
Kini Cahya tengah berada di dalam kamarnya. Sudah sejak beberapa jam yang lalu dia hanya diam di dalam kamarnya. Setelah insiden tadi pagi, dia langsung membereskan bekas mangkok dan gelas yang pecah.
Dan dia juga langsung kembali ke kamar setelah membuang pecahan itu di tong sampah khusus. Menyadari kalau lukanya tidak seperti tadi, Cahya mulai melangkah menuju ke luar kamar.
Dia sedikit merasa lapar dan mungkin saja hanya ada dirinya saja di rumah ini. Sebab keadaan apartemen sangat sepi. Tapi langkahnya mendadak terhenti begitu melihat keberadaan Bryan di meja makan.
Tapi, Cahya tidak melihat keberadaan Amertha. Entah kemana dia pergi atau mungkin saja dia sudah pulang.
Cahya tak menatap sang suami yang kini tengah memperhatikannya itu. Dia berjalan menuju kearah masakan yang sudah dia buat itu.
Tapi apa yang dia lihat, membuat Cahya mengernyit. Setahunya masakannya ada di meja makan. Tapi kenapa yang tersisa hanya sup dan nasi. Itupun hanya tinggal sedikit.
Menghela napas sebentar, Cahya perlahan mengambil piring dan sendok. Kemudian dia duduk di depan suaminya itu. Bryan masih menatap Cahya namun sayangnya tatapannya tidak di balas sama sekali.
"Kalau kau lapar, Kau bisa pesan makanan." Itu kalimat yang diucapkan oleh Bryan. Namun respon Cahya hanya gelengan pelan.
"Tidak perlu. Ini juga sudah cukup." Cahya mulai menyendok makanannya dan memasukkannya kedalam piring. Jawaban yang dia dengar membuat Bryan sedikit merasa tidak enak.
Sebab makanan yang sudah di masak oleh Cahya malah dia dan Amertha yang habiskan. Dan paling hanya tinggal sedikit. Bryan tak bisa memungkiri kalau masakan Cahya memang enak di lidahnya.
Cahya mulai makan - makanannya dengan tenang. Merasa di perhatikan membuat Cahya mendongak. Tatapan keduanya bertemu, tapi respon Cahya tidak seperti yang Bryan harapkan.
Bila biasanya dia yang pertama memutuskan pandangan mereka. Tapi kini malah Cahya. Bahkan respon tadi terlalu datar menurut Bryan.
Bryan berpikir mungkin kalau Cahya masih marah akibat kejadian tadi. Makanya dia sama sekali tidak mengajaknya bicara.
Acara makan itupun berakhir dengan cepat dan tenang. Cahya langsung membereskan bekas makannya dan wadah dari masakannya tadi.
Dalam diamnya, Bryan masih tetap memperhatikan istrinya. Entah kenapa dia merasa tidak tenang hanya karena Cahya tidak banyak bicara padanya. Padahal biasanya dia juga tidak peduli.
"Mau kubantu?" tawar Bryan yang masih berada di tempatnya tadi.
Tanpa menoleh, Cahya hanya menggeleng pelan. Pertanda bahwa dia tidak memerlukan bantuan. Selesai dengan segala urusannya, perlahan Cahya melangkah menuju kearah sisi lain apartemen suaminya itu.
Dia mengambil peralatan kebersihan, sebab dia harus membersihkan apartemennya. Dia melakukan ini bukan untuk menghindari sang suami. Tapi entah kenapa dia terlalu malas bertemu dengan suaminya itu.
Apa mungkin ini adalah bawaan bayinya, ya. Entahlah.
Melihat Cahya yang langsung berlalu begitu saja membuat perasaan Bryan sedikit gusar. Kalau ditanya alasannya apa? Bryan sendiri juga tidak tahu jawabannya.
Bryan berusaha menyibukkan dirinya dengan tugas kuliahnya yang sudah mendekati sidang itu. Dia lebih memilih mengerjakannya di depan tv.
Hampir 60 menit kedua orang ini melakukan aktifitas mereka masing - masing. Bahkan sejak membersihkan area ruang tamu dan ruang santai. Bryan sudah tidak melihat keberadaan Cahya disekitarnya.
Entah dimana Cahya berada yang jelas dia masih ada di apartemen. Menyadari kalau laptopnya hampir kehabisan daya, Bryan bergegas menuju kearah kamarnya untuk mengambil charger.
Langkahnya mendadak terhenti kala melihat Cahya yang tampak kelelahan. Bahkan peluh mulai membasahi dahi dan leher Cahya. Melihat hal itu membuat Bryan merasa tidak tega.
Dengan pelan, dia melangkah menuju kearah Cahya. "Kalau ku lelah, sebaiknya istirahat saja. Biar ini aku yang lanjutkan."
Ucapan itu menyentak Cahya yang sedang mengusap peluh di dahinya itu. "Tidak apa - apa, biar aku saja. Lagipula ini memang tugasku sebagai istrimu."
Bryan menatap lekat kearah Cahya begitu kata - kata istri mulai mengalun dari bibir Cahya. Ada sedikit titik kebahagiaan yang dirasakan oleh Bryan, entah apa alasanya.
"Kau istirahat saja. Biar ini aku yang menyelesaikannya."
__ADS_1
Bryan langsung mengambil alih peralatan di tangan Cahya dan mulai mengerjakan pekerjaan yang belum kelar itu. Cahya terdiam di tempat. Dia hanya tidak mengira kalau Bryan akan melakukan ini.
Bukannya kemarin - kemarin Bryan masih cuek padanya. Tapi kenapa sejak tadi suaminya itu terus saja mengajaknya bicara. Padahal sebelumnya juga sering acuh tak acuh.
Selesai dengan urusannya, Bryan langsung mengembalikan peralatan tadi ke tempat asalnya. Dia melangkah menuju kearah ruang santai dengan chargeran di tangannya itu.
Terlihat Cahya yang sudah duduk di sofa sambil menonton Tv. Menyadari kedatangan Bryan,Β Cahya langsung berbalik menatap ke arahnya. Dengan isyarat tepukan disampingnya, membuat Bryan akhirnya duduk di sampingnya.
"Ini, minum lah." Cahya menyodorkan segelas es jeruk kearah sang suami. Bryan pun mulai menerima minuman itu dan meminumnya.
Melihat Bryan mau meminum - minuman yang dia buat, membuat Cahya tersenyum lebar. Bryan meletakkan gelas yang sudah kosong itu keatas meja.
"Terimakasih."
Bryan menoleh kearah Cahya yang masih tersenyum hangat ke arahnya. Yang Bryan bingungkan, kenapa malah Cahya yang berterimakasih padanya. Padahal kan seharusnya dia yang mengatakan hal itu.
"Untuk apa?"
Masih dengan tersenyum, Cahya membalasnya. "Karena sudah membantuku membersihkan rumah."
Jantung Bryan berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, setelah melihat senyum hangat dari orang disampingnya itu. Ada semacam perasaan hangat yang dirasakan olehnya. Dan entah kenapa Bryan merasa dekat sekali dengan Cahya.
Dengan gestur malu, Bryan langsung berhadapan dengan laptopnya setelah mencolokkan charger di listrik. Cahya masih berada di posisinya sambil memperhatikan sang suami yang tengah serius mengerjakan skripsinya.
πΏΒ Β πΒ Β πΏ
Tak terasa sudah seminggu berlalu setelah kejadian membersihkan rumah waktu itu. Dan kini Cahya berniat untuk ke supermarket terdekat.
Awalnya dia ingin meminta suaminya untuk menemaninya. Tapi sepertinya suaminya itu tengah sibuk dengan Amertha yang berkunjung kemari. Dia datang kesini karena ingin mengerjakan skripsi bareng dengan Bryan.
Dia berjalan menuju kearah Bryan untuk berpamitan. "Bryan." panggilnya yang membuat keduanya menoleh.
"Aku ingin ke supermarket sebentar." Semenjak hari itu, hubungan antara Cahya ataupun Bryan sudah ada kemajuan. Bahkan sesekali Bryan akan mengabari kalau dia ingin pergi keluar.
Mendengar kalau Cahya akan pergi keluar, membuat raut wajah Amertha seketika berubah ceria. "Ya, sudah. Silahkan kalau mau ke supermarket. Ooh, ya. Aku nitip cemilan sama minuman bersoda, ya."
Cahya yang mendengarnya hanya mengangguk pelan. "Kalau kau mau nitip apa?" Kali ini pertanyaan itu tertuju pada sang suami.
Sejenak Bryan berfikir apakah dia harus menemani Cahya atau tidak. "Samakan saja, Bryan biasanya juga suka makanan seperti yang aku makan. Iya, kan honey."
Panggilan itu sudah sering Cahya dengar. Jadi dia sudah terbiasa bisa harus mendengarnya lagi. Sambil tersenyum, Cahya langsung berujar. "Baiklah, nanti aku bawakan. Kalau begitu aku permisi dulu."
Baru beberapa langkah, suara Bryan menginterupsi langkah kaki Cahya. "Kita akan mengantarmu."
Amertha menatap tak percaya pada Bryan. Bukannya lebih baik kalau mereka disini saja. Jadi mereka berdua bisa berduaan. Kenapa malah mau nganterin di Cahya sih. Itulah yang dipikirkan oleh Amertha.
"Biarkan saja dia yang beli. Lagipula skripsi kita juga belum selesai."
"Urusan skripsi bisa kita selesaikan nanti. Sekalian aku ingin beli sesuatu di supermarket nanti."
Mendengar hal itu membuat Amertha mendengus pelan. Gagal sudah rencananya untuk berduaan dengan kekasihnya itu.
"Baiklah, kalau itu maumu." Senyum di bibir Amertha terlihat di paksakan.
πΒ πΒ π
__ADS_1
Kini ketiganya sudah sampai di supermarket terdekat. Bahkan kini ketiganya sudah masuk kedalam. Dengan Cahya yang tertinggal satu langkah dari kedua orang di depannya itu.
Sejak perjalanan tadi, Cahya yang duduk di kursi belakang harus rela menahan cemburu. Begitu melihat kedekatan suaminya dan Amertha itu. Lebih tepatnya si Amertha yang bergelayutan di lengan suaminya itu.
Dan sekarang bahkan keduanya sudah berpegangan tangan. Cahya sendiri berusaha sabar. Walaupun ada di sudut hatinya yang terluka melihat pemandangan di depannya itu.
Kini ketiganya mulai menyusuri rak \= rak yang tersedia disana. "Bryan, kita ke bagian camilan yuk." Ajak Amertha sambil menarik lengan Bryan menuju ke rak camilan.
Cahya berniat mengikuti tapi terhenti begitu mendengar ucapan Amertha barusan. "Kau, lebih baik jangan ikuti kami. Katanya kau mau beli sesuatu."
Perkataan itu semacam pengusiran agar Cahya tak mengikuti keduanya. Dengan anggukan pelan, Cahya menyodorkan troli yang di pegangnya kearah Bryan.
"Tidak perlu menungguku karena aku pasti akan lama. Jadi nanti aku pulang sendiri saja." Setelah mengatakan hal itu, Cahya berlalu dari hadapan keduanya.
Bryan masih menatap kearah Cahya yang kini mulai menjauh dari posisinya. Ada semacam perasaan bersalah yang hadir di hati Bryan. Dan perasaan itu semakin kuat ketika dia jauh dari Cahya.
Sebenarnya siapa Cahya baginya. Apa benar dia adalah istrinya. Tapi kenapa ingatan tentang dirinya tidak ada di dalam ingatannya.
"Bryan, ayo. Katanya kau cari camilan."
"Iya," Respon Bryan singkat sambil berjalan berdampingan dengan Amertha menuju ke rak camilan.
Sudah lebih dari 25 menit Cahya mencari bahan - bahan yang dia ingin beli. Dan keranjang yang dia bawa hampir terisi penuh. Langkahnya mendadak terhenti begitu merasakan tepukan pelan di bahunya.
Dia menoleh kebelakang untuk mengetahui siapa yang menepuk bahunya itu. Dan ternyata orang itu adalah ...
"Kak Marcel." Sapa Cahya begitu melihat keberadaan orang yang dia kenal itu.
"Hai, apa kabar?" Senyum masih menghiasi wajah Cahya. "Baik, Kak. Kakak sendiri gimana?"
"Seperti yang kau lihat. Aku baik - baik saja. Ooh, ya kau kesini dengan siapa?" Senyum yang semula cerah kini mulai meredup. "Tadi bersama dengan suamiku."
Mendengar hal itu membuat Marcel tersenyum tipis. "Maaf tidak bisa hadir di pernikahan kalian." Cahya menggeleng pelan. "Tidak apa - apa. Ooh, ya. Kakak ngapain disini?"
"Ya, belanja." jawab Marcel sambil tertawa pelan. Walaupun sebenarnya dia tahu maksud pertanyaan Cahya itu bukan itu.
"Maksudku bukan itu, Kak. Kakak masih sama nyebelinnya kayak dulu, ya." Dengus Cahya pelan. Hal itu membuat tawa Marcel hadir diantara mereka.
Keduanya terus mengobrol sambil berjalan menuju ke kasir. Tanpa menyadari kalau ada seseorang yang memperhatikan mereka dari seberang saja.
Raut wajah orang itu mengelap. Entah apa alasannya, yang pasti dia tidak suka melihat Cahya tertawa dengan pria lain. Terlebih lagi tawa dari bibirnya itu tidak pernah dia lihat selama tinggal bersama dengannya.
Yups, orang itu tak lain dan tak bukan adalah si Bryan. Niat awal dia ingin mencari keberadaan Cahya, karena dia dan Amertha ingin pulang. Tapi apa yang dia lihat tadi, mampu menumbuhkan gejolak tidak nyaman di hatinya.
"Sebenarnya aku ini kenapa?" gumamnya pelan sambil menatap tajam kearah depannya itu. Dimana Cahya masih sibuk ngobrol dengan pria yang tidak dia tahu namanya itu.
...πΏΒ πΒ πΏ...
...ππππππ...
...Β Β ...
...πΎ πΏ πΎ...
...πTerimakasih telah membacanya π...
__ADS_1
...β€ β€ β€...