas pelukan dari istri tercintanya itu.
"Aku tidak marah, hanya sedikit kesal saja." Ucap Bryan sambil mengeratkan pelukan mereka. Respon Cahya yang mengangguk kepalanya, karena dia percaya kalau perkataan Bryan barusan itu adalah nyata.
Cukup lama keduanya dalam posisi seperti itu. Hingga perlahan Cahya mulai melonggarkan sedikit pelukan mereka.
Baru saja Bryan ingin bertanya kenapa, tapi tidak jadi sebab melihat Cahya yang terlihat ingin mengucapkan sesuatu.
"Ehm.." Cahya mulai ragu untuk bertanya sesuatu dengan Bryan. Sedangkan Bryan mulai menaikan alisnya bingung.
Dengan pelan, Cahya mulai mengigit pelan bibir bawahnya untuk menghilangkan keraguan yang masih bersemayam di tubuhnya itu.
Melihat aksi Cahya yang masih mengigit kecil bibir pink alaminya itu membuat respon tubuh Bryan mulai memanas. Padahal yang melalukan itu Cahya, tapi efeknya sampai ke Bryan😆.
"Hentikan kegiatanmu itu." Cahya menatap tak mengerti dengan apa yang barusan Bryan katakan.
Perasan Cahya tidak melalukan kegiatan apa - apa, jadi apa yang harus ia hentikan. Bryan tahu kalau saat ini Cahya sedang bingung akan ucapannya itu.
"Jangan gigit bibirmu lagi seperti tadi." Cahya mengerutkan dahi begitu mendapatkan jawaban atas pemikirannya itu.
Bryan tampak mengalihkan pandangan kearah lain. Bukan karena masih marah, tapi karena tidak ingin sesuatu dalam tubuhnya bangkit akibat aksi yang tak sadar Cahya lakukan itu.
Cahya tak ambil pusing. Setelah memantapkan niatnya untuk bertanya, kini Cahya mulai mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan itu.
"Jadinya apa acara bulan madu kita harus tertunda?"
Bryan menoleh cepat kearah sang istri begitu pertanyaan itu terlontar. Dengan sedikit dengusan, Bryan mulai mengangguk dengan tidak ikhlas.
"Jadi itu artinya..."
"Ya, kita ikut acara karya wisata itu." Potong Bryan yang membuat senyum mulai terbit di bibir Cahya.
Baru saja ingin mengatakan sesuatu. Tapi terdului oleh Bryan. "Tapi kalau acaranya tidak menarik, detik itu juga kita akan langsung pergi berbulan madu."
Senyum dibibir Cahya mulai memudar digantikan anggukan patuh. Ya, lagipula Cahya tidak berani untuk menentang kemauan suami tercintanya itu.
Kalaupun dia berani, yang ada suaminya itu akan marah padanya. Lebih parahnya akan melalukan perbuatan yang tentunya akan merugikan diri Cahya sendiri.
"Baiklah, sekarang kita tidur." Ajak Bryan yang langsung di turuti oleh Cahya tanpa bantahan sama sekali.
❕🍁❕🍁❕
.
.
.
🍁My Bipolar Boy🍁
Terimakasih sudah hadir dan menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini.
💙 💛 💚 💜 💖 💙
__ADS_1
Sampai jumpa lagi😉