My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
14


__ADS_3

Sandi masih diam dan memegangi pipinya yang terkena tonjokan dari kakak kelas yang ia kira cupu tersebut.


"Shit! Sakit juga tonjokan dia. Tapi kenapa dia bisa berubah secepat itu ya?" Ucap sandi sambil mengernyitkan keningnya.


Ia kira, kakak kelasnya itu cupu dan kemana mana dengan Anna yang melindunginya. Tapi sekarang menjadi bringas.


Sialan!!!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan Anna, saat ini sedang mengejar Levin.


Ia sekarang sudah di area luar sekolah dan ada dijalan yang menuju ke arah sungai. Mendadak ia menjadi khawatir dan mempercepat larinya untuk menyusul levin.


"KAK STOP!" Teriak Anna menghalangi langkah Levin.


Levin yang melihatnya hanya mendengus dan membuang muka.


"Kakak tadi salah paham, tadi aku mau jatuh terus sandi pegangin aku kak, udah gitu aja, kita nggak ngapa ngapain" jelas Anna


"Apa peduliku" jawab Levin acuh


"Terus kok tadi Kakak nonjok sandi" tanya Anna yang membuat Levin gelagapan.


Iya ya, kenapa aku nonjok tu anak coba?? Tapi aku kesel aja liat dia sama Anna, batin levin.


"Kenapa??" Todong Anna sekali lagi.

__ADS_1


"Udah ngga usah di pikirin. Aku refleks aja tadi, minggir sana!" Ucap Levin lali mendorong sedikit tubuh Anna yang menghalangi jalannya.


Anna yang melihat hal itupun menyingkir tetapi ia juga mengikuti Levin dibelakangnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sekarang, mereka sampai dipinggiran sungai, disana ada banyak bebatuan besar.


Sungai ini biasanya dibuat warga untuk mencuci, memasak, dan sarana irigasi. Sungai ini airnya sangat bersih karena langsung dari sumbernya, juga karena tidak ada sampah sedikit pun karena jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.


Anna diam, menatap Levin yang sedang mencuci muka, lalu duduk di atas batu besar dan memandang jauh ke sana.


Sejenak, Anna kagum dengan makhluk ciptaan tuhan didepan nya ini. Wajah Levin yang terkena pantulan cahaya matahari itu membuat wajah itu bersinar dan sangat tampan.


Bagai pangeran negeri dongeng.


Anna memegang jantung nya yang sedang marathon hanya karena memandang wajah Levin.


Ia lalu membuang wajahnya kesamping dengan pipi yang bersemu merah karena malu.


Yaampun, gini aja aku salting, batin Anna memanas.


Sedangkan Levin, ia menatap wajah Anna yang bersemu merah. Ia kira Anna kepanasan, hingga membuatnya berinisiatif untuk membawa Anna ke tempat yang lebih teduh.


"Eh"


Anna hanya diam saat tangannya ditarik Levin untuk pergi ke pohon rindang dekat sungai. Pipinya tambah bersemu merah karena malu, jantung nya berdegup kencang, dan badannya seperti lemas hanya karena bersentuhan kulit dengan Levin.

__ADS_1


Yaampun, inikah rasanya jatuh cinta?? batin Anna menjerit.


Levin duduk, dan Anna menyusul disampingnya.


Mereka sama sama diam, hingga Levin membuka suara.


"Aku nggak suka orang yang Deket sama aku tapi juga Deket sama laki laki lain, nggak suka punya aku disentuh laki laki lain" ucap Levin yang menurut Anna, itu kata kata ambigu.


Anna hanya diam, lalu menganggukkan kepalanya paham.


"Mulai sekarang, kamu jangan Deket deket lagi sama itu si Sindi itu, aku ngga suka" ucap Levin sambil menekankan kata katanya


"Sandi kak" ralat Anna


"Pokoknya itu"


"Yaudah, pulang yuk, mau sore ini" ajak Anna.


Mereka pulang dalam keadaan hening dan canggung, tetapi untung saja, Anna dapat mengendalikan dirinya untuk tidak berteriak girang.


Biasalah, cinta pertama anak muda.


🌻🌻🌻


i am back🤣


nggak adakah yang kengen kehidupan kota setelah Levin pindah ke desa???

__ADS_1


nggak ada yang mau tau kabar Clara sama Brian???


__ADS_2