My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
35. Membujuk


__ADS_3

🍁🍂🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍂🍁


"Maaf lama ya, nak." Irena datang dengan sebuah nampan di tangan.


Cahya berdiri dari posisinya disamping mama Irena. Kemudian mama Irena menyerahkan nampan tersebut kearah Cahya yang langsung diterima oleh Cahya.


"Ini, mama mohon bujuk Vino makan, ya." Cahya tersenyum menanggapinya.


Setelah itu Cahya pamit untuk ke kamar Vino yang diangguki oleh Irena. Cahya melangkah menaiki tangga agar sampai dikamar Vino.


Setelah sampai di lantai atas, Cahya mengetuk pintu kamar Vino. Tapi belum ada jawaban apapun dari Vino membuat Cahya menghela nafas pelan.


"Vino, buka pintunya. Ini Cahya." Panggil Cahya yang belum mendapat respon apapun dari Vino.


Akhirnya Cahya membuka knop pintu tersebut dan ternyata pintu tidak terkunci.


"Vino," panggil Cahya sambil melonggokkan kepalanya kearah dalam dan dilihatnya kalau Vino ada didalam.


Cahya membuka pintu agak lebar agar bisa masuk. "Vin." Entah panggilan ke berapa, yang jelas tak ada respon apapun dari Vino.


Cahya meletakkan nampan makan diatas nakas disamping ranjang Vino. Bisa Cahya lihat Vino tak menatap kearahnya.


"Dia benar benar marah" batin Cahya yang masih menatap Vino.


"Kamu kenapa? Marah sama Cahya?" Cahya membuka suara, karena Cahya yakin Vino tidak akan buka suara.


"Vin." Cahya kembali memanggil Vino, berharap ada balasan darinya.


Jangankan buka suara menolehpun tidak. Membuat Cahya mengigit bibirnya bingung harus bagaimana lagi menghadapi Vino.


"Vino makan ya, mama nyuruh Vino makan. Vino belum makan kan?" Pertanyaan itu tak mendapat respon apapun membuat Cahya menghembuskan napas pelan.


"Vin, kamu kenapa?" Tanyanya lagi tapi tak ada respon apapun dari Vino membuat Cahya membuang napas lelah.


Bagaimana tidak lelah, sedari 15 menit yang lalu dia membujuk Vino tapi tak ada satupun respon dari Vino.


"Kamu marah, ya?" Vino sama sekali tak menatap Cahya membuat Cahya menundukkan kepalanya.


Cahya memutar otaknya agar bisa membuat Vino buka suara. Namun pada akhirnya Cahya pasrahlah. 


"Baiklah, kalau kamu masih marah. Cahya pamit pulang dulu, ya." Cahya berniat berbalik tapi genggaman tangan di lengannya itu membuat Cahya mengurung niatnya.


Cahya berbalik untuk menatap siapa yang menggenggam tangannya walaupun sebenarnya ia tahu siapa orang itu.


Cahya menatap bingung kearah Vino yang saat ini balik menatapnya.

__ADS_1


"Kenapa?"


Bukannya menjawab Vino malah memanyunkan bibirnya pertanda ia sedang kesal saat ini.


"Issh, kenapa mau pulang. Padahal dari tadi Vino nungguin Cahya." Dengusnya dengan membuang muka. Membuat Cahya mengernyitkan dahinya bingung.


"Dari tadi kamu tidak menjawab pertanyaan Cahya tadi." Cahya mengatakannya sambil menatap kearah Vino.


Vino kembali menatap Cahya "Vino tadi itu pura pura ngambek biar Cahya bujukin Vino. Tapi malah Cahya mau pulang. Vino kesel, kan." Ucap Vino sambil merengek.


Cahya yang semula diam kini buka suara. "Jadi kamu pura pura?" Cahya sebenarnya tadi merasa bersalah tapi kini ia lumayan kesal begitu mendengar Vino pura pura ngambek.


"Awalnya Vino beneran ngambek sama Cahya, tapi melihat muka Cahya tadi Vino iseng ngejahilin Cahya."


Sontak saja Cahya menatap Vino sambil membuang nafasnya pendek.


"Ya sudah, Kamu kan sudah tidak marah lagi. Cahya mau pamit pulang, ya." Cahya kini mulai melangkah menuju kearah pintu keluar. Tapi sebelum benar benar menyentuh knop pintu, sebuah tangisan membuat Cahya menghentikan langkahnya.


Cahya berbalik untuk melihat dari mana suara tangisan itu berasal. Tapi apa yang dilihatnya malah membuatnya kaget.


Bagaimana tidak, kalau sekarang ini yang ia lihat adalah Vino yang tengah terisak sambil menatap ke arahnya. Cahya jadi tak tegakan begitu melihat Vino seperti itu.


"Jangan menangis." Cahya mulai mendekat kearah Vino yang masih ada di ranjangnya.


Baiklah, kali ini aku harus sabar, batin Cahya dalam hati. Sambil menghembuskan nafas sabar, Cahya mulai berbicara pada Vino.


"Baiklah Cahya pulangnya nanti saja. Sekarang Vino makan dulu, ya." Pertanyaan itu membuat Vino berhenti menangis.


Vino langsung menatap Cahya cerah, entah kenapa Cahya merasakan ada yang janggal dari tangisan Vino tadi.


"Jangan bilang dia berpura pura lagi." Gumam Cahya dalam hati.


"Oke Vino mau makan. Tapi di suapi Cahya, ya." Pintanya sambil memasang wajah memelas. Yang lagi lagi tak bisa ditolak oleh Cahya.


"Baiklah." Cahya mulai menyuapi Vino makanan yang disambut baik oleh Vino.


Sesekali Cahya menatap kearah Vino, tak bisa ia tampik kalau pria dihadapanya itu benar benar tampan. Walaupun ada sisi kekurangan dalam diri Vino. Itu tetap tidak melunturkan pesona yang dimilikinya.


Vino yang menyadari Cahya menatapnya, balik menatap Cahya. Membuat Cahya reflek mengalihkan pandangannya.


Deg Deg Deg


Jantung Cahya berdetak dengan kencang, bahkan Cahya sendiri tiba tiba merasa gugup luar biasa.


"Tenang Cahya, tenang." Batinnya berusaha setenang mungkin.

__ADS_1


Akhirnya sesi suap suapan sudah selesai, baru setelahnya Cahya memberikan minum pada Vino.


**Satu teguk


Dua teguk


Tiga teguk


Empat teguk


Lima teguk


Enam teguk**


Vino menyerahkan gelas yang sudah kosong itu kepada Cahya.


"Ya sudah Cahya pamit pulang dulu, ya. Vino istirahat dulu." Mendengarnya membuat Vino langsung memegang tangan Cahya. Seolah menahannya pergi.


"Ada apa?"


"Jangan pergi. Vino masih mau sama Cahya." Ucapnya dengan manja.


Cahya menatap kearah Vino, "Vino mau apa memangnya?" Mendengar perkataan itu membuat Vino tersenyum kearah Cahya.


"Vino mau main." Ucapan Vino barusan membuat Cahya tersentak kaget. Masih segar diingatkannya kala Vino memintanya bermain bersama.


Jangan lupakan ekspresi kaget dari Cahya saat mendengar kata permainan dari mulut Vino sebelumnya. Yang ia takutkan kata main disini ditujukan pada permainan sejenis seperti kemarin.


Kalau kalian pengen tau, baca saja part Jarum Suntik.


"Jan..jangan bil...ang per..mainan sep...erti yang ke..marin. Kalau iya Cahya tidak mau" ucapannya terdengar terbata bata.


Mendengar itu Vino bukannya menjawab malah menatap polos kearah Cahya membuat Cahya sulit meneguk ludahnya sendiri.


💞🍀💞🍀💞


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


Dan kalau bisa hargailah suatu cerita, karena sejujurnya menulis itu lebih susah daripada membacanya.


~Terimakasih~


💞💙💞💙

__ADS_1


__ADS_2