My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
28. Ucapan Selamat


__ADS_3

🍀🍂🍀🍂🍀


"Cahya." Sebuah panggilan menyadarkan Cahya dari lamunannya tadi.


Ia mencari keberadaan orang yang memanggil tadi dan menemukan kalau seseorang itu mendekat ke arahnya.


"Ada apa?" Tanya Cahya pada si pemanggil itu.


Kedua orang yang kini saling berhadapan itu, mendapat tatapan penasaran dari beberapa murid yang melihatnya.


"Tidak ada, hanya ingin mengucapkan selamat atas kemenangan timmu minggu lalu." Seseorang itu menyodorkan tangannya kearah Cahya membuat Cahya menyambut sodoran tersebut.


"Terimakasih, selamat juga atas juara yang kau dapatkan." Cahya juga ikut mengucapkan selamat pada orang di hadapannya itu.


Entah lupa atau terlalu nyaman, keduanya tak sadar akan genggaman tangan tersebut, membuat beberapa siswa yang melihatnya langsung menggoda mereka.


Ehemm....Ehemm...


Ehemm....


Suara batuk yang jelas dibuat buat itu menyadarkan kedua anak manusia itu dari zona nyaman mereka.


Membuat salaman itu terlepas menyisakan wajah Cahya yang mulai memerah. Bukan hanya Cahya tapi sepertinya orang didepan Cahya juga ikut memerah.


"Kalau begitu aku pamit duluan, ya. Ingin menaruh ini di kelas." Ucap Cahya berusaha serileks mungkin.


"Ya sudah, hati hati." Sahut orang itu pada Cahya. Cahya yang mendengarnya segera berlalu pergi meninggalkan orang tadi dan beberapa siswa yang masih sempat sempatnya menggodanya itu.


Kira kira siapa ya orang tadi?


....... 


Cahya yang baru saja sampai kedalam kelas segera duduk dibangkunya. Mungkin karena terlalu buru buru membuat suara dentuman lumayan keras menyebabkan sang sahabat menatapnya aneh.


"Kau kenapa? Aneh banget. Jangan bilang kau lagi dikejar Jungkook oppa. Kalau ia dimana dia sekarang?" Rima yang tadi menatap Cahya aneh, sekarang berbalik menjadi Cahya yang menatap Rima aneh.


Tanpa aba aba, Cahya memegang kening Rima membuat Rima mengernyitkan dahinya bingung.


"Kau kenapa?" Tanya Rima bingung.

__ADS_1


"Pantas saja, kau panas ternyata." Rima yang belum connect segera menjawab.


"Maksud...mu a..Yakk!" Rima langsung memukul lengan Cahya begitu sadar akan apa maksud perkataan Cahya tadi.


Bukannya marah Cahya malah tertawa lumayan keras.


"Kau jahat sekali, kau ingin bilang kalau aku tidak sehat." Rima mendengus begitu menyelesaikan ucapannya.


"Habisnya kau mengira aku dikejar Jungkook oppa. Kalau benar itu terjadi, aku tidak akan lari tapi malah balik mengejarnya." Cahya masih tertawa membuat Rima kesal walupun membenarkan apa yang dikatakan Cahya berusan.


"Iya juga sih." Rima akhirnya menghembuskan nafas panjang.


"Sudahlah, kau mau ke kantin tidak? Aku traktir deh." Mendengar kata traktir membuat Rima seketika langsung mengangguk senang.


"Aku mau, ayo ke kantin." Rima langsung menyerat tangan Cahya membuat Cahya mengikuti langkah Rima.


Untung saja berkas kepindahannya sudah ia masukkan kedalam tasnya beserta buku yang ada di mejanya itu.


Cahya menghela nafas sabar menghadapi tingkah sahabatnya yang kadang membuatnya gemas sekalian menahan dongkol.


Sesampainya mereka di kantin sekolah, mereka mencar Cahya pesan makanan sedangkan Rima mencari tempat duduk.


Setelah keduanya berpencar, Cahya yang sedang mengantri makanan kembali tersentak saat bunyi telepon miliknya itu berbunyi.


Klik


Bunyi panggilan itu diterima.


Cahya segera menjauh dari kerumunan, karena keadaan kantin yang benar benar ramai membuat Cahya memutuskan untuk keluar dari area kantin menuju ke arah ruang olahraga yang posisinya ada disamping kantin.


"Assalamualaikum bi, ada apa?" Cahya mengucapkan salam pada bibinya sebelum bertanya pada bibinya itu.


"Bibi mendapat telpon dari istrinya pak Sanjaya, dia bilang kalau Vino dari tadi mencarimu. Jadi dia menyuruh bibi untuk menyampaikan padamu kalau sepulang sekolah nanti, kau disuruh ke rumahnya untuk menemui Vino." Perkataan itu diangguki oleh Cahya walaupun ia tau bibinya tidak mungkin melihatnya.


"Ooh begitu ya bi, nanti sepulang sekolah Cahya mampir dulu ke rumahnya mama Irena. Sekalian Cahya izin pulang terlambat, bi."


"Iya tidak apa apa, tapi jangan pulang terlalu malam ya. Bibi kan khawatir."


"Ahaha iya, bi. Tenang saja. Keponakan bibi yang cantik ini akan pulang dengan selamat" Cahya terkikik geli begitu mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Kau ini, ya sudah sekolah yang bener. Jangan main mainan disana. Kau sudah makan?" Walaupun sebal dengan tingkah keponakannya yang menggodanya tadi, tapi tetap saja Risma tetap mengkhawatirkan keponakannya itu.


"Setelah ini Cahya makan, bi. Ini juga Cahya baru mau pesan makan, tapi bibi telpon."


"Ya sudah, kau lanjutkan saja. Bibi tutup dulu ya, bibi juga mau ngurus jagoan bibi dulu."


Setelah selesai bertelpon, Cahya kembali ke kantin dan segera memesan makanan kesukaan Rima karena Cahya sadar kalau mungkin Rima sudah menunggunya sedari tadi.


"Bu, pesan siomay spesial 2 bu. Yang satu pedas yang satu biasa. Sama es teh manis 2 ya, bu." Cahya memesan begitu gilirannya tiba.


"Baiklah, tunggu sebentar" setelah mengatakan hal itu, ibu penjual menyiapkan pesanan Cahya.


Sembari menunggu pesanan, Cahya memainkan ponselnya. Mungkin sekitar 5 menitan akhirnya pesan Cahya telah selesai.


"Ini pesanannya, nak." Cahya menerima nampan yang diberikan ibu penjual yang berisi pesanannya tadi sambil menyerahkan uang 20 ribu kepada ibu tersebut.


"Terimakasih, bu." Cahya mengucapkan hal itu yang dibalas anggukan oleh ibu penjual itu.


Segera saja ia menuju kearah bangku yang sudah ditempati oleh sang sahabat yang mungkin sudah kesal menuggunya sedari tadi.


"Pesanan datang." Cahya meletakan nampan itu dengan hati hati.


"Kau lama sekali sih, aku sudah dari tadi nungguinnya." Omelan Rima begitu melihat kehadiran Cahya yang sudah 13 menit ditungguinya itu.


"Iya maaf, tadi aku nerima telpon dulu dari bibi, makanya lama." Mendengar membuat Rima menghembuskan nafas pendek.


"Ya sudah. Kali ini kumaafkan, karena kau sudah mentraktri ku." Rima menerima siomay yang baru diberikan Cahya padanya itu.


Begitu mendengarnya membuat Cahya menggelengkan kepalanya, "Dasar!" Dengusnya sambil cemberut.


Tapi setelah itu mereka berdua larut akan obrolan mereka, seolah melupakan bahwa tadi mereka sempat adu mulut sebentar.


Walaupun hal itu kerap terjadi pada mereka, persahabatan mereka tetep awet sampai sekarang. Mungkin begitulah cara mereka mempertahankan persahabatan yang sudah dibangunnya sejak kelas 10 itu.


💛💙💜💙💛


**Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?

__ADS_1


~Terimakasih~


💞💙💞💙**


__ADS_2