
Pagipun mulai datang. Terlihat sepasang suami istri baru itu sudah terjaga dari paginya hari. Bahkan sejak 1 jam yang lalu, pasangan ini sudah terbangun dari tidur nyenyak mereka.
Kini keduanya telah bersiap untuk menemui keluarga mereka yang sudah menunggu di cafetaria di hotel ini.
Sejak semalam, raut wajah sebal terus terpampang dari pihak sang istri. Bagaimana tidak, kalau sejak semalam suaminya itu tidak berniat melepaskannya.
Bahkan selama mereka tidur pun, sang suami terus memeluknya. Belum lagi ketika bangun tadi, sang suami berniat kembali melancarkan kecupan bahkan sebelum matahari terbit.
Sang istri baru tahu kalau suaminya itu bisa bertingkah genit padanya.
"Bryan, hentikan. Kenapa kau terus memelukku." Ucap Cahya yang sejak tadi berusaha melepaskan pelukan suaminya itu.
Sebenarnya bukannya dia ingin menolak, tapi Cahya merasa tidak nyaman begitu di tatap oleh orang orang yang dilewatinya itu.
Belum lagi beberapa kalimat yang dia tangkap dengan baik begitu tak sengaja melewati rombongan para gadis yang ingin menuju ke cafetaria.
Bagaimana tidak merasa nyaman, kalau mereka tengah membicarakannya walaupun tidak secara terang-terangan.
Cahya hanya tidak ingin merusak moodnya di pagi hari ini dengan memperdulikan pembicaraan gadis gadis tadi. Tapi tetap saja, hatinya merasa sedikit dongkol saat dirinya disebut gadis gatel oleh para gadis tadi.
Menyadari raut wajah sang istri yang terlihat sedikit kesal, membuat Bryan sebagi suami sahnya pun perlahan menutup telinga istrinya itu.
"Jangan dengarkan perkataan mereka. Mereka hanya iri padamu kerena bisa merasakan pelukan pemuda tampan sepertiku."
Tunggu,
Apa baru saja Bryan memuji dirinya sendiri tampan.
Kalau iya, coba tanyakan pada Cahya, sejak kapan suaminya itu memiliki tingkat kenarsisan yang berlebihan ini.
Cahya tak merespon, dia hanya melangkah mendahului Bryan karena sudah terlepas dari pelukan suaminya itu.
Bryan tersenyum tipis melihat tingkah istrinya itu. Dengan langkah santai, Bryan mengikuti langkah sang istri yang kini hampir sampai di cafetaria.
.......
Kedatangan Cahya disambut oleh ayah dan mama mertuanya itu serta beberapa pamannya termasuk juga paman Bram.
"Duduklah, Cahya." Irena mulai mengarahkan Cahya untuk duduk disampingnya.
Tapi Irena mulai mengernyitkan melihat kedatangan Cahya yang seorang diri. Lalu kemana Bryan. Belum sempat Irena bertanya, sebuah sapaan di sampingnya membuat Irena menoleh.
"Selamat pagi, semuanya." Perkataan itu keluar dari mulut Bryan Giovano Wirautama. Hal yang jarang sekali dilakukan oleh sang pemilik nama, terlebih lagi sejak kehadiran sosok 'Vino'.
"Pagi, anak mama. Mari duduk dulu." Bryan segera duduk disamping Cahya dan melihat kalau istrinya itu tampak menghindari tatapannya.
"Kalian kenapa baru keluar sekarang? Padahal kan mama sudah menyuruh kalian datang sejak 45 menit yang lalu." Sebenarnya Irena tidak benar benar ingin bertanya, dia juga tahu kenapa anak dan menantunya itu baru datang setelah panggilan terakhirnya 45 menit yang lalu.
Dia hanya ingin menggoda putranya itu. Dan Irena semakin menebalkan senyumannya begitu melihat wajah Cahya yang memerah.
Tanpa bertanyapun, siapapun pasti tahu apa yang sudah terjadi pada pasangan yang baru kemarin menikah itu.
"Seharusnya kakak tidak perlu bertanya, memangnya apa yang membuat keduanya lama kesini kalau bukan melalukan kegiatan menyenangkan lebih dulu." Goda Bram sambil menekankan kata menyenangkan itu.
Hal itu tentu membuat orang yang berada di meja yang sama dengan pasangan baru itu tertawa.
Warna merah di pipi Cahya juga terlihat semakin menebal.
Jangan bilang kalau saat ini Cahya tengah malu.
"Apa yang kau katakan?" Bryan menatap adik dari ibunya itu dengan menaikkan alisnya.
"Ck, jangan mengelak keponakanku tersayang. Buktinya juga sudah jelas. Kalian datang terlambat, bahkan cara jalan Cahya agak sedikit aneh tadi." Bram menaik turunkan alisnya berniat menggoda keponakannya itu.
Tatapan Bryan mengarah ke arah pamannya yang masih saja memandangi istrinya itu. Lalu tatapannya semakin menajam kala dirinya melihat rona merah di pipi Cahya.
Irena yang memang sejak tadi memperhatikan keduanya kini kembali membuka suaranya. Dia tidak mau kalau sang adik dan anaknya mulai melancarkan aksi saling tatap itu.
"Kalian berdua jangan saling melempar tatapan seperti itu, apa lagi di depan makanan. Lebih baik sekarang kalian makan saja." Tutur Irena yang sambil menatap keduanya.
__ADS_1
Mendengar seruan sang Ibu membuat Bryan memilih tuk menurutinya dan mulai menyodorkan piring kearah Cahya.
Untung saja Cahya peka, jadi dia langsung mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya itu. Coba kalau tidak? Bisa bisa Bryan ngamuk nantinya.
Tapi kegiatan Cahya terhenti sejenak sebelum dirinya menatap kearah sang suami. "Kau mau yang mana, Bryan?"
Bryan menatap kearah Cahya, kemudian mulai menjawab pertanyaan itu. "Terserah kamu, aku akan makan apapun yang kau sajikan untukku." Mendengar hal itu membuat Cahya tersipu malu.
Beda reaksi Cahya, beda juga reaksi Bram yang mendadak merasa malas begitu mendengar imbalan receh ala Bryan itu. Tapi sayangnya reaksi Bram tak dipedulikan oleh Bryan sama sekali.
Setelah mengambilkan makanan untuk sang suami, Cahya langsung memberikannya kepada Brayan. "Makanlah." Ucap Cahya pada suaminya yang dibalas senyum tipis oleh Bryan.
Acara makan pun kembali berlanjut dan dua keluarga itu sedang menikmati sarapan mereka.
Selesai sarapan, Irene kembali buka suara membuat kedua anaknya menoleh padanya.
"Kalian berdua nanti ikut mengantar paman dan bibinya Cahya ke bandara, ya."
Cahya sempat Bingung sesaat, dalam benarnya bertanya 'kenapa harus mengantar paman dan bibinya ke bandara. Memangnya mereka mau kemana?'
Itulah yang tengah dipikirkan oleh Cahya saat ini. Kini arah tatapan mata Cahya tertuju pada sang Bibi yang kini juga menatapnya. "Bibi memangnya mau kemana?" Pertanyaan itu membuat Risma menatap sang keponakan dengan senyum tipis di bibirnya.
Sejujurnya Risma sangat berat mengatakan ini, terlebih lagi dia sangat jarang berjauhan dengan keponakannya ini. Tapi mau bagaimana lagi dia sebagai seorang istri harus ikut suami kemanapun ia pergi.
Bukankah itu memang kodrat seorang istri.
"Cahya, aku dan pamanmu akan pergi ke Surabaya. Kami akan menetap di sana karena Paman ada pekerjaan di sana."
Ucapan itu membuat Cahya terkejut bukan main. Sebab bibinya tidak ada bilang tentang kepindahan mereka ke Surabaya.
"Kenapa mendadak sekali? Bahkan bibi tidak cerita kepada Cahya." Ujar Cahya dengan raut wajah sedih.
"Bibi memang belum sempat cerita padamu, karena kepindahan kami ini memang dadakan. Bahkan pamanmu baru kemarin memberitahu kepada Bibi tentang kepindahan kami." Tutur Risma dengan lembut, mencoba memberi pengertian pada sang keponakan.
Cahya mengeleng lemah, dirinya benar-benar masih tidak percaya kalau paman dan bibinya akan tinggal berjauhan dengannya itu. "Terus nanti aku gimana, bi? Kalau aku kangen sama Aziel gimana?" Ucap Cahya dengan lemah. Bahkan suaranya terdengar sedikit parau.
Risma menghela napas panjang, dia sebenarnya susah memperkirakan akan begini akhirnya. Tapi tetap saja dia juga berat meninggalkan Cahya disini. Tapi sekali lagi dia tidak lupa kalau sang keponakannya itu sudah memiliki suami yang tentu saja bisa menjaganya dan melindunginya.
Cahya menundukkan kepalanya, dia merasa sangat sedih. Bayangkan saja bagaiamana sedihnya Cahya saat harus berjauhan dengan keluarga yang ia punya itu.
Usapan lembut di tangannya membuat Cahya mendongak kecil menatap seseorang yang kini tengah mengusap lembut tangannya itu.
Entah kenapa melihat senyuman di bibir Bryan membuat Cahya merasa tenang. Dengan membuang napasnya pelan, Cahya menoleh kearah paman dan bibinya itu.
"Baiklah, Cahya tidak akan melarang paman dan bibi untuk pindah ke Surabaya. Tapi jangan pernah lupain Cahya, ya." Ucapnya dengan mata berkaca - kaca.
Melihat sang keponakan yang menerima keputusan mereka untuk pindah membuat pamannya tersenyum kearah Cahya.
"Paman dan bibimu ini tidak mungkin melupakanmu. Lagi pula siapa yang bisa lupa kalau paman dan bibi punya keponakan cerewet sepertimu." Diakhir kalimatnya, Dimas tersenyum.
Cahya tersenyum mendengar ucapan pamannya itu, "Itu pasti paman. Karena aku keponakan paman dan bibi yang paling cerewet dan juga paling cantik."
Sejujurnya Cahya tidak ingin narsis, dia hanya ingin membuat suasana lebih ceria lagi, bukan seperti yang terjadi beberapa menit yang lalu.
"Itu pasti." Balas paman dan bibi Cahya dengan tersenyum begitu mengetahui kalau Cahya sudah bisa mengerti dengan keadaan ini.
Setelah berbincang kecil, kini hampir semua keluarga wirautama mengantar bibi dan paman Cahya ke bandara. Di dalam mobil, Cahya hanya terdiam.
Jauh di lubuk hatinya dia sangatlah terkejut mengetahui kepindahan paman dan bibinya itu. Karena dia itu jarang sekali berjauhan dengan sang Bibi. Sebab sejak orang tuanya tiada dia selalu bersama paman dan bibinya. Karena hanya merekalah yang ia punya.
Tapi saat ini keadaanya sudah berbeda. Dia sudah menikah dan dia bukan lagi menjadi tanggung jawab paman dan bibinya lagi. Melainkan tanggung jawab dari sosok yang berada disebelah itu.
Bryan yang melihat sang istri sedari tadi diam begini menolehkan pandangannya kearah Cahya, walaupun begitu dirinya masih tetap fokus pada jalanan di depan matanya itu.
"Kau baik-baik saja?" Pertanyaan itulah yang mengalun untuk memecahkan keheningan yang swkaksejak tadi tercipta di antara mereka berdua.
Memang saat ini meraka hanya berdua didalam mobil Bryan yang kini melaju menuju kearah bandara.
Cahya menoleh kearah sang suami, dia mengeluarkan nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
__ADS_1
"Aku tidak kenapa-napa, hanya masih terkejut mengetahui paman dan bibi akan pindah." Jawab Cahya yang kini kembali menghadap jendela.
Bryan menoleh sekilas kearah sang istri. "Kau tak perlu sedih begitu, kan masih ada aku disisimu. Lagi pula kalau kau kangen dengan mereka, Kau bisa menelpon atau video call bahkan bila kau ingin, aku bisa mengantarmu ke rumah bibi dan pamanmu di Surabaya nanti."
Cahya tersenyum mendengarnya, kemudian dia berbalik menghadap Bryan yang kini tengah menatap kearah depan. Memang nantinya Cahya akan tetap rindu dengan keluarganya itu, tapi tidak mungkin dia bolak-balik terus ke Surabaya hanya untuk melepas rindu.
Mungkin dia bisa memilih opsi menelpon atau video call kalau dia merasa kangen dengan bibinya itu.
"Terima kasih sayang." Ucap Cahya pelan, bahkan nyaris tak terdengar. Tapi sayangnya Bryan mendengar hal itu. Tapi dirinya ingin mendengarnya lagi.
Citt
Mobil yang dikendarai oleh Bryan berhenti mendadak, untungnya Cahya memakai seatbelt, coba kalau tidak. Mungkin dahi Cahya sudah terantuk dashboard mobil.
"Bryan, kenapa berhenti mendadak." Cahya masih berusaha mengatur napasnya dan detak jantungnya yang seakan ingin lepas dari posisinya.
Dirinya tidak memperkirakan kalau Bryan akan berhenti mendadak sepeti ini. Makanya dia tidak ada persiapan sama sekali.
Belum sempat Cahya kembali bersuara, terlebih dulu perkataannya di potong oleh Bryan.
"Coba ulangi lagi." Cahya menatap Bryan tidak mengerti.
Sebenarnya Bryan itu kenapa?
"Apanya yang diulangi?" Jujur aja Cahya bingung dengan maksud Bryan itu. Tidak mungkin kan yang di maksud diulangi itu kejadian pengereman mendadak yang dilakukan oleh Bryan tadi.
"Coba ulangi sekali lagi, aku belum terlalu jelas mendengarnya."
Lagi lagi Bryan mengatakan hal yang membuat Cahya bingung.
"Apanya yang diulan---" Perkataan Cahya di potong oleh Bryan.
"Kau tadi memanggilku sayang, kan. Coba kau ulangi lagi, aku kurang mendengarnya."
Oalah, yang itu toh😄
Cahya yang di tatap begitu oleh Bryan mendadak gugup sendiri. Jelas saja tadi dirinya hanya reflek bilang sayang. Dan masa harus di ulangi lagi. Kan Cahya malu😊.
Cahya membuang muka kearah lain, yang intinya tidak menatap kearah Bryan. Jujur saja tatapan Bryan saat ini membuat Cahya benar-benar gugup dibuatnya.
Melihat reaksi dari Cahya yang memalingkan wajahnya darinya, membuat Bryan sedikit mendengus sebal.
"Tatap aku, sayang." Perkataan itu memang pelan, tapi malah membuat tubuh Cahya meremang seketika.
Dengan perlahan, Cahya menoleh kearah suaminya. Dan tentu saja saat ini sang suami tengah menatap ke arahnya dengan pandangan lurus menatap Cahya.
Cahya yang tak sanggup ditatap seperti itupun ingin kembali memalingkan muka. Tapi terhenti begitu kedua telapak tangan Bryan sudah terlebih dulu menangkup pipinya agar tidak berpaling dari pandangan Bryan.
"Jangan menghindari tatapanku, aku hanya ingin memintamu untuk mengulangi perkataanmu tadi."
Bryan semakin mendekatkan wajahnya kearah Cahya, yang mana membuat Cahya kesulitan menelan ludahnya itu.
"Ehm, terimakasih sayang." Ucap Cahya pelan. Namun hal itu mampu membuat senyum manis terbit di bibir Bryan.
Cup
Sebuah kecupan mendarat tepat di bibir Cahya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan suaminya sendiri.
Bahkan Cahya sampai di buat mematung karenanya.
"Terimakasih juga sayangku." Balas Bryan sambil menjauhkan wajahnya dari Cahya.
Bryan sendiri juga merasa sangat gugup. Tapi hal itu bisa di ditutupinya dengan sempurna. Buktinya Cahya tidak tau kalau suaminya itu juga tengah merona, sama seperti dirinya itu.
Kemudian keduanya turun dari mobil karena memang sejak tadi, keduanya sudah ada di parkiran bandara.
........
Kangen sama Bryan dan Cahya tidak kalian semua?😄
__ADS_1
Ingat ya Bryan dan Cahya sudah menikah, jadi untuk hal semacam tadi tentu bukan larangan lagi untuk keduanya. Benarkan😉.
Salam hangat untuk kalian semua💞