
🍁My Bipolar Boy🍁
Sudah 2 hari sejak masa pingitan itu dimulai, Vino selalu saja merengek untuk bertemu dengan Cahya. Hal itu tentu saja sampai ke telingga Cahya. Cuma mau bagaimana lagi. Tradisi tetap tradisi, kan.
Berulang kali Vino meminta untuk bertemu dengan Cahya, tapi orang tuanya tidak mengijinkan dan hanya memberikan pengertian untuk sementara dirinya tidak bisa bertemu dengan Cahya dulu.
Setelah di bujuk cukup lama, akhirnya Vino tidak lagi merengek. Tapi dirinya malah ngambek dan tak ingin keluar kamar. Hal itu tentu membuat pusing kedua orangtuanya.
Mengingat hari pernikahan putra mereka itu kurang dari 24 jam lagi, membuat Irena harus sabar menghadapi tingkah anaknya itu. Ia agak khawatir mengingat saat ini yang bersemayam ditubuh anaknya itu si Vino.
Bagaimana dengan proses ijab kabulnya kalau Vino yang muncul seperti saat ini. Bukannya ia meragukan anaknya, tapi melihat tingkah Vino yang masih bertingkah seperti anak kecil pada umumnya. Irena hanya bisa berdoa semoga semuanya berjalan lancar.
Sedangkan disisi lain tepatnya disebuah kamar bernuansa hijau terlihat sosok seorang gadis yang tengah berusaha menghilangkan rasa gugupnya itu. Bagaimana tidak gugup kalau besok adalah hari pernikahannya.
Pernikahan yang akan dilakukan diusianya yang belum genap 20 tahun itu. Membayangkannya saja membuat Cahya gugup luar biasa. Karena sebentar lagi dirinya akan menyandang nama Wirautama di belakang namanya itu.
Membayangkannya saja bisa membuat pipi cahya bersemu merah karena malu. Apalagi jika mengingat tentang prank yang sempat dilakukan calon suaminya itu beberapa hari yang lalu. Sungguh rasanya sangat sedih begitu calon suaminya itu berniat untuk meninggalkannya.
Dirinya tidak tahu bagaimana perasaannya saat itu, yang jelas dirinya tidak ingin kehilangan sosok calon suaminya itu.
Kabar tentang vino yang merengek untuk bertemu dengannya tentu sudah sampai ketelinganya, sebab mama Irena sendiri yang bilang padanya. Untung saja setelah dibujuk, Vino bisa mengerti. Walaupun saat ini Vino banyak menghabiskan waktu di dalam kamar karena sedang mode ngambek.
Membayangkan bagaimana raut wajah ngambeknya Vino membuat Cahya tersenyum simpul. Dirinya sudah memantapkan hatinya untuk mempersiapkan diri sebagai istri dari seorang Bryan Giovino Wirautama.
Mengenai kepergoknya dirinya dan Bryan dalam satu kamar waktu itu. Sudah ia jelaskan pada paman dan bibinya. Untung saja mereka percaya dan tidak lagi menanyai yang macam macam padanya. Karena memang dirinya tidak berbuat yang tidak tidak dengan Bryan.
Mereka berdua hanya berbagi ranjang yang sama, hanya itu saja. Lagipula Cahya tahu mana batasan yang perlu di lakukannya dan mana yang tidak. Walaupun statusnya dengan Bryan saat itu adalah calon suami istri.
Hari yang dinantikan akhirnya tiba juga, baik dari keluarga mempelai wanita atau mempelai pria sudah mulai mempersiapkan sang calon mempelai. Pagi pagi sekali Cahya dan Vino sudah dibangunkan untuk mempersiapkan diri mereka.
__ADS_1
Dan ternyata saat ini yang muncul bukan Vino melainkan si Bryan. Entah apa yang terjadi pada padanya itu, yang jelas saat Irena datang kekamar putranya itu yang muncul adalah sosok Bryan dengan tuxedo yang sudah membalut tubuh atletisnya.
“Sudah siapa, nak?” Tanya Irena pada putranya itu. Sedangkan yang ditanya hanya menganggukan kepalanya saja sebagai jawaban dari pertanyaan mamanya itu.
“Ya, sudah. Mari ikut mama, kita semua akan menuju ke masjid didekat rumah Cahya untuk melakukan prosesi ijab Kabulnya.” Si Bryan hanya kembali menganggukan kepalanya kemudian mengikuti langkah mamanya yang sudah lebih dulu berlalu dari kamarnya itu.
Terlihat diruang tamu sudah ada beberapa orang yang tengah menunggu sang calon mempelai pria yan masih ada didalam kamarnya itu. Tapi tak begitu lama terlihat 2 orang yang baru saja turun dari tangga. Hal itu membuat orang yang tadi menunggu langsung mengalihkan pandangannya kearah orang tadi yang tak lain adalah Irena dan juga Bryan.
“Wah, lihatlah calon pengantinnya.” Seru sosok yang berada di samping ayah Bryan. Memang siapa lagi kalau bukan paman Bryan yang memang dikenal sebagai sosok yang humoris dan berisik. Sedangkan yang menjadi objek pertanyaan tidak menanggapi ucapan pamannya itu.
"Yak! paman bicara padamu." Dengus Bram yang tak dipedulikan oleh Bryan. Sedangkan Bryan malah berlalu melewatinya untuk bertemu dengan ayahnya itu.
"Kau sudah siapa, nak." Kali ini Bryan menganggukan kepalanya sebagai bentuk respon dari pertanyaan ayahnya tadi.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang. Rombongan para pengantar juga sudah menunggu diluar." Semua orang yang ada diruangan perlahan mulai melangkah menuju luar untuk segera berangkat ke tempat acara.
🍁💞🍁
Untuk mempersingkat waktu, acara ijab kabul pun akan segera dimulai. Dengan segala persiapan yang matang, akhirnya para mempelai sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Bahkan tadi Bryan mengucapkan ijal kabul dengan lancar dan khidmat. Bahkan Cahya yang berada disamping Bryan dibuat merinding dan berdesir hatinya secara bersamaan.
"Baiklah, kalian berdua sudah sah menjadi suami istri." Ucap sang penghulu sambil menatap kedua mempelai di depannya itu.
Selesai menandatangani surat nikah mereka dan Bryan mulai memasangkan cincin yang kemarin sempat dibelinya dengan Cahya itu ke jari manis Cahya.
Begitupun dengan Cahya yang kini sedang memasangkan cincin di jari Bryan. Selama beberapa saat nampak senyum Bryan terulas manis. Hal itu menunjukkan betapa bahagianya dia saat ini.
Setelah proses ijal cabul berakhir, saat ini para mempelai digiring menuju ke gedung resepsi karena memang semuanya sudah di siapkan oleh mama Irena dan bibi Risma.
__ADS_1
Sesampainya disana, Bryan dan Cahya sudah berada di singgah sananya. Karena saat ini mereka berdua telah menjadi raja dan ratu semalam. Julukan yang biasanya diberikan kepada orang yang sedang menikah.
Banyak kolega dari ayah Sanjaya yang datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahan putranya itu. Bahkan ada begitu banyak tumpukan kado didepan meja penerima tamu.
Entah kado dari siapa yang jelas itu pasti dari kolega ayah Sanjaya. Walaupun pernikahan ini terkesan meriah. Tapi masih dalam lingkup private.
Tentu ada beberapa alasan kenapa yang menghadiri pesta pernikahan hanya beberapa kolega penting, saudara dari kedua mempelai dan beberapa guru dimana sang mempelai menimba ilmu.
Tentu kalian tidak lupa, kan. Kalau uang sedang menikah ini masih anak sekolah. Tentu dengan permohonan dari sang mempelai untuk membuat pesta pernikahan yang cenderung biasa saja. Tapi yang ada dihadapannya malah lebih dari kata sederhana.
Sebenarnya keluarga dari mempelai laki laki tidak masalah kalau memang ingin membuat pesta pernikahan yang mewah dan elegan. Tapi Cahya menolak halus ide tersebut.
Dalam benaknya, pasti jika pernikahannya ibu dibuat meriah. Pasti akan ada wartawan yang hadir mengingat kedudukan dan kelegaan dari keluarga Wirautama ini.
Jadi kemungkinan para siswa di sekolahnya akan tahu kalau dirinya sudah menikah dengan Bryan. Dan dari situ akan muncul opini opini yang tentu saja akan menyudutkan dirinya.
Contohnya opini tentang dirinya yang hanya ingin menguasai kekayaan Bryan, kepopuleran Bryan di sekolah dan mungkin tuduhan yang paling berat adalah dirinya dituduh hamil duluan karena menggoda Bryan.
Dan untungnya keluarga Bryan bisa mengerti dan menyetujui usulannya tentang pernikahan yang sederhana tanpa gangguan dari kamera wartawan. Jadi Cahya merasa lebih nyaman dengan begini adanya.
************M.B.B**********
...Perhatian Harap Dibaca...
Maaf karena suka lama untuk Upadate, lagi fokus ke dunia nyata dulu🙏..
Kalian masih setia baca M.B.B kan? Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya, guys😉. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini😊. Usahakan untuk memberi Vote, ya. Kalau tidak juga tidak apa apa.
🍁Terimakasih Semuanya🍁
__ADS_1
😍😇😍