My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
Ingatan yang Mulai Kembali


__ADS_3

Keadaan cukup hening diantara kelima orang yang lebih memilih untuk diam itu. Tapi pada akhirnya salah satu diantara mereka membuka pembicaraan. "Ooh, ya. Perkenalkan namaku Nicole dan ini adalah calon suamiku, Marcel."


Perkenalan itu membuat raut wajah Bryan seketika berubah. Tapi itu tak berlangsung lama. "Hai, namaku Amertha dan ini kekasihku, Bryan." sapa Amertha sambil memeluk lengan Bryan yang hanya diam.


Arah tatapan Nicole bergulir pada Cahya yang hanya diam sejak duduk bersama mereka. "Ini pasti Cahya, ya?" Cahya menatap Nicole dengan senyum ramah. "Iya, aku Cahya. Salam kenal, ya." Nicole masih memperhatikan Cahya.


Dalam hatinya bergumam pantas saja Marcel bisa suka pada orang di depannya itu. Dari senyumannya saja, Nicole tahu kalau Cahya ini orangnya tulus dan baik hati. "Kamu kesini sedirian? Nggak bareng sama suami kamu?"


Nicole bertanya seperti itu lantaran dia sudah dikasih tahu oleh Marcel kalau Cahya sudah bersuami. Awalnya memang Nicole yang minta pada Marcel untuk dikenalkan dengan Cahya. Bahkan sebelum mereka jadian, Marcel sempat menolak Nicole berkali - kali, karena masih suka pada Jasmine.


Pertemuan kali inipun Nicole sendiri yang minta pada Marcel untuk mempertemukannya dengan Cahya yang kebetulan berada di sini. Tapi tanpa rencana malah Amertha dan Bryan ikut serta dalam pertemuan ini.


Cahya yang ditanyai seperti itu tentu saja merasa sedikit tak nyaman. Bukannya dia marah atau kesal, tapi lebih kepada bingung harus gimana mengatakannya. Terlebih lagi, Amertha sudah lebih dulu mengklaim Bryan sebagai kekasihnya.


"Suamiku sedang di kampus. Jadi maaf dia tak bisa hadir disini." Nicole menganggukan kepalanya sambil tersenyum maklum. Bryan menatap Cahya yang secara tak langsung tidak memgakui dirinya.


Harusnya dia biasa saja, tapi kenapa rasanya ada yang agak aneh dihatinya. Seperti halnya merasa tidak diakui dan tak dianggap. "Lalu siapa nama suamimu itu?"


Marcel menyenggol pelan bahu Nicole agar berhenti bicara. Bagaimanapun juga Marcel masih kaget akan hubungan Cahya dan Bryan yang dia kira baik - baik saja, malah jauh dari apa yang dia pikirkan. Belum lagi, Marcel yakin kalau Cahya paati sakit hati melihat suaminya sendiri bersama dengan wanita lain.


"Nama suamiku itu Vino Wirautama."


Deg


Jantung Bryan agak tersentak begitu mendengar nama itu. Ada yang aneh pada dirinya saat mendengar nama itu. Seakan ada keterkaitan dia dengan sang pemilik nama. Apa karena nama itu mirip dengan namanya. Bryan menatap lurus kearah Cahya yang masih mengobrol dengan Nicole.


Tatapan Bryan bergulir ke sisi kanannya, dimana pemuda bernama Marcel itu menatapnya intens. Marcel memang sejak tadi menatap kearah Bryan. Dia ingin memastikan apakah benar sosok di depannya ini beneran sosok yang sama yang pernah mengancamnya untuk menjauhi Cahya beberapa tahun yang lalu.


Marcel hanya merasa kalau Bryan seolah tak mengenalnya. Padahal dulu saat dia ingin mendekati Cahya, Bryan sudah pasang badan untuk membuatnya mundur. "Honey," panggilan dari Nicole membuat Marcel mengalihkan pandangannya dari Bryan.


"Kenapa, sayangku?" tanya sambil memberikan tatapan lembut pada sang kekasih. Nicole tersenyum malu begitu mendengar panggilan romantis dari Marcel itu.


Nicole mengulurkan undangan yang langsung di mengerti oleh Marcel. "Ooh, ya. Sebenarnya aku mengajakmu bertemu disini selain untuk mengenalkan calon istriku ini. Aku juga ingin memberikan undangan pernikahan padamu, Hya."


Cahya menerima undangan pernikahan yang barusan Marcel berikan padanya. Sebenarnya Marcel tak ingin memberikan undangan itu pada 2 tamu tak diundangnya itu. Tapi, merasa tak enak membuat Marcel memilih untuk memberikan undangan itu pada mereka.


"Kalian bertiga harus datang, ya. Masih ada 3 hari lagi dari sekarang. Jangan sampai tidak datang, ya." Nicole memberikan gesture ancaman pada ucapannya. Cahya mengangguk sambil mengiyakan undangan itu.


Karena masih ada keperluan lain yang harus di urus, maka Marcel dan Nicole pamit pergi lebih dulu. Dan untuk makanan yang dipesan sudah di bayar oleh Marcel. Bagaimanapun juga, dia yang mengajak bertemu, maka dia harus bayar.

__ADS_1


Cahya masih duduk sembari menatap undangan di depannya itu. Sebenarnya pikirannya bukan tertuju pada kertas undangan itu, melainkan pada kedua orang yang belum beranjak pergi dari hadapannya.


"Ooh, aku kira dia itu calonmu loh. Tapi ternyata bukan." Cahya menatap sekilas pada Amertha yang barusan mengajaknya bicara. "Memang bukan." sahutnya sambil mengaduk minumannya.


"Pasti sebelumnya kau punya hubungan dengan si Marcel itu, ya." Tangan Cahya berhenti mengaduk minuman di depannya itu. Arah tatapannya tertuju pada Amertha yang teraenyum miring kearahnya. "Kenapa kau penasaran sekali dengan hidupku? Lagipula ada atau tidak adanya hubungan antara aku dan dia, itu bukan urusanmu!"


Sentakan diakhir kalimat itu menandakan bahwa pertanyaan itu menganggu bagi Cahya. Tak ingin lebih lama melihat mereka, membuat Cahya memilih untuk pergi. Baru saja dia berdiri dari posisinya, suara Bryan membuatnya menatap mata suaminya itu.


"Kau mau kemana? Habiskan dulu makanan dan minumanmu itu." Memang makanan yang di pesan oleh Cahya masih tersisa cukup banyak, karena Cahya hanya memakannya sedikit. Bukan bermaksud untuk menyianyiakan makanan. Tapi melihat mereka berdua merusak selera makan Cahya.


"Aku sudah kenyang. Lagipula nggak usah sok peduli. Simpan saja rasa pedulimu itu untuk kekasihmu sendiri. Lagipula kau bukan siapa - siapaku."


Ucapan Cahya membuat Bryan membisu. Seharusnya memang seperti itu adanya. Dia tak perlu mengurusi hidup Cahya. Lagipula dia bukan siapa - siapanya juga. "Bukannya kau bilang kalau aku ini adalah suamimu?" Cahya balik menatap Bryan saat pertanyaan itu terlontar begitu saja.


"Memangnya kau sudah ingat siapa aku? Kalau kau ingat, maka kau bisa bertindak peduli dan boleh mengaturku sesukamu." Cahya tak tahan lagi harus berada bersama orang - orang yang merusak mood baiknya. Lebih baik dia pergi untuk menenangkan dari, sekaligus mencari cara untuk membuat Bryan ingat padanya.


Bryan terus menatap pada Cahya yang kini sudah keluar dari restoran. Ada perasaan khawatir serta bersalah yang Bryan rasakan. Hanya saja dia tak tahu alasan dibalik perasaannya itu.


____[ # ¥ # ]____


Bryan menatap Tv di depannya dengab pikiran kosong. Sejak kemarin di terus memikirkan siapa itu Vino? Dan ada hubungan apa diantara Vino dan Cahya? Bryan merasa familiar akan nama itu. Bahkan nama itu hampir mirip dengan namanya.


Awalnya dia pikir kamar itu terkunci, namun ternyata tidak. Dengan gerakan pelan, Bryan mulai membuka pintu itu. Dua kata yang bisa mengambarkan keadaan kamar Cahya yaitu rapi dan wangi. Sempat ragu untuk masuk kedalam, terlebih si pemiliknya sedang tidak ada di rumah.


Bryan memperhatikan sekelilingnya dengan teliti, hingga arah fokusnya terhenti di satu bingkai foto yang berada diatas meja rias kecil. Diambilnya bingkai foto itu. Dimana didalamnya terdapat foto Cahya dengan seorang pemuda yang mirip dengannya. Namun yang membedakannya hanya dari segi penampilannya.


Bryan sedikit heran dengan pemuda itu. Kalau dibilang mirip dengan Bryan, tentu saja itu persis. Namun Bryan merasa tak pernah memakai pakaian itu, bahkan dia juga tak pernah berfoto dengan Cahya di tempat seperti yang ada di foto. Mata Bryan kembali tertuju pada tulisan di foto itu yang berada di bawah sebelah kanan.


^^^Vino ❤ Cahya^^^


Itulah yang Bryan baca pada tulisan tersebut.


"Kenapa dia mirip denganku? Apakah itu a...Argh!" teriak Bryan yang merasa kesakitan di kepalanya akibat rasa sakit yang menyerang kepalanya secara tiba - tiba. Dalam pikirannya Bryan bisa melihat kilasan ingatan yang entah milik siapa.


..."Pokoknya Vino mau main itu!"...


..."Mau itu, itu dan itu. Semuanya milik Vino"...


..."Cahya, jangan lari. Hahaha,"...

__ADS_1


..."Ma, Vino mau ketemu Cahya."...


..."Cahya mau kemana? Vino mau ikut."...


..."Pokoknya Cahya harus sama Vino terus. Nggak boleh kemana - mana!"...


..."Vino ngambek sama Cahya."...


..."Cahya jangan pergi. Jangan tinggalin Vino sendirian disini."...


..."Vino takut..."...


Gambaran itu terasa buram dalam bayangan Bryan. Bahkan semakin banyak ingatan yang dia lihat, maka semakin sakit kepalanya. Bahkan Bryan tak menyadari siapa yang kini berada di ambang pintu menatapnya dengan rasa terkejut itu.


"Bryan!" Bryan tak menanggapi seruan itu, sebab setelah itu Bryan sudah jatuh pingsan.


[ # ¥ # ]


Sudah lebih dari 4 jam Bryan pingsan dan selama itupula sang istri menemani suaminya. Benar, Cahya tadi sempat memergoki Bryan pingsan di kamarnya. Tentu saja Cahya panik luar biasa. Bahkan dia sampai menelpon mertuanya untuk membantu Bryan yang tak sadarkan diri.


"Kamu kenapa sih, Mas. Slalu bikin aku khawatir." ucap Cahya sambil menggengam tangan Bryan yang terasa lebih dingin dari biasanya. Usapan lembut di bahu Cahya membuatnya menoleh. Ternyata yang barusan mengusap bahunya adalah mama mertuanya.


"Kau tenang saja, Bryan baik - baik saja. Mungkin dia hanya kelelahan saja. Jangan terlalu khawatir." Cahya mengangguk pelan. "Benar apa yang diucapkan oleh mama. Sebaiknya kau istirahat saja, kasihan dedek bayinya. Dari tadi kau belum istirahat ngejagain Bryan."


Cahya menatap ayah mertuanya yang menyuruhnya untuk istirahat. Ini sudah pukul 11 malam, Cahya memang sejak tadi menjaga Bryan yang beluk kunjung sadar juga. "Mama sama ayah isirahat saja di kamar sebelah. Biar Cahya yang jaga mas Bryan disini."


"Tapi kamu juga harus istirahat, ya. Jangan sampai begadang, itu nggak baik buat dedek bayi." Cahya mengangguk mendengar ucapan mama Irena. "Kalau gitu ayah sama mama istirahat dulu, ya. Kalau butuh apa - apa, tinggal panggil kami aja."


Setelah itu, kedua mertua Cahya keluar dari kamar utama yang kini menyisahkan Cahya dan Bryan yang masih tertidur lelap. Sejenak Cahya pandangi sang suami dengan tatapan rumit. "Semoga mas cepat sembuh dan bisa mengingatku lagi. Ku harap setelah ini bisa memberitahu mas tentang calon anak kita ini." Cahya bergulir menatap kearah perutnya sambil mengusapnya pelan.


"Doain papa ya biar bisa inget sama bunda lagi." gumamnya sambil memgajak ngomong si jabang bayi. Cahya meringis pelan begitu merasakan tendangan kecil dari dalam perutnya. "Dedek setuju ya sama ucapan bunda tadi." senyum lembut mulai terbit di bibir Cahya. "Kita usaha lebih keras lagi, biar Ingatan papa bisa pulih kembali."


[ # ¥ # ]


[ # ¥ # ]


Terimakasih sudah membacanya.


Kalau ada waktu, bisakah mampir di cerita ku yang berjudul "Nona Muda Boss Mafia".

__ADS_1


...See you next part, Ya.,...


__ADS_2